ISLAM-RAMAH

Maret 14, 2011

KECERDASAN-KOGNITIF DENGAN KESUCIAN-SPIRITUAL

Filed under: FILSAFAT — ruhullah @ 2:23 pm

Seperti kita ketahui, istilah falsafah atau filsafat masuk ke dalam bahasa Arab melalui penerjemahan teks Yunani pada abad ke-2 h/ke-8 M danke-3 H/ke-9 M. Bagaimana filsafat  dimaknai oleh para filosof Muslim.

Sayyed Hosein Nasr  mendaftar beberapa definisi filsafat yang lazim digunakan para filosof muslim antara lain:

(1)   Filsafat (al-falsafah) adalah pengetahuan tentang segala yang ada qua maujud-maujud (asyya’ al-mujudah bi ma hiya maujudah)

(2)   Filsafat adalah pengetahuan tentang yang ilahiyah dan yang insaniah.

(3)   Filsafat mencari perlindungan dalam kematian, maksudnya, cinta pada kematian.

(4)   Filsafat adalah (upaya) menjadi seperti-Tuhan dalam kadar kemampuan manusia.

(5)   Filsafat adalah seni (shina’ah) tentang seni-seni dan ilmu (‘ilm) tentang ilmu-ilmu.

(6)   Filsafat adalah prasyarat bagi hikmah.

 

Dalam tradisi intelektual Islam, filsafat dihubungkan dengan  hikmah ilahiyah.  Selanjutnya, kita akan lihat pendapat para filosof Muslim tentang filsafat yang menunjukkan perkembangan pemaknaan filsafat di kalangan filosof Muslim. Kita mulai dari Al-Kindi yang berpendapat bahwa,” filsafat adalah tentang realitas hal-hal yang mungkin bagi manusia, karena tujuan puncak filosof dalam pengetahuan teoritis adalah untuk memperoleh kebenaran, dan dalam pengetahuan praktis untuk berperilaku sesuai dengan kebenaran.”  Sedangkan al-farabi melihat bahwa, filsafat adalah induk semua ilmu, yang mengkaji segala yang ada.  Ibn Sina agak berbeda. Menurutnya, ” al-hikmah (yang dipahaminya sama dengan filsafat) adalah usaha untuk mencapai kesempurnaan jiwa melalui konseptualisasi (tashawwur) atas segala hal dan pembenaran (tashdiq) realitas-realitas teoritis, dan praktis berdasarkan ukuran kemampuan manusia.” Pada akhir hidupnya,  Ibn Sina membedakan antara filosafat peripatetik dengan filsafat Timur (al-hikmah al-masyriqiyyah). Filsafat Timur inilah cikal-bakal filsafat isyraq Suhrawardi.  Pemikiran Ismailiiyah dan Hermetiko-Pythagorean melangkah jauh dengan menekankan bahwa, filsafat berhubungan dengan dua hal: teoritis (berfikir filosofis) dan praktis (tuntunan ke kehidupan bijak).  Model berfikir seperti ini tampak pada pemikiran Ikhwan al-Shafa yang berpendapat bahwa,” permulaan filsafat (falsafah) adalah cinta pada ilmu, pertengahannya adalah pengethauan tentang realitas Wujud sesuai dengan  ukuran kemampuan manusia, dan pamungkasnya adalah kata dan perbuatan yang sesuai dengan pengetahuan itu.”

Suhrawardi mengusung perspektif baru dengan menggunakan istilah hikmah al-isyraq daripada falsafah al-isyraq. Henry Corbin menterjemahkan hikmah al-isyraq sebagai theosophie.  Bagi Suhrawardi dan filosof muslim sesudahnya, hikmah dipandang bersifat ilyah yang harus direalisasikan secara utuh, bukan hanya secara mental. Sebelum muncul Aristotelianisme, filsafat bermakna hikmah, yang mencakup pelepasan diri dari tubuh dan pendakian ke dunia cahaya, seperti tampak dalam pemikiran Plato. Jadi, tradisi hikmah menggabungkan dan mensyaratkan kesempurnaan daya rasional dengan kesucian jiwa.

Makna hikmah tersebut terlihat jelas dalam pemikiran Mulla Shadra yang  berpandangan bahwa,” falsafah adalah upaya penyempurnaan atas jiwa manusia dan,  dalam beberapa hal, atas kemampuan manusia melalui pengetahuan tentang realitas esensial segala sesuatu segbagaimana adanya, dan melalui pembenaran terhadap eksistensi mereka yang ditetapkan atas dasar demonstrasi (burhan) dan bukan di turunkan dari opini atau dugaan.” Menurut Shadra, “(melalui hikmah) manusia mejadi dunia intelejibel yang mirip dengan dunia objektif dan serupa dengan tatanan eksistensi universal. Selain itu, Shadra menekankan juga bahwa, filsafat terkait dengan “penceraian” nafsu, serta kesucian jiwa dari polusi material  (tajarrud atau katarsis). Shadra menyimpulkan, “ falsafah atau filsafat dinilai sebagai ilmu tertinggi yang berasal usul secara azali dari Tuhan, yang berasal dari  “ceruk kenabian” dan hukama, yang dipandang sebagai sosok manusia pempurna, dan mempunyai kedudukan hanya, di bawah para nabi dan imam.

Jadi, dalam tradisi Islam, filsafat berhubungan dengan:

(1)   upaya menemukan kebenaran tentang hakikat segala sesuatu

(2)   usaha menggabungkan pengetahuan mental dengan kesucian dan kesempurnaan wujud.

 

Wa Allahu a’lam bi al-shawabi

 

(Dirangkum dari: Seyyed Hosein Nasr, “Makna dan Konsep Filsafat dalam Islam” dalam Seyyed Hosein Nasr  dan Oliver Leaman (Ed. ), Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam: Buku Pertama, [Bandung: Mizan, 2003], h. 29-35)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: