ISLAM-RAMAH

Desember 31, 2010

HAK UNTUK TIDAK BERIMAN

Filed under: FILSAFAT — ruhullah @ 7:59 am

Manusia tidak “memiliki” kebebasan. Kebebasan bukan “suatu benda” yang dilekatkan pada diri manusia yang bisa ditanggalkan, seperti pakaian. Kebebasan adalah manusia itu sendiri. Kebebasan merupakan fakta eksistensial “cara mengada” manusia. Artinya, kebebasan identik dengan manusia. Manusia adalah kebebasan, kebebasan adalah manusia! “Manusia dikutuk untuk bebas”, kata Sartre. Jadi, manusia “mengalami-langsung” kebebasan, seperti merasakan dingin atau panas, sejak dari buaian hingga liang lahat. Kebebasan di kenali melalui pengalaman (per experientiam). Momen paling benderang dari kebebasan adalah momen pilihan (the choice). Sejak bangun tidur, kita disajikan pilihan: mandi atau tidak, sikat gigi atau tidak, sarapan atau tidak dan seterusnya. Segenap hidup, kita habiskan untuk memilih. Bahkan, hidup sendiri merupakan pilihan sebab bisa saja kita mengakhiri hidup kita. Artinya, kita memiliki hak mutlak untuk menentukan hidup. Tidak ada seorang pun yang mampu memaksa, merampok kebebasan memilih. Pemaksaan hanya sukses pada tataran lahiriah, padahal kebebasan ada di “dunia batin” (Stoa). Dunia batin tidak bisa dirampok karena tiap individu punya kebebasan-potensial untuk berkata “tidak”. “Menidak” inilah modus mengada manusia, menurut Sartre. Karena itu, pada dasarnya, tak ada individu yang mampu menyangkal kebebasan. Penyangkalan atas kebebasan berarti penyangkalan terhadap kehidupannya sendiri. Dengan mengafirmasi kebebasan, artinya seseorang bertanggungjawab atas hidupnya. Menegasikan kebebasan, berarti lari dari tanggung jawab.

Jika agama hadir untuk manusia, maka konsekuensinya agama “meng-afirmasi” kebebasan. Karena, bila agama tidak afirmatif pada kebebasan, maka individu beragama akan mengalami “alienasi” dari kemanusiaannya. Penganut agama akan merasa asing dengan agama karena tidak mencerminkan cara mengadanya. Karena itu, secara niscaya, agama mengakui kebebasan, seperti agama mengakui kehidupan. Konsekuensinya, agama harus pula “mengakui” hak, bukan saja hak untuk beriman, tetapi juga hak untuk tidak beriman. Pada dasarnya, beriman merupakan tanggapan batin individu yang bersifat pribadi terhadap panggilan Tuhan. Beriman berarti membuat relasi personal dengan Tuhan. Karena itu, pada dasarnya, kehidupan beragama merupakan kehidupan soliteriness (kesendirian), dimana seseorang memberi tanggapan atas bisikan Tuhan. Tidak beriman berarti memilih untuk membuat relasi dengan Tuhan “yang personal”, memilih untuk menghayati kesendirian sebagai sebuah “jalan hidup”.

Memang, pilihan beriman atau tidak beriman bukan pilihan biasa karena menyangkut kebenaran. Kebenaran agama berbeda dengan kebenaran aritmatika. Dengan meyakini bahwa 2 X 4 = 8, seseorang tidak disebut sebagai “orang yang benar” atau saleh dan tidak memiliki konsekuensi pada perilaku. Tidak ada unsur transformasi diri di dalamnya. Sedangkan kebenaran agama memiliki konsekuensi pada kehidupan seseorang. Keyakinan pada kebenaran agama membuat individu mengembangkan karakter dirinya berdasarkan apa yang dipercayai, diyakininya.

Tegal Parang, 27 Februari 2010



Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: