ISLAM-RAMAH

September 11, 2009

Roder Garaudy: Krisis Peradaban Barat Kontemporer

Filed under: FILSAFAT — ruhullah @ 4:03 am

Roger_GaraudyRoger Garaudy berpandangan, peradaban Barat mengalami krisis bukan sekedar karena faktor-faktor incidental-temporer, seperti pelanggaran moral, politik dan teknik semata. Lebih dari itu. Faktor penyebab krisis itu berhulu pada faktor inti, struktural,pijakan filsafatnya dalam memandang wujud dan manusia.

Menurut Garaudy, sejak masa kebangkitan Eropa, Barat modern dikuasai filsafat atau ideologi yang membatasi pandangannya terhadap Tuhan, manusia dan alam, berdasarkan fokus-fokus berikut:

1)    Filsafat yang mengingkari transendensi Tuhan dan nilai-nilai mutlak. Artinya, keimanan kepada Yang Transenden dan pijakan nilai mutlak disingkirkan dari pola peradaban Barat kontemporer. Peradaban ini melihat “manusia adalah ukuran segala sesuatu”.

2)    Filsafat yang menekankan individualisme dalam relasi antar manusia (sosial). Individu diyakini cukup dengan dirinya sendiri. Orang lain selalu mengancam kebebasan eksistensialnya.

3)    Filsafat yang memandang alam sebagai hak milik khusus manusia, hak mutlak untuk menggunakannya sampai menyalahgunakannya. Pandangan ini berakar pada hukum Romawi kuno.

Bagi Garaudy, model filasafat seperti itulah yang memberi saham besar dalam “kebudayaan putus asa”.

Garaudy menjelaskan lebih lanjut bahwa, pandangan tentang transendensi tuhan dan nilai-nilai mutlak diganti dengan “agama pertumbuhan” atau “ideologi progresif”. Pertumbuhan adalah keinginan memproduksi lebih banyak dan lebih cepat, dengan ukuran berguna atau tidak berguna (pragmatism).  Pertumbuhan menjadi kiblat orientasi dinamika peradabannya. Pertumbuhan jadi tujuan dari perbuatan dan perencanaan. Pertumbuhan menjadi “tuhan tersembunyi”. Garaudy menulis,”tuhan tersembunyi ini adalah tuhan yang ganas karena ia membutuhkan korban manusia.”

Menurut Garaudy, masyarakat Barat kontemporer menyatukan tujuan dengan cara, mengubah cara menjadi tujuan. Manusia bukan tujuan, tapi cara dimana ia  mengendalikan hukum pasar.  Karena itu, Garaudy menyebutnya sebagai “agama sarana-sarana”. Konsekuensi logis dari pengkudusan sarana-sarana itu, kekuataan, pengendalian dan pertumbuhan materi menjadi nilai-nilai trensenden dan tujuan peradaban. Dengan kata lain, peradaban tanpa tujuan-tujuan kemanusiaan dan moral, sebab tujuan-tujuannya adalah sarana-sarana itu sendiri yang tidak tunduk kepada ukuran selain ukuran kekuatan dan kekuasaan. 

Sedangkan individualisme, mengubah dunia menjadi hutan belantara dimana kepenting saling bertentangan, membawa pertarungan mematikan antar individu, demi kepentingan individual atau nasional seraya menutup mata dari “yang lain” yang dipandang sebagai pembatas, penolak, lawan atau musuh.  Individu kehilangan solidaritas dan tanggungjawab sosial. Manusia terkotak-kotak dalam lembaga-lembaga, Negara-negara dan blok-blok. Negara-negara industri  tumbuh degnan menggusur,menambah  miskink negeri terbelakang.  Logika kekerasan dan teror berkembang biak. Yang kuat memaksakan kekuasaan dan syarat-syaratnya pada yang lemah. Memang, tampak kadang ada perimbangan. Namun, perimbangan yang menyembunyian perang dingin. “Perimbangan ketakutan,” tulis Garaudy. Perang semua melawan semua.

Menurut Garaudy, individualism berkembang dalam kapitalisme menjadi totalitarisnisme, seperti di nagara sosdialis, dimana monopoli kekuasaan dan keputusan terletak di tangan partai berkuasa dan melarang individu, rakyat untuk berinisiatif dan hak berbeda.

Sedangkan, dalam pemikiran budayanya, peradaban kontemporer berciri “kebudayaan putus asa”. Di dalamnya, terjadi penciutan manusia dalam satu dimensi tunggal dan memandangnya sebagai individu produsen dan konsumen. Masyarakat konsumerisme menciptakan gairah, kebutuahan yang membuat manusia terikat pada sistemnya, membawa pada kematian.

Sebabnya, sarana dan teknik telah berubah menjadi tujuan, dan hikmah menjadi terpisah dari ilmu pengetahuan sehingga membuka jalan bagi “para nabi” dari “tuhan tersembunyi” ini menyebarluaskan keputusasaan dan nihilisme.  Yakni, mengajak manusia jauh dari tuhan dan nilai absolut seraya menuhankan manusia sebagai penguasa alam. Akibatnya, kedaulatan dan kekuasaan minus tuhan itu menjelma menjadi kekerasan, perang antar kelompok, dan manusia jadi satu dimensi. Muncul paganisme dan pesimisme baru. Ilmu penfetahuan berubah menjadi scientisme, teknik menjadi teknokratisme, dan politik menjadi machiavelianisme. Tersebarlah gagasan-gagasan absurdisme,nihilisme, pembesar-besaran masalah sistem ekonomi dan politik dunia, seolah-olah seperti ketentuan Ilahi yang tidak bisa berubah. Rasionalisme berwajah “akal alat” dan “akal Negara”  menghasilkan derision (cara berfikir rusak). Singkatnya, bagi Garaudy, peradaban Barat modern kehilangan tujuan kemanusiaanya, yang bila berkelanjutan hanya akan bermuara pada kehancuran, kematian, dan tragedi.

Dikutip dari: Muhsin al-Mawli, Pergulatan Mencari Islam: Perjalanan Religius Roger Garaudy, (Jakarta: Paramadina,1996), h. 224-232

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: