ISLAM-RAMAH

Agustus 13, 2008

MENG-INSAN-KAN DIRI

Filed under: ARTIKEL MEDIA — ruhullah @ 7:37 am

 Hanya orang-orang yang mampu membuat dirinya

sebagai manusia saja

yang akan dibangkitkan dalam rupa manusia

 

Imam Khomeini

 

Iftitah: apakah aku adalah “manusia” ?

 

Pernahkah kita bertanya “Apakah saya adalah `manusia` ?” Pertanyaan ini aneh dan janggal. Namun, persis jawaban dari pertanyaan inilah yang kerap keliru. Akal sehat (common-sense) manusia sudah terlanjur menganggap bahwa seseorang menjadi “manusia” disebabkan oleh bentuk fisik-biologisnya. Pertanyaan yang muncul “apakah manusia fisik-biologis tersebut adalah manusia dalam arti yang sebenarnya (hakiki)?”

 

Ternyata, mengutip pemikiran Ali Shari’ati, ada tiga kategori manusia, yakni basyar, insan dan al-nas.  Kategori basyar dan insan terkait dengan kualitas manusia.  Karakteristik yang membedakan dua kategori manusia ini adalah kemampuan untuk melepaskan dari dari empat penjara manusia, yakni penjara alam, sejarah, masyarakat dan diri. Sedangkan kategori al-nas, secara sederhana, berarti manusia secara umum, rakyat atau massa.  Tidak berhubungan dengan kualitas kemanusiaan. Penjelasan di bawah ini banyak mengutip pemikiran Ali Shari’ati.

 

 Manusia: Basyar, Insan, dan al-Nas

1. Basyar : Manusia Sekedar Ada (Being)

 

Basyar adalah makhluk yang sekedar ada (being).  Artinya,  manusia dalam kategori basyar adalah makhluk statis, tidak mengalami perubahan, berkaki dua yang berjalan tegak di muka bumi. Oleh karenanya, manusia memiliki definisi yang sama sepanjang zaman, terlepas dari ruang dan waktunya.(Shari’ati, Man and Islam: 64). Singkatnya, basyar adalah manusia dalam arti fisis-biologis.

 

Manusia dilihat sudut fisik tidaklah jauh berbeda dengan hewan. Manusia bisa makan, minum, tidur, sakit dan mati. Begitu pula hewan. Bahkan, bila manusia dan hewan dibandingkan dari segi perbuatan nistanya, maka manusia lebih inferior dari hewan (dalam arti bisa lebih jahat dan kejam)

 

Perbuatan-perbuatan rendah manusia tak pernah berubah, hanya instrumennya saja yang berubah.  Shari’ati menjelaskan bahwa penguasa masa lalu, seperti Gengis Khan, dengan penguasa modern tidaklah berbeda dari segi kebuasannya.  Perbedaannya hanya terletak pada instrumen dan argumentasinya saja.  Penguasa masa lalu memiliki senjata-senjata sederhana, dan mereka pun tak segan memproklamirkan bahwa mereka sengaja membunuh.  Sementara itu, penguasa modern mempunyai senjata-senjata super-canggih untuk membunuh, dan mereka melakukan pembunuhan atas nama kedamaian. Shari’ati menilai bahwa dewasa ini kejahatan, kepalsuan, kelancungan, pembunuhan, sadisme, dan kekejaman lebih banyak, lebih dahsyat dari pada masa lalu.  Tendensi negatif manusia itu merupakan representasi dari manusia dalam arti basyar. (Shari’ati, 1982: 67-68)  Manusia tipe basyar belum mampu melepaskan diri dari penjara-penjara manusia (the prisons of man), terutama penjara natural-instingtualnya. 

 

2. Insan : Manusia Menjadi (Becoming)

 

Insan berarti manusia dalam arti yang sebenarnya. Insan tidak menunjuk pada manusia biologis. Insan lebih terkait dengan kualitas luhur kemanusiaan. Ali Shari’ati menyatakan bahwa,”tidak semua manusia adalah insan, namun mereka mempunyai potensialitas untuk mencapai tingkatan kemanusiaan yang lebih tinggi”. (Shari’ati, 1982: 62)

 

Bila basyar bermakna makhluk yang sekedar ada (being), maka insan  berbeda.  Insan adalah makhluk yang menjadi (becoming). Ia terus-menerus maju menuju ke kesempurnaan. Karakter “menjadi” ini membedakan manusia dengan fenomena lain di alam.  Shari’ati memberi contoh:

 

Sebagai contoh, semut dan serangga lainnya tidak pernah dapat melampaui keadaannya; ia menggali lubang dengan cara yang sama sebagaimana ia melakukanya 15 juta tahun yang lampau di Afrika. Tidak usah memandang di mana, kapan dan bagaimana, semut selalu dalam keadaan yang sama, pasti dan tidak dapat berubah-rubah. (Shari’ati, 1982: 64)

 

Dalam QS. Al-Baqarah ayat 156 menjelaskan tentang azas yang menunjuk pada evolusi tanpa henti manusia ke arah Yang Tanpa Batas.

 

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”

 

Bagi Shari’ati, kata ilaihi berarti kepada-Nya, bukan di dalam-Nya. Menurut Shari’ati, inilah gagasan pokok tentang “menjadi”, yakni bergeraknya manusia secara permanen ke arah Tuhan, ke arah kesempurnaan ideal. Tuhan bukanlah titik beku dimana sesuatu mengarah.  Tuhan adalah Yang Tanpa Batas, Yang Maha Abadi, dan Yang Maha Mutlak. Oleh karena itu, bergeraknya manusia ke arah-Nya berarti gerakan manusia terus-menerus tanpa henti ke arah tahap-tahap evolusi dan kesempurnaan. Inilah yang dimaksud Shari’ati sebagai manusia dalam keadaannya yang menjadi. (Shari’ati, 1982: 68-69). 

 

Insan memiliki tiga sifat pokok, yaitu kesadaran diri, kemauan bebas dan kreativitas. (Shari’ati, 1982: 69) Pertama, kesadaran diri. Kesadaran diri merupakan pengalaman  tentang kualitas dan esensi dirinya, dunia dan hubungan antara dirinya dan dunia serta alam. Makin tinggi kesadaran akan tiga unsur tersebut, makin cepat manusia bergerak ke arah tahap-tahap yang lebih tinggi dari proses menjadinya. (Shari’ati, 1982: 71) Kesadaran itu membuat manusia bisa mengambil jarak dengan diri dan alam sehingga manusia tertuntun untuk mencipta sesuatu yang bukan alam. Kedua, kemauan bebas. Kemauan bebas tampak dalam kebebasan memilih. Menurut Shari’ati, insan bebas memilih. Pilihannya bisa saja bertentangan dengan insting naturalnya, masyarakatnya, atau dorongan-dorongan psikologisnya. (Shari’ati, 1982: 71-72) Kebebasan memungkinkan manusia untuk melakukan evolusi ke tingkat tertinggi kemanusiaannya menerobos sekat-sekat alam, masyarakat, sejarah dan egonya. Ketiga, kreativitas atau daya cipta. Potensi kreatif insan memungkinkannya menjadi makhluk yang mampu mencipta benda, barang dan alat, dari yang paling kecil sampai yang kolosal, karya-karya industri dan seni yang tak disediakan alam. Penciptaan dan pembuatan barang tersebut dilakukan insan karena alam tak menyediakan semua yang dibutuhkannya. (Shari’ati, 1982: 72-73)

 

Wujud kongkrit tiga sifat insan tersebut adalah ilmu. Ilmu membebaskan manusia dari kerangkeng alam, sejarah dan masyarakat.  Dengan ilmu, insan mengetahui hukum-hukum yang berlaku di alam, masyarakat dan sejarah.  Sehingga, insan kuasa untuk lolos dari tiga penjara tersebut bahkan sekaligus mampu merekayasa ketiga determinan itu. Sementara itu, penjara terakhir manusia, yakni penjara ego (diri), tidak dilawan dengan ilmu, tapi dengan cinta. Cinta memiliki kekuatan yang mendorong manusia untuk menolak, memberontak, dan mengorbankan diri demi suatu cita-cita atau orang lain. (Shari’ati, 1982: 99) Jadi, secara singkat, manusia menjadi (insan) berevolusi ke Yang Tak Terhingga, ke kesempurnaan berbekal tiga sifat dasariahnya.  Tiga sifat, yang bentuk nyatanya adalah ilmu, adalah instrumen pembebasan manusia dari tiga penjara manusia, yaitu penjara alam, sejarah dan masyarakat. Sedangkan, penjara terakhir (ego) dilawan dengan cinta kasih. Kemerdekaan dari kolonialisasi empat determinan itu mengantar manusia ke puncak kesempurnaan kemanusiaannya.

 

Secara unik, Shari’ati mensimbolkan pembebasan insan dari empat kekuatan determinan tersebut  dengan simbol keluarnya manusia (Adam) dari firdaus (paradise atau the Garden of Eden). Saat di firdaus, manusia dilarang memakan “buah” oleh Tuhan. Shari’ati memaknai “buah” tersebut sebagai simbol kesadaran (consciousness). Manusia memakan buah tersebut.  Jelas, manusia adalah pemberontak yang melawan “kehendak Tuhan”.  Tapi, Shari’ati, secara kreatif, menafsirkan simbolisasi ini dengan berpendapat bahwa “kehendak Tuhan” itu adalah empat kekuatan, empat ikatan, empat rantai yang mengikat manusia.  Ketika seseorang mencapai kesadarannya (memakan buah), maka ia terbebas dari determinasi “kehendak Tuhan” tersebut. (Shari’ati, 1979: 17-18).  Jadi, manusia mencapai kualitas insan bila ia mampu melepaskan diri dari empat determinan, yang disimbolisasikan sebagai “kehendak Tuhan”.

      

 

3. Al-Nas : Massa

 

Kategori al-nas berbeda dengan dua konsep manusia lainya (basyar dan insan). Menurut Shari’ati, kedua istilah terdahulu terkait dengan nilai-nilai moral yang terkandung dalam diri manusia. Sedangkan al-nas tidak berhubungan dengan kualitas kemanusiaan.

 

Terminologi al-nas digunakan Shari’ati dalam dua pengertian, yaitu: Pertama, al-nas sebagai kutub sosial. Al-nas merupakan penjelmaan esensi kutub positif (Habil) masyarakat (masyarakat yang tertindas). Mereka adalah yang dikuasai dan ditindas oleh kutub Qabil (penguasa politik, para kapitalis dan agamawan bejat).  Allah, bagi Shari’ati, berpihak pada al-nas.  Hingga tak aneh, dalam penggunaannya, kata al-nas bisa ditukar dengan kata Allah dan sebaliknya. Menurut Shari’ati, posisi unik al-nas ini disebabkan karena al-Qur’an dialamatkan secara khusus untuk al-nas.  Al-nas adalah “wakil-wakil” Allah dan “keluarga”-Nya. (Shari’ati, 1979: 116-117) Dan, posisi penting al-nas ini menempatkannya sebagai “faktor penentu” revolusi sosial.  Al-nas yang sadar akan dirinya serta tanggung jawab sosialnya akan mendorong masyarakat menuju revolusi sosial.  Kedua, al-nas sebagai massa (mass) atau rakyat (people).  Shari’ati berpendapat bahwa sinonim yang paling mirip untuk mewakili kata al-nas adalah kata massa.  Menurutnya, dalam terminologi sosiologi, massa terdiri dari segenap rakyat yang merupakan kesatuan tanpa menghiraukan perbedaan kelas ataupun sifat yang terdapat dalam kalangan mereka.  Jadi, bagi Shari’ati, al-nas adalah massa. Massa adalah rakyat itu sendiri, tanpa menunjuk kepada kelas atau bentuk sosial tertentu. (Shari’ati, 1979: 49)

 

 

Akhir al-Kalam

 

“Manusia adalah masalah puncak bagi manusia,” pekik Battista Mondin.  Bagaimana supaya kita mampu mengenal apakah diri kita adalah basyar, insan atau hanya sekedar al-nas? Rene Descartes menyarankan kita mulai untuk berfikir tentang “siapa Aku.” Meister Eckhardt mengusulkan dengan pernyataannya,” barangsiapa hendak jelas dengan dirinya sendiri  dan ingin bersuara lantang, dia harus memilki satu hal : kesepian batin.Mempertanyakan diri kita adalah satu langkah dalam proses meng-insan-kan diri kita.

 

Jadi, manusia “belum menjadi manusia” saat terlahir dari rahim ibunya. Ia tidak otomatis menjadi “manusia”.  Manusia harus membuat dirinya menjadi “manusia”.  Manusia itu mau menjadi “manusia” atau tidak, bergantung kepada dirinya sendiri. Manusia harus mengembangkan sifat-sifat kemanusiaannya.  Yang membedakan nilai seorang manusia yang satu dari manusia yang lain adalah sejauhmana seseorang mengembangkan nilai kemanusiaannya. Murtadha Muthahhari berpendapat, yang mengembangkan sifat kemanusiaan manusia adalah iman dan amal shalih. (Muthahhari, 1991: 79) Inilah insan sejati itu.

 

Wa Allah-u a’lam bi al-shawab-i

 

 

(Sumber: Buletin al-Huda, Edisi 172, Tahun 2005)

 

 

2 Komentar »

  1. than’k for alla, jazakumullahu khairan katsiran.

    Komentar oleh shobrun jamil — November 3, 2008 @ 6:14 am | Balas

  2. Ass.mualikm.
    Saya mau mau tanya, : “Manusia yang sebenar-benarnya manusia itu yang bagaimana? trim’s

    Komentar oleh Ahmad — Desember 16, 2008 @ 8:19 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: