ISLAM-RAMAH

September 19, 2008

BERDOA

Filed under: RENUNGAN — ruhullah @ 3:43 am

Doa tidak wajib dilantunkan, namun ia menempati posisi istimewa dalam kehidupan umat manusia, bukan saja umat  Islam. Allah SWT berfirman,”dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”(QS. Al-Baqarah [2]:186). Nabi Muhammad Saw. menegaskan bahwa, “Doa adalah otak ibadah.”(HR. Ibn Hibban dan at-Tirmidzi). Dalam hadits lain, Nabi Saw. bersabda,”doa adalah senjata orang yang beriman, tiang agama dan cahaya langit dan bumi.” (HR. al-Hakim).

 

Karena pentingnya doa, bertebaranlah di dalam al-Qur’an doa yang dibawah oleh para Nabi dan rasul Allah SWT. Selain itu, dalam hadits pun terrekam doa-doa beliau serta doa yang diajarkannya kepada sahabat-sahabat, istri, dan puterinya.

 

Sayangnya, ada keyakinanan keliru dalam memaknai posisi doa dalam Islam sehingga doa menjadi  tidak lebih daripada bentuk kelemahan, pelarian diri, kemalasan dan kekerdilan.  Artinya, doa hanya sekedar  wujud ketakberdayaan yang memaksa seseorang merengek kepada Allah SWT.

 

Keyakinan tersebut berseberangan dengan doa dalam pemaknaan Islam yang lurus. Doa yang tepat adalah doa yang dilantunkan setelah usaha, ikhtiar, dan kerja keras. Hal ini diteladankan Nabi Saw yang mewariskan untaian doa yang menakjubkan..  Ia tak menjadi pertapa di gunung.  Ia terlibat langsung serta menyelami kehidupan rakyat-jelata, merasakan kepahitan dan kesenangan mereka. dalam melakukan peperangan, misalnya, Nabi Saw selalu mempersiapkan segala kebutuhan untuk berperang. Membangkitkan semangat umat, merapatkan barisan, memikirkan strategi, baru kemudian berdoa.  Doa tidak boleh menjadi opium yang membunuh kreatifitas dan keberanian untuk memperjuangkan hidup.

 

Singkatnya, hakikat doa terletak pada: pertama,  doa bukanlah pelampiasan kelemahan manusia, melainkan penyokong kekuatan manusia dan penopang usaha-usaha positif dan konstruktif individu untuk membentuk kehidupan pribadi dan sosial. Doa pun bukan pengganti kerja, atau tanggungjawab, melainkan selaras dengan kerja keras, ikhtiar, perjuangan dan ketekunan. Kedua, doa bukanlah mantra, dan bukan “lampu aladin” yang mewujudkan keinginan kita dalam sekejap mata. Ketiga, doa adalah manifestasi cinta manusia dan kebutuhan jiwa. Doa merupakan jeritan sebatang ‘bambu’ kering yang tercerabut yang ingin kembali ke ‘rumpun bambu’. Dengan berdoa berarti kita telah mengakui kerendahan dan kehinaan diri kita di hadapan Yang Maha Suci.

 

Ringkasnya, doa merupakan ekspresi cinta pada Yang Ilahi, dan cita luhur ideal kebutuhan jiwa manusia. Yang terpenting adalah bahwa, doa hanya pantas dilantunkan oleh bibir manusia yang aktif dalam aksi, bukan oleh mulut manusia yang pasif, menyerah pada keadaan.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: