ISLAM-RAMAH

Januari 22, 2008

AGAMA DAN WACANA KEADILAN

Filed under: ARTIKEL MEDIA — ruhullah @ 1:44 am

Ada dua peristiwa besar dalam di bulan Muharram, yaitu hijrah (migrasi) Nabi Muhammad dari Mekkah ke Yatsrib (Madinah), dan tragedi pembantaian cucu Nabi di Karbala yang terjadi pada 10 Muharram tahun 61 H bertepatan dengan 10 Oktober 680 M,  47 tahun pasca  wafatnya Nabi Muhammad . Namun, memori mayoritas muslim Indonesia lebih “eling” pada peristiwa hijrah dan mengabaikan peristiwa Karbala. Hal ini bisa dimengerti karena buku-buku sejarah Islam  yang beredar di Indonesia sangat minim dalam mengapresiasi tragedi yang menyayat nurani kemanusiaan itu. Ditambah lagi adanya beban teologis dimana peristiwa Karbala sering diidentikan dengan faham Syi’ah yang dianggap berseberangan dengan mainstream teologis masyarakat muslim Indonesia yang Sunni. Meskipun demikian, sejarah selayaknya diungkap apa adanya, meski terasa pahit, pedih, atau mengusik “kemapanan teologis” sebagian orang. Sejarah para pahlawan Islam tidak semestinya dicurigai, apalagi dicap sebagai pemicu sentimen sektarian.    Pesan historis yang dibawa dari tragedi Karbala adalah penegakkan keadilan. Al-Husain dibantai karena ia memilih sikap oposisi terhadap penguasa tiranik Yazid bin Muawiyah, raja kedua dalam dinasti Bani Umayah, dan menyuarakan nurani rakyat yang memimpikan tegakkannya keadilan.   

Makna Keadilan

Dalam tragedi Karbala, kepala al-Husain dipenggal antek-antek Yazid yang berhati binatang. Kepala tersebut ditancapkan di ujung tombak, lalu di arak dari Irak ke Damaskus, ibukota kerajaan Bani Umayah. Mengapa al-Husain merelakan tubuhnya dicabik-cabik? Jawabannya, demi tegaknya keadilan  sebab eksistensi masyarakat bergantung pada ada atau tidak adanya keadilan pada ruang publiknya.  Karena itu, para Nabi dan Rasul pun di utus Tuhan untuk mereformasi masyarakat yang terjangkiti penyakit sosial akut, yakni berkecambahnya kezaliman. Dengan kata lain, para Nabi dan Rasul dipilih Tuhan untuk menyelamatkan eksistensi masyarakat dari tirani, despot dan diktator yang menebarkan wabah kezaliman sebagai kerangka kebijaksanaannya, seperti Fir’aun di Mesir, dan aristokrat jahiliyah di Mekkah.   Oleh sebab itu, seruan menegakkan keadilan sejajar dengan panggilan menegakkan nilai-nilai luhur agama (kalimah Allah). Keidentikan keadilan dengan kalimah Allah tersebut dapat dirujuk pada tradisi (sunnah) Rasul Muhammad.  Dalam satu hadis dikisahkan: Suatu ketika Nabi ditanya oleh seorang sahabat  tentang apakah kriteria mati syahid (martir).  Secara singkat, Nabi menjawab,”siapa yang terbunuh karena menegakkan kalimah Allah, dia syahid” (HR. Bukhari). Termasuk kategori mati syahid orang yang gugur ketika menegakkan keadilan dan kebenaran, karena keadilan dan kebenaran adalah kalimah Allah sebab segala bentuk penindasan merupakan perusakan kalimah Allah.  Dalam konteks hukum Islam, keadilan adalah bingkai epitemologis ijtihad (mekanisme membuat aturan dan hukum agama).  ”Ahli qiyas dan ra’yu berkeyakinan bahwa keadilan dan kemaslahatan itu merupakan dalil tersembunyi yang harus digali oleh seorang faqih, dan tidak bisa tidak seorang faqih harus berfikir sejalan dengan tuntutan-tuntutan keadilan dan kemaslahatan,” tulis Muthahari dalam  al-‘Adl al-Ilahi (1981)  

Marx dan Nietzche

Dalam konteks relasi antara visi agama dan penegakkan keadilan, Muthahari mengkritik pemikiran  Karl Marx dan Nietzsche. Kritik Muthahari tersebut antara lain: Pertama, pandangan bahwa agama adalah instrumen penguasa zalim untuk melindas kaum tertindas tertolak dengan fakta sejarah yang mencatat banyak individu religius yang justru penentang penguasa zalim, tiran dan despot.   Kedua, Muthahari menolak pandangan Marx yang mengatakan bahwa fungsi agama dalam masyarakat adalah sebagai opium (candu) masyarakat yang membius masyarakat.  Penolakkan Muthahhari itu disandarkan pada fakta sejarah.  Menurutnya, pikiran marx tersebut “benar” bila menutup mata dari kenyataan sejarah.  Ketiga, bagi Muthahari, Marx keliru bila berpendapat bahwa satu-satunya penyebab revolusi adalah kelas masyarakat terampas (deprived class), dan  para nabi dinyatakan  melawan kelompok masyarakat ini. Secara singkat, ada tiga kekeliruan pandangan Marx. Pertama,  Marx menerangkan sejarah semata-mata atas dasar pertentangan kelas dan mengabaikan aspek kemanusiaan dalam sejarah.  Kedua, Marx menganggap kelas tetindas sebagai satu-satunya faktor perkembangan. Ketiga, Marx memasukkan para nabi dalam kelas penguasa.  Sedangkan kritik Muthahhari terhadap Nietzsche terfokus pada pandangan Nietzsche bahwa agama adalah temuan kaum lemah dan terampas.  Menurut Nietzsche, kaum yang kuat saja satu-satunya kelas masyarakat yang maju, dan agama, dengan mendukung kaum yang tertindas, menjadi sarana kerusakan dan anti perkembangan. Muthahari keberatan dengan pandangan ini.  Menurutnya, kesalahan Nietzsche adalah bahwa dia memandang faktor kekuatan sebagai faktor perkembangan sejarah: Manusia unggul adalah manusia yang paling kuat, dan manusia yang terkuat adalah satu-satunya penyebab kemajuan dalam sejarah. 

Konteks Indonesia

Meskipun keadilan adalah elemen penting misi Islam, namun wacana ini merupakan wacana pinggiran dalam pemikiran keagamaan di Indonesia kontemporer. Meminjam istilah Muhsin Labib, penulis Al-Husain, Sang Kstaria Langit,  banyak intelektual Muslim Indonesia menjadi “genit” dengan mengobarkan wacana melangit, kontroversial, dan tidak mengakar pada problematika riil masyarakat. Bukan hanya para cendekiawan “yang genit”, para aktivis sejumlah Ormas Islam pun demikian. Mereka sibuk dengan isu-isu kesusilaan  seperti prostitusi, perjudian, pornografi, atau melabel-labelkan cap “sesat” pada kelompok religius yang berbeda dengan mereka dan mengabaikan pewacanaan keadilan.  Memang harus diakui, isu keadilan sosial bukan isu yang seksi dan berresiko. Pertaruhan penegakkan keadilan adalah nyawa,  Munir contohnya. Sudah saatnya, intelektual dan aktivis gerakan Islam menggeser paradigma dengan menjadikan wacana keadilan sebagai kiblat aktivitasnya mengingat masih maraknya ketidakadilan yang terpentaskan di panggung kehidupan berbangsa kita. Para pengungsi akibat semburan lumpur Sidoarjo yang terlunta-lunta karena kebijakan penguasa yang pro kaum borjuis berkantong tebal, para buruh yang diupah secara tidak layak dan tidak sangat manusiawi, kemiskinan yang bergandengan dengan tontonan ketamakkan sebagian pejabat negara dan para wakil rakyat yang menguras uang rakyat guna memuaskan syahwat materialnya, para pedagang tradisional yang sekarat karena berhadapan dengan mall gigantik dan hypermarket,  masih berkeliarannya para “maling” (kuruptor) disekiling kita tanpa tersentuh pedang hukum. Akankah keadilan lenyap dari ruang kehidupan berbangsa kita?   

Koran SINDO, 18 Januari 2008    

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: