ISLAM-RAMAH

September 15, 2008

Mencitrakan Modernitas : Tatanan Pendisiplinan Foucault

Filed under: FILSAFAT — ruhullah @ 4:18 am

Membaca Foucault otomatis menyentuh pusaran : ide sentralnya tentang “kuasa.”   Tanpa mengerti “kuasa”,   pikiran brilyan Foucault tak mungkin terpahami.  Lalu, bagaimana Foucault melihat kuasa itu ?

 

Eksplorasi filosofis Foucault dengan perangkat arkeo-genealogi-nya membawa pada wacana tentang kuasa. Metode Genealogi sendiri merupakan cara analisis khas Nietzche yang diambil alih olehnya.  Metode  ini dimaksudkan oleh Foucault, seperti diungkap kembali St. Sunardi, adalah untuk “delegitimasi saat sekarang dengan memisahkannya dari masa lampau.”[i]   

 

Bagi Foucault, pertanyaan,”apa itu kuasa” bersifat sekunder dibandingkan pertanyaan ”bagaimana kuasa itu dilaksanakan.”  Jadi, titik tembak Foucault dalam analisisnya tentang kuasa bukan pada hakekat atau esensi kuasa tetapi pada teknik kuasa.   Secara simplistik,  K. Bertens menulis  beberapa point yang bisa dicatat dalam konteks kuasa Foucault, yaitu : Œ kuasa bukanlah milik melainkan strategi kuasa tak dapat dilokalisasi tetapi terdapat dimana-mana, Ž kuasa tak selalu bekerja melalui penindasan dan represi tetapi terutama melalui normalisasi dan regulasi,  kuasa tak  bersifat destruktif melainkan produktif. “Kita harus berhenti  melukiskan akibat-akibat kuasa dengan cara negative : seolah-olah kuasa ‘meniadakan’, ‘merepresi’, ‘mensensor’, ‘mengabstraksikan’, ‘menyelubungi’, ‘menyembunyikan’. Pada kenyataannya kuasa memproduksi. Kuasa memproduksi realitas; kuasa memproduksi lingkup objek dan ritus-ritus kebenaran. Baik manusia perorangan maupun pengetahuan yang dapat diperoleh daripadanya, termasuk produksi ini”, kata Foucault.[ii] Subjek, misalnya, bagi Foucault merupakan “karya” kuasa , yang sekaligus agen kuasa[iii].  Dalam konteks kuasa inilah pembicaraan topik tatanan pendisiplinan Foucault dipetakan. 

 

Steven Seidman, dalam salah satu bagian bukunya Contested Knowledge : Social Theory in the Postmodern Era, yang jadi rujukan utama tulisan ini, membidik pikiran Foucault melalui tema “pembuatan subjek modern : genealogy Michael Foucault sebagai  human studies” yang mengelaborasikannya dengan mengusung sub topik  “memikirkan kembali kebebasan seksual : genealogi seksualitas Foucault”, dan melanjutkan eksplorasi singkatnya dengan menjelaskan topik “mencitrakan modernitas: tatanan pendisiplinan Foucault.”  Tulisan ini akan memfokuskan diri pada tema kedua.        

 

Keterjebakan Marxisme dan Liberalisme dalam Kubangan Tradisi Pencerahan

Melangkah masuk pada perspektif Foucault tentang masyarakat modern, Seidman memperjelasnya dengan mengkontraskannya dengan pandangan liberalist dan Marxist.

 

Seidmen melihat,  liberalisme percaya betul bahwa kemajuan kemanusiaan (humanity) didorong oleh kemajuan rasio manusia. Ide progresivitas khas pencerahan menjadi latar di balik paham ini.   Sedangkan Marxisime meski telah merubah ideologi liberal dengan membuat masyarakat kapitalis hanya sebagai sebuah perantara, bukan final, dari tahap dalam kemajuan manusia, namun marxisme pun  jatuh dalam tradisi pencerahan juga.[iv] Dalam marxisme ada satu finalitas ideal masyarakat yang diimpikan, yaitu suatu masyarakat tanpa kelas. 

 

Liberalisme dan marxisme memberi sebuah dasar pemahaman sosiologis.   Mereka, Menurut Seidman,  mencitrakan masyarakat modern sebagai tatanan tiga-lapis : negara, masyarakat madani atau civil society ( ekonomi, pendidikan, institusi keagamaan), dan keluarga.  Mereka setuju bahwa kekuatan utama yang menggerakkan masyarakat bertumpu dalam dinamika masyarakat madani, secara khusus, dunia ekonomi.  Perbedaan liberalist dan Marxist berpusat pada nilai-nilai moral dan politis masing-masing mereka.   Liberalist membela kapitalisme moderen sebagai puncak evolusi social, bahaya utama pada kemajuan sosial terletak dalam intervensi negara yang berlebihan pada masyarakat madani dan keluarga.  Marxist mengkritik karakter kapitalisme yang didasarkan pada kelas sebagai yang menghambat kemajuan potensial modernitas, mereka mengharapkan sebuah masyarakat yang baik (masyarakat sosialis).[v]

 

Perdebatan yang gaduh antara Marxisme dan Liberalisme, jika dianalisis, merupakan perdebatan besar dua tradisi pemikiran politik, yaitu tradisi civic virtue dan tradisi civil society. Bila dilacak, civil society adalah sebuah tradisi anglo-american yang tertanam dalam pemikir seperti Francis Hutcheson, John Miller, Hugh Blair, Adam Ferguson, dan Adam Smith, yang oleh Adam B. Seligman identifikasikan,  dalam bukunya  the Problem of Trust,  dengan nama the Scottish enlightenment (pencerahan skotis).  Sedangkan  tradisi civic virtue dipandang lebih kontinental, yang bisa dirunut dari Machiavelli dan Jean-Jacques Rousseau.[vi]  Seligman juga membuat bagan perbedaan antara dua tradisi besar tersebut sebagai berikut :[vii]

 

 

Civil Society

Civic Virtue

Realm of virtue

Private

Public

Definition of virtue

Moral sentiments; natural sympathy; attention, and approbation

Shared community

Mechanism of virtue

Impartial spectator

Volonté genéralé

Model of self

divided (and so). Reflexive (relatively differentiated)

Constituted by conscience collective (relatively undifferentiated)

Orientation of self

Inward

Outward

 

Sumber : dari Adam B. Seligman,”Animadversions upon civil society and civic virtue in the last decade of the twentieth century,” dalam civil society, ed. John Hall (Oxford : Polity Press, 1995), h. 210

 

Penciptaan Objek Kontrol

Seidman menjelaskan bahwa Foucault mengkritik ide-ide pencerahan, yang di matanya sudah tak punya kredibilitas,  dengan meneliti isu seksualitas, penjara-penjara, kegilaan dan psikiatri.  Contoh: berbeda dengan cerita pencerahan tentang pembebasan seksualitas dari cengkraman erat represi, Foucault merelasikan sebuah cerita tentang pembuatan subjek seksual yang merupakan objek kontrol social.  Diskusus yang sangat medis-saintifik  yang diharuskan membebaskan seksualitas natural kita mencipta dan meregulasikan individu sebagai objek seksual.  Foucault tak setuju dengan penilaian pencerahan tentang reformasi keadilan kriminal.   Pandangan ini menggambarkan gerakan spirit humanitarian yang menyapu praktek-praktek barbar penyiksaan untuk kepentingan program humanistik perbaikan dan rehabilitasi.  Dalam Dicipline and Punish-nya Foucault, seperti dideskripsikan kembali oleh Seidman,  menafsirkan gerakan perbaikan penjara sebagai pembuatan atau penciptaan sebuah kontrol sosial baru.    Bertentangan dengan ideologi rehabilitasi pencerahan itu sendiri,  tujuan utama kontrol sosial adalah untuk mendepolitisasikan ketidakpuasan sosial dengan memenjarakan  individu yang non-kompromis dan meregulasikan mereka dengan sebuah alat  penjagaan  dan managemen psikologis.[viii]    

 

Foucault pun, menurut Seidman,  mengkritik pandangan bahwa psikiatri membuat permulaan dari perawatan manusia gila. Perawatan dan terapi menggantikan pembuangan dan penjara,  sains pikiran (science of mind) baru melambangkan spirit humanitarian pencerahan.  Namun bagi Foucault semua itu merupakan penciptaan otoritas ahli kesehatan mental,  yang diskursus dan praktek terapinya mencipta subjek psikologis baru, seperti Neurotic, narsist, histerik, schizophrenic, anal-kompulsif, kepribadian yang dingin, yang merupakan objek psikiatrik dan control social negara.[ix]

 

De-sentralisasi Analisis Sosial

Menurut Seidman, Foucault memisahkan diri dari citra masyarakat modern a la marxis dan liberal (suatu keseluruhan organik atau sistem sosial yang memiliki pusat atau dinamika yang menyatukan, seperti kapitalisme atau idea kemajuan).  Ia mencitrakan masyarakat modern sebagai yang retak, tanpa sebuah pusat sosial yang memberikan sebuah kesatuan atau tujuan padanya.  Bukan negara ataupun  ekonomi. Bukan pula satu drama konflik sosial, bukan konflik kelas atau gender, seksual, etnik atau konflik agama. Bukan kelompok sosial atau ideologi yang mengatur masyarakat, bukan masyarakat yang mengatur logika kapitalisme, patriarki, , birokrasi, sekularisasi, postindustrialisasi, atau demokratisasi.  Masyarakat kontemporer tak dapat dijelaskan dengan citra organisme, totalitas dan sistem yang telah mendominasi tradisi Marxist dan liberal.   Foucault berpandangan bahwa lapangan social sebagai kekonsistenan kekuatan yang heterogen, tatanan-tatanan institusional, proses-proses, dan konflik-konflik.[x] Foucault tampak mengusung paham pluralisme unsur-unsur fundamental masyarakat modern, sekaligus keragaman perspektif analisa untuk melihatnya.

 

Bila pemikir-pemikir sosial Marxist dan liberalist telah memfokuskan analisisnya mereka pada ekonomi dan negara,  serta menggunakannya untuk menjelaskan proses-proses global, contohnya kapitalisme (Marx), birokratisasi (Weber), defrensiasi sosial (Durkheim dan Parsons), demokratisasi (Tocqueville), maka Foucault berbeda. Ia menyoroti pentingnya yang kecil, unit-unit sosial yang berlainan seperti rumah sakit, rumah sakit jiwa, sekolah, militer, penjara, dan universitas.  Dia lebih fokus pada logika social spesifik beserta efek-efek lokalnya daripada memasukkan unit-unit social tersebut dibawah  proses-proses global yang menyatukan (seperti Kapitalisme ataau birokratisasi).  Sebenarnya, ia  tak meninggalkan semua usaha menjelaskan proses-proses sosial umum itu. Dia hanya meninggalkan usaha menyimpulkan proses-proses sosial lokal dari proses-proses global. Foucault menggeser analisis pada dinamika-dinamika sosial lokal yang heterogen karena hal-hal tersebut merupakan jaringan-jaringan konflik sosial yang penting saat ini.  Teori-teori total  (seperti Marxisme dan liberalisme) gagal memahami kespesifikan gejala tersebut karena mereka mereduksikannya pada sebuah logika sosial global.[xi]

 

Tatanan Sosial  Disipliner

Foucault mendekati masyarakat kontemporer sebagai ada yang tersusun dari dinamika-dinamika sosial yang heterogen yang tak dapat dikatakan memiliki sebuah prinsip pusat yang mengatur.  Dia tak berasumsi tiadanya koherensi sosial ataupun abstain dari deskripsi-deskripsi umum tentang masyarakat modern.  Sekalipun Foucault mengemukakan sebuah teori umum tentang modernitas dalam model Parson ataupun Habermas, dalam sketsa-sketsa sosial yang beragam tentang seksualitas, penjara-penjara, kegilaan, dan sains manusia, disitu muncul outline dari apa yang disebut : tatanan sosial  disipliner.  (diciplanary social order).[xii] Masyarakat yang didasarkan pada pendisiplinan[xiii] dikontraskan dengan masyarakat modern awal yang diatur dibawah sentralisasi otoritas dalam sebuah pengatur yang berdaulat (sovereign). 

 

Tatanan sosial ditegakkan oleh kuasa sebuah kedaulatan untuk  mengambil atau memberi  kehidupan atau menuntut kepatuhan; kuasa yang diatur dibawah represi. Contoh : dalam masyarakat modern awal, hukum dipandang sebagai ekpresi kedaulatan aturan.  Pelanggar dihukum dengan siksaan yang membuktikan bahwa kedaulatan selalu hadir. Penyiksaan tubuh pelanggar merupakan cara untuk memanifestasikan  tekanan (represif) secara publik, kuasa absolut kedaulatan.[xiv]

 

Pada sebuah masyarakat disipliner, tatanan ditegakkan melalui teknologi-teknologi kontrol, seperti separasi spasial, menegemen waktu, kurungan, pengawasan/penjagaan. Sistem ujian-ujian yang mengklasifikasi dan mengurutkan individu untuk tujuan menormalisasi tingkah laku social.  Tatanan ditegakkan tanpa melalui sebuah hirarki pengatur dan mengatur melalui sebuah apparatus (alat) teknik-teknik dan wacana-wacana pendisiplinan (displiner). Contoh: dalam praktek kriminologis modern.  Tujuan penghukuman tidak ditujukan pada tubuh.  Tubuh hanya dilihat dan diatur oleh sebuah alat yang berbentuk pengawasan ( penjaga, monitor tv dll), Jiwa pelanggarlah yang merupakan objek nyata dari kontrol sosial.  Jadi jiwa , psikis, subjektivitas, personalitas, kesadasran  dan individualitas jadi target penjalanan hukuman. Foucault memang,  pada akhirnya, dalam kaitan dengan penghukuman ini,  menekankan segi seri-seri teknologi pendisiplinan untuk menormalisasikan tingkah laku pelanggar.[xv]

 

Foucault tak menampik pentingnya represi kuasa negara atau aturan strata sosial.  Bagi Faucault, produksi dari tatanan sosial yang berdasarkan “pendisplinan”  dalam penjara-penjara, rumah sakit, pabrik, milter, sekolah merupakan pusat masyarakat barat kontemporer.  Hal tersebut bukan kuasa yang memaksakan kepatuhan yang membuat mungkin struktur-struktur social.  Tatanan sosial diproduksi oleh seri-seri strategi pendisiplinan—dari kurungan,  pada sistem ujian-ujian—yang bertujuan meregulasikan tingkah laku dengan meng-impose norma-norma normalitas, kesehatan, intelegensia, dan ke-fit-an.[xvi]

 

Foucault menawarkan analisis analisis sosial yang padat secara empiris, dan kaya secara historis.  Studinya tentang seksualitas, penjara, kegilaan, psikiatri, dan sains manusia memberi sebuah alternatif terhadap pendekatan liberal dan maxist yang dominan pada studi manusia.[xvii]

 

Bertentangan dengan tradisi teoritis pencerahan, Foucault meninggalkan image-image masyarakat sebagai sebuah totalitas, sistem, keseluruhan organik.   Foucault menekankan analis pada pluralitas subjek manusia, menekankan kontinuitas dan diskontinuitas sejarah, proses-proses tatanan dan konflik, tanpa mereduksi analisis sosialnya pada pada sebuah cerita kemajuan atau kemunduran.    Liberalism dan marxisme bertujuan menemukan logika sosial global. Foucault membuang pencarian seperti itu, dan lebih menengok pada dinamika masyarakat yang heterogen.  Dari kasus-kasus yang dianalisisnya, Foucault melihat bentuk tatanan sosial yang berdasarkan pendisiplinan yang baru.  Kontrol sosial bekerja via seri-seri teknologi kontrol yang merembesi semua institusi masyarakat modern.  Strategi kuasa yang demikianlah yang bertanggungjawab menanamkan, via normalisasi dan regulasi, norma dan tingkah laku tatanan masyarakat.[xviii]

 

Bila kuasa meliputi lapangan sosial,   serta tertenun pada tekstur hidup keseharian, maka konflik dan resistensi social tidak dapat disentralisasikan. Gerakkan-gerakan oposisi politis tak dapat digolongkan dibawah bendera antistasisme, antikapitalism, atau antipatriarki.  Resistensi sosial mesti menjadi heterogen, praktek oposisi menjadi lokal, beraneka, dan khusus pada logika sosial lapangan sosial partikular mereka.    Bertentangan dengan politik pembebasan Marxism dan liberalism, politik resistensi dalam masyarakat yang berdasarkan pendisplinan menanggalkan mimpi ilusi tentang kebebasan masyarakat dari dominasi dan kontrol. Eksistensi personal dan sosial tak pernah dapat membebaskan diri dari pembatasan (constraint) dan regulasi, tiap masyarakat memproduksi konfigurasi, kenikmatan-kenikmatan, identitas dan norma-norma sosialnya sendiri.[xix]

 

Bagaimana peran intelektual? Peran intelektual dalam politik tatanan pendisiplinan bergeser dari mengkonfrontasikan realitas dengan kebenaran universal untuk memproduksi analisa yang detail tentang pembentukan sosial dari lapangan-lapangan sosial spesifik. Genealogi Foucault bisa dilihat sebagai satu bentuk kemungkinan studi manusia, dan sekaligus dapat mengangapnya pula sebagai bagian dari politik anti-pendisiplinan.[xx]

 

Akhir al-Kalam

Foucault terang-terangan mengadopsi metode a la Nietzche, yaitu genealogy, dalam penelusuran human study-nya.  Tradisi pencerahan, dengan narasi akbar progresivitas rasio, totalisasi dan universalisasi epistemik, yang melatari pemikiran marxisme dan liberalisme, telah jatuh kredibilitasnya dalam pandangan Foucault.  Yang tak terampuni dari medernitas, dalam penyelidikannya terhadap fenomena sosial, adalah pereduksian fenomena tersebut dalam satu perspektif tertentu, seperti  kapitalisme (marx), birokratisasi (weber), defrensiasi sosial (durkheim dan parsons), demokratisasi (Tocqueville). Grand teori ditolak mentah-mentah.

 

Menurut Foucault, masyarakat  ditegakkan oleh banyak pilar, unsur penentu.  Fenomena-fenomena kecil, lokal, spesifik, cerita-cerita alit , di masyarakat diangkat dari pinggiran analisis sosial ke tengah gelanggang diskursus sosial oleh Foucault.

 

Masyarakat modern memang berbeda dengan masyarakat pra-modern.  Masyarakat pra-modern lebih bersifat sebagai masyarakat sentralistik, mengandalkan otoritas kedaulatan agen kekuasaan sebagai basis tatanannya. Sedangkan, masyarakat modern, dalam pikiran Foucault, adalah sosialitas yang dipancang beralas kuasa “pendisiplinan.” Masyarakat displiner itulah masyarakat modern. Jiwa, psikis, kesadaran dijadikan sebagai “lokus” struktur tatanan.  Struktur tatanan norma, aturan hukum ditancapkan pada jiwa individu-individu modern melalui teknologi pendisiplinan.  Konsep kuasa tertenun secara kuat dalam hidup keseharian masyarakat modern.   Individu modern terdeterminasi oleh struktur.  Persis pada titik inilah “jantung” eksplorasi Foucault. 

 

Menurut saya, Foucault mendeskripsikan suatu fenomena, yaitu masyarakat modern, “kekalahan” individu atas struktur.  Polarisasi individu-struktur tampak dijadikan sebagai basis, bingkai asumsi pemikiran. Relasi struktur-individu dimaknai sebagai relasi “kuasa” (bukan dalam arti peyoratif).  Bukankah Foucault “tergelincir” untuk melihat fenomena relasi struktur-individu, dalam masyarakat modern, hanya dari satu kaca mata, teropong saja ? Terlepas dari keberatan ini, Foucault telah berjasa mengangkat isu-isu, seperti tubuh, hasrat, identitas,  yang dalam analisis sosial modern termarjinalkan, menjadi isu  yang layak menjadi bahan alternatif dalam  human studies. [

Wa Allah-u a’lam bi al-shawab

 

 

ENDNOTES


[i] St. Sunardi, Neitzche, Yogyakarta : LKiS, 1999, h. 134.

[ii] K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX : Prancis, (Jakarta : Gramedia, 1996), h. 321-324.  bandingkan dengan : Konrad Kebung Beoang, Michael Foucault : Parrhesia dan Persoalan Mengenai Etika, Jakarta : Obor, 1997, h. 48-56.

[iii] Ibid., h. 322

[iv] Steven Seiman, Contested Knowledge : Social Theory in  the Postmodern Era, Massachusetts : Blackwell, 1998, h. 243

[v] Ibid

[vi] Adam B. Seligman, The Problem of Trust, Princetone : Princeton  University Presss, 2000, h.107

[vii] Ibid., h. 115

[viii] Seidman, Op.Cit., h. 244

[ix] Ibid.

[x] Ibid.

[xi]Ibid, h.244-245

[xii] Ibid, h. 245

[xiii] kata disiplin ini, oleh Foucault, diartikan sebagai formula umum dominasi.  Lihat : Bary Smart, Foucault, Marxism and Critique, London : Routledge, 1983, h. 109

[xiv] Ibid.

[xv] ibid, 245-246

[xvi]Ibid., h. 246

[xvii] Ibid.

[xviii] Ibid., h. 246-247

[xix] Ibid., h. 247.

[xx] Ibid.

2 Komentar »

  1. Thanks banget..

    Komentar oleh Abaz Zahrotien — September 12, 2009 @ 3:02 pm | Balas

  2. Satu, timbulnya pemberontakan secara kritis terhadap proyek modernitas; memudarnya kepercayaan pada agama yang bersifat transenden (meta-narasi); dan diterimanya pandangan pluralisme relativisme kebenaran.

    Dua, meledaknya industri media massa, sehingga ia bagaikan perpanjangan dari sistem indera, organ dan saraf kita, yang pada urutannya menjadikan dunia menjadi terasa kecil. Lebih dari itu, kekuatan media massa telah menjelma bagaikan “agama” atau “tuhan” sekuler, dalam artian perilaku orang tidak lagi ditentukan oleh agama-agama tradisional, tetapi tanpa disadari telah diatur oleh media massa, semisal program televisi.

    Tiga, munculnya radikalisme etnis dan keagamaan. Fenomena ini muncul diduga sebagai reaksi atau alternatif ketika orang semakin meragukan terhadap kebenaran sains, teknologi dan filsafat yang dinilai gagal memenuhi janjinya untuk membebaskan manusia, tetapi sebaliknya, yang terjadi adalah penindasan.

    Empat, munculnya kecenderungan baru untuk menemukan identitas dan apresiasi serta keterikatan rasionalisme dengan masa lalu.

    Lima, semakin menguatnya wilayah perkotaan (urban) sebagai pusat kebudayaan, dan wilayah pedesaan sebagai daerah pinggiran. Pola ini juga berlaku bagi menguatnya dominasi negara maju atas negara berkembang. Ibarat negara maju sebagai “titik pusat” yang menentukan gerak pada “lingkaran pinggir”.

    Enam, semakin terbukanya peluang bagi klas-klas sosial atau kelompok untuk mengemukakan pendapat secara lebih bebas. Dengan kata lain, era postmodernisme telah ikut mendorong bagi proses demokratisasi.

    Tujuh, era postmodernisme juga ditandai dengan munculnya kecenderungan bagi tumbuhnya eklektisisme dan pencampuradukan dari berbagai wacana, potret serpihan-serpihan realitas, sehingga seseorang sulit untuk ditempatkan secara ketat pada kelompok budaya secara eksklusif.

    Delapan, bahasa yang digunakan dalam waacana postmodernisme seringkali mengesankan ketidakjelasan makna dan inkonsistensi sehingga apa yang disebut “era postmodernisme” banyak mengandung paradoks

    Komentar oleh Abaz Zahrotien — September 12, 2009 @ 5:16 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: