ISLAM-RAMAH

Desember 28, 2010

PEMICU FILSAFAT

Filed under: FILSAFAT — ruhullah @ 3:02 am

Mata Bayi

Sebagian besar orang menganggap lingkungan, dunianya sebagai sesuatu yang biasa. Dunia menjadi biasa karena rutinitas pertemuan antara kita dengan dunia begitu sering. Kita tidak mempersoalkan, mempertanyakan, apalagi menggugat dunia kita sebab kita demikian akrab, dekat, familier dengan dunia kita. Kita tidak merasa perlu menguji lagi pengetahuan yang kita serap dari lingkungan keseharian.  Sebetulnya, sebelum kita mengalami keakraban yang kental dengan dunia, kita pernah mempertanyakan dunia kita, yakni saat kita masih balita. Coba perhatikan perilaku seorang bayi. Ia tampak begitu lucu sekaligus bergairah mempertanyakan segala sesuatu  yang ada di sekelilingnya. Seorang bayi melihat dunia bukan sebagai sesuatu “yang biasa”, tetapi sesuatu yang “luar biasa”. Persis seperti inilah sikap filosof terhadap dunia. Kita mulai melihat dunia tidak dengan mata “keseharian”, tapi dengan tatapan “mata bayi”. Kita melihat dunia seolah-olah baru pertama kali melihatnya! Keheranan, keraguan, kesadaran akan keterbatasan, sekaligus keingintahuan bercampur dalam cawan pikiran kita. Dari titik inilah dimulai petualangan di negeri filsafat.

Empat Pemicu

Pertama, keheranan.  Banyak filosof yang melihat bahwa, rasa heran (Yunani: thaumasia) sebagai asal filsafat.” Mata kita memberi pengamatan bintang-bintang, matahari, dan langit. Pengamatan ini memberi dorongan untuk menyelidiki. Dan dari penyelidikan ini berasal filsafat, ” kata Plato. Senada dengan Plato, Immanuel Kant gejala yang paling mengherankan adalah “langit berbintang di atasnya” dan “hukum moral dalam hatinya” (Coelum stellatum supra me, lex moralis intra me, tulisan di kuburan Kant). (Hamersma, 2008: 12)

Kedua, keraguan. Augustinus (354-430 M) dan Descartes (1596-1650 M) berpendapat, kesangsian atau keraguan sebagai sumber utama filsafat. Manusia heran, tetapi kemudian ia ragu-ragu. Apa ia tidak ditipu oleh panca inderanya kalau ia heran? Apakah kita tidak hanya melihat apa yang ingin kita lihat? Dimana dapat ditemukan kepastian, karena dunia ini penuh dengan beragam pendapat, keyakinan, dan interpretasi? Sikap ini, sikap skeptis  (Yunani: skepsis, ‘penyelidikan’), sangat berguna untuk menemukan suatu pangkal yang tidak teragukan lagi. Titik pangkal ini dapat berfungsi sebagai dasar untuk semua pengetahuan lebih lanjut. (Hamersma, 2008: 12)

Ketiga, kesadaran akan keterbatasan. Filosof-filosof lainnya berpandangan bahwa, manusia mulai berfilsafat ketika ia menyadari betapa kecil dan lemah dirinya bila dibandingkan dengn jagad raya. Semakin terpukau oleh ketidakterhinggaan dirinya, semakin ia heran akan eksistensinya. Manusia ingin melampui keterbatasannya dirinya. (Hamersma, 2008, 13)

Keempat, keingintahuan. “Manusia adalah binatang Tuhan yang sakit” kata Scheler.  Dan Virus yang menjangkiti manusia adalah rasa ingin tahu.  Rasa ingin tahu merupakan modal dasar seseorang untuk menjadi filosof. Rasa ingin tahu didorong oleh rasa keheranan, rasa ketakjuban akan realitas yang belum terjelaskan.  Manusia pun  mencari jawab. Eksplorasi manusia yang berusaha memahami realitas menemukan cahaya jawabnya pada mitos.  Namun mitos tak mampu memuaskan dahaga rasa ingin tahu dan tak tahan uji. Filsafat lahir dari ketidakpuasan tersebut.

Mampang, 5 Oktober 2010

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: