ISLAM-RAMAH

Desember 28, 2010

Mengapa Timur dan Barat Berbeda?

Filed under: FILSAFAT — ruhullah @ 2:48 am

Saya ingin memulai menyusun jawaban dari sebuah analisis budaya yang berpijak pada penelusuran antropologis, citra hakekat manusia. Analisis tentang hakekat manusia itu dapat dimulai dari pertanyaan dasar tentang eksistensi manusia, yaitu bagaimana manusia bereksistensi, mengada? Apakah ciri khas mengada manusia yang membuatnya berbeda dengan cara mengada benda, misalnya? Cara berada khas manusia: in-der-Welt-sein/ etre au monde/ berada-di-dunia . Kata “di” tidak dimaksud seperti halnya air “di dalam” gelas. Ilustrasi tentang cara mengada: berada-di-dunia ini adalah siput. Seekor siput berada sekaligus dengan cangkangnya. Tanpa cangkang, siput akan mati. Meskipun demikian, pada dasarnya, siput dan cangkang adalah dua bagian yang berbeda, tetapi satu-kesatuan yang tak terpisahkan. Begitu pula dengan manusia. Meskipun dunia dihayati sebagai bukan-aku karena aku berdistansi terhadapnya. Namun, manusia tidak dapat merealisasikan diri tanpa dunia. Karenanya, modus mengada manusia: berada-di-dunia tersebut mengandung makna relasi manusia-dunia, yakni imanensi: kesatuan , dan transendensi: berjarak. Manusia bagian dari alam (matter), namun sekaligus bertransendensi terhadapnya (spirit). Karena itu, dunia alam (nature/natura) menjadi dunia budaya (culture/cultura) berkat manusia. Proses peralihan ini disebut humanisasi . Oleh sebab itu, arti “alam” di sini adalah alam yang belum disentuh manusia. Usaha manusia untuk memakhlukkan dan menyesuaikan alam dengan kebutuhan manusia, disebut: membudaya. Makna membudaya ini dapat kita lihat dalam kata culture/cultura berasal dari kata “colore”, berarti mengolah, mengerjakan, memelihara, seperti tanah gersang diolah menjadi subur . Usaha membudaya dimaksudkan untuk membuat dunia menjadi “oikos” (rumah, tempat tinggal), yang di dalamnya segala makhluk dapat berkembang dengan baik.Manusia sebagai pencipta kebudayaan adalah tuan sekaligus abdi . Singkatnya, membudaya berarti memanusiakan, humanisasi. Humanisasi terarah ke dua arah. Pertama, terarah ke dunia-luar, seperti teknik pengolahan tanah, dan tampak jelas dalam perkembangan sains dan teknologi di Barat (Eropa dan Amerika). Kedua, terarah ke dunia-batin, seperti teknik bernafas yang dikembangkan di Timur.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: