ISLAM-RAMAH

September 15, 2008

FENOMENOLOGI PUASA

Filed under: AGAMA — ruhullah @ 3:21 am

Mircea Eliade melihat,  manusia beragama tidak memandang dunia: ruang dan waktu,  sebagai relitas homogen, satu wajah. Manusia religius melihat segala hal dari teropong sakral dan profan. Karena itu, pada dasarnya, kesakralan dan keprofanan adalah kontruksi-epistemologis.

 

Melalui optik Eliadean, puasa adalah tindakan sakral. Kesakralan puasa tidak melenyapkan unsur manusiawinya. Dengan kata lain, di balik yang sakral terdapat gejala-gejala manusia.

 

Gejala Puasa

 

Dalam lintasan sejarah agama-agama, puasa adalah gejala umum. Misalnya, kita bisa temukan narasi tentang  puasa dalam Bibel, al-Quran, Mahabharata, Upanishad dan sebagainya.   Karena itu, puasa dipandang sebagai unsur penting agama.

 

Lalu, apakah yang kita tangkap dari fenomena puasa? Menjauhkan  makan serta minum, dan menghindari atau mengurangi segala hal yang dipandang menyenangkan badan, seperti berhubungan seksual.  Atau juga bahkan hiburan.

 

 

Puasa adalah perbuatan yang ”disengaja” dan ”bebas”, dengan kehendak sendiri. Dengan kata lain, dalam berpuasa manusia menggunakan  rasio alamiahnya, yakni kebebasan.  Sebetulnya, manusia tidak memiliki kebebasan sebab bila demikian kebebasan adalah sesuatu yang eksternal, dan di luar manusia. Padahal, manusia identik dengan kebebasan. Kebebasan adalah fakta eksistensial (keberadaan) manusia itu sendiri, pengalaman langsung, seperti halnya merasakan dingin atau panas. Artinya, kebebasan dikenali melalui pengalaman (William Ockham: per experientiam, Yohanes Duns Scotus:  immo experimur).

 

Gejala kebebasan tampak pada momen pilihan (the choice).  Kehidupan manusia terdiri dari pilihan-pilihan. Sejak bangun tidur kita disajikan pilihan: mandi atau tidak, sikat gigi atau tidak, sarapan atau tidak, berangkat kerja atau bolos,  dan seterusnya.  Jadi, segenap jejak hidup manusia dihabiskan untuk “memilih”. Bahkan hidup sendiri adalah sebuah pilihan sebab bisa saja kita mengakhiri hidup saat ini. Artinya, kita mempunyai hak mutlak menentukan pilihan dalam hidup. Tidak ada seorang pun yang mampu memaksakan kehendak pada seseorang. Pemaksaan hanya sukses pada tataran lahiriah, sedangkan,  mengutip Stoa, kebebasan ada di “dunia batin.” Sisi batiniah tidak bisa dirampok karena manusia memiliki kebebasan-potensial untuk berkata “tidak”. Inilah modus mengada manusia, yaitu “menidak” (Jean-Paul Sartre: neantir, neantisation). Manusia bisa menidakkan apapun.

 

Dengan “menidak” itu manusia melakukan distansiasi (mengambil jarak) antara dirinya sendiri dan alam jasmani, antara dirinya dengan kejasmaniannya.  Berdasarkan kejasmaniannya, manusia memiliki nafsu untuk mempertahankan diri (terkandung di dalamnya makan dan minum). Hal ini naluriah, kodrati.  

 

Manusia adalah onwerp (proyek). Proyek terhadap perbuatannya. Artinya, bentuk manusia merupakan konstruksi perbuatannya itu. Jadi, yang naluria dan kodrati bukan sesuatu yang menumpang. Naluri melekat pada diri manusia. Naluri makan dan minum juga demikian, naluri untuk menyatukan diri dengan barang-barang jasmani, bertahan hidup.

 

Dalam  puasa, kita memutus hal tersebut dalam waktu-waktu tertentu. Memutuskan total,  mustahil, bertentangan dengan kodrat. Manusia mengambil jarak terhadap alam jasmani, makan dan minum. Bahkan, distansi terhadap kejasmaniannya.  Manusia  mengalami nalurinya, merasakan kecenderungannya. ”Manusia  adalah satu-satunya makhluk yang mampu menghadapi sifat naluriahnya.  Hewan atau tumbuhan tak bisa melakukan demikian. Misalnya, kita tak pernah menemukan seekor hewan yang secara sukarela berpuasa,” tulis Ali Shariati dalam Man and Islam.  Namun, manusia mampu membedakan diri, dan memisahkan dirinya, pribadinya dari kecenderungan itu.

 

Manusia tidak ditentukan alam jasmani. Tampak, manusia sebagai subjek otonom terhadap alam jasmani, terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk jasmani.

 

Dengan berpuasa, manusia sadar akan dirinya, kepribadiaannya, dan kemerdekaannya. Manusia berhadapan dengan barang-barang yang memberi kenikmatan. Manusia melepaskan kesenangan itu. Menghendaki hubungan yang teratur dengannya.

 

Penguatan Kemanusiaan

 

Bulan ramadhan adalah bulan interupsi atas rutinitas hidup yang cenderung menciptakan manusia menjadi makhluk mekanis. Membebaskan diri dari gravitasi aktivitas hidup duniawi, kembali pada gravitasi dan pusat hidup yang otentik melalui pendakian spiritual memasuki atmosfer Ilahi. Bulan dekonstruksi kemapanan hidup yang pengap, merevitalisasi kefitrian kita.

 

Pembangunan akan gagal jika para aktornya tidak mampu menahan diri, terjerembab nafsu hedonis,  ketika dihadapkan pada godaan yang menawarkan kenikmatan sesaat dengan mengorbankan kenikmatan yang lebih besar dan berjangka panjang. Puasa mengajarkan penyadaran akan  ”kedirian”, otonomi kita sebagai manusia. Keserakahan dan kerakusan yang tumbuh subur dalam bentuk korupsi misalnya, terjadi karena ketidakmampuan untuk melepaskan dari dari jepitan nafsu hedonisme-materialistik. Ketidakmampuan tersebut menunjukkan derajat kemanusiaan yang rendah. Puasa adalah wahana olah batin untuk menguatkan kembali spirit kemanusiaan kita agar mampu menghadapi determinisme bendawi, dan nafsu hedonis. Wa Allahu a’lam bis shawabi      

 

 

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: