ISLAM-RAMAH

Agustus 26, 2009

BULAN SABIT DI BUMI PERTIWI

Filed under: AGAMA — ruhullah @ 5:43 am

_bismi3200Tanpa mengingkari eksistensi komunitas  agama lain, Islam merupakan agama nasional, sebab Islam dipeluk oleh mayoritas anak bangsa ini. Karena itu, tak salah jika bangsa Indonesia disebut sebagai bangsa Muslim. Menariknya, islamisasi  Nusantara terjadi demikian cepat, namun paling sedikit arabisasinya. Tanpa penaklukan militer, Islam merembes secara kultural dalam palung-palung kehidupan masyarakat di Nusantara. 

Selanjutnya, kapan  Islam datang ke Nusantara?  Dari manakah  asal Islam yang  datang tersebut sehingga memiliki keunikan? dan mengapa islamisasi Nusantara begitu sukses? Siapakah aktor di balik kesuksesan islamisasi tersebut?

 Abad Awal Hijriah

Thomas W. Arnold berpandangan, sulit menentukan dengan tepat kapan pertama kali Islam masuk ke Indonesia. Ada kemungkinan, Islam telah dibawah para pedagang Arab sejak abad-abad pertama Hijriyah yang tampak dari pengaruh mereka, khususnya di dunia perdagangan. Pada pertengahan abad ke-8 M, sudah banyak pedagang Arab yang ditemui di Canton. Sementara antara abad ke-10 sampai abad ke-15 hingga datangnya Portugis, mereka telah menjadi “raja-raja” perdagangan Timur yang sudah mantap. Artinya, mereka telah membangun pangkalan-pangkalan tetap pedagangan di kepulauan Indonesia sejak masa paling awal. (Thomas W. Arnold, 1981: 317) Menurut Arnold, para ahli bumi Arab baru menyebut kepulauan Indonesia pada abad ke-9. Tarikh Cina lebih awal lagi, yakni 674 M dimana tercatat ada seorang pemimpin Arab yang mengepalai rombongan orang-orang Arab yang menetap di Pantai barat Sumatera. Kemungkinan, berdasarkan kesamaan mazhab yang dianut (Syafii), berasal dari Malabar yang kota-kota pelabuhannya kerap dikunjungi pedagang dari Jawa, Cina, Yaman dan Persia.dari India atau Persia, asal datangnya mazhab Syiah yang bekas-bekasnya masih terlihat di Jawa dan Sumatera. (Arnold, 1981: 317-318)

Menurut Osman Bakar, berdasarkan sumber-sumber Cina, telah ada pembangunan pemukiman Arab dan boleh jadi pemukiman Muslim lainnya di pesisir barat Sumatera pada 54 H/674 M. Wilayah ini  merupakan rute strategis  perdagangan antara Arabiah dan Cina, pelabuhan penting bagi pedagang Arab dan Persia. Emigrasi besar-besaran para pedagang Muslim berikutnya ke kepulauan itu terjadi pada 264 H/878 M akibat pemberotakan Huang Ch’ao di Cina Selatan dimana, menurut Abu al-Hasan al-Mas’udi (w.345 H/956 M), sekitar 120-200 ribu pedagang dari barat, mayoritas Muslim,  dibunuh. Orang-orang Muslim yang selamat, terutama yang berkebangsaan Arab dan Persia, melarikan diri ke kepulauan itu dan berdiam di Kalah, pesisir barat semenanjung Malaysia serta di San-fo-ch’i (Palembang), bagian timur Sumatera.  Perkampungan pedagang Muslim lainnya di Champa (430 H/1039 M) dan di Jawa (475 M/1082 M). Sampai abad ke-7 H/13 M, tidak ada gerakan dakwah yang berarti. Dakwah mulai meningkat pada abad ke-8 H/14 M, dan menguasai seluruh kepulauan pada abad berikutnya.  Faktor apa yang membuat dakwah demikian masif  dilakukan? J.C. van Leur, seperti dikutip Bakar, adalah faktor perdagangan. Pertanyaan yang muncul, jika pemicu penyebaran Islam adalah motif ekonomi (berdagang), mengapa  baru pada abad ke-12 islamisasi dilakukan secara massif, padahal pedagang-pedagang Muslim tersebut telah berada di Nusantara sejak abad ke-7 dan abad ke-8? Berbeda dengan Leur, Osman Bakar berpendapat, berdasarkan penjelasan dari sejumlah hikayat –hikayat lokal Melayu dan Jawa, dan juga iklim keagamaan yang berkembang, faktor  utamanya adalah semangat dakwah dari para sufi. (Osman Bakar, 2003: 341-342) Faktor kultural semangat dakwah para sufi tersebut menemukan momentum pada abad ke-12 di Sumatera dan abad ke15 di Jawa karena pada saat itulah Islam memasuki wilayah kekuasaan politik yang digunakan sebagai topangan struktural untuk mengais dukungan rakyat guna memeluk Islam. Kampanye besaran-besaran atas Islam terjadi pada saat kaum Muslim memegang hegemoni politik di Pesisir Jawa. Sebelumnya, Islam sebagai pendatang baru adalah komunitas yang kecil dan kurang berarti. Interaksi antar pedagang Muslim dari berbagai negeri seperti Arab, Persia, Campa, Gujarat dan Melayu yang berlangsung lama dan intensif membuat komunitas baru ini lambat laun semakin berwibawa, membentuk masyarakat muslim. Islam berperan sebagai entitas pembentuk solidaritas emosional dan ideologis sesama Muslim sekaligus membuat jaringan yang solid. Pergeseran dari komunitas menjadi masyarakat ini menunjukkan eksistensinya sejak abad ke-12 di Sumatera dan abad ke-15 di Jawa setelah mereka berhasil mendapatkan akses kekuasaan, yang diperhitungkan oleh penguasa lokal. (Sumanto al-Qurtuby, 2003: 110-111)          

Islam Persia dan Pedagang Sufi

Menurut Nurcholish Madjid, pengenalan Islam di Nusantara tidak melalui Dunia Arab secara langsung. Pada awal islamisasi, Islam diperkenalkan oleh dunia Islam non-Arab yang berada dalam lingkungan budaya Islam Persia. Karena itu, warna kepersiaan sangat kuat, misalnya dalam kebahasaan. Bukan saja kata-kata Persia yang masuk ke dalam bahasa Melayu, bahkan kata-kata Arab yang kita kenal pun kita pinjam tidak secara langsung dari bahasa Arab, tetapi dari bahasa Persia. Ini terbukti, dari bergantinya ta’ marbuthah dalam harakat sukun atau mati menjadi ta’ maftuhah, seperti adat, berkat, dawat, harakat, ibadat, jumat, kalimat, mufakat, shalat dan zakat. Meskipun ada pula sejumlah kata yang tetap menyuarakan ta’ marbuthah, seperti dalam bahasa Arab, misalnya fitrah, hikmah, mahkamah, makalah, musyawarah, risalah, telaah. Masuknya kata-kata tersebut menunjukkan, kata-kata itu masuk setelah Islam Indonesia mulai mengenal secara langsung dunia dan bahasa Arab. (Nurcholish Madjid, 1997: 7-8)

Karakter Islam Persia tersebut kerap dihubungkan dengan  mazhab tertentu: Syiah. Karena itu, ada yang berteori bahwa, Islam yang datang ke Nusantara pada awalnya adalah Islam Syiah. Menurut teori ini, orang-orang Syiah yang dikejar-kejar para penguasa Bani Abbasiyah,  yang lari dari Timur Tengah sebelah utara (sekarang mungkin daerah Irak), ke sebelah selatan, dibawah pimpinan Ahmad Muhajir, sampai di Yaman. Di Yaman, mereka bertaqiyyah sebagai penganut  Syafi’i di Yaman, Hadramaut. Dari Hadramaut inilah menyebar para penyebar Islam yang pertama, khususnya kaum Alawiy. Karena itu, banyak tradisi Islam di Indonesia memiliki kemiripan dengan tradisi Syiah. Contohnya: salawat diba’ yang memuat nama 12 Imam Syiah, ziarah kubur, membuat kubah pada kuburan, tahlilan hari kesatu atau keempatpuluh (kematian seseorang), dan haul . (Jalaluddin Rakhmat, 1998: 433-434)

Namun, Abdul Hadi WM berpendapat, setelah mengkaji sajak Sayidina Ali di makam Raja Pasai, bahwa Islam awal yang datang ke Nusantara dibawah oleh ulama sufi, bukan ulama Syiah. Pada abad ke-13, ketika kerajaan Pasai berdiri, kekhalifahan Baghdad telah hancur oleh Hulagu Khan. Dakwah Islam dari negeri-negeri Arab terganggu. Ulama sufi lah yang secara aktif mendakwahkan Islam ke wilayah-wilayah Timur, seperti Pakistan, India dan Indonesia. Seabad sebelumnya, Imam Ghazali sukses mengintegrasikan tasawuf ke dalam mazhab Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah. Memang, Sayidina Ali dan Ja’far al-Shadiq dikenal sebagai pionir tasawuf.  Namun, meskipun Sayyidina Ali ditempatkan secara istimewa oleh para sufi, namun tak berarti mereka sejalan dengan pikiran-pikiran ulama Syiah. Bahkan, ulama Syiah tidak senang kepada para sufi karena memandang bahwa imam mesti  ahl al-bait (keturunan Nabi SAW). Dan hingga abad ke-13, pengikut Syiah belum banyak di negeri Iran, walaupun para ulamanya memiliki pengaruh kuat di Iran barat, terutama Qum. Syiah berkembang marak pada pertengahan abad 14. Ini disebabkan berhasilnya dakwah Syiah kepada penguasa Mongol (Il-Khan) dan lalainya ulama Sunni, terutama Syafii dan hanafi, yang berkonflik. Mazhab Syiah berkembang pesat pada abad ke-16 ketika negeri Iran dikuasai Bani Safawi. Awalnya, Bani Safawi adalah sebuah tarekat sufi dan menjadi Syiah militan setelah pemimpinnya beralih ke mazhab Syiah. Syiah menjadi mazhab resmi. Unsur tasawuf diintegrasikan ke dalam sistem ajarannya, diganti namanya menjadi irfan. Namun, tarekat dan pemimpin sufi didepak keluar. Pada masa ini, pemimpin tasawuf Persia pindah ke negeri-negeri Islam yang bermazhab Sunni, seperti Turki, Afrika Utara, Indo-Pakistan dan Asia Tenggara. Di tempat-tempat yang baru ini mereka memperoleh sambutan hangat dari masyarakat. (Horizon, XXXIII/6/1999: 10-11)

Seperti islamisasi di Asia Tengah dan Afrika Hitam, dakwah Islam banyak dipelopori oleh para sufi sekaligus pedagang. Jaringan gilda-gilda perdagangan mereka yang luas (yang berpusat pada tempat-tempat penginapan dekat masjid sekaligus padepokan-padepokan kesufian mereka yang disebut zawiyah, khaniqah, ribath, dan funduq “pondok”) telah memberi mereka fasilitas menyebarkan Islam melalui perembesan damai (penetration pacifique). Karena watak kesufian yang banyak mengandalkan intuisi pribadi dan perasaan (dzawq), pemikiran Islam yang diwarnainya tampil dengan sikap cukup reseptif terhadap unsur-unsur lokal. Di tangan para “wali”, Islam mudah diterima rakyat banyak. Tak aneh bila dalam tempo singkat, Islam menjadi agama mayoritas bangsa kita. (Nurcholish Madjid, 2003:25-26) Jadi, faktor utama keberhasilan konversi ke Islam adalah kemampuan para sufi menyajikan Islam dalam kemasan yang atraktif, menekankan aspek keluwesan (fleksibiltas) ajaran Islam serta kompatibilitas Islam (ajaran tasawuf) dengan mistisisme setempat. Para sufi tidak mempersoalkan kepercayaan dan praktik keagamaan lokal secara ektrem. (Sumanto al-Qurtuby, 2003: 107-108)

Wa Allahu a’lam bi al-shawab

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: