ISLAM-RAMAH

Januari 8, 2008

TAFSIR PENUNDAAN EKSEKUSI TIBO DKK

Filed under: ARTIKEL MEDIA — ruhullah @ 3:56 am

Akhirnya, Fabianus Tibo, Martinus Riwu dan Dominggus Da Silva untuk sementara lolos dari lubang jarum hukuman mati. Melalui “intervensi” Vatikan dan mobokrasi para pendukungnya, Tibo Cs masih menghirup udara nusantara. Pemerintah SBY-JK mengundur waktu pelaksanaan hukuman mati  sampai batas waktu yang belum ditentukan. Alasannya hanya pertimbangan teknis, yaitu dekatnya pelaksanaan eksekusi dengan HUT RI.               Bila ditelisik lebih dalam, maka alasan penundaan pemerintah atas hukuman mati Tibo Cs adalah hanya sebuah “rasionalisasi” dari ketidakberdayaan pemerintah menghadapi tekanan politis. Tampaknya dua surat dari Vatikan dan beberapa aksi demonstrasi kontra eksekusi mati Tibo Cs memaksa pemerintah mengubah keputusannya di detik-detik menjelang eksekusi.  Imagology Politik Dari perspektif imagology, penundaan eksekusi mati Tibo Cs membuat citra pemerintahan SBY-JK semakin terpuruk. Ada dua citra kuat pemerintahan SBY-JK yaitu: pertama, pemerintahan yang tidak miliki karakter leadership yang kuat. Padahal, SBY-JK memiliki modal politik untuk memerintah sebab dipilih langsung oleh rakyat. Tidak adanya kepemimpinan yang baik berakibat gerak langkah pemerintah pun menjadi lamban.  Contohnya penanganan bencana alam. Sejak Tsunami yang memporak-porandakan Aceh sampai gempa Jogya, yang muncul kepermukaan adalah kelambanan pemerintah dalam sistem mitigasi bencana dilengkapi dengan justifikasi serta apologi atas kelambanan itu.  Kedua, tidak adanya independensi. Tercatat beberapa kasus hukum terkena dampak intervensi politis luar negeri. Yang paling mencolok adalah kasus Abu Bakar Ba’asyir yang dituding sebagai”biang” teroris, serta kasus Tibo Cs ini. Khusus kasus Tibo Cs, menuai pro-kontra. Yang pro hukuman berpendapat bahwa hukuman mati dibutuhkan untuk memangkas “lingkarang kekerasan.” Yang kontra hukuman mati mengusung argumen: Pertama, hukuman  bertentangan dengan Hak dasar manusia, yakni untuk hidup. Kedua, argumen psikologis, yakni hukuman mati menutup kesempatan manusia untuk bertaubat padahal  bukankah sejahat-jahatnya manusia masih ada kemungkinan untuk “taubat.”  Basis Antropologis 

Seperti kita diketahui, dorongan manusia membentuk masyarakat politik adalah keinginan untuk mempertahankan hidup dan menghindarkan diri dari kematian. Menurut Thomas Hobbes, seorang filosof politik, pada kondisi alamiahnya (state of nature), sebelum komunitas politik (baca: Negara) terbentuk, manusia memiliki kebebasan alamiah  dimana manusia bebas melakukan apa pun yang dikehendakinya. Hal ini melahirkan  kompetisi dan peperangan yang disebabkan  ada desakan seleksi alam untuk mempertahankan hidup. Inilah cikal-bakal agresi. Yang terkuat, itulah yang bertahan. Agresi dan agresivitas merupakan naluri alamiah manusia. Namun agresi dan agresivitas bukan prinsip destruktif an sich, tapi suatu komponen yang esensial melekat pada diri manusia sebagai  mekanisme pertahanan diri.

 

Agresi dapat muncul dalam berbagai bentuk, terutama bila telah transformasikan oleh mekanisme pencegahan yang diperlukan untuk menghindari agar agresi tidak menjadi kekuatan yang destruktif melulu. Disinilah urgensi agresi. Pasalnya jika tidak ada manfaatnya, maka pasti agresi akan hilang dari sejarah manusia. Bila agresi dihapus dari jiwa manusia, maka akan membahayakan eksistensi manusia sebab tidak ada mekanisme pertahanan diri lagi.

 

Singkatnya, agresivitas bersifat ambigu.  Di satu sisi agresivitas merupakan suatu kaharusan untuk menjaga eksistensi manusia, namun di sisi lain agresivitas membahayakan eksitensi manusia pula.  Oleh sebab itu, yang bisa dilakukan adalah mengarahkannya, menyalurkannya atau mensublimasikannya.  Oleh karena itu, harus diakui bahwa agresivitas tersebut tersimpan dalam diri manusia.

 

Agresivitas harus “dihumanisasikan” dengan memasukkannya dalam bingkai etis dan aturan hukum. Maksudnya, agresivitas manusia perlu diregulasikan dalam kerangka nilai-nilai etis dan dibatasi dengan pedang hukum.

 Superioritas Hukum 

“Dengan membunuh si terpidana, setiap orang yang merencanakan pembunuhan akan berfikir seribu kali. Sebab, yang paling berharga bagi manusia adalah hidupnya, dan yang paling ditakutinya adalah kematian. Sehingga jika seseorang mengetahui bahwa dengan membunuh tanpa hak dia tidak akan dibunuh, maka tangannya akan semakin ringan untuk menganiaya dan membunuh,” demikian penjelasan Quraish Shibab tentang urgensi hukuman mati.

Republika, 15 Agustus 2006

 

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: