ISLAM-RAMAH

Juli 25, 2008

SISTEM FILSAFAT MORAL (ringkasan)

Filed under: FILSAFAT — ruhullah @ 3:50 am

I. TELEOLOGIS (ETIKA BERTUJUAN)

 

1. HEDONISME

 

“Apa yang menjadi hal terbaik bagi manusia?” kaum hedonis menjawab,”kesenangan (b. Yunani: hedone). Yang baik adalah: apa yang memuaskan keinginan kita, yang meningkatkan kuantitas kesenangan dan kenikmatan kita.

 

Dalam sejarah filsafat, pandangan hedonisme dapat dilacak pada Aristippos dari Kyrene (sekitar433-355 SM), murid Sokrates. Menurut Aristippos, yang baik adalah kesenangan karena fakta menunjukkan bahwa sejak kecil manusia tertarik akan kesenangan dan menghindari ketidaksenangan. Kesenangan itu bersifat badani yang hakikatnya adalah gerak. Dan gerak dapat memiliki tiga kemungkinan: gerak kasar (ketidaksenangan), gerak halus (kesenangan), dantiadanya gerak (netral). Lalu kesenangan itu pun bersifat aktual, bukan masa lalu (ingatan) atau masa depan (antisipasi). Dengan kata lain, kesenangan adalah adalah kini dan di sini. Singkatnya, kesenangan bersifat badani, aktual dan individual. Meskipun demikian, Aristippos tetap menekankan pengendalian diri agar tidak dikontrol kesenangan.  

 

Filosof  hedonisme lainnya adalah Epikuros (341-270 SM). Bagi Epikuros, kesenangan (hedone) adalah tujuan kehidupan manusia. kesenangan yang dimaksud adalah terbebas dari nyeri (rasa sakit) dan dari keresahan jiwa. Ada tiga keinginan yang yang terkait dengan kesenangan: keinginan alamiah yang perlu (ex, makanan), keinginan alamiah yang tidak perlu ex. Makanan enak), dan keinginan yang sia-sia (ex. Kekayaan). Menurutnya, pemuasan akan keinginan macam pertamalah yang akan melahirkan kesenangan paling besar. Namun, bagi Epikuros, orang bijak adalah orang yang terlepas dari segala keinginan. Dengan hal tersebutlah, seseorang mencapai ataraxia (ketenangan jiwa, tidak membiarkan diri tergangggu oleh hal-hal lain). Ataraxia inilah tujuan hidup, disamping kesenangan.

 

2. EUDEMONISME

 

Penggagasnya adalah Aristoteles (384-322 SM). Menurut Aristoteles, dalam tiap aktivitasnya, manusia mengejar tujuan. Tujuan akhir, tertinggi dari manusia dalah kebahagiaan (eudaimonia). Untuk mencapainya adalah dengan menjalankan fungsinya dengan baik. Keunggulan dan kekhasan manusia  ada pada akalnya (rasio). Karena itu, untuk mencapai kebahagiaannya, seseorang harus menjalnakan fungsi-fungsi rasio engan melakukan kegiatan rasional. Kegiatan-kegiatan rasional itu disertai keutamaaan. Bagi Aristoteles, ada dua keutamaan, yaitu: keutamaan intelektual (menyempurnakan rasio) dan keutamaan moral (melakukan pilihan-pilihan dalam kehidupan sehari-hari). Keutamaan moral dapat digapai dengan sikap tengah yang disebut phronesis (kebijaksanaan praktis). Ex, kemurahan hati adalah sikap tengah dari kikir dan boros.

 

3. UTILITARISME

 

Jeremy Bentham (1748-1832 M) berpendapat, manusia berada pada dua “penguasa”:

ketidaksenangan dan kesenangan. Manusia cenderung menjauhi ketidaksenangan dan mencari kesenangan. Kebahagiaan adalah memiliki kesenangan dan bebas dari kesusahan. Suatu perbuatan dinilai baik jika dapat meningkatkan kebahagiaan sebanyak mungkin orang.  Inilah the principle of utility (prinsip kegunaaan), yakni the greatest happiness of the greatest number (kebahagiaan terbesar dari jumlah orang terbesar). Karena itu, penetapan kegunaaan pun harus melalui kuantifikasi. Bentham mengembangkan the hedonistic number. Contoh:

 

 Kemabukkan

Ketidaksenangan (debet)

Kesenangan (kredit)

Lamanya: singkat

 

Akibatnya: kemiskinan, nama buruk, tidak sanggup bekerja

 

Kemurnian: dapat diragukan (=dalam keadaan mabuk sering tercampur unsur ketidaksenangan)

Intensitas: membawa banyak kesenangan

 

Kepastian: kesenangan pasti terjadi

 

 

Jauh/dekat: kesenangan timbul cepat

    

Tokoh lainnya adalah John Stuart Milll (1806-1873).  Mill mengkritik Bentham. Menurutnya, kebahagiaaan/kesenangan perlu mempertimbangakn sisi kualitasnya juga. Baginya, ada kesenangan yang bermutu rendah dan ada yang bermutu tingi. Seperti kesenangan Sokrates lebih bermutu dibandingkan kesenangan orang tolol. Lalu, kesenangan pun bisa diukur secara empiris melalui orang bijak dan berpengalaman dalam hal ini. Prinsip Mill yang patut dicatat adalah bahwa suatu perbutan dinilai baik jika lebahagiaan melebihi ketidakbahagiaaan, dimana kebahagiaan semua orang yang terlibat dihitung dengan cara yang sama.

 

II.  DEONTOLOGIS (ETIKA KEWAJIBAN)

 

Immanuel Kant (1724-1804), filosof besar etika deontologis. Menurutnya, yang baik adalah kehendak baik itu sendiri. suatu kehendak menjadi baik sebab bertindak karena kewajiban. Bertindak sesuai dengan kewajiban disebut legalitas. Lalu, apakah kewajiban itu? Kant membagi kewajiban menjadi dua: imperatif kategoris (perintah yang mewajibkan begitu saja, tanpa syarat. dan imperatif hipotetis (perintah yang mewajibkan tapi bersyarat). Imperatif kategorislah yang menurut Kant menjadi hukum moral. Karena itu, Kant sangat menekankan otonomi kehendak. Inilah kebebasan dalam artian Kant. Kebebasan tidak dalam arti bebas dari segala ikatan, tapi bebas dengan taat pada hukum, moral.   

 

Sumber: K. Bertens, Etika, (Jakarta: Gramedia,1999), h. 235-161

M. Subhi-Ibrahim (2007)

 

 

1 Komentar »

  1. Filsafat moral baik untuk diketahui semua orang terutama yang bertugas dilingkungan birokrasi, sehingga tahu baik atau buruk, hak dan kewajiban serta apa yang sepatutnya dalam berperilaku dan bekerja.

    Komentar oleh Parama — Oktober 15, 2009 @ 4:22 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: