ISLAM-RAMAH

Januari 8, 2008

TEBASAN PEDANG WAKTU

Filed under: RENUNGAN — ruhullah @ 3:49 am

Satu pertanyaan yang bila dilontarkan maka cukup jadi alasan Allah untuk mencampakkan manusia ke neraka, yaitu bagaimana  Engkau mensyukuri nikmat-Nya? Tak mengherankan karena untuk mengkalkulasikan nikmat yang dicucurkan Allah saja manusia tidak mampu (Qs.Al-Nahl:18), apalagi dalam membalas nikmat Allah tersebut dengan pengabdian yang utuh. Nikmat Allah selalu memayungi keseharian manusia. Dan salahsatu nikmat terbesar-Nya adalah waktu. Waktu adalah sesuatu yang menggenangi hidup manusia, tapi kehadirannya kadang tidak disadari. Bukan hanya tidak disadari, bahkan disia-siakan. “Dua nikmat yang sering dan disia-siakan oleh banyak orang: kesehatan dan kesempatan,”kata Nabi Saw (HR.Bukhari). “Waktu adalah sungai yang mengalir ke seluruh penjuruh sejak dahulu kala, melintasi pulau, kota, dan desa, membangkitkan semangat atau meninabobokan manusia. Ia diam seribu bahasa, sampai-sampai manusia sering tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya, walaupun segala sesuatu—selain Tuhan—tidak akan mampu melepaskan diri darinya,” tutur Malik bin Nabi.  Al-Quran memberikan perhatian khusus pada waktu sehingga Allah berulangkali bersumpah dengan berbagai kata yang menunjuk pada waktu-waktu tertentu, misalnya wa al-lail (demi malam), wa an-nahar (demi siang), wa al-fajr dan lain-lain. Al-Quran menggunakan minimal empat kata untuk menunjukkan waktu: pertama, ajal yang menunjukkan waktu berakhirnya sesuatu, seperti berakhirnya usia manusia atau masyarakat (Qs.Yunus: 49). Kedua, dahr yang digunakan untuk durasi masa alam raya dalam kehidupan dunia, yakni sejak penciptaan sampai punahnya semesta. (Qs. Al-Insan:1) ketiga, waqt digunakan dalam arti batas akhir kesempatan atau peluang untuk menyelesaikan suatu peristiwa, atau kadar tertentu dari satu rentang masa. (al-Nisa:103) keempat, al-ashr yang dimaknai sebagai saat-saat yang dialami manusia yang harus diisi dengan keimanan dan produktifitas amal shalih. Waktu dihadirkan Allah dengan tujuan-tujuan tertentu. Salahsatu tujuan  utamanya ialah sebagaimana dipaparkan al-Qur’an: Dia (Allah) menjadikan malam dan siang dan siang silih berganti untuk memberi waktu (kesempatan) kepada orang yang ingin mengingat (mengambil pelajaran) atau orang yang ingin bersyukur. (Qs. Al-Furqan:62).  “Mengingat” terkait dengan masa silam, hal ini mengindikasikan pentingnya instrokpeksi dan kesadaran akan masa lampau yang mengantarkan manusia ke gerbang perbaikan dan peningkatan mutu dirinya. Lalu, “bersyukur” berarti menggunakan segala potensi yang dianugerahkan Allah sesuai dengan tujuan penganugerahkannya.   Jadi, meminjam istilah Nabi, “waktu laksana pedang” bergerak silih-berganti menebas siapapun yang melalaikannya. Waktu merentang dari hulu kelahiran dan berujung pada muara kematian. Tiap tarikan nafas manusia adalah satu langkah ke titik akhir hidupnya. Waktu menyeret manusia masuk ke petak kuburnya. Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatiakn apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (Qs. Al-Hasyr:18).  (Republika, 26 Desember 2005) 

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: