ISLAM-RAMAH

September 15, 2008

SISTEM EKONOMI KAPITALISTIK DAN KONDISI POSTMODERN

Filed under: FILSAFAT — ruhullah @ 3:45 am

Ruang, dalam sungai sejarah filsafat, tampak menjadi tema sekunder, marginal, pinggiran.  Konsep ruang hanya “tertanam” dalam bangunan filsafat dari seorang filosof.  Sangat kurang filosof yang secara eksplisit mengungkap perbincangan seputar ruang.  Semua mata seakan tertuju pada adegan, actor-aktor konseptual, sedang setting panggung, yang melatari, yang menyangga pertunjukkan dari actor-aktor konseptual tersebut seakan terlupakan untuk dicermati.

 

Seperti halnya dalam suatu pertunjukkan drama, panggung, diakui atau tidak, mempunyai arti yang tak boleh diremeh-temehkan.  Ia mencitrakan suatu kondisi, dan kadang menceritakan “bagaimana” sang aktor itu sendiri.  Begitu pula dalam kancah pemikiran filsafat. 

 

Pada abad modern, ruang dimasukkan dalam “kotak” supaya waktu mampu memompa progresivitas spirit modernitas.  Namun, David Harvey, meneropong dan melihat perkembangan kontemporer dewasa ini, ternyata ruang mampu menempati posisi sentral.  Konsep ruang menjelma menjadi “syarat kemungkinan” hidupnya kapitalisme.  Merskipun ruang mengorbankan independensinya, dan hanya berstatus sebagai ruang-instrumental, namun tanpa konsep ruang kapitalisme lanjut terkubur, tak mampu mengakselerasikan kekuasaannya. 

 

Tulisan ini akan mencoba mendeskripsikan kondisi, yang disebut David Harvey, the condition of postmodernity, yang mempunyai pengalaman spasialitas yang khusus, yaitu hyperspace. Pembahasan akan memfokuskan diri pada : tinjauan umum posisi konsep ruang dalam kurun modern, dan kurun postmodern,  relasi antara kekuasaan (Leviathan) dengan koordinasi ruang, cyberspace sebagai ruang virtual dimana “realitas” dibentuk,    simulacrum : kondisi antara realitas dan imaginasi, munculnya “desa buana” sebagai efek runtuhnya sekat-sekat ruang.  Pada penghujung tulisan, akan disajikan sedikit pertimbangan penulis, dan kesimpulan.

 

a. Postmodernisme : Memerdekakan Ruang dari Kolonialisasi Waktu

Pengalaman ruang dan waktu merupakan sumbu modernitas.  Bahkan, Marshall Berman menyamakan modernitas dengan mode tertentu pengalaman ruang dan waktu. Namun, dalam modernitas waktu menjadi konsep sentral dibandingkan ruang.  Kemajuan (progresivitas), sebagai salah satu ciri kurun modern, jelas-jelas merupakan penaklukan waktu atas ruang,  Nihilisasi sekaligus reduksi ruang pada kategori yang contingent.  Pengalaman kemajuan melalui modernisasi menitikberatkan temporalitas, proses-proses “menjadi” (becoming) daripada ada (being) dalam ruang (space) dan tempat (Place). Foucault pun mengakui  bahwa ruang diperlakukan sebagai yang dimatikan, yang di tentukan, yang tak dialektikal, yang tak bergerak, sedangkan waktu, sebaliknya,  produktif, subur, hidup, dialektik.    Postmodernisme, sebagai reaksi atas ,modernisme, mencoba menggeser dan membalikkan plus menempatkan ruang yang lolos dari tirani waktu.

 

b. “Leviathan” dan Pemadatan Ruang

Membicarakan kekuasaan selalu, secara reduktif, diartikan sebagai perbincangan tentang kekuasaan negara (state). Jika dicermati, sebenarnya lokus kekuasaan tidaklah tunggal (monocentrist), tapi jamak (polycentrist). Memang harus diakui, tiap tahap sejarah selalu menyajikan “satu” tipe kekuasaan yang mendominasi.  Tapi dominasi satu loci kekuasaan, seperti negara misalnya, tidak berarti meniadakan “adanya” lokus-lokus kekuasaan yang lain.  Hobbes, dengan Leviathan-nya, menjadi contoh  bagaimana negara, sebagai lokus kekuasaan, mendominasi seluruh kinerja kehidupan manusia. Homogenisasi dan sentralisasi kekuasaan memusat pada negara. Negara menjadi faktor penentu, sekaligus penjelas realitas. 

 

Gejala dewasa ini yang ditandai menguatnya kapitalisme telah melahirkan “Leviathan” baru.  Kapitalisme, dengan ideologi liberalismenya, merupakan proses penjinakkan Leviathan lama (negara). Negara dipojokkan pada suatu sudut yang hanya berfungsi sebagai penentu legal-formal, aturan permainan gerak modal.  Sedangkan permainannya sendiri dipegang oleh para konglomerat, pemilik modal, dan para pencitra realitas (media masa dan pembuat iklan). Posisi modal, uang atau para pemodal menjadi sentral kapitalisme.  

 

Leviathan lama (negara), mengandaikan suatu setting panggung, ruang yang mampu menopang gerak dan kinerjanya. Ruang absolut menjadi pilihan tepat yang menjadi pilar utama “absolutisme” negara.  Gejala kontemporer, kapitalisme, pun demikian.  Kapitalisme, yang mengandalkan proses-proses ekonomi, membutuhkan suatu setting ruang yang memungkinkannya berkembang biak.  Teknologi tranportasi dan telekomunikasi adalah syarat penting untuk percepatan gerak modal.  Ruang, bersama waktu, mesti dapat dikontrol, dan sekaligus dipadatkan.  Space and time compression. Contoh sederhana : untuk memberitakan ke seseorang di Surabaya bahwa di Jakarta terjadi kerusuhan hanya dibutuhkan waktu sepersekian detik, melalui beberapa digit nomor di HP.  Rentangan ruang : Jakarta-surabaya, yang jika memakai model tranportasi dan telekomunikasi tradisional membutuhkan penaklukan ratusan kilo meter, dipadatkan pada beberapa nomor saja.  Fenomena inilah yang menjadi perhatian David Harvey dalam The Codition of Postmodernity.

 

c. Cyber Space : Ruang Maya

Yang unik dari pemaknaan dalam kondisi postmodernisme terhadap konsep ruang adalah munculnya istilah cyberspace atau hyperspace.[i]  Cyberspace merupakan an undefined spatiality. Sebuah bentuk baru spasialisasi.  Perkembangan konsep ruang dalam state of postmodernisme ditunjang oleh cepatnya teknologi informasi dan telekomunikasi. Frederic Jamesson , dalam Postmodernism or the cultural logic of late capitalisme, mengungkap bahwa pergeseran dari modernism ke postmodernisme berimplikasi  dalam pergeseran sosio-ekonomi dari logika capitalist  yang didasarkan pada  fordist production dan Keynisian state regulation kepada  logika kapitalis yang didasarkan pada  “flexible accumulation.”  Fordist production atau fordisme merupakan system koordinasi produksi dan konsumsi yang dijalankan oleh perusahaan mobil Ford dengan tujuan stabilisasi profit. Cara yang ditempuh Ford, untuk stabilisasi profit-nya adalah dengan menekankan agar di kalangan buruh tak terjadi gejolak. Sedangkan, keynisian state regulation atau keynisianisme merupakan paham yang menganut teori Keynes bahwa untuk mengevaluasi gejolak dan goncangan pada sistem ekonomi, faktor negara menjadi sasngat sentral. Flexible accumulation berbeda dengan kedua tipe logika kapitalis di atas.  Akumulasi fleksibel lebih mendasarkan pada kelenturan yang mempertimbangkan mulai dari proses kerja dan produksi  sampai pada pola konsumsi.  Transisi tersebut dibantu oleh kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi plus cyberplace-nya.[ii]

 

Cyberspace   tak memproduksi apapun, tetapi di dalamnya segala sesuatu dipasarkan.  Cyberplace adalah marketplace, yang realitasnya adalah  virtual, maya, sebuah metaphor cultural.  Cyberplace hanya nyata secara virtual dimana waktu dan materialitas dihilangkan. Jameson lebih lanjut menyebut istilah hyperspace, sebagai sebuah pengalaman spasial baru postmodernisme.  Tata spasial mendominasi yang temporal. Penaklukkan ruang atas waktu. Postmodernisme mengantarkan pada krisis dalam  pengalaman ruang dan waktu kita, sebuah krisis dimana kategori-kategori spasial mendominasi waktu. “kita  belum punya alat perceptual untuk me-match-kan semacam hyperspace yang baru ini,” kata Jameson. Mengapa ? “karena kebiasaan-kebiasaan perseptual kita dibentuk dalam macam ruang lama yang saya sebut the space of high modernism,” tegas Jameson. Menurut Jameson, Hyperspace telah sukses mentransendensikan kapasitas-kapasitas jasadi manusia individual untuk menempatkan dirinya, mengorganisasikan sekelilingnya serta-merta secara perseptual, dan secara kognitif untuk memetakan posisinya dalam sebuah dunia eksternal yang dapat dipetakan.  Jika modernisme dihubungkan dengan konsep-konsep ruang, waktu dan substansi, maka postmodernisme “meledakkan” mitos dan ideology yang menkonstruksi konsep-konsep tersebut. 

 

Dalam lapangan estetika, seperti Daniel Bell katakan, organisasi ruang menjadi problem  estetika yang utama pada pertengahan abad ke-20, seperti  problem waktu yang menjadi  problem estetika yang utama pada dekade pertama abad ini. Teori estetika disangkutkan dengan “spasialisasi waktu.”  Karsten Herries menyebutkan bahwa dalam arsitektur bukan hanya menguasai, merebut dan mempertajam sebuah ruang dan tempat yang enak didiami.  Tetapi juga sebuah pembedaan yang mendalam yang melawan “teror waktu.”    Bahasa keindahan adalah bahasa realitas tanpa-waktu (timeless).

 

d. Simulacrum : Antara Imaji dan Realitas

Kondisi postmodernisme yang di paparkan David Harvey telah melahirkan suatu kondisi unik, yang biasa disebut simulacrum. Simulacrum sendiri berarti suatu kondisi dari replika dimana keaslian (kenyataan, realitas) dan kepalsuan (imitasi, imajinasi)  sulit untuk dicari titik perbedaannya.   Dan menurut Harvey, simulacra pada akhirnya dilihat, dipandang dan dialami sebagai realitas.

 

Sumilacrum  adalah anak kandung dunia kapitalisme lanjut (advanced capitalism world).  Menculnya simulacra dipicu dari kebutuhan kapitalisme memasarkan produksinya.  Sehingga, dibutuhkan “ruang” yang “tak jelas”, yang memampu menampilkan kesempurnaan imaginasi sebagai sesuatu yang real.  Melalui cyberspace kebutuhan, sampai bahkan cita-cita, bisa diciptakan.   Realitas yang dibangun dalam ruang maya tersebut mempunyai daya kecoh yang sangat fantastis, hingga sulit mengidentifikasi manakah yang imaginasi dan manakah yang realitas. 

 

e. Desa Buana (Global Village)

Teknologi satelit memudahkan orang berkomunikasi dan mengakses informasi.   Dari ruang kamar pribadi, seseorang mampu menjelajah ke berbagai tempat dan peristiwa, mulai dari perhelatan sepak bola di Amerika Latin, sampai tumbangnya diktator di Timur Tengah dapat secara on line, live “dialami”.  Batas-batas ruang dunia tradisional (jarak-geografis) ditembus,  diluluh lantakkan oleh beberapa digit nomor remote control TV atau keyboard computer yang mengakses internet.  Dalam arti ini, runtuhnya batas, sekat ruang, mencipta desa buana (global village).  Ruang yang tercipta dari perkembangan hyperspace adalah ruang tanpa batas.  Sekat-sekat, batas antar ruang menjadi relative, terkontrol. Dunia yang transparan. 

 

Pengalaman spasial terhapusnya batas-batas ruang tidak berarti signifikansi ruang menjadi merosot.  Memang, ruang tak manjadi “sesuatu” yang eksis “ada di sana”, independen, tetapi terkontrol dan dapat dieksploitasi. Pada titik terkontrol dan dapat dieksploitasi inilah arti penting konsep ruang maya (virtual), hyperspace, desa buana, bagi akselerasi gerak kapitalisme.  Mobilitas modal menjadi tidak terkendala oleh ruang. Salah satu istilah yang bisa mewakili fenomna terhapusnya batas ruang adalah “globalisasi”.

 

Runtuhnya sekat ruang bukan tanpa reaksi. Di satu sisi globalisasi menancapkan kelancaran arus kapitalisme, namun disisi lain menggerogoti “identitas” local.  Yang lokal terancam “rasa aman” ontologisnya.  Gejala munculnya fragmentasi lokal, sekte-sekte militant dalam religius misalnya, merupakan reaksi yang muncul sebagai sebuah mekanisme pertahanan identitas lokal.

 

Akhir al-Kalam

a. Pertimbangan

Terciptanya ruang virtual, maya merupakan efek dari kebutuhan pergerakan basis material, yaitu modal. Akselerasi dan mobilitas modal harus dipercepat tanpa hambatan, baik hambatan sekat ruang maupun rentangan waktu. Teknologi informasi dan telekomunikasi, yang juga terikat dalam jaring kekuasaan modal, menyediakan pemuas kebutuhan tersebut.

 

Selain relasi erat modal, sebagai “jiwa” kapitalisme, ruang virtual, cyberspace terkait pula dengan konsep kekuasaan. Seperti telah dikemukakan, lokus kekuasaan tidaklah tunggal, namun jamak. Dan minimal, jika disederhanakan, ada tiga lokus kekuasaan dalam sosialitas manusia : pertama, komunitas-civic, kedua, pasar atau bisnis dan ketiga, badan publik (contohnya pemerintah). Pada tiap tahap sejarah, ketiga lokus kekuasaan ini bergantian menjadi poros kehidupan bersama (shared life) manusia.  Dewasa ini, yang menurut istilah David Harvey adalah condition postmodernity, ditandai oleh bukan dominasi badan-publik (negara), bukan pula komunitas, tapi pasar “bebas”. Neo-liberalisme, sebagai bentuk ektrem kapitalisme, menjadi idola ideologis yang menggerogoti kekuasaan Levithan lama (negara).  Di Indonesia contohnya, Seorang James Riyadi lebih digdaya dibanding keberadaan seorang gubernur.

 

Seperti telah dikemukakan di atas, neo-liberalisme menjadi tangguh hanya bila mampu membongkar sekat-sekat tradisional pasar, yaitu ruang dan waktu.  Hingga, kekuasaan (pemodal)  memaksa ruang dan waktu dipadatkan, dikontrol.  Neo-liberalisme membutuhkan dunia tanpa batas, desa buana, cyberspace , simulacra untuk berkuasanya modal.  

 

Catatan terpenting yang bisa diajukan untuk fenomena pengalaman spasialitas a la postmodernism adalah bahwa, meskipun dunia maya, virtual yang diciptakan tersebut mampu membuat realitas yang “mengecoh”, dengan kondisi simulacrum-nya, mencipta kebutuhan-kebutuhan manusia, namun basis aksis ontologisnya sendiri sangatlah rentan, tak kokoh. Cyberspace menggantungkan keberadaannya pada kerja teknologi.  Dengan ketergantungan tersebut menegaskan dan mempertajam bahwa  keberadaan ruang cyber memang hanyalah semu.  Catatan kedua, karena sulit membedakan antara realitas dan imaji, pada dunia virtual tersebut sulit untuk masuk tuntutan pertanggungjawaban  etis.  Seorang yang melakukan tindak “kejahatan” di dunia cyber akan mudah menemukan dalih, berkelit dari tanggungjawab etis atas tindakannya karena “dunia” dimana ia melakukan kejahatannya itu hanyalah rekaan, semu, yang tak jelas pembatas antara realitas dan imaji. 

 

b. Kesimpulan

Ada beberapa poin yang bisa dicatat untuk menilik konsep ruang dalam kondisi postmodernisme :

1.             Konsep ruang dalam konteks postmodernisme dilatari Kebutuhan akan penopang mobilitas kinerja sistem kapitalisme. Perkembangan yang menakjubkan dari teknologi komunikasi dan informasi memberikan apa yang dibutuhkan kapitalisme tersebut.   Cyberspace, sebagai anak kandung perkembangan tersebut menjadi ruang maya, virtual dimana di dalamnya , bukan hanya melaluinya, segala sesuatu dipasarkan. Pasar kapitalisme memanfaatkan ruang pasar dalam arti ini. Hal tersebut di atas memunculkan pengalaman spasialitas khas postmodernisme yang oleh Jamesson juluki sebagai hyperspace. 

2.             Ruang “mencair”, volatility dan ephemerality dalam istilah David.  Havey . Ruang terlepas dari temporalitas dan materialitasnya.  Ruang dunia colaps menjadi ruang image. Inilah yang mungkin oleh Alvin Toffler, dalam konteks masyarakat, disebutnya sebagai “throwaway society.” Ruang bukan lagi sekat, penghalang. Ruang yang “mencair” tersebut memungkinkan terciptanya apa yang disebut Marshall Mc Luhan sebagai desa buana (global village) yang memperluas kapasitas jasadi manusia. Karena ruang itu “cair”,  maka ia bisa dipadatkan. Dalam peraktek keseharian : untuk mengirim pesan teman kita di Yogya, misalnya, dengan hanya memijit beberapa digit nomor hp  kita bisa “memadatkan” ruang material, ruang empiris sekian kilometer. Sedangkan  “Genangan ruang” mampu merembesi apapun.   Kasus intelegen negara yang mampu “me-ruang-kan” aktivis muslim yang mengarah pada tindak terorisme bisa dijadikan ilustrasi yang menunjukkan hal ini.

3.             Dalam postmodernisme, status ontologis ruang  diperkuat  dari pada status ontologis  waktu.   Bila dalam modernisme ruang “tertanam” (embedded)  pada waktu, maka dalam postmodernisme terjadi pergeseran, jika bukan pembalikkan, yaitu  waktu “tertanam” dalam ruang. 

 

Wa Allah-u a’lam bi al-shawab-i

 

ENDNOTES


[i]Menariknya, Jamesson tampak melihat bahwa kondisi postmodernisme bukanlah suatu “pemutusan” dari kondisi modernisme, tetapi lebih menekankan : postmodernisme sebagai suatu bentuk radikalisasi dari modernitas (Ms.)

[ii] Akbar S. Ahmed, seorang Antropolog dan Filosof keturunan Pakistan yang tinggal di London, mempertajam bahwa unsur media sebagai pemicu dan sekaligus bagian yang tak terpisahkan dari wacana postmodernisme. 

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: