ISLAM-RAMAH

Oktober 8, 2008

TEOLOGI BERMUSIK

Filed under: RENUNGAN — ruhullah @ 2:42 am

Dimana-mana di atas dunia/Banyak orang bermain musik/Bermacam-macam jenis musik/Dari pop sampai klasik.” Bagi pencinta musik dangdut, syair ini tak asing. Syair yang digubah oleh Rhoma Irama. Syair tersebut menggambarkan tentang fenomena musik. Kehidupan manusia tidak bisa lepas dari musik. Sejak dari masyarakat primitif hingga masyarakat modern mengenal musik dengan beragam bentuk dan ekspresinya. Sekarang musik telah berkembang bukan sekedar menjadi sekedar hiburan, tapi juga industri yang melibatkan modal besar. Selain itu, musik pun telah mencipta gaya hidup dan identitas. Musik dimainkan di kampung sampai di kota, diperdengarkan di ruang pribadi dan ruang publik. Artinya, musik sudah menjelma menjadi semacam kebutuhan antropologis yang mesti terpenuhi oleh manusia yang bereksistensi.

 

Namun, banyak yang belum menyadari bahwa musik pun mampu berfungsi sebagai wahana komunikasi untuk menyampaikan pesan. Pesan tersebut bisa beragam. Pesan moral keagamaan salahsatunya. Dalam konteks keagamaan, bagaimana musik dilihat dari sudut pandang teologis dan estetika Islam?

 

Kontroversi

Pertanyaan teologis yang pertama diajukan adalah apakah hukum musik dalam Islam? Halal, makruh, atau halal? Persoalan ini menjadi bahan perdebatan kontroversial dalam masyarakat Islam. Perdebatan ini belum berakhir dan tidak akan pernah berakhir sebab perdebatan tersebut berhubungan dengan wilayah yang sepertinya Tuhan ingin memberikan umat Islam suatu kebebasan untuk memilih dan mengapresiasi. Tidak ada isyarat eksplisit al-Quran yang menjelaskan musik. Sunnah, tradisi Nabi, hanya menyebut hal-hal anekdoktal yang tidak berimplikasi mendukung atau menentang praktik musik. Pendapat dari para ulama dan cendekiawan muslim pun beragam, mulai dari yang mencela musik sampai memujinya dengan berbagai tingkat penerimaan dan penolakkan.

 

Malik ibn Abbas (pendiri mazhab Maliki) bersikap keras terhadap nyanyian. Meskipun demikian, ia masih mentoleransi nyanyian yang sederhana, bermanfaat (membuat tenang unta atau wanita yang sedang bersalin), dan musik pengiringnya adalah duf, drum sederhana. Ibn al-Jauziyah, ahli hukum mazhab Hanbali, penulis Talbis Iblis (Tipuan Iblis), mengatakan bahwa ghina’, nyanyian, asal mulanya adalah pembacaan puisi ritmik dengan tujuan mengajak orang pada kehidupan religius. Tetapi, kemudian ghina ’berkembang menjadi melodi yang rumit, berdentam. Nyanyian pun jadi bid’ah, inovasi yang harus ditolak. Pengubahan atau kebaruan adalah bid’ah karena merusak aturan kesederhanaan. Syafii hanya mengkritik penggunaan musik dalam pembacaan al-Quran. Menurutnya, kesenangan akan musik akan mengalihkan pembaca dari teks padahal tujuan teks bukan untuk memberikan kesenangan. Sedangkan menurut Ibn Abi al-Dunya, nyanyian dan musik itu satu gangguan yang layak dicela sebagaimana permainan catur dan dadu.

 

Sikap moderat yang bisa diambil adalah melihat musik sebagai sesuatu yang netral, mubah. Ia bergantung penggunaan dan pesan yang terkandung di dalamnya. Jika suatu jenis musik terbukti secara empiris berefek negatif bagi perkembangan moral manusia, maka ia dikategorikan sebagai musik yang terlarang (haram). Dan sebaliknya. Musik yang menciptakan ketenangan batin, memicu kecintaan pada Ilahi, dan menyuntikkan kepekaan moral untuk berbuat baik adalah musik yang dianjurkan.

Teori Musik

Sebetulnya, dalam estetika Islam ada dua kubu teori dasar musik: kubu al-Farabi dan Ibn Sina, serta kubu Ikhwan al-Shafa dan al-Kindi. Bagi al-Kindi dan Ikhwan al-Shafa, musik terkait dengan realitas aritmetik dan samawi, persis seperti pandangan Pythagorean. Jadi, musik berhubungan erat dengan realitas objek yang menjadi kekuatannya. Menurut Ikhwan, musik yang di bumi mencerminkan musik yang di langit, dan menggambarkan suatu jalan ke arah kemajuan spiritual menuju dunia eksistensi yang lebih tinggi. Al-Kindi menekankan bahwa musik adalah sistem harmoni yang berhubungan dengan keseimbangan lahiriah dan emosional, dan dapat digunakan sebagai terapi keseimbangan. Artinya, musik terkait dengan wujud yang benar-benar ada di dunia luar, dan ia dapat dinilai dari segi akurasi atau tidaknya.

 

Al-Farabi dan Ibn Sina berbeda. Menurut mereka, musik hanya terkait dengan bunyi dan cara pengaturan bunyi yang dapat menghasilkan kesenangan di telinga pendengarnya. Yang terpenting dari musik adalah kemampuannya membuat kita menikmati bunyi. Jadi, bagi al-Kindi dan Ikhwan al-Shafa, yang dari musik adalah ”apa yangdicerminkannya” sedangkan menurut al-Farabi dan Ibn Sina, ”apa yang bisa dilakukannya” untuk kita. Teori musik al-Farabi berpengaruh besar pada sistem nada Arab yang membagi oktaf hingga 24 interval yang ekuivalen. Sistem ini menjadi dasar musik Arab tradisional. Musik Arab, mengikuti teori al-Farabi, banyak menekankan pada tarab atau kenikmatan yang diperoleh ketika mendengar musik. Sedangkan sistem Pythagorean menghasilkan sistem nada Turki, Persia, dan musik sufi.

 

 

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: