ISLAM-RAMAH

Januari 8, 2008

SINETRON RELIGIUS DAN TEOLOGI ISLAM

Filed under: ARTIKEL MEDIA — ruhullah @ 3:52 am

Televisi (TV) adalah “agama baru” era teknologi komunikasi dan informasi. Saat ini, bila dibandingkan antara kuantitas sembahyang menghadap Tuhan atau menghadap TV. Jawabannya kemungkinan besar adalah: di hadapan TV. Bahkan  lebih khusuk dan khidmat menyimak program-program TV daripada khotbah-khotbah agama di rumah ibadah.  Jika dulu: kita sama di hadapan Tuhan, maka kini: “kita sama di hadapan TV”. Revolusi teknologi informasi telah menggerus kebiasaan beragama konvensional kita. Artinya, kekuatan pesan yang dituturkan agama via media konvensional: pengajian, dan khotbah, telah takluk di hadapan media khotbah-khotbah iklan.

 

Menariknya, TV pun lalu jadi sarana untuk menyampaikan pesan moral agama. Hal ini bisa dilihat dari salahsatu program TV yang paling digemari yakni sinetron..

 Boom Sinetron Religius 

Sinetron religius adalah sinetron yang memakai simbol-simbol religius dalam pencitraan ceritanya.  Bahkan, sinetron-sinetron religius, yang pada tahun-tahun silam hanya laku saat momen-monen tertentu, seperti bulan ramadhan, mulai menguat posisinya dalam arus pusaran persinetronan.

 Pergeseran ini tidak berarti bahwa pemirsa TV Indonesia lebih religius dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sebab bila jeli melihat sinetron religius yang lalu-lalang dalam lalu-lintas persinetronan, maka tampak bahwa kecenderungan pemirsa itu adalah pelampiasan ketidakpuasan terhadap kondisi sosio-politik-ekonomi dan kultural kita. Masyarakat jenuh dengan arah perahu besar negara Indonesia yang terus gonjang-ganjing. Banyak ketidakpuasan yang mengendap dan menumpuk dalam alam bawah sadar kita. Untuk mengendorkan kepenatan serta kesumpekkan tersebut butuh media yang jadi “kran” penyalur gairah masyarakat akan keadilan, keamanan, dan idealisme. Ini yang disajikan dalam menu-menu sinetron religius.  Yang paling dominan adalah sinetron yang mengusung tema kematian yang dipelopori sinetron Rahasia Ilahi. Bahkan, ada sejumlah sinetron merubah haluan ceritanya dan  kepincut untuk mengenakan jubah agama pula demi melayani selera pemirsa. 

Sinetron dengan tema kematian ini, selalu menampilkan peristiwa kematian tokoh utamanya. Kematian yang mengenaskan: mayat bau busuk atau dikerumuni ulat, atau kuburan yang digenangi air atau tersambar petir dan lain-lain. Dan alur cerita hampir selalu mengukuhkan kematian tragis tersebut yang disebabkan oleh perilaku jenazah saat hidup. Biasanya, di akhir cerita tampil seorang “mubaligh pop” yang menguraikan  hikmah  sinetron tersebut. Bagaimana mencermatinya?

 Sorotan Teologi Islam 

Sebenarnya, ada sisi positif dan negatif dari bingkai skenario sinetron-sinetron itu.  Sisi positifnya adalah sinetron-sinetron itu mencoba untuk mengantarkan pesan bahwa. ada ganjaran yang setimpal bagi tiap kejahatan.  Memang, ketakutan akan mati yang tragis bisa jadi instrumen bagi moral forces yang pada gilirannya memicu individu untuk menghindar dari segala bentuk pelanggaran moral.. Sisi negatifnya, dalam sinetron sinetron tersebut menuntun pemirsa pada suatu pemahaman adanya hukuman instant Tuhan. Singkatnya,  alur cerita menggiring pemirsa pada kesimpulan bahwa sang mayat tertimpah azab Tuhan.

 

Memang, secara teologis, tiap dosa punya akibat-akibat negatif. Namun, akibat-akibat negatif itu lebih banyak terkait dengan hukum sebab-akibat. Misalnya, pemabuk, selain memiliki bahaya sosial, juga akan menyebabkan munculnya penyakit psikologis. Syaraf seorang pemabuk akan terganggu, paru-parunya rusak, dan detak jantungnya kacau.  Pezina, akan menyebabkan pelakunya terserang penyakit raja singa atau sipilis.  

 

Memang, akibat sebagian amal dapat dilihat di dunia ini. Akibat tersebut adalah “bagian” dari hukuman, dan bukan hukuman yang “sempurna”. Sebab, hukuman yang sempurna dan perhitungan yang akurat hanya ada di mahkamah akhirat kelak. Kendati demikian, kita tidak boleh menganggap semua musibah yang menimpa seseorang atau sekelompok orang sebagai hukuman atas perbuatan-perbuatan mereka.

 Sinetron yang Mencerahkan  

Gairah sinetron religius  menemukan mutunya pada sejumlah sinetron yang menyuguhkan perpaduan seni teater yang menghibur dengan pesan yang menyentuh kalbu. Sebut saja Kiamat Sudah Dekat yang jadi sinetron favorit Bapak Presiden serta meraih lima piala Vidia.

Sinetron ini merupakan daur-ulang dari film dengan judul yang sama. Sinetron ini mampu menyajikan serta menyuguhkan gambaran hidup “normal” yang dilakoni sebagian besar masyarakat Indonesia yang dalam banyak sinetron Indonesia dilupakan.  Racikan ceritanya pun menggugah nurani. Pesan utamanya jelas: kehidupan modern telah mengasingkan serta menjauhkan manusia dari sentuhan agama. Hanya kesahajaan hidup saja yang mampu melindungi nurani dari himpitan dan jepitan modernitas. Sinetron berkarakter seperti inilah yang dapat mencerahkan pikir dan rasa bangsa. Bravo sinetron religius!  (Radar Banten, 17 Januari 2006) 

1 Komentar »

  1. Berjuang

    Komentar oleh siyamadi — Februari 27, 2009 @ 12:56 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: