ISLAM-RAMAH

Januari 9, 2008

Hijrah, Kebebasan Beragama & Rumah Budaya

Filed under: ARTIKEL MEDIA — ruhullah @ 2:09 am

1 Muharram dirayakan sebagai tahun baru dalam kalender lunar hijriah yang digunakan komunitas Islam. Ali Shariati, ideolog revolusi Iran, bertanya secara kritis: Mengapa peristiwa hijrah Nabi Muhamad SAW menjadi titik-tolak penanggalan Islam itu padahal dalam tradisi penanggalan dipijakkan pada kelahiran tokoh, pemimpin agama, dan kemenangan besar yang dicapai bangsa?
Shariati menjawab soal itu dalam karyanya, Muhammad SAW, Khatim al-Nabiyin min al-Hijrah hatta al-Wafat (1989). Menurutnya, hijrah bukan realitas monopoli sejarah Islam, tapi landasan sosial universal. Ia mencatat, hijrah dilakoni suku-suku Aria ke Selatan dan Barat yang melahirkan peradaban Barat dan Timur yang besar. Demikian pula orang-orang Sammiyah hijrah ke wilayah antara dua sungai (Eufrat dan Tigris), dan Afrika Utara yang membentuk peradaban besar di Sammuria, Babilon, dan Akadea. lalu “hijrahnya” Bani Israel dari Mesir ke Palestina dan orang-orang Barbar ke Barat dan Timur, serta bangsa Frank, Slavia dan Saxon membentuk Eropa Modern.
Bagi Shariati, Perang Salib adalah jalan migrasi orang Barat ke Timur, penemuan daerah baru dan membuka mata mereka tentang Timur. Dalam pandangan Shariati, migrasi orang Eropa ke Amerika, Asia dan Afrika merupakan sebab munculnya renaissance dan perubahan di Eropa sekaligus faktor dasar lahirnya peradaban Barat modern. Shariati menulis, “di balik semua pertumbuhan budaya, tersembunyi hijrah”.

Mengapa Hijrah?
Secara sosilogis, hijrah Nabi bukan bentuk pelarian, tapi strategi meracik kebudayaan dan peradaban. Sebab persemaian benih peradaban liberatif Islam tidak mungkin ditanam di Mekkah yang diatur berdasarkan kekuasaan plutokrasi—yang terdiri dari kelas pedagang yang berkuasa.
Nabi hijrah dari tempat represif, menistakan martabat kemanusiaan, dan membunuh kemerdekaan beragama ke tempat yang memungkinkan manusia dimuliakan hingga menjadi bibit masyarakat baru yang menghargai persamaan hak di depan hukum, egaliter, berkeadilan, dan demokratis.
Karena itu, langkah penting Nabi di Madinah adalah penataan ruang publik dengan menyusun Piagam Madinah sebagai—meminjam istilah Montgomery Watt—“Konstitusi Madinah”, yang merupakan kontrak sosial warga Madinah. Pengakuan dan ketaatan terhadap kontrak sosial (social contract) itu membentuk kewarganegaraan dan otoritas politik.
Yang paling esensial dari pigam yang terdiri dari 47 pasal itu, adalah pernyataan “sesungguhnya mereka itu adalah suatu ummah yang bebas dari manusia lainnya.” Kebebasan beragama dijamin dalam bingkai Piagam Madinah sebagai pagar ruang publik.

Kebebasan Beragama
Dalam Islam, kebebasan beragama didasarkan pada konsep kodrat manusia (fitrah). Islam melihat manusia sebagai—memakai istilah Shariati—makhluk bi-dimensional: makhluk biologis (Qs. 15:28) sekaligus makhluk spiritual. Artinya, manusia tidak boleh dipandang dari optik fisik sebab dalam diri manusia ada spirit.
Spirit tersebut merupakan “nafas Tuhan” (QS. 32:9). Spirit Tuhan itu membuat manusia mempunyai kehendak bebas (free will). Dengan kehendak bebas tersebut manusia menentukan “takdir” mereka di dunia dan akhirat. Karena itu, secara ontologis, manusia tidak bisa dilepaskan dari kebebasan. Kebebasan bukan sesuatu yang dimiliki oleh manusia seperti memiliki sebuah barang yang sewaktu-waktu bisa dibuang. Manusia adalah kebebasan itu sendiri, dan kebebasan identik dengan manusia.
Momen kebebasan yang paling terang adalah momen pilihan (the choice). Hidup manusia terdiri dari pilihan-pilihan. Sejak bangun tidur kita disajikan pilihan: mandi atau tidak, sikat gigi atau tidak, dan seterusnya. Bahkan hidup sendiri adalah pilihan sebab bisa saja kita mengakhiri hidup saat ini. Artinya, kita punya hak mutlak menentukan pilihan dalam hidup. Tidak ada seorang pun yang mampu memaksakan kehendak pada seseorang. Pemaksaan hanya sukses pada tataran lahiriah.
Sisi batiniah manusia tidak bisa dirampok karena manusia memiliki kebebasan-potensial untuk berkata “tidak”. Inilah cara mengada manusia yang khas, yaitu “menidak”.
Semua individu mengalami kebebasan. Namun tidak tiap individu mengakui kebebasan dirinya dan kebebasan orang lain sebagai keniscayaan dari keberadaan manusia. Ketakutan untuk mengakui kebebasan diri disebabkan konsekuensi dari kebebasan diri, yaitu tanggungjawab. Bila seseorang mengakui kebebasan dirinya, maka ia bertanggungjawab atas semua perilakunya. Sedangkan keengganan mengakui kebebasan orang lain disebabkan kekhawatiran bahwa kebebasan orang lain itu akan mengancam kebebasannya. Tidak ada seorang pun yang mampu membantah bahwa manusia adalah makhluk bebas. Inilah asal-muasal kebebasan manusia dan dasar primordial HAM.
Salahsatu kebebasan esensial manusia adalah kebebasan untuk menentukan pilihan orientasi hidup dalam berkeyakinan dan memeluk agama. Mengapa Islam sangat menekankan kebebasan beragama? Islam mengajarkan, iman yang benar adalah iman yang dilandaskan pada ketulusan dan ikhlas, bukan paksaan atau ancaman (QS. 2:256).

Rumah Budaya
Hijrah Nabi adalah lompatan budaya dan peradaban yang menjelmakan Islam sebagai rumah budaya yang menaungi bentuk-bentuk kepercayaan dengan apresiasi dan penghormatan maksimal.
Tahun ini selayaknya menjadi momen “mengingat” dan mencontoh sikap elegan komunitas muslim awal di Madinah yang menjadikan Islam sebagai faktor konstruktif, rumah budaya bagi kemajemukan masyarakat. Karena itu, umat Islam Indonesia harus bersedia mengaktualisasikan dirinya dalam proses ke-Indonesia-an. Jika hal ini sukses dilakukan, maka Islam sebagai tradisi budaya yang hidup akan menjadi rumah budaya yang menerima tetangganya secara baik, santun, dan melibatkan pengayaan dirinya dengan elemen lain.
Rumah itu terbuka dengan itikad saling memberi dan menerima dengan orang lain dengan menyertakan kelompok lain untuk “berpesta” menikmati kesejahteraan. Wa Allahu a’lam bish shawabi. (*)
Radar Banten, Rabu, 9-Januari-2008

1 Komentar »

  1. Salam kenal bang!
    Saya dr Mataram Lombok

    salam

    Komentar oleh jhelle maestro — Mei 10, 2008 @ 7:13 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: