ISLAM-RAMAH

Januari 8, 2008

SOEHARTO, HOMO ORBAICUS, DAN MODAL SOSIAL

Filed under: ARTIKEL MEDIA — ruhullah @ 3:53 am

SOEHARTO, HOMO ORBAICUS, DAN MODAL SOSIAL 

Diakui atau tidak, Soeharto adalah seorang figur yang menentukan biduk sejarah bangsa Indonesia. Bayang-bayang kebesarannya tampak pada gonjang-ganjing diskursus status hukumnya yang menjadi gelombang pro dan kontra mulai dari akar rumput sampai elit politik. Aura pengaruh Soeharto terlihat jelas dari ‘warisannya’ hingga kini. Warisan terbesar mantan presiden Soeharto beserta mesin Orde Baru (orba) adalah homo orbaicus. Rezim Orba mampu mencipta, bukan hanya struktur yang tangguh, namun juga mengkresikan suatu tipe manusia. Orba telah membuat suatu tipe, karakter individu yang unik, yaitu homo orbaicus, mirip homo sovieticus di Uni Soviet. Jadi, homo orbaicus adalah homo sovieticus a la Indonesia.

 

Homo orbaicus bukan kelas dan kelompok sosial tertentu, namun suatu kepribadian Gejala kepribadian homo orbaicus disebabkan lamanya pikiran dikontrol penguasa. Melalui kontrol pikiran tersebut gen-gen rakyat ditulari virus homo orbaicus. 

 Ada beberapa ciri umum homo orbaicus. Pertama, kemunafikan, dalam arti apa yang dikatakan berbeda dengan yang mereka lakukan.  Bila seorang pejabat mengatakan: ‘hiduplah sederhana’, maka sering faktanya ia hidup mewah. Kedua, kebohongan yang terorganisir. Misalnya, kejahatan seorang pejabat disebut ‘kesalahan prosedur’. Ketiga, kreatif dan inovatif dalam mencari cela untuk berkelit dari jeratan hukum. Keempat, tidak suka memikul tangung jawab, bahkan lebih suka melempar tanggungjawab yang biasanya dilakukan kepada yang dianggap lebih kecil.  Akhirnya yang tidak  berdayalah yang bertanggungjawab. Contohnya masinis atau penjaga pintu rel kerap menjadi ‘kambing hitam’ kecelakaan kereta api. Kelima, tidak bisa melihat sesama anak bangsa lebih maju daripada dirinya sendiri. Bila ada elit politik yang popular, mereka akan berusaha menjatukannya.  Totalitarisme Ideologis Homo orbaicus lahir dari rahim indoktrinasi rezim Orba. Indoktrinasi merupakan mekanisme mesin totalitarisme ideologis. Totalitarisme ideologis  beranjak dari pendapat politik yang dianggap sebagai kebenaran. Padahal bidang politik, seperti bidang praxis manusia lainnya, bukan masalah benar-salah, melainkan “lebih atau kurang baik”. “Benar-salah” menyangkut pengetahuan teoritis, pengetahuan tentang suatu kenyataan. Oleh karena itu, tidak ada kemutlakan dalam masalah tindakan. Yang ada adalah pertimbangan, kemungkinan jalan tengah, kompromi, atau bahkan dagang sapi.  Selanjutnya, kaum ideolog pun membagi masyarakat menjadi: mereka yang benar dan mereka yang tidak benar, Dengan demikian mereka  merasa terlegitimasi untuk mengabaikan, seperlunya menindas, mereka yang tidak benar. Pengklaiman ideologi sebagai kebenaran, berarti melakukan dua hal: pertama, melegitiamsikan monopoli mereka sendiri atas kekuasaan dan kedua, mencabut hak mereka yang berlainan pendapat.  Ideologisasi selalu diusahakan oleh elit kekuasaan. Mereka sibuk untuk melakukan pembersihan terhadap rakyat dan elit ideologis sendiri. Rakyat mesti didik, diindoktrinasi. Oleh sebab itu diadakan: kursus-kursus, pelajaran ideologis dari sekolah dasar sampai universitas, kursus kilat, perlombaan penguasaan ajaran ideologi dan sebagainya.   Rezim ideologis paling takut terhadap kebebasan berfikir. Karena itu, dilakukan sensor: sensor pemikiran, buku, film, media dan sebagainya.. Rakyat pun dipantau agar tidak melakukan “asusila” atau kurang bersemangat dalam menganut ideologi mereka. Sedangkan elit ideologis pun perlu dibersihkan dari unsur-unsur yang kompromistik atau sesat, atau memberikan contoh kurang baik, terutama yang vokal mempertanyakan kepemimpinan para ideolog.  Demokratisasi Politik Totalitarisme ideologis adalah lawan cita-cita demokarasi yaitu bahwa setiap orang bebas berpendapat dan berfikir serta berhak menyatakan pendapat dan pikirannya itu serta bahwa tidak ada pendapat dan pikiran yang a priori lebih berhak daripada yang lainnya, asal saja mentaati aturan main demokratis. Mendasarkan kehidupan bernegara atas sebuah ideologi-beku berarti memotong demokrasi dari akarnya.  Garam Demokrasi Guna mencegah praktek totalitarisme ideologis serta mengikis homo orbaicus dibutuhkan demokratisasi politik Indonesia. Demokrasi adalah kategori dinamis. Ia senantiasa bergerak dan berubah. Artinya, demokrasi merupakan proses. Proses itulah yang disebut demokratisasi.  Karena itu, suatu negara disebut demokratis bila terdapat proses-proses perkembangan yang menuju ke arah yang lebih baik dalam pelaksanaan nilai asasi  kemanusiaan , dan pemberian hak kepada masyarakat. Artinya, jika suatu negara menyatakan demokratis, lalu terjadi kemandekan, seperti menghambat kebebasan berpendapat, maka dia tidak demokratis lagi. Pesan demokrasi adalah pentingnya proses perkembangan, dan bahayanya kemandekan. Memang masyarakat demokratis cenderung gaduh, tapi hal itu lebih baik dari pada kemogokkan. Yang terpenting, Indonesia butuh garam demokrasi, bukan gincu demokrasi. Radar Banten, 30 Mei 2006  

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: