ISLAM-RAMAH

Januari 8, 2008

MENGGESER PARADIGMA GERAKAN KEAGAMAAN

Filed under: ARTIKEL MEDIA — ruhullah @ 3:55 am

Kantor harian Kompas didemo beberapa ormas berlabel Islam (25/06). Mereka menuntut Kompas agar proporsional dalam pemberitaan seputar Islam. Pasalnya Kompas dianggap lebih hobi memuat pikiran kelompok liberal dan sekuler dibanding kelompok Islam konservatif. Bagaimana gejala ini dibaca dari visi—meminjam istilah Nurchalish Madjid—keindonesiaan dan keislaman? Pada dasarnya, aksi demo seperti itu tidak produktif. Sebab  semua media pasti membawa bias-bias tertentu, termasuk Kompas. Menurut Jalaluddin Rakhmat, setiap wartawan yang memasuki sebuah lingkungan media akan menyerap bias-bias media itu sebagai bagian dari corporate culture dia. (Jalaluddin Rakhmat, 1998:60). Artinya, tuntutan ormas-ormas itu tidak akan mengubah corporate culture yang jadi kerangka kerja Kompas sebagai media umum, bukan media agama. Dengan kata lain, aksi demo itu mubazir. Akan lebih bermanfaat bila energi ormas-ormas itu digunakan untuk memikir-ulang penguatan media massa yang mengusung bias Islam, seperti Republika. Proses penguatan media Islam akan lebih produktif dibanding sekedar turun di jalan. Menggeser Paradigma   

Catatan terpenting adalah, gerakan-gerakan yang memakai jubah Islam masih berorientasi pada perjuangan reaktif. Nurchalish Madjid membagi perjuangan menjadi dua: perjuangan proaktif atau fight for (berjuang untuk) dan perjuangan reaktif atau figh against (berjuang melawan). Keduanya penting serta mempunyai fungsinya masing-masing sesuai konteks kesejarahannya. Bahkan kedua model ini bisa berjalan seiring (Nurchalish madjid, 1997: 94). Contoh kasus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Pada  tahun 60-an, mungkin juga awal 70-an, HMI lebih mengarah pada fight against. Yaitu perjuangan melawan penyokong ideologi anti-agama dan anti-Pancasila, khususnya PKI. Pada waktu yang sama, HMI pun melakukan fight for, yang proaktif dan positif. HMI bukan sekedar melawan konsep PKI dan para pendukungnya bahwa Pancasila hanyalah bernilai instrumental (alat pemersatu) yang bila telah tercapai tujuannya bisa dibuang; HMI pun serentak menggelontorkan ide bahwa Pancasila adalah jiwa bangsa yang berasal dari titik temu berbagai golongan di tanah air.

 

Dalam konteks kekiniaan, tampaknya yang lebih dibutuhkan adalah fight for daripada figh against. Maksudnya, yang lebih diprioritaskan adalah kemampuan untuk berpartisipasi secara proaktif dan positif dalam pembangunan. Oleh karena itu, yang lebih ditekankan bukan sekedar semangat berapi-api dan berkobar saja melainkan kemampuan teknis yang tinggi. Kemampuan yang lebih berorientasi pada problem solving (pemecahan masalah) daripada solidarity making (penciptaan solidaritas).

 

Jadi Hataisme lebih dibutuhkan dibandingkan Sukarnoisme. Hal ini mungkin simplistik namun kiranya masih dapat dibenarkan sebab ciri kepemimpinan Bung Hatta adalah problem solving, sedangkan ciri kepemimpinan Bung Karno adalah solidarity making. Jadi, saat ini kita lebih banyak memerlukan hatta-hatta, dan sedikit saja memerlukan sukarno-sukarno, meskipun sejumlah sukarno tetap berguna.

 

Singkatnya, paradigma gerakan-gerakan Islam wajib digeser dari pola figh against ke fight for. Harus diakui, perjuangan dengan tekanan pada problem solving sebagai wujud dari fight for yang proaktif lebih sulit, lebih ‘dingin’, lebih bersifat ‘kerja tekun’ daripada ‘kerja berkobar’. Karena itu, ‘kerja tekun’ sebagai pola perjuangan menjadi kurang populer bagi orang banyak (awam). Tentunya jika dibandingkan dengan solidarity making dan fight against yang lebih mudah dituangkan dalam retorika-retorika panas, negatifistik, provokatif, populer, dan mengairahkan orang banyak.

 

Tapi ingat, menurut Cak Nur, fight against menurut tabiatnya akan selalu bersifat jangka pendek, sedangkan fight for akan bersifat jangka panjang dan mengikuti garis kontinum yang tidak terputus-putus, dengan grafik yang selalu menanjak.  (Nurchalish Madjid, 1997: 96-97)       

 Tradisi Intelektual Fight for membutuhkan bahan bakar keilmuan. Oleh sebab itu, perlu penggairahan kembali tradisi intelektual. Bercermin pada sejarah klasik Islam, kita bisa belajar dari al-Ghazali misalnya. Tradisi intelektual muslim Indonesia memang masih muda. Bayangkan, ketika al-Ghazali sibuk menulis karya polemisnya yang sangat filosofis, Indonesia (baca:Jawa) menyaksikan kekuasaan kerajaan Dhaha atau Kediri dengan rejim Jayabayanya. Al-Ghazali dan Jayabaya hidup satu kurun, yakni abad ke-11 Masehi. Sebagaimana al-Ghazali yang meninggalkan karyanya, seperti Ihya ulum al-Din, Jayabaya pun meninggalkan karya tulis, yakni Jangka Jayabaya. Tanpa bermaksud mengurangi nilai warisan nenek moyang sendiri, namun jelas, dari sudut penilaian yang tidak apriori memihak, terdapat perbedaan kualitatif antara isi  karya warisan kedua tokoh ini. Al-Ghazali mewariskan suatu rangkaian karya-karya renungan filosofis yang mendalam, selain yang bersifat polemis.  Sedangkan Jayabaya mewariskan suatu karya yang oleh banyak orang dipandang sebagai kreatifitas imaginatif, jika bukan khayalan dan reka-reka belaka.   

Yang paling menarik dari tradisi intelektual Islam adalah tradisi menulis. Perbedaan, pertentangan bahkan  perseteruan pendapat selalu dituangkan dalam bentuk buku. Saat al-Ghazali tidak setuju dengan pikiran-pikiran Ibn Shina, ia curahkan ketidaksetujuannya tersebut dalam bentuk buku Tahafuth al-Falasifah (kerancuan para filosof). Begitu pula, ketika Ibn Rusyd tidak sependapat dengan al-Ghazali, ia menyusun buku Tahafuth Tahafuth (kerancuan dari kerancuan). Ketegangan intelektual klasik Islam tersebut menjadi produktif dan memperkaya khazanah keilmuan Islam. Oleh karena itu, lebih layak dan elegan bila ketidaksetujuan kita terhadap pandangan yang berbeda dengan kita dan kelompok kita pun dituangkan dalam bentuk karya-karya keilmuan yang berkualitas tinggi. Sehingga anak cucu kita kelak membaca bahwa kita membangun kebudayaan dan peradaban Indonesia dengan tinta, bukan dengan darah.

 Melawan Kharijisme 

Yang paling mengerikan dari gerakan keagamaan adalah bila terasuki kharijisme. Sebagai kelompok sosial, khawarij telah punah. Namun manifestasi ideologisnya masih kita temukan pada sikap kaku dalam berpegang pada kerangka pikir kelompok kita dan tidak menghormati pemahaman kelompok lain, serta dengan gampang mengkafirkan sesama muslim hanya karena berbeda pikiran dengan kita, lalu menghalalkan darahnya. Atau kita halalkan segala hal—fitnah, kebohongan, tirani, penyalahgunaan kekuasaan—untuk menjatuhkan orang yang tidak sepaham dengan kita. 

 Dalam bentuk apa pun, kharijisme merugikan. Apalagi dalam konteks kebangsaan. Pluralitas bangsa Indonesia membutuhkan sikap toleran yang tinggi. Kegagalan untuk menghargai the other (yang lain) adalah bencana dalam relasi hidup berbangsa dan bernegara. Atmosfir toleransi bisa dibangun dengan dialog yang mengutamakan otak daripada otot. Gerakan-gerakan keagamaan sudah selayaknya membangun tradisi dialog yang mengedapankan argumen-argumen rasional dibanding pengerahan massa. Apalagi bila mau mencontoh al-Ghazali. Alangkah lebih berwarnanya langit keberagamaan di bumi pertiwi ini.                               Radar Banten, 10 Juli 2006 

1 Komentar »

  1. Kemampuan menikmati hidup sangat tergantung pada cara kita melihat dan memikirkannya. Untuk menikmati Indahnya alam tidak hanya dibutuhkan mata yang sehat , karena hati dan pikiran juga mengambil peran penting dalam kontribusinya membentuk gambar yang utuh. Kebebasan cara memandang itulah yang kemudian membuat begitu banyak warna . Bahkan ada kalanya warnanya menjadi kontradiktif dari warna aslinya. Dan yang ironis adalah suatu objek akan hilang keindahannya apabila kehilangan warna aslinya. Padahal Sang Pencipta Yang Maha berkata-kata sering menyampaikan pesan lewat warna dan peristiwa dalam hidup kita. pandangan hati mungkin tidak sanggup memberikan gambaran seluruh warna dalam hidup. Tapi setidaknya “cara memandang” yang tidak “liar” dapat memberikan corak dari warna-warna, yang kalau kita mau merenungkan, Kita akan menemui kesimpulan bahwa mereka dulunya di ciptakan oleh Cahaya

    Komentar oleh Sani Bin Husain Al Hamali — Februari 20, 2009 @ 3:24 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: