ISLAM-RAMAH

September 18, 2008

PENDIDIKAN DI MATA FILOSOF MUSLIM

Filed under: FILSAFAT — ruhullah @ 8:01 am

Pernakah Anda bertanya: bagaimanakah sistem pendidikan yang mampu melahirkan seorang al-Biruni atau Ibn Sina? Memang, selama ratusan tahun, rahim Islam melahirkan   sejumlah muslim yang taat, sekaligus unggul di berbagai displin intelektual. Karena itu, saya yakin, ada sebuah sistem pendidikan yang dipersiapkan secara serius dan matang untuk itu.

 

Pada dasarnya, suatu sistem pendidikan dilandasi basis filosofis, pandangan-dunia tertentu. Dengan kata lain, ada gugus filsafat pendidikan yang menopang sistem pendidikan tersebut. Untuk melacaknya bisa dirunut pada sejumlah gagasan filosofis. Tulisan ini mencoba mengupas tiga pandangan pendidikan dari: ikhwan al-shafa, Ibn Sina, dan Suhrawardi.    

 

Ikhwan al-Shafa

 

Menurut Ikhwan, jiwa secara potensial adalah substansi spiritual, jasadi, cerlang, hidup, mengetahui, dan aktif. Tujuan pendidikan adalah mencipta wahana dan kondisi  yang memungkinkan individu mengaktualkan  potensialitasnya demi penyempurnaan diri guna mempersiapkannya untuk kehidupan yang baka. Pengetahuan yang diperoleh melalui pendidikan adalah saripati tertinggi yang mewadahi jiwa abadi manusia, sementara aktualisasi dari yang potensial dalam jiwa itu tidak lain adalah wujud, mode eksistensi yang tidak akan hancur oleh kematian.

 

Proses aktualisasi tersebut bertahap. Yang terpenting adalah: tahdzib (pembaruan), tath-hir (pemurnian), tatmim (pelengkapan) dan takmil (penyempurnaan). Tahap-tahap tersebut bersifat moral dan propedeutik. Hal ini mesti dilakukan agar pemerolehan pengetahuan teoritikal dan pemurnian jiwa supaya ‘sains’ atau ‘ilm, mengakar di dalam jiwa, mengalih bentuk substansinya dan menyemarak sedemikikan rupa sehingga ia bakal bermanfaat bagi kehidupan yang langgeng di dalam kehadiran Ilahi.

 

Ada tahapan pendidikan yang disesikan dengan perkembangan jasmani, pikiran , dan jiwa. Perasaan dan insting lebih menonjol pada perkembamngan anak berusia sampai dengan 4 tahun. Usia 4-15 tahun, dasar keterampilan membaca, menulis, berhitung dan lain-lain diajarkan dengan sungguh-sungguh di sekolah (maktab) di bawah bimbingan guru (muallim) melalui proses ’imla (mencongak). Di atas umur itu, jiwa anak semakin dewasa dan ia diajar guru (ustadz) melalui intelek (aql) dengan metode demonstrati (burhan) dan inspirasi (ilham).

 

Ada hirarki pengetahuan. Pendidikan diarahkan dari sains eksoterik ke sains esoterik yang diajarkan oleh para guru yang memiliki hirarki juga: mustajib, hujjah, dan imam.

 

Tujuan pendidikan adalah menyempurnakan dan mengaktualisasikan seluruh kemungkinan yang dimiliki individu yang pada akhirnya menuntun pada pengetahuan tertinggi tentang ketuhanan yang merupakan tujuan hidup manusia. Pendidikan mempersiapkan manusia untuk kebahagiaan dalam hidup ini. Tujuan terakhirnya adalah tempat tinggal yang permanen, dan semua pendidikan menunjuk kepada dunia baka yang melampui kehidupan dunia yang berubah. Menurut Ikhwan, tujuan puncak pendidikan, sekalipun seseorang telah menguasai sains-sains tentang alam, bukan berarti mendominasi dunia melalui kekuasaan ekternal, melainkan mendominasi diri individu agar mampu melampaui dunia yang berubah ini dan masuk ke dunia yang langgeng, dan untuk mencapai hal yang disemarakkan dengan ornamen pengetahuan yang dipadukan dengan keutamaan, yang bermanfaat bagi dunia dimana jiwa orang beriman mengharapkan masuk pada akhir perjalanan duniawi ini.  

 

Ibn Sina

 

Bagi Ibn Sina, pendidikan bermula sebelum individu dilahirkan. Ketika seorang lelaki memilih pasanganya, moralitas dan intelektualitasnya mempengaruhi anak yang akan dilahirkannya. Peran istri atau ibu sangat penting. Anak harus diajari kedisiplinan sejak menyusu. Pembentukan moralitas dan karakter (ta’dib) mesti dilakukan sejak awal. Pengajaran sains dimulai ketika tubuh anak mulai kuat, sendi kukuh dan telinga dan lidah berfungsi secara baik. Tiap anak harus diberi perhatian individual dan dibesarkan sesuai dengan kepribadiannya yang khas. Egalitarianisme kuantitatif tidak boleh diterapkan pada setiap individu yang akan mengakibatkan pengabaian perbedaan kualitatif.

 

Rentang dari masa bayi sampai remaja ditekankan pengedalian emosi agar mampu mengatasi marah, ketakutan, ketidakpercayaan diri, menderita insomnia. Harus mengembirakan dan membangkitkan minat. Pada usia enam tahun, dicarikan guru yang cocok: lemah lembut, berwarak mulia. Tidak boleh dipaksa sekolah. Relaksasi pikiran  mendukung pertumbuhan badan.  Berenang dan istirahat dikurangi. Senam sebelum makan ditingkatkan.  Program ini sampai tiga belas tahun. Senam ringan digalakkan, yang menguras tenaga dan kekerasan dihindarkan pada masa kanak-kanak dan remaja. Empat belas tahun, mulai diajari matematika,  lalu filsafat.  

 

Ibn sina membedakan tahap pendidikan: pertama, pendidikan di rumah dan kedua, pendidikan di sekolah (maktab) di bawah seorang guru (mu’allim). Sebetulnya, sekolah dan rumah saling melengkapi.

 

Tujuan pendidikan awal: memperkukuh keimanan, membangun karakter yang baik dan kesehatan, memberantas buta aksara, mengajarkan cikal-bakal berfikir yang benar dan mempelajari kerajinan. Guruh harus dipilih secara teliti karena akan sangat berpengaruh pada karakter siswa.  Guru harus saleh, bermoral, lembut, berpengetahuan luas, pemilik kebijakasanaan (hikmah) mampu menghayati karakter siswa, menilai bakat mereka untuk menuntut aneka lapangan pengetahuan supaya mampu memberi saran tentang kajian lanjutan pada tahap akhir kehidupan.

 

Sekolah penting karena memungkinkan transmisi pengetahuan dan atmosfir sosial dimana siswa mampu belajar satu dengan yang lain. Perlu kompetisi sehat dan dorongan di antara siswa. Dengan adanya siswa lain, dimungkin wacana dan perdebatan yang meningkatkan pemahaman, persahabatan, membantu karakter dan memperkuat keutamaan-keutamaan.

 

Program delapan tahun maktab: pengajaran al-Quran, agama dan bahasa. Diikuti dengan etika, seni dan kerajinan sesuai kemampuan dan bakat siswa untuk mencari nafkah. Olahraga. Siswa harus punya kesibukan. Untuk yang mental dan intelektualnya memenuhi syarat dilanjutkan pada pendidikan, kedokteran atau sains.

 

Metode pengajaran: guru jangan terlalu lunak, tidak terlalu keras. Dia mesti memilih metode mengajar: pelatihan mental, imitasi, repetisi, analisis logis, dan sebagainya  yang sesuai dengan sifat siswa. Dalam pemilihan seni pun demikian.

 

Doktrin Ibn sina tentang akal, fakultas jiwa, hirarki yang menentukan aneka tingkat fakultas intelektual manusia, proses mencapai kesempurnaan intelektual. Pendidikan pada tingkat tinggi  adalah proses aktualisasi dan penyempurnaan fakultas-fakultas intelek teoritis dan praktis  (al-aql al-nadzari dan al-aql al-amali).

 

Menurut Ibn Sina, manusia mempunyai akal teoritis dan akal praktis yang mesti diperkuat, diwajarkan, disempurnakan sesuai dengan situasi. Pendidikan pikiran adalah pendidikan akal teoritis, sementara pendidikan karakter melibatkan akal teoritis dan praktis. Akal praktis meliputi fakultas-fakultas vegetal dan hewani (al-quwah al-nabatiyah dan al-quwah al-hayawaniyyah) yang cakup pernghayatan (wahm), imajinasi (khayal), dan fantasi (fantasiyyah). Intelek/akal teoritsi meliputi tingkat-tingkat intelek material (intelegensi/al-aql al-hayulani), intelek en habitus (al-aql bi al-malakah), intelek dalam tindakan (al-Aql bi al-fi’l) dan akhirnya akal sakral/perolehan (al-aql al-quds/ al-aql al-mustafad). Proses belajar mengimplikasikan aktulisasi potensi-potensi intelek melalui penuangan cahaya kecerdasan aktif (al-aql al-fa’al). Tidak lain intelek mandiri yang diidentifikasikan dengan substansi malakah—inilah yang merupakan guru sejati  pencari pengetahuan dan ilmunisai kecerdasan manusia oleh hirarki terletak di jantung seluruh proses mencapai pengetahuan, yang tingkat-tertingginya adalah pengetahuan intuitif (al-ma’rifa al-hadsiyah) yang dicapai secara langsung dari kecerdasan aktif.

 

Suhrawardi

 

Pendidikan manusia yang seutuhnya adalah tujuan filsafat. Baginya, seluruh kehidupan diorientasikan ke arah pencapaian pengetahuan melalui proses pendidikan. Proses ini dimulai dari rasa haus akan pengetahuan, ketika siswa perlu mencari pengetahuan (thalab). Karena itu,  orang yang ada pada tahap pertama disebut thalib. Proses berlanjut sesuai dengan perkembangan fakultas-fakultas mental atau perkembangan nalar siswa, thalib al-bahsts (pencari pengetahuan diskursif). Tahap ini dikuti dengan pendisiplinan emosi, pemurnian jiwa. Sebab filsafat yang sejati hanya bisa dicapai jika fakultas-fakultas diskursif disempurnakan dan dimurnikan dari ketidaksempurnaan dan ketidakmurnian sehiangga ia mampu mencapi ilmuninasi. Pada tahap ini siswa disebut thalib al-ta’alluh, ”menjadi seperti Tuhan”. Pada tahap yang lebih tinggi, siswa berkembang menjadi filosof (hakim), mantap dalam pemikiran diskursif, teosis.  Akhirnya, siswa menjadi teosof (al-hakim al-ilahi). Pertama teosof bahts, lalu teosof ta’alluh, akhirnya teosof bahts dan teosof ta’alluh. Tujuan akhir pendidikan adalah tercapainya ilmuninasi yang mengharuskan kesempuranaan fakultas-fakultas manusia, mental maupun psikologis, meliputi unsur-unsur rasional, maupun aspek jiwa.

 

Dalam proses pendidikan, Suhrawardi melihat posisi penting malaikat. Malaikat yang dimaksud adalah malaikat Jibril yang ”mengajarkan” kalam pada Nabi Saw, yang diidentifikasi sebagai Ruh al-qudus sekaligus pembimbing spiritual (mursyid), guru sejati dalam teosofi atau sufisme. Karena itu, bagi Suhrawardi, pendidikan tidak bisa dipisahkan dari kehidupan spiritual, ilumuniasi jiwa oleh malaikat dan bimbingan dari substansi-substansi malakah yang menerangi jiwa dengan pengetahuan sejati (cahaya).

 

Wa Allahu A’lam

 

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: