ISLAM-RAMAH

Oktober 8, 2008

MY RUMI

Filed under: SPIRITUALITAS — ruhullah @ 2:32 am

rumiimageTerlahir tanggal 6 Rabiulawal 604 H (30 September 1207 M), di Balkh, wilayah kerajaan Khawarizm, Persia Utara. Ayahnya adalah Bahauddin al-walid, yang tersohor dengan gelar Sultan al-Ulama. Tahun 1219 M, keluarga Bahauddin meninggalkan Balkh, mengembara. Di Naisapur bertemu Faridudin aAttar dan memberinya buku Asrar Nameh (Buku Rahasia) dan Sihabuddin al-Suhrawardi. Lalu, rombongan Rumi bergerak ke Baghdad, dan melanjutkan ke Mekkah, Damaskus, dan Malatiya (Melirene). Merekapun sempat tinggal di Arzanjan (Armenia) dan Zaranda. Di Zaranda ia menikah dengan Jauhar Katun pada usia 19 tahun. Keluarga Bahauddin diundang oleh sultan Bani Saljuk, Pangeran A’la addin Kayqubad untuk datnag ke istananya, di Konya. Pada tahun 1228 H/626 H, keluarga Bahauddin memenuhi undangan. Bahauddin pun diangkat sebagai penasihat Sultan. Bahaudin pun mengajar di Madarasa-i Khudavandgar, sebuah universitas yang didirikan oleh Sadruddin Goratsh, guru sang sultan. Pada tahun 1230 M /628 H, Bahauddin wafat. Rumi pun menggantikan posisi sang ayah sebagai penasihat sultan dan pengajar di Madrasah. Mengikuti anjuran Sayyid Burhanuddin al-Tirmizi, guru tasawuf pertamanya, Rumi melanjutkan pendidikan di Allepo dan Damaskus. Di Aleppo, Rumi tinggal di Madrasa Halawiyah, dibawa bimbingan Kamaluddin ibn al-‘Adim. Sedangkan ketika di Damaskus, Rumi tinggal di Madarsa Maqdasyah. Di Damaskus, Rumi berbincang-bincang dengan tokoh sufi besar lainnya: Muhyidiin ibn Arabi, Sa’adudin Hamawi, Usman Rumi, Auhaduddin Kirmani, dan Sadrudin al-Qunawi. Pada tahun 634 H, Rumi kembali ke Konya. Di Konya, Rumi sibuk mengajar dan memberi bimbingan spiritual. Titik-balik kehidupan Rumi dimulai ketika ia bersua dengan seorang darwis misterius, Syamsuddin al-Tabrizi pada tahun 1244 M/642 H. persahabatannya dengan Syams membawa Rumi meninggalkan segala aktivitas intelektual dan kemasyurannya. Keakraban Rumi dengan Syams menimbulkan kecemburuan rasa terabaikan dari murid dan sahabatnya. Melihat situasi yang tidak kondusif, Syams pun pergi secara diam-diam. Hal ini membuat Rumi merasa kesusahan. Rumi pun mengirim surat pada Syams di Damaskus agar datang ke Konya dan menjamin keamanannya. Permintaan Rumi tersebut dipenuhi Syams. Namun, kedekatan Rumi dengan Syams memunculkan kebencian di antara murid-murid Rumi. Syams pun pergi secara misterius. Rumi pun mencoba mencari Syams ke Damaskus. Tapi Rumi tak pernah lagi bertemu dengan Syams. Karena itu, ia kembali Konya. Akhirnya, Rumi mendapatkan pengganti Syams sebagai sahabat spiritualnya, yakni Salahuddin Faridun Zarkub Setelah Zarkubi wafat (1261 M), Rumi mengangkat Hisamuddin Hasan bin Muhammad bin Hasan ibn Akhi sebagai penggantinya. Rumi menemukan inspirasi pada diri Hisamuddin yang dituangkan dalam Matsnawi. Akhirnya, Rumi wafat pada tanggal 3 Jumadilakhir 627 H/16 Desember 1273 M. Warisan intelektual Rumi yang tak terlupakan adalah: Maqalat-i Syams-i Tabriz, Divan-i Syams-i Tabriz, Masnavi Ma’navi atau Matsnawi Jalaluddin Rumi, Rubaiyyat, Fihi Ma Fihi, Maktubat. Selain karya tulis, Rumi pun mewariskan kelompok spiritual, yakni tarekat maulawiyah yang terkenal dengan whirling dervishes (darwis-darwis yang berputar-putar).

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: