ISLAM-RAMAH

Oktober 7, 2008

BANALISASI LEBARAN

Filed under: AGAMA — ruhullah @ 4:07 am

Semiotika Puasa

 

Puasa adalah sistem tanda berupa jaringan simbol yang diproduksi dari relasi individu-Allah. Dalam puasa, individu-Allah adalah subjek, pelaku, aktor yang  saling mencipta kebertautan yang intim, akrab, dan pribadi. Individu menyapa Allah dan Allah menyapa individu. Keduanya merupakan kesatuan tak terpisahkan dari sistem tanda puasa, sebuah jaring organisasi makna dimana puasa kehilangan arti esensialnya jika relasi tersebut tidak ada atau bubar.       

 

Dalam arsitektur puasa, Allah dimaknai individu sebagai Yang Maha Dekat. Memang, Allah mendeklrasikan diri “lebih dekat daripada urat nadi”. Dalam konteks puasa, kedekatan tersebut diekspose lebih intens karena, ”puasa adalah untukku. Aku sendiri yang akan memberi balasannya,”kata Allah dalam hadits Qudsi. Kedekatan tersebut melahirkan kerahasiaan yang memproduksi kesucian (sakralitas). Jadi, struktur relasi puasa (individu-Allah) bersifat sakral, bukan profan. Karena itu, Ramadhan pun menjelma menjadi sistem waktu sakral, bukan waktu profan. Ramadhan sekaligus menjadi altar suci.  Tampak, sakralitas mengandaikan adanya hijab, tabir, atau cadar realitas. Sebab, jika cadar realitas tersingkap, maka sakralitas pudar.  Karena itu, relasi individu-Allah dalam puasa tertutup dari persepsi indra-luar, terbebas  dari kalkulasi ekternal (lahiriah).  Pengukuran kualitas kedekatan terdapat pada subjek-objek, manusia-Allah atau Allah-manusia. Jelas, struktur relasi puasa adalah komunikasi insentif, personal,dan sakral. Jaringan relasi, temali puasa itu mereproduksi situasi mental-psikologis: kekhusuan spiritual, ketenangan batin, dan kelegaan eksistensial. Disinilah individu menemukan oase kebermaknaannya sebagai manusia-religius sekaligus menemukan ruang hening untuk mengenali jati dirinya.         

        

Menemukan Diri

 

Pengenalan jati diri merupakan inti spiritualitas. Oleh sebab itu, perjalanan spiritual bukan berjalan ”ke luar” diri, tetapi masuk ke  relung diri yang paling dalam, menyibak ”baju-baju eksistensial” yang menghalangi ”aku yang sejati”.

 

Selayaknya, puasa menjadi katalisator penyingkapan jati-diri itu sehingga setiap pelaku puasa mampu menatap dirinya secara terang-benderang, jelas, dan cerlang. Pada dasarnya, diri sejati  manusia adalah citra Ilahi (imago Dei). Karena itu,” Barangsiapa mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya,” kata Nabi Muhammad. Manusia yang bisa mengenal dirinya secara paripurna akan mudah untuk—mengutip ucapan Nabi Muhammad– ”berakhlak (moral) dengan akhlak Allah”. Inilah makna bahwa ritualitas puasa bertujuan  memproduksi manusia bertakwa. Takwa sebagai produk puasa memiliki struktur relasi simbol: iman-amal. Iman terkait dengan aspek teoritis dan  sistem kepercayaan, sedangkan amal terkait dengan aspek praksis, jejaring tindakan konkret. Singkatnya, puasa merupakan pergerakan eksistensial individu dari titik berangkat yang ritual, ke yang spiritual, dengan titik akhir moralitas.

 

 

 

Dari Altar ke Pasar

 

Dalam lalu-lintas tanda puasa tersebut, sejatinya melahirkan manusia-manusia baru dengan visi dan komitmen moral yang kuat. Namun, panggung budaya masyarakat kita membuyarkan lalu-lintas tersebut. Selama Ramadhan, kita dibanjiri citraan produk budaya yang bersifat dangkal. Ruang-ruang kesadaran aktor puasa dibombardir dengan berbagai tontonan, hiburan yang banal dan tak esensial. Mengerikannya, menu banal tersebut dibungkus dengan simbol-simbol keagamaan. Ditambah lagi dengan serbuan informasi dari medan politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang membuat ruang memori kita overload.  

 

Hal ini diperparah dengan fenomena bergesernya lokus eksistensial aktor puasa, dari altar ke pasar. Idealitas aktor puasa yang fokus pada pencarian ”ke dalam diri” mengalami ”titik balik”. Di hari-hari akhir Ramadhan, kita disibukkan dengan strategi mempercantik eksternalitas diri, jasmani, tubuh dengan beragam pernak-pernik budaya, seperti pakaian baru. Konsentrasi massa pun berubah, dari masjid, mushala, dan surau ke mall, pasar. Penyakit shopaholic (gila belanja) pun menjangkiti relung diri.  Kita pun lupa akan puasa kita, bahkan diri kita.  Akhirnya, daya kontemplatif kita pun tumpul karena kehilangan ruang hening dan kesempatan merenung.

 

Sejatinya,  pada hari id al-fitri, hari lebaran, kita semakin mengenal diri, lebih manusiawi, memiliki keteguhan moral, menjadi manusia ”baru”. SELAMAT ID AL-FITRI…     

 

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: