ISLAM-RAMAH

Januari 8, 2008

Menghadirkan Allah

Filed under: RENUNGAN — ruhullah @ 3:44 am

Apakah bukti bahwa seseorang beriman kepada Allah SWT? Pertanyaan ini tidak terarah kepada orang lain, tapi tertuju pada diri masing-masing. Bukti seseorang beriman adalah amal saleh.

Amal saleh adalah bentuk laporan pertanggungjawaban manusia di hadapan mahkamah Allah SWT kelak. Amal saleh tidak lahir secara tiba-tiba. Tetapi melalui suatu proses yang disebut ihsan. ”Beritahu aku tentang ihsan,” tanya malaikat Jibril saat menyamar menjadi seorang lelaki berpakaian putih, berambut kelam, yang tak tampak bekas-bekas perjalanan jauhnya.

Rasulullah SAW menjawab, ”Engkau menyembah Allah seakan-akan Engkau melihat-Nya. Jika Engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia selalu melihatmu.” (HR Muslim). Esensi ihsan terletak pada kesadaran akan kehadiran Allah SWT yang selalu menatap dan mengawasi. Proses penyerapan kesadaran bahwa Allah SWT melihat, mengawasi, dan memonitor diri dalam gerak dan diam, lahir maupun batin disebut muraqabah. Kata muraqabah seakar dengan kata raqib yang berarti penjaga atau pengawal, yang merupakan salah satu nama Allah SWT (asma al-husna). Dan Allah SWT adalah raqib al-ruqaba’ (Sang Maha Pengawas).

Penggapaian kesadaran akan kehadiran Allah SWT itu tidak instan. Perlu keimanan yang dipertajam oleh pengetahuan akan nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT, ditambah dengan perenungan terhadap ayat-ayat Alquran. Sebab, bagaimana mungkin menggapai muraqabah, jika tidak mengetahui bahwa Allah SWT adalah raqib.

Lalu, apakah tanda orang yang muraqabah? ”Tanda muraqabah adalah memilih apa yang dipilih oleh Allah SWT, menganggap besar yang dianggap besar oleh-Nya, dan menganggap remeh apa yang dipandang remeh oleh-Nya,” kata Dzun-Nun al-Mishri.

Kadang hidup keseharian mengubur kesadaran akan Ilahi yang selalu meneropong tingkah laku manusia. Hal ini disebabkan oleh tebaran pesona dunia yang membuat hati manusia tertambat mencintainya. Biasanya, kejahatan dan kelancungan muncul karena terkikisnya kesadaran bahwa tiap gerak langkah dan hati ditatap oleh Sang Maha Penatap. ”Dia beserta kamu, di mana pun kamu berada. Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Hadid (57): 4).

Akhirnya, menarik mengutip kisah inspiratif ini. Suatu ketika, Umar bin Khattab sedang dalam perjalanan. Ia melihat seorang anak menggembala kambing. Umar meminta kepadanya agar menjual seekor kambingnya.

Penggembala itu menjawab, ”Kambing-kambing itu bukan milikku. Aku hanya seorang budak.” Umar membujuknya agar ia memberikan dia seekor saja. ”Kambingnya kan banyak sekali, jika ketahuan kurang satu, bilang saja di makan serigala?” Anak penggembala itu terdiam. Ia menatap Umar dengan serius sambil berujar, ”Lalu di mana Allah sekarang?”

Republika, 1 Mei 2006

6 Komentar »

  1. ya allah! yang hamba tahu hanya kalimat ‘tidak ada tuhan selain engkau dan baginda nabi saw utusan engkau’ ya allah! cukup bagiku engkau yang membuat diri ini tenang dan bahagia. ya allah! tidak ada alasan bagiku untuk inkar kepada engkau. ya allah! hanya engkau, engkau dan engkau. ya allah! ridhoi hambamu ini. ya allah! ya allah! dan ya allah! hanya itu yang bisa hamba ucapkan. ya allah! jangan pernah engkau berpaling dari hamba. ya allah! kuserahkan diri hamba. ya allah! jangan pernah bosan mengampuni hamba. ya allah! terima kasih untuk segalanya. amin ya allah ya robbal alamin washollallahu ala saidil mursalin walhamdu lillahi robbil alamin

    Komentar oleh ramdan achmad yusuf maulana — September 17, 2008 @ 6:46 pm | Balas

  2. ya allah! ampuni hamba. ya allah! ridhoi hamba. ya allah! segala puji bagi engkau. ya allah! baginda nabi ya allah. ya allah! agungkan beliau. ya allah! jaga kehormatan beliau. ya allah! hinakan siapapun yang menghina beliau. ya allah! taqdirkan hamba sebagai umat beliau. ya allah! engkau, beliau dan hamba ya allah. ya allah! amin ya allah ya roba kulli syai’. washollallahu ala khoiril kholqi min kulli syai’. amin

    Komentar oleh ramdan achmad yusuf maulana — September 17, 2008 @ 7:02 pm | Balas

  3. ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah! ya allah!

    Komentar oleh ramdan achmad yusuf maulana — September 17, 2008 @ 7:24 pm | Balas

  4. Amien…Derai tangis cinta dan penyesalan manusia lebih tinggi daripada gemuruh tasbih para malaikat-Nya. Kita berasal dari Allah, kembali pada Allah. Tiada yang patut diperbuat manusia kecuali menyerahkan diri secara utuh pada-Nya.

    Salam,
    m. subhi-ibrahim

    Komentar oleh ruhullah — September 18, 2008 @ 3:24 am | Balas

  5. ya. ALLAh..itulah kata yang keluar dari bibir seorang hamba. tetapi bukankah Allah juga tidak hanya mau disebut..melainkan juga ditaati apa yang menjadi kehendakNYA. dan tentunya kita menggunakan tuntunannya pula, yaitu Al-Qur’an, sebagaimana yang perintah ALLAh kepada para rasulNYA. lihat pada QS: 42:13

    Komentar oleh w4hyu — November 4, 2008 @ 11:52 pm | Balas

  6. Allah tiap saat hadir menyapa tiap sukma. masalahnya, manusia kerap tak menyadari sapaan itu. penyebabnya, sebagian manusia telah terjerembab dalam genangan hidup keseharian, dan disibukkan oleh rutinitas yang membuatnya tidak memiliki “spasi” hidup. akhirnya, Allah pun menyapa dalam bentuk musibah. Semoga kita semua dilindungi Allah dari semesta lalai.
    m. Subhi-Ibrahim

    Komentar oleh ruhullah — November 6, 2008 @ 5:09 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: