ISLAM-RAMAH

Agustus 13, 2008

MUHAMMAD-KAN KAMI

Filed under: ARTIKEL MEDIA — ruhullah @ 7:50 am

Setelah Allah, Engkaulah  yang terbesar

Al-Sa’di

 

IFTITAH: PROSESI LAHIRNYA MANUSIA PILIHAN

 

Di Mekkah, 8 Juni 570 M, persis 50 hari pasca musnahnya pasukan bergajah atau 40 tahun dari pemerintahan Kisrah Aunisyirwan, tengah menanti detik-detik menegangkan menunggu kelahiran bayi suci. “ia (muhammad bin Abdullah) lahir di rumah pamannya, Abu Thalib,” tulis Muhammad Khudri Bek, sebagaimana dikutip Sayed Ali Asgher Rawzy.1  Persalinan tersebut dibantu oleh  ibunda Abdurahman bin Auf.  Saat melahirkan, dari tubuh Aminah terpancar cahaya sampai Istana Bushra.  Saat itulah terjadi goncangan dahsyat yang menggetarkan maghligai  Kisrah hingga retak dan empat belas terasnya ambruk, air danau Sawah menyurut, dan api  di kuil Parsi padam yang tak pernah padam sebelumnya.

 

Menakjubkan! Bayi suci itu berucap “Jajalu Rabbi al-Rafi”, kedua matanya bercelak, badannya bersih, pusarnya telah terpotong, serta telah dikhitan.  Muhammad Ali Shabban menulis,”beliau (Muhammad) dilahirkan dalam sikap memandang ke langit sambil meletakkan kedua tangannya di tanah”.2  Lalu, dipanggillah ayah Abdullah, kakek sang bayi, yakni Abdul Muthallib. “wahai abal Harits, aku melahirkan untuk Anda seorang yang aneh,”kata bunda suci Aminah. Sang kakek dengan lembut berucap,”apakah ia bukan seorang yang sempurna?”  Aminah menjawab,”bukan, tapi saya melihat-nya tiba-tiba bersujud.” Kemudian, ia membawa bayi suci tersebut ke Ka’bah. “wahai cucuku yang diberkati Allah.  Aku akan menamaimu Muhammad. Kelahiran anak ini diiringi dengan kesucian dan kemenangan bagi rumah suci. Semoga berkah selalu baginya,”tutur Abdul Muthhalib.3  “Kenapa engkau namai  muhammad ?” tanya beberapa orang Mekkah. “Kuinginkan dia akan menjadi orang yang terpuji bagi Tuhan  di langit dan bagi makhluk-Nya di bumi,” jawab Abdul Muthalib. Demikian prosesi lahirnya Nur al-Huda, Muhammad al-Musthafa Saw. 

 

Dunia sepenuhnya tenggelam dalam cahaya, pada malam kelahiran Muhammad,” senandung  Yunus Emre mengenang peristiwa agung itu. Memang, kelahiran Muhammad Saw jadi mata air inspirasi para pujangga untuk menggubah syair-syair dalam ribuan lembar kertas, dan merangsang gairah kognitif para pengarang untuk merangkai kata tuk merajut buku-buku guna melukiskan keajaiban Muhammad Saw.  Menceritakan Muhammmad Saw. telah mengeringkan samudera tinta para sarjana dan sejarahwan. Namun, Muhammad Saw adalah legenda sejarah yang tak terperikan oleh kata-kata. Selalu tersisa sisi yang belum tersibak. Dialah Muhammad Saw yang Allah belum pernah menciptakan makhluk seperti dia. Tulisan ini akan merefleksikan satu sisi—mengutip istilah Ali Shari’ati—“wajah muhammad”, yakni muhammad Saw sebagai pembawa obor pembebasan kaum mustadh’afin (the oppresed people).

 

MENYEMAI KESADARAN KE-MUHAMMAD-AN

 

Tubuh Muhammad berukuran sedang, rambutnya tidak kejur dan tidak pula keriting, tidak gemuk, wajahnya bulat berkulit putih, matanya lebar dan hitam, dan bulu matanya panjang. Dia memiliki ‘ciri kenabian’ di antara dua bilah bahunya…tubuhnya besar.  Wajahnya bersinar laksana bulan di malam purnama.  Dia lebih tinggi dari rata-rata orang, tetapi lebih pendek dari seseorang yang jangkung….rambutnya tebal dan ikal. Jalinan rambutnya dibelah. Rambutnya menyentuh cuping telinganya. Roman mukanya azhar (cemerlang, bersinar).  Muhammad memiliki dahi yang lebar dan alis yang bagus, panjang dan melengkung dan tidak menyatu.  Di antara kedua alisnya ada otot yang melembung ketika dia sedang marah.  Bagian atas dari hidungnya bengkok; dia memelihara janggut yang tebal, sepasang pipinya berkulit lembut, mulutnya kukuh, dan gigi-giginya tertata rapih.  Di dadanya tumbuh rambut tipis.  Lehernya bagaikan leher sebuah patung gading, dengan kemurniaan perak.  Tubuh Muhammad proporsional ukurannya, kokoh, kuat, bahkan perut dan dadanya, berdada bidang dan berbahu lebar,” tulis Tirmidzi dalam Kitab Syama’l al-Musthafa, sebagaimana dinuqil Annemarie Schimmel.4

 

Deskripsi Tirmidzi  di atas lebih bersifat paparan fisik Muhammad Saw. Sungguh, Muhammad Saw tersohor di alam malak dan malakuti.  Ia sempurna lahir dan batin. Yang terpenting, ternyata Muhammad Saw pun melampui sekat ruang dan penggalan waktu. Ia dirindui, dicintai oleh manusia yang belum pernah bersua dengannya.  Ia adalah figur meta-historis.  

 

Kemeta-historisan Muhammad Saw terawat dalam tradisi Islam.  Minimal ada tiga metode untuk mengukuhkan kemeta-historisannya: Pertama, seseorang baru berlabel muslim bila ia—bukan hanya mengakui Allah sebagai Tuhannya—namun juga Muhammad sebagai utusan-Nya (Rasul Allah). Artinya, kesadaran ke-muhammad-an merupakan kesadaran Islam itu sendiri. Hingga, tidak aneh bila kalangan yang mencoba menistakan dan menghancurkan Islam berupaya meluluh-lantakkan dan mencoba meruntuhkan citra agung Muhammad Saw. Penghinaan terhadap Muhammad Saw adalah penghinaan terhadap Islam karena menyangkut kesadaran diri (self consciousness) kaum Muslim. Wajarlah jika Imam Khomeini—semoga Allah mungkuduskan wajahnya—mengutuk serta memfatwakan hukuman mati bagi Salman Rusdi. Masalahnya, bukanlah pada penghinaannya pada Muhammad Saw.  Meskipun dicaci dan dicerca, Muhammad Saw tetaplah suci. Tetapi ada yang lebih esensial dari itu, yakni sang penghujat telah menanam benih permusuhan serta mengotori kesadaran umat Islam dengan novel “kacangannya”, the Satanic Verses. 

 

Kedua, Muhammad Saw adalah model ideal hamba Allah.  Oleh karenanya, ia adalah teladan yang baik (uswah al-hasanah). Pencontohan terhadap tingkah laku beliau (sunnah) bernilai ibadah. Ia adalah insan kamil, manusia-teomorfis, makhluk paripurna dimana tiap muslim mengkiblatkan keteladanan moral (akhlak) padanya. 

 

Ketiga, kesadaran ke-muhammad-an lebih dipertajam dengan konsep shalawat.  Tiap nama Muhammad disebut, maka dianjurkan membaca shalawat. Allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘alli muhammad. Di samping itu, nama Muhammad Saw pun adalah bagian integral dari shalat: mulai dari adzan, iqamat, dan bacaan wajib shalat. Imam Syafi’i berkata,”tidak sempurna shalat tanpa shalawat bagimu.”

 

Penyebutan nama Muhammad Saw tersebut mirip dengan metode iklan.  Untuk menciptakan “kebutuhan” sang pengiklan menayangkan iklannya secara terus-menerus. Semakin sering iklan ditayangkan, maka semakin kuat daya ingat dan kesadaran pemirsa akan suatu produk. Dari kesadaran-akan-produk lambat laun berubah menjadi kebutuhan-akan-produk. Nah, demikan pula dengan penyebutan Muhammad Saw dalam hampir seluruh lorong keberagamaan. Semakin sering nama sucinya dilantunkan, maka gema sukma Muhammad Saw semakin terpatri dalam relung kesadaran keber-Islam-an kita. 

 

ME-MUHAMMAD-KAN SUKMA

 

Di antara orang Islam tidak ada yang membenci Rasulullah meskipun dia kosong jiwanya dan bejat akhlaknya,” tulis Muhammad Qutb.5 Qutb bicara secara normatif.  Bukankah sejarah mencatat peristiwa pembantaian al-Husain as., cucu terkasih Muhammad Saw, oleh kanibal-kanibal yang mengaku “umat Muhammad” padahal salah satu bentuk cinta pada Rasulullah adalah mencintai ahl al-baitnya? Bukankah Salman Rusdi tercatat pula sebagai “orang Islam”?  Bukankah kerap kita temukan pelecehan ajaran Muhammad Saw oleh mahasiswa-mahasiswi “muslim”?  Singkatnya, tidak semua muslim mampu “memuhammad-kan” dirinya dan tidak kuasa menyerap cahaya Muhammad Saw menjadi penunjuk langkah hidupnya. Alih-alih, meluruhkan diri dalam kesadaran ke-muhammad-an, mereka menutup hidung kesadarannya dari aroma nubuwwah yang ditebarkan Muhammad Saw. 

 

Apakah yang  paling esensial dari kesadaran ke-muhammad-an? Kesadaran bahwa puncak pengabdian hamba Allah adalah ketika sang hamba mampu mendorong revolusi spiritual-individualnya menjadi revolusi sosial, yakni membebaskan kaum mustadh’afin dari lilitan dan himpitan kezaliman para penindas.

 

Pembebasan mustadh’afin adalah implikasi logis konsep tauhid. Tauhid merupakan doktrin revolusioner yang menggeser paradigma pandangan-dunia masyarakat jahiliyah (syirik). Konsep tauhid bukan hanya sebuah konsep teologi-teoritis. Mengutip pemikiran Ali Shari’ati, tauhid adalah jahan bini (pandangan dunia): paradigma untuk menatap realitas secara lebih radikal, baik realitas fisik atau meta-fisik, dalam bingkai unitas (kesatuan). Tauhid berfungsi sebagai cara memandang realitas (epistemologi). 

 

Gerak analisis sosial dalam kerangka-pikir tauhid melihat adanya dimensi sosial tauhid, yang kerap populer disebut tauhid sosial. Pandangan-dunia tauhid memandang manusia setara dan sederajat. Eksploitasi, penindasan, penjajahan, dan ketidakadilan atas manusia lain adalah bentuk syirik sosial karena manusia diciptakan oleh Allah dengan seluruh fitrah keluhurannya. Proklamasi tauhid yang ditegakkan Muhammad Saw merupakan perlawanan terhadap segala bentuk syirik sosial tersebut yang merupakan misi yang telah diusung oleh para nabi samawi. Pendukung Muhammad Saw sebagian besar adalah insan-insan yang terjepit dan tercengkram oleh kezaliman.

 

Jadi, madrasah ruhani Rasulullah Saw mendidik jiwa-jiwa yang bukan hanya menyuntikkan kepekaan spiritual, tetapi juga aktif membebaskan rantai- belenggu kezaliman, menegakkan keadilan. Imam Ali Kw., seorang wisudawan terbaik dari madrasah ruhani Muhammad Saw, digambarkan oleh Murtadha Muthahhari, sebagai,”…pahlawan pemegang tasbih sekaligus pedang.  Tetapi kelas masyarakat mana yang ingin ditundukkannya? Kelas tertindas dan terampas, ataukah kelas penguasa dan pendominasi?  Apa semboyan beliau?  Semboyan beliau ‘jadilah musuh orang yang zalim dan teman kaum tertindas.’ Sepanjang sejarah masa hidupnya, Ali selalu dekat dengan pedang dan tasbih, dan menjauhi kemewahan. Pedangnya digunakan terhadap para pemilik kemewahan dam keangkara-murkaan.6 Hal ini mengingatkan pada Revolusi Islam Iran. Robin Wright mencatat pernyataan Imam Khomeini—semoga Allah mengkuduskan wajahnya—sebulan setelah revolusi pecah bahwa,”it is a champion of all oppressed people.7 Oleh karena itu, “Seandainya Karl Marx berkenalan dengan Islam yang diajarkan oleh Rasul Saw, boleh jadi ia akan masuk Islam,” tulis Kang Jalal.8

 

Akhir al-Kalam.

 

Ya Ilahi, shallallah ‘ala Muhammad wa ali Muhammad, Ya rabbi, muhammad-kan kami. Sebagaimana Engkau membuat kami benci dizalimi, jagalah diri kami untuk tidak berbuat zalim.  Ya wajihan ‘inda Allah, Isyfa’ lana ‘inda Allah.”  Wa Allah-u a’lam bi al-shawab-i.

 

 


1 Sayed Ali Asgher Rawzy, Muhammad Rasulullah Saw: Sejarah Lengkap Kehidupan dan Perjuangan Nabi Islam Menurut Sejarahwan Timur dan Barat, (Jakarta: Zahra, 2004), h. 43

2Muhammad Ali Shabban, Teladan Suci Keluarga Nabi: Akhlak dan Keajaiban-Keajaibannya, (Bandung: al-Bayan, 1996), h. 20

3Tahia al-Ismail, Tarikh Muhammad Saw: Teladan Perilaku Umat, (Jakarta: Rajagrafndo Persada, 1996), h. 12

4Annemarie Schimmel, Dan Muhammad adalah Utusan Allah: Penghormatan Terhadap Nabi saw dalam Islam, ( Bandung: Mizan, 1998), h. 54

5Muhammad Qutb, Percikan Sinar Rasulullah, (Jakarta: Panduan Ilmu Jaya, 1985), h. 9.

6Murtadha Muthahhari, Falsafah Kenabian, (Jakarta: Pustaka Hidayah, 1991), h.27.

7Robin Wright, Sacred Rage : the Crusade of Modern Islam, (New York: Linden Press, 1985), h. 42

8Jalaluddin Rakhmat, Meraih Cinta Ilahi: Pencerahan Sufistik, (Bandung: Rosdakarya, h. 1999), h. 423.

 

 

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: