ISLAM-RAMAH

September 11, 2008

KEADILAN SOSIAL DAN SOSIALISME RELIGIUS: GAGASAN PINGGIRAN NURCHOLISH MADJID

Filed under: ARTIKEL MEDIA — ruhullah @ 5:00 am

M. Subhi-Ibrahim[i]

 

Sesungguhnya

Allah menegakkan kekuasaan yang adil

meskipun kafir,

dan tidak menegakkan yang zalim

meskipun Muslim

Ibn Taymiyyah

 

Kutipan di atas kerap dinukil oleh syaikuna Nurcholish Madjid (Cak Nur). Ibn Taymiyyah mengambil kalimat tersebut dari khazanah hikmah Imam Ali ibn Abi Thalib.  Kutipan di atas menuntun pada satu tema penting, namun minor, dan pinggiran dalam galaksi ide Cak Nur, yakni keadilan. Karena minor dan pinggiran, tema ini jarang dibicarakan karena kurang ”seksi” untuk diperbincangkan dalam “ruang borjuasi”.  Dalam buku ”Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan” pun tema ini secara eksplisit ”terselip” pada bagian kedua: Islam dan cita-cita keadilan sosial,  yang terdiri dari tiga artikel. Pembahasan tentang keadilan ini kalah ”gemuk” dibanding lima bagian lain dalam buku tersebut. Tulisan ini akan menjelaskan tiga hal:  basis onto-teologi, keadilan sosial, dan sosialisme religius.      

 

Onto-Teologi

 

Membaca Cak Nur tidak akan menemukan titik-substantif  tanpa melacak basis onto-teologinya. Maksud onto-teologi adalah pandangan dunia (worldview, jahan bini) tentang realitas yang berbasis konsep  ketuhanan. 

 

Cak Nur mengalaskan bangun pikirnya pada konsep tauhid. Cak Nur yakin, dalam Islam, problem utama manusia bukan ketidakpercayaan kepada Tuhan (ateisme), tetapi politeisme, “terlalu banyak tuhan atau salah dalam memilih tuhan”.[ii] Karena itu, al-Quran berbicara tentang tauhid (pengesaan). Konsep tauhid tergambar dalam kredo persaksian Muslim (syahadah), yakni la ilaha illa Allah (tiada tuhan selain Tuhan itu sendiri).  Kredo persaksian ini terdiri dari dua penggal kalimat. La illaha (nafi, negasi), dan illa allah (itsbat, konfirmasi).

 

Mengapa kredo tersebut dimulai dari kata ”la”? Kata ”la”  (tidak) merupakan pernyataan eksistensialis. Jean Paul Sartre, raushanfikr Prancis,  menjelaskan, kebebasan manusia tampak benderang dalam ”menidak” (neantir, neantisation). Tindakan ”menidak” merupakan representasi kebebasan, tindakan khas  etre-puor-soi. Jadi, kata ”tidak” adalah proklamasi kebebasan eksistensial manusia.

 

Selanjutnya, mengapa Cak Nur mengartikan la ilaha illa Allah dengan ”tiada tuhan selain Tuhan itu sendiri”, bukan ”tiada tuhan selain Allah”? Sebab,  jika diterjemahkan dengan  ”tiada tuhan selain Allah”, ia mengesankan bahwa ada Tuhan lain selain Allah, atau bahwa Allah hanyalah salahsatu saja dari sejumlah tuhan lain. Di dunia yang terdiri dari berbagai agama ini, mudah sekali kita terjerumus dalam suatu politeisme yang tak sadar, yang mengesankan bahwa ”di langit” sana ada tuhan-tuhan yang bersaing memperebutkan iman manusia, seperti para pemimpin politik memperebutkan pendukung.[iii]

  

Dalam konteks tauhid, Cak Nur yakin, Allah adalah Yang Maha Tunggal, Pencipta Kosmos Raya, Kebenaran Mutlak, Yang Maha Sakral.  Konsekuensi logis tauhid  adalah bahwa ”yang selain Tuhan” itu relatif, nisbi, dan profan. Karena itu, dalam tataran sosio-politik misalnya, kenapa kita perlu berdemokrasi? Ya, sebab pengetahuan manusia bersifat relatif, nisbi, dan  profan. Karena itu, butuh sharing, check and balance, koreksi, kritik, dalam satu ruang publik yang egaliter dan bebas. Semua itu bisa mewujud dalam demokrasi. 

   

Kemudian, Allah, Sang Pencipta mengatur alam dengan ”hukum-Nya”. Cak Nur, memandang keadilan sebagai hukum kosmos.  Bagaimana Cak Nur mendefinisikan adil dan  keadilan? Untuk menjawabnya, Cak Nur mengutip pemikiran Murtadha Muthahari.[iv] Muthahhari mendefinisikan istilah keadilan dengan empat pengertian: 1) keadaan sesuatu yang seimbang; 2) persamaan dan penafian atas segala bentuk diskriminasi; 3) pemeliharaan hak-hak individu dan pemberian hak kepada setiap orang yang berhak menerimanya; 4) memelihara hak bagi kelanjutan eksistensi.  Muthahhari mengkategorikan keempat definisi tersebut dalam tiga konteks diskursus: Kosmologis, sosiologis dan teosofis. Untuk kejelasan pengkategorian tersebut dapat dilihat pada matriks di bawah ini:

 

Konteks Diskursus

Definisi Keadilan

Kosmologis

keadaan sesuatu yang seimbang

Sosiologis

persamaan dan penafian atas segala bentuk diskriminasi dan pemeliharaan hak-hak individu dan pemberian hak kepada setiap orang yang berhak menerimanya

Teosofis

Memelihara hak bagi kelanjutan eksistensi

 

 

 

Keadilan Sosial

 

Dalam tema keadilan, yang dipaparkan Mutahhari tersebut, Cak Nur lebih banyak menyoroti masalah keeadilan sosial (pengertian keadilan kedua). Cak Nur, menemukan bahwa  ide keadilan sosial dalam Islam dapat dijumpai dengan mudah dalam al-Quran,[v] terutama dalam ayat-ayat Makkiyah.[vi] Secara terang-terangan, al-Quran mengutuk individu dan masyarakat yang  anti-keadilan, dengan sistem ekonomi yang tidak produktif dan egois. (QS. Al-Takatsur dan al-Humazah, at- Taubah: 34-35).[vii]  

 

Bagi Cak Nur, keadilan sosial sejalan dengan egalitarianisme radikal sebagai konsekuensi agama monoteis. Seperti diketahui, dalam agama monoteis, keadilan merupakan misi profetik, tugas suci para Nabi.  Efek sikap ini bukan hanya tampak pada efek-langsung pada bidang ekonomi, tapi juga dalam budaya dan seni. Ekspresi tersebut tergambar misalnya dalam ikonoklasme, terutama pada gambar representasi simbolik dan emblematik, dan magis. Ide dasar sikap ini adalah bahwa magisme menghalangi manusia dari mencapai keadilan berdasarkan persamaan dan berdasarkan kenyataan-kenyataan yang terawasi (terkontrol). Karena itu, seni yang berkembang adalah seni abstrak. Menariknya, seni abstrak tersebut berkembang di kalangan penduduk kota (urban) karena lingkungan mereka lebih bebas dari mitos alam. Islam sebagai gejala kota lebih tercermin dalam mekantilisme yang ditopang paham persamaan manusia: persamaan kesempatan, selain hak dan kewajiban. [viii]

 

Selanjutnya, Cak Nur menegaskan, Islam tidak mendukung cita-cita ekonomi komunis,”sama rata sama rasa”, sebab Islam menghargai prestasi individual. Karena itu, agar tidak terjadi ketimpangan, dibuat aturan dengan ketentuan halal- haram dalam perolehan ekonomi dan  tidak boleh ada pembenaran struktur atas terhadap praktik penindasan.[ix]  

 

Bagaimana pola penggunaan kekayaan yang mencerminkan keadilan? Cak Nur memulai elaborasinya dengan menjelaskan makna generik ”adil”. Menurut Cak Nur, kata adil (bahasa Arab) berarti sesuatu yang sedang, seimbang, wajar. Begitu pula kata just (bahasa Inggris) yang bermakna wajar, justice (keadilan) ialah kewajaran. Pola penggunaan kekayaan yang memenuhi kewajaran adalah ”suatu keadaan yang dapat di terima oleh semua orang dengan penuh suka kerelaan dan kelegaan. Pola tersebut ialah pola prihatin. Dalam kepribadian dan keprihatinan terdapat unsur dan semangat solidaritas sosial: suatu sikap yang selalu memperhitungkan dan memperhatikan keadaan kepentingan orang banyak; tidak egois atau berpusat pada diri sendiri. Dengan keprihatinan, harta kita sendiri kita gunakan sesuai dengan kebutuhan hidup yang wajar, tak lebih dan tak kurang, menyisihkan sebagian untuk mendorong pruduktivitas umpamanya, dengan sistem tabungan, dan mengeluarkan sebagian lagi untuk kepentingan langsung sosial. Dengan menekan penampakan mencolok kekayaan, satu lagi hal didapat: mengurangi sumber ketegangan-ketegangan sosial yang amat berbahaya. ” Cak Nur merujukkan penjelasannya tersebut kepada al-Quran, QS. Al-Furqan (25): 67.[x]

 

Sosialisme Religius

 

Abu Dzar al-Ghifari, sahabat Nabi Saw, dikenal sebagai penyambung lidah masyarakat Muslim awal yang mensuarakan keadilan sosial. Karena itu,  ia digelari Ali Shariati sebagai ”bapak sosialisme Islam”. Memang, isu keadilan sosial memiliki kedekatan konseptual dengan sosialisme. Karena itu, Cak Nur pun tak luput untuk menulis tentang sosialisme. Sosialisme religius, demikian jargon yang diusungnya.

 

Cak Nur melihat, ide sosialisme religius telah tertanam kuat dalam gugus pikiran HOS. Cokroaminoto dalam buku ”Islam dan Sosialisme”, H. Agus Salim yang berpendapat bahwa sosialisme sudah tercakup dalam ajaran-ajaran agama, khusunya Islam dan  Syafrudin Prawiranegara yang  berpandangan bahwa muslim haruslah sekaligus seorang sosialis. Karena itu, Kahin melihat Masyumi sebagai ”Islam Kiri” atau ”Islam Sosialis”. Namun, menurut Cak Nur, sosialisme religius bukan monopoli ”kelompok Islam”.  Bung Karno misalnya, kerapkali menegaskan, masyarakat yang dicita-citakannya adalah masyarakat sosialis-religius. Begitu pula Ruslan Abdul Gani dalam ceramah-ceramahnya.[xi]

 

Bagi Cak Nur, sosialisme adalah ungkapan ciri masyarakat yang dicita-citakan, spirit Pancasila, yakni masyarakat yang berkeadilan sosial yang sekaligus merupakan tujuan kita bernegara. Di Barat, kecenderungan ini sangat kuat.  Meskipun secara formal berbaju kapitalis, tapi dalam praktek mereka menyelenggarakan ”sistem sosialis” dengan ciri pemerataan pendapatan, jaminan sosial dan kesempatan kerja.  

 

Mengapa memakai embel-embel religius? Cak Nur melihatnya bukan pertimbangan pragmatis, tapi lebih prinsipil. Menurutnya, isi Pancasila sendiri adalah sosialisme plus religius. ”Pancasila sebagai Dasar negara dimulai dengan asas Ketuhanan Yang Maha Esa dan diakhiri dengan tujuan pokok kehidupan kenegaraan, mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat, ” tulis Cak Nur.[xii] Cak Nur menegaskan,”asas-asas perikemanusiaan, persatuan, dan kerakyatan berada dalam spektrum yang bermula dengan ketuhanan dan berujung dengan keadilan sosial…”.[xiii] Singkatnya, bagi Cak Nur, Sosialisme bukan hanya komitmen kemanusiaan, tetapi juga ketuhanan. Cak Nur mengutip Hatta yang  menerangkan bahwa,”sila ketuhanan merupakan sila yang menyinari sila-sila lainnya, merupakan dasar moral yang kuat untuk mewujudkan cita-cita kenegaraan dari kemasyarakatan kita.” Dengan basis religius, diharapkan tidak seperti proyek komunisme yang mencoba mewujudkan cita-cita kemanusiaan  namun menggunakan metode anti-kemanusiaan. Menurut Cak Nur, mereka  melakukan ”kontradiksi-performatif”  itu karena,”pengingkaran terhadap alam bukan-materi (alam gaib), Tuhan ” yang merupakan benih  amoralisme. Cak Nur kembali mengutip Bung Hatta: ”Hanya kepercayaan kepada Tuhanlah yang akan memberi ke dalam rasa tanggungjawab dan moralitas kepada tindak-tanduk manusia di dunia ini.  Dengan adanya kepercayaan itu, seorang manusia bertindak tidak semata-mata karena perhitungan hasil dan akibat di dunia ini, tetapi lebih penting lagi, di alam kehidupan yang lebih kekal kelak. Dasar tanggung jawab yang mendalam ini merupakan jaminan yang jauh lebih baik bagi kesejatian pelaksanaan suatu cita dan khususnya cita-cita kemanusiaan seperti sosialisme atau masyarakat berkeadilan sosial.”[xiv] 

 

Bagaimana mempraktekkan sosialisme religius? Meskipun Cak Nur melihat ada 11 prinsip Islam yang sejalan dengan jiwa dan semangat sosialisme, namun untuk menerapkan sosialisme-religius sendiri, mesti belajar dari sejarah, terutama kegagalan sejumlah eksperimen yang mencoba meracik masyarakat sosialis. Cak Nur mengakui, ”memikirkan dan menemukan segi-segi praktis pelaksanaan suatu gagasan atau ide sering tidak segampang memahami prinsip-prinsip ide tersebut. Sebab, hal itu tidak saja menyangkut persoalan komitmen dan tekad, tetapi juga mengait segi ketelitian, keahlian, dan ketekunan. Inilah tantangan kita!”[xv]

 

Akhir al-Kalam. Cak  Nur, terkesan ”kurang berminat” mengembangkan gagasan sosialisme religius ini. Namun, ia berikhtiar menyuntikkan muatan dan warna dari ide sosialisme religius. Sisi yang patut digarisbawahi adalah, Cak Nur tidak melihat sosialisme religius dalam optik ideologis, tetapi lebih substantif—keadilan, persamaan, pemerataan, dan sebagainya. Hal ini tampak jelas pada semesta tulisan dan segenap sikap Cak Nur  yang menjadikan keadilan sebagai sebuah teropong epistemologis.  Wa Allah a’lam bi al-shawab

 

 

Endnotes:

[i] Dipresentasikan pada Reading Nurcholish Madjid: Bedah Buku “Islam Kemodernan, dan Keindonesiaan, 8 September 2008, di Universitas Paramadina, Jakarta

[ii] Budhy Munawar-Rachman, Ensiklopedi Nurcholish Madjid, (Jakarta: Mizan dan Paramadina, 2006), h. 3186-3187.

[iii] Lihat kata pengantar Goenawan Mohamad dalam byuku Nurcholish Madjid, Pintu-Pintu  Menuju Tuhan, (Jakarta: Paramadina, 1995). 

[iv] Nurtcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Paramadina, 2005), h. 513-516.

[v] Ada sejumlah kata dalam al-Quran yang mewakili arti adil: Adl, Qisth, mizan, yang bermakna sikap tengah yang berkesinambungan dan jujur. Lihat, Budhy Munawar-Rachman, Ensiklopedi Nurcholish Madjid, h. 1289 

[vi] Nurcholish Madjid, Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan, (Bandung: Mizan, 2008), h. 88

[vii] Ibid.

[viii] Ibid., h. 89-90

[ix] Ibid., h. 91

[x] Ibid., h. 107-108

[xi] Di negeri-negeri Muslim lainnnya, isu sosialisme Arab atau Sosialisme Islam sering dipertontonkan oleh kelompok-kelompok Islam radikal di luar negeri, seperti di Aljazair, Libia, Mesir, Siria, Irak. Bahkan Pakistan, memilih sosialisme Islam sebagai model sistem kemasyarakatanya, terutama semasa Ali Bhuto.  Di Barat. Sosialis-Religius, tercermin dalam Partai Uni Sosial Kristen (CSU), Uni Demokrat Kristen (CDU) Partai Sosial Demokrat Jerman. Ibid., h. 92-94

[xii] Nurcholish Madjid, Indonesia Kita, (Jakarta: Universitas Paramadina, 2004), h. 167

[xiii] Ibid.

[xiv] Nurcholish Madjid, Islam,Kemodernan, dan Keindonesiaan,  h. 96-99

[xv] Ibid., 102

2 Komentar »

  1. masih sedikit artikelnya ya pak. tapi keren tampilannya. sep banget pak. ajarin dong pak. cara berpikir seperti bapak.

    Komentar oleh sevinwong — Desember 21, 2008 @ 9:11 am | Balas

  2. Reblogged this on priyonisme and commented:
    salam

    Komentar oleh priyonisme — Oktober 12, 2012 @ 5:19 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: