ISLAM-RAMAH

Desember 31, 2010

Hikmah: Antara Sikap Inklusif dan Kerja Ilmiah

Filed under: AGAMA — ruhullah @ 6:47 am

Dalam keseharian, kita kerap menggunakan atau mendengar kata hikmah. Seperti ketika kita menghadapi musibah atau kesulitan hidup, sering kita dengar orang berkata “ ya sudah, ambil hikmahnya saja”. Kata hikmah bukan saja dipakai dalam keseharian kita. Dalam pembukaan konstitusi kita pun, UUD 45, memasukkan istilah ini dalam dasar negara, yakni sila ke-4 dari pancasila “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah…” Karena itu, jika ada pertanyaan: apakah model kepemimpinan yang dianut bangsa Indonesia, maka jawabannya wilayah al-hikmah. (kepemimpinan hikmah)

Jika kita lacak secara kebahasaan, hikmah berasal dari bahasa Arab, yang secara umum bermakna: kebijaksanaan, bagusnya pendapat atau pikiran, ilmu, pengetahuan, filsafat, kenabian, keadilan, pepatah dan juga berarti al-Quran al-Karim.

Bagaimana al-Quran berbicara tentang hikmah? Dalam al-Quran, kata hikmah terulang sebanyak 20 kali. Salahsatunya adalah ayat yang dikutip oleh Cak Nur dalam pidato pendirian Universitas Paramadina:

Allah Telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui” (QS. al-Nisa: 113)

Makna al-hikmah yang tersebar dalam al-Quran di 20 tempat tersebut, secara ringkas, mengandung tiga pengertian:

Pertama, al-hikmah dalam arti “penelitian terhadap segala sesuatu secara cermat dan mendalam dengan menggunakan akal dan penalaran.”Pengertian ini mengingatkan kita pada kata yang memiliki makna yang hampir sama, yakni falsafah. Bahkan, Cak Nur berpendapat, hikmah adalah padanan kata falsafah itu sendiri sebab falsafah sendiri merupakan adopsi dari bahasa Yunani, philosophia. Namun, buya Hamka sedikit membedakan antara hikmah dengan falsafah. Menurut beliau, hikmah lebih mendalam dan halus dibanding falsafah yang lebih mengedepankan rasio (nalar) dan hanya bisa dipahami oleh orang yang terlatih nalar-logikanya. Sedangkan hikmah, dapat dimengerti oleh siapa pun. Kedua, al-hikmah yang bermakna “memahami rahasia-rahasia hukum dan maksud-maksudnya”. Ketiga, al-hikmah yang berarti “kenabian atau nubuwwah”

Selanjutnya, Nabi sendiri secara eksplisit mendefinisikan hikmah. Dalam salahsatu hadits riwayat Bukhari disebutkan: Wa al-hikmah al-ishabah fi ghair al-nubuwwah (hikmah adalah kebenaran di luar kenabian). Selanjutnya, dalam satu hadits Nabi bersabda, “hikmah adalah harta yang hilang dari perbendaharaan kaum Muslim, maka barangsiapa yang menemukannya, maka ia lebih berhak memungutnya.”

Bagaimana memungut serpihan-serpihan hikmah yang terserak dalam kebudayaan dan peradaban di seluruh sudut dunia?

Sikap yang pasti adalah, keterbukaan, inklusifitas dalam memungut hikmah-hikmah tersebut. Sikap inklusif ini dicontohkan secara sempurna oleh kaum Muslim klasik. Pada era keemasan Bani Abbasiyah, misalnya, filsafat dan sains demikian berkembang dikarenakan “sikap inklusif” kaum Muslim untuk menerima hikmah dari berbagai budaya: mulai Persia, India, Yunani dll. Dalam sejarah filsafat, misalnya, kaum Muslim mewarisi peradaban Helenis dengan mengadopsi nalar Yunani melalui penerjemahan karya-karya penting mereka seraya mengawinkannya dengan nilai Islam. Begitu pula di Spanyol. Kaum Muslim berkolaborasi dengan komunitas yahudi membangun peradaban di sana sebelum kemudian terusir dari negeri matador tersebut. Peradaban Islam begitu megah karena mampu mewarisi peradaban-peradaban sebelumnya. Ini mensyaratkan, sikap inklusif, terbuka.

Selain sikap inkusif tersebut, perlu pula kiranya kaum Muslim mengggali secara serius dan sistemik “kebenaran-kebenaran di luar kenabiaan” dengan kerja ilmiah, melakukan terobosan atas batas-akhir ilmu pengetahuan melalalui kegiatan riset. Karena itu, para ahli waris Nabi, yakni ulama (kaum terpelajar, para sarjana, masyarakat ilmuwan, kelompok intelektual, dan cendekiawan) memiliki tugas profetik (kenabian) untuk melakukan kajian-kajian yang mencakup dan merangkum (jami’ah) seluruh “universum” ilmu pengetahuan, dengan cara pendekatan menyeluruh (kulliyah) terhadap bagian-bagian “universum” ilmu pengetahuan itu. Pendekatan menyeluruh (kulliyah) itu meliputi aktivitas perbandingan (muqaranah), wacana kritis (munazharah), dan ketelitian pengamatan (mulahazah). Di bidang ilmu empiris, kulliyah di lengkapi dengan tajribah (eksperimen) dalam ma’mal (ruang penelitian, laboratotium). Pembuktian terhadap suatu pandangan teoritis (nazhar, nalar) menghasilkan kesimpulan yang tangguh, yakni pengetahuan mujarrab (yang terbukti benar melalui eksperimen). Inilah salahsatu dasar filosofi kegiatan ilmiah (Universitas) dalam tradisi Islam, yakni pencarian hikmah melalui kerja ilmiah.

Dengan sikap inkusif (terbuka) dan kerja ilmiah yang tangguh, insya Allah kita mampu merengkuh hikmah, yang merupakan hak kaum Muslim tersebut. Allah menyatakan:

Allah menganugerahkan al-hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar Telah dianugerahi karunia yang banyak” (QS.. al-Baqarah: 269)

Semoga kita termasuk orang-orang yang dikehendaki Allah dan layak menerima hikmah. Amien

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: