ISLAM-RAMAH

Juli 24, 2008

Puisi Cinta (lama)

Filed under: Tak Berkategori — ruhullah @ 6:17 am

Di Ufuk Senja

 

Surya masuki peraduan

Tinggalkan mega membentang

Cakrawala hampa mendalam

Usung selimut malam

 

Kuasa tuhan tak tersangga

Sapa tiap raga

Citra ilahi dua rupa

Dualitas tampak nyata

 

Tersungkur diketakberdayaan

Cerita insan sendu membeban

Nyanyian alam obati luka

Riuh pula bagi Yang Kuasa

 

Di ufuk senja melirih

Rintih nurani puji sejati

Manusia sangsi kuijini

Hati tegar bertahta kasih putih

 

Ciputat, 8 Maret 2001

16.10 WIB

 

 

 

Satu musim

 

Sapa jalan kemarin

Baca langkah pulang

Memanjang ke ujung cakrawala

Raga nyala tanpa bahasa

 

Lekang sukma lantun nada abadi

Daun gugur lalai dan pergi

Tetes peluh mesra membelai

Basuh jiwa tuk kembali mimpi

 

Jumpa dara tiada lara

Harpa masa enggan bicara

Tentang sisa waktu musim ini

Guna rajur setia hati

 

Satu musim di kotamu

Tumpah seluruh nostalgi syahdu

Melabu dahaga tak terkira

Puja cawan mesra meraja

 

Ciputat, maret 2001

7.20 WIB

 

 

 

Nantikan Aku

 

Berat langkah

Tinggal  asmara

Salam kenangan

Tatap cinta mengembang

 

Ruang dan waktu kan pisahkan

Dua asah

Moga senyummu tak lekang

Isi relung hati pangeran

 

Sungguh,

Aku luruh dalam ayumu

Damai dan cinta moga sertai

Langkah dua sejoli ini

 

Ciputat, 3 maret 2001

11.46 WIB

 

 

 

  

Belahan jiwa

 

Gapai bayangmu

Kenang nostalgi ayu

Anggunmu melabuh

Di dermaga kalbuku

 

Hampar permadani cinta

Tuk sambut belahan jiwa

Raih warna harmoni jiwa

Hempas sangsi sukma

 

Curam tebing asmara

Tak henti langkah cita

Terbang iringi angan

Dendang puteri buai pangeran

 

Dengar kisah lalu

Rome-juliet berkayuh

Cinta nan putih

Meski perih menari-nari

 

Cinta qais menepih

Satu laila tuk dicintai

Biar pedang belai raga

abadi lantun kidung cinta

 

sabda mentari

renda embun cinta

restu ilahi

persembahan tuk hati yang terpilih

 

Ciputat, 3 Maret 2001

11.35 WIB

 

 

Aku bingung

 

Aku tak bingung

Kau cipta hamparan bumi dan bentangan langit

Tapi aku bingung

Mengapa kau cipta uang?

 

 

 

Merpati itu Pergi

 

Prahara melanda

Dua hati terpecah

Batin tak terbaca

Cahya cinta sirna

 

Duh gusti,

Yang Maha Kasih

Kutertunduk di tepi

Jurang sepi

 

Merpati lama kupelihara

Pergi ntah kemana

Cipta hampa

Toreh luka

 

Hanya cinta suci kuharap

Bukan cinta tanpa sikap

Gelora tak terungkap

Biarkan Tuhan saja mendekap

 

Usai sudah cerita

Lelaki dan cinta

Biar pedih tak terkira

Ku harus tetap dalam damai dan cinta

 

Jakarta, 19 Mei 2002

17.25 WIB

 

 

 

Ku Baca Kembali

 

Lelah hatiku

Tuk rengkuh ayumu

Kian jauh kuayun langkah

Kau tak kunjung kujumpa

 

Oh angin, bisikan padanya

Garis wajahnya terpatri di dada

Nostalgi itu masih membayang

Abadi takkan lekang

 

Merpati dulu milikku

Tlah terbang jauh

Remuk jiwa merapuh

Ratapi hujan luruh

 

Ijinkan kutatap satu masa

Walau tanpa angan cinta

Kita tetap Satu

Dalam damai sahabatku

 

Jakarta, 3 Juli 2002

19.35 WIB

 

 

 

Telaga Sukma

 

Sayapku tlah patah

Jiwa mengaduh merontah

Histeria memecah

Dahaga sukacita

 

Kau hadir tiba-tiba

Persembahkan telaga

Tuk kembara lara

Tak kuasa kutolak airmata

 

Hilang semburat curiga

Murni taqdir semata

Moga sukma tak lelah

Jadi pelipur lara

Jakarta, medio 2002

 

 

 

 

 

Inginku

 

Kala debar nurani

Tebar rona wajah suci

Sibak tirai misteri

Pribadi tak terpadani

 

Gelisah meluruh sukma

Ungkap jernih singgasana cinta

Rengkuh samudra angan merona

Hapus nostalgi nan lara

 

Roh layangkan cita

Sorong lautan citra

Kering sudah kata-kata

Tuk diri tak tersabda

 

Inginku pada satu jiwa

Murni tak bernoda

Ribuan malaikat menengadah

Boyong keabadian cinta

 

Jakarta, medio 2002

22.15 WIB

 

 

 

 

Syukurku

 

Kutermangu dalam cahya

Tiada kata terbaca

Rahasia insan muda

Membuai nirwana

 

Bayangmu hadir tiba-tiba

Singgahi sayap patah

Kankah hantar cita

Ataukah toreh luka

 

Kupahat yakinku padamu

Ukir setia terluruh

Tirai diri kusibak tuk mu

Biar kau tatap yang ku tuju

 

Lepas sgala duka

Syukur tertumpah

Benih ridha dan restu ilahi terbuka

Moga Rabbi kabulkan mimpi dua sukma

 

Kamis, 24 Juli 2003, 22.35 WIB.

Persembahan tuk satu jiwa

 

 

 

 

 

 

11 Komentar »

  1. wuihhhh puisinya keren, jangan disimpen.
    Me at http://www.isfiya.wordpress.com

    Komentar oleh isfiya — Juli 24, 2008 @ 7:10 am | Balas

  2. rona-rona memerah
    wajah-wajah lelah
    di manakah harus mengadu
    saat hasrat menggapai sendu

    Komentar oleh arch222 — Juli 24, 2008 @ 2:47 pm | Balas

  3. cinta itu bisa datang
    cinta itu bisa pergi
    tapi cinta takkan tau kapan cinta datang dan pergi.

    kalau stiamu tak terdengar
    kalau hatimu tak menyatu
    untuk apa lagi cinta ada dan bertahan tanpa pasti

    Komentar oleh fitro (rivay) — Juli 31, 2008 @ 2:15 am | Balas

    • Ku Terdiam
      Ku Terjebak Dalam
      Cinta Mu
      Selalu Ku Impikau Ada Di Samping Ku
      Selalu Ku Impikau Rautan Wajah Mu
      Namun Ku Tak Bisa Kta Kan Cinta Ku Pada Diri,Mu ????

      Komentar oleh Ramzi — Juli 2, 2011 @ 4:05 pm | Balas

  4. cinta adalah samudera
    kita, ikan kecil di lautan
    yang bertanya
    “dimanakah air?”

    sang cinta slalu bersemayam
    dalam singggasana hati
    tak kan pernah pergi
    hanya tak disadari
    cinta bak udara
    yang slalu slimuti
    ruang diri

    Komentar oleh ruhullah — Juli 31, 2008 @ 7:10 am | Balas

  5. Cinta memang terlalu rahasia kawan…
    Aku sembunyikan ia terlukai
    Aku utarakan ia melukai
    Dan aku perbincangkan ia melukai
    yang lain

    lam kenal pak subhi……….

    Komentar oleh masaly — September 6, 2008 @ 4:57 am | Balas

  6. oiyaa….. ana tadi ngambil tulisan2 filsafatnya…
    syukron………

    Komentar oleh masaly — September 6, 2008 @ 4:58 am | Balas

  7. ok…salam kenal juga.

    Komentar oleh ruhullah — September 8, 2008 @ 4:27 am | Balas

  8. ketika cinta mulai dipertanyakan
    hanya nuranilah yg mampu menyelami
    di saat hati mersa ragu
    sejatinya ruh tiada merajuk

    mana kala cinta musti mengalirkan darah
    air zam -zamlah yg tlah mengalir bagai air sungai

    Komentar oleh ainul yakin — September 22, 2008 @ 6:22 pm | Balas

  9. beribu” bunGa yg brmekaran
    bribu’ bunga yg berkedipan tapi haNya adda satu
    hanya kau lah pujaan hati’ku yg pling menawan

    Komentar oleh Rizky Nugraha Jeko — Desember 9, 2011 @ 2:09 pm | Balas

  10. cinta dan kematian
    Kmatian datng tidk kita duga,sperti cnta….dtngnx cnt tk prnh kita duga2.
    kematian dtng kpd sapapun,sperti cnta… cnta dtng dihti siapapun
    kematian meningglkn luka & knangn,sperti cnt… cnt jg mningglkn luka & knangn
    orng yg mati tk bz dbngkitkn lg,nmn klau cnta,,cnta yg mati snggub dingkitkn kmbali

    Komentar oleh jijy_puisi lovers — April 9, 2012 @ 3:47 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: