ISLAM-RAMAH

Oktober 1, 2009

Semangat Keberagamaan Masyarakat Perkotaan

Filed under: AGAMA — ruhullah @ 2:03 am

Hari itu, sebut saja namanya Ikhsan (45 th), bergegas menuju kantornya di bilangan Sudirman, Jakarta. Dari Ciputat, ia memacu mobilnya dengan kecepatan antara 40-60 km per jam. Maklum, hari itu, di kantornya, pada pukul 09.00 WIB, akan digelar sebuah acara halaqah untuk seluruh karyawan perusahaannya yang bergerak di bidang perbankan itu.

Ikhsan adalah manajer operasional perusahaan tersebut. Sebagai pejabat eksekutif, ia harus tiba tepat waktu di kantornya. Tujuannya, memberi teladan bagi karyawannya. Kegiatan itu bertema Menumbuhkan Spiritual dalam Memacu Semangat Kerja. Kegiatan model ini sudah sering diikutinya. Berbekal pengalaman yang ada, ia kini tampil beda dibandingkan setahun lalu. Ia senantiasa berpakaian baju koko dan berjas, tanpa dasi. Ia ingin menunjukkan identitasnya sebagai seorang Muslim. Dan, Ikhsan pun rajin mengikuti pengajian-pengajian yang diadakan di sejumlah perkantoran.

Hal yang sama juga terjadi pada diri Abdul Hamid (47 tahun). Kegiatan-kegiatan keagamaan yang sering diikutinya, baik yang diselenggarakan oleh kantornya maupun pihak lain, hampir tak pernah terlewatkan. Kegiatan-kegiatan itu dirasakannya telah memberikan semangat baru bagi dirinya dalam menghadapi setiap tantangan secara optimis. Ia juga suka bersedekah dan membantu orang yang membutuhkan.

Cerita seperti ini kini banyak dialami masyarakat perkotaan. Di Jakarta, kini banyak kegiatan-kegiatan keagamaan yang digelar di perkantoran, hotel berbintang, ruang seminar, dan sebagainya. Pesertanya pun kebanyakan adalah eksekutif-eksekutif perusahaan. Dan, kegiatan-kegiatan seperti ini telah menumbuhkan nilai-nilai spiritual dalam diri pesertanya.

Fenomena seperti itu, menurut M Subhi Ibrahim, direktur eksekutif Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Universitas Paramadina Jakarta, menjadikan pesertanya bagaikan sufi-sufi baru di era modern sekarang ini. Mereka menjadi sufi-sufi yang tampil di perkotaan. Istilah ‘sufi’ tak lagi milik dunia pesantren semata.

Subhi menjelaskan, awalnya sufisme muncul di pelosok dusun yang kini menjalar ke perkantoran di perkotaan. Sufisme makin berkembang sejak era 1980-an. Hal ini, kata Subhi, karena didorong oleh faktor santrinisasi, yakni lahirnya gairah religius karena terbukanya keran ekspresi keagamaan. Gairah tersebut pun kini berkembang hinnga di kalangan priyayi dan eksekutif. Yang berikutnya adalah terbentuknya kelas menengah baru yang merupakan efek modernisasi di perkotaan.

”Umumnya, kelas menengah ini makmur secara ekonomi. Namun, tak jarang terjerambab dalam kegersangan spiritual,” jelas Subhi yang juga ketua Panitia Seminar Urban Sufism Day yang diselenggarakan di Universitas Paramadina, Rabu-Kamis (21-22/1).

Para kelas menengah itu kini makin terbiasa dengan istilah-istilah keagamaan, seperti fikih, tasawuf, akidah, dan lain sebagainya. Dalam beribadah pun, mereka berusaha untuk khusyuk dan pasrah. Menurut Said Aqil Siraj, para masyarakat kelas menengah itu terus belajar dan belajar untuk menemukan jati diri yang sesungguhnya sebagai seorang hamba.

”Kita semua tentu senang dengan aktivitas mereka itu. Karena, semangat keberagamaan makin tumbuh dengan subur. Sehingga, nilai-nilai spiritualitas turut memperbaiki sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, tetangga, masyarakat, maupun kantor,” ujarnya. sya

Sumber :http://www.republika.co.id/koran/0/2…_Jakarta_Bogor

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: