ISLAM-RAMAH

Desember 31, 2010

IKONOKLASME ISLAM

Filed under: AGAMA — ruhullah @ 8:22 am

Pertanyaan : bagaimana pandangan Islam tentang gambar, terutama gambar Nabi Muhammad? Dalam sejarah agama-agama, pro-kontra penggambaran figur suci dapat kita temukan dalam kontroversi tentang ikonoklasme.

Awal Ikonoklasme

Pada dasarnya, ikonoklasme adalah paham anti-gambar. Paham ini dianut sebagai arus utama pemikiran keagamaan dalam sejumlah agama. Menurut Nurcholish Madjid dalam Ensiklopedi Nurcholish Madjid: Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban (2006: 989-992), ikonoklasme berakar kuat pada tradisi agama semitik. Istilah ikonoklasme populer dalam sejarah agama Kristen. Sebagaimana agama semitik lainnya, Kristen adalah ikonoklastik. Agama Kristen lahir di Palestina yang awalnya dipeluk oleh orang-orang Palestina, yang dikuti kemudian oleh orang-orang Yahudi. Karena itu, dalam sejarah agama, dikenal istilah christian-jewish (ras Yahudi yang beragama Kristen). Merekalah yang bersikap ikonoklastik. Namun, ketika agama Kristen mulai dipeluk oleh orang Yunani dan Romawi, kebiasaan orang Yunani dan Romawi membuat patung dan sebagainya merembes masuk ke Agama Kristen. Akhirnya, tradisi menggambarkan objek-objek mistik tumbuh pesat dalam Kristen. Lalu, muncul reaksi keras dan perlawanan dari para pendeta Kristen Timur (Syria). Reaksi ini melahirkan gerakan anti-gambar (ikonoklasme), sekitar tahun 717 M-843 M. Namun, gerakan ini kalah. Al-hasil. Kristen pun te-romawi-kan dan ter-yunani-kan sehingga muncul penggambaran Yesus, Maryam, dan sebagainya. Katolik Yunani hanya membolehkan lukisan dinding, sedangkan Katolik Romawi mengizinkan pembuatan patung sehingga gereja dipenuhi patung-patung. Patung dan gambar inilah yang ditentang oleh Kristen Protestan karena dianggap syirik, dan mereka hanya menerima salib.

Ikonoklasme Islam

Gerakan ikonoklastik dalam Islam secara simbolik terekam dalam pertitiwa “Fath al-Makkah” (penaklukan kota Mekkah). Pada saat itu, nabi Muhammad beserta para sahabatnya menghancurkan patung-patung yang terdapat di sekeliling Ka’bah. Mungkin, inilah momen sejarah yang dijadikan sebagai pembenaran ikonoklasme dalam Islam.

Selain alasan historis tersebut, memang ada alasan teologis: Kaum Muslim meyakini, Tuhan dipersepsi sebagai yang tak mungkin tersaingi (QS. 112:4). Sekali Tuhan tergambarkan, maka Dia bisa dijangkau, dan dengan sendirinya relatif. Inilah rigorous monotheism, paham satu Tuhan yang ketat. Namun, kemudian pandangan ini meluas bukan hanya sebatas pada penggambaran Tuhan. Sebagian ulama bahkan melarang pernggambaran makhluk hidup, baik berupa patung maupun gambar. Memang, pendapat ini masih kontroversial: Ada yang menghalalkan, namun tak sedikit yang mengharamkan. Bagi yang membolehkan pun, gambar makhluk hidup tersebut mesti “tidak utuh”. Ada sebagian anggota tubuhnya yang dihilangkan. Karena paham anti-gambar inilah, maka seni yang berkembang di dunia Islam adalah seni kaligrafi dan arabesk. Kaligrafi mengembangkan paham ketuhanan yang abstrak, dengan penekanan pernyataan diri Tuhan melalui wahyu. Sedangkan arabesk merupakan pengembangan rasa keindahan yang bebas dari mitos alam, dan dilakukan dengan mensketsakan pola-pola abstrak yang diambil dari pengolahan motif bunga-bungaan, daun-daunan, dan poligon-poligon.

Gambar Nabi

Lalu, bagaimana dengan gambar Nabi Muhammad? Sebetulnya, ada dua hal yang perlu dibedakan dalam penggambaran Nabi Muhammad. Pertama, gambar yang mengekspresikan penghinaan, pelecehan, dan penodaan terhadap citra pribadi Nabi Muhammad. Jelas, gambar seperti ini diartikan oleh kaum Muslim sebagi serangan terhadap figur suci Nabi. Kedua, gambar yang mengilustrasikan kehidupan Nabi, tetapi tidak dalam gambaran negatif. Dalam konteks tipe gambar kedua tersebut, mungkin masih debatable. Di kalangan mayoritas Muslim Suni, gambar tipe kedua ini pun dianggap tabu. Sedangkan dalam masyarakat Muslim Syiah, tidak.

Sebenarnya, menurut Wijdan Ali (1999), seorang ahli seni Islam, larangan menggambar Nabi belum muncul sampai abad ke-16-17 M. Hal ini dibuktikan dengan adanya sejumlah “ilustrasi tentang Nabi” dalam sejumlah buku, seperti buku Jami’ Tawarikh karya Rasyid al-Din yang diterbitkan di Tabriz, Persia (1307 M). Kini buku tersebut tersimpan dalam koleksi Perpustakaan Universitas Edinburgh, Skotlandia. Bahkan, untuk menghindari larangan makhluk hidup, khususnya Nabi, sejumlah pelukis Muslim mengambarkan Nabi tanpa menggambarkan paras Nabi (seperti lukisan Turki abad ke-16, yang tersimpan di Museum of Fines Art, Boston), atau bagian muka yang ditutupi cahaya yang dapat kita temukan dalam sejumlah gambar grafis kontemporer Iran.

Wa Allah a’lam bi al-shawab

 

 

 

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: