ISLAM-RAMAH

Januari 8, 2008

MEMPERLUAS LINGKARAN SOLIDARITAS

Filed under: ARTIKEL MEDIA — ruhullah @ 3:42 am

Tahun 2007 di awali dengan torehan duka. Belum kering  airmata bangsa ini dengan terpaan banjir, gempa bumi, angin puting beliung, dan tanah longsor, kita sudah disajikan tragedi yang memilukan:  KM. Senopati Nusantara tenggelam yang disusul kecelakaan pesawat Adam Air menjadikan bumi pertiwi semakin pekat terselimuti kabut duka. Lalu, apakah kontribusi kita sebagai umat beragama dalam menghadapi malapetaka yang tengah menderah bangsa ini? Agama seharusnya bisa menjadi sebuah sarana untuk merajut solidaritas lebih kuat di antara anak bangsa ini. Sehingga kita dapat mengembalikan optimisme hidup di dalam relung jiwa para korban (yang selamat). Dalam suatu ikatan solidaritas, para korban akan menemukan satu hal yang dirindukan oleh mereka yaitu bahwa mereka masih memiliki teman dan sahabat yang bersedia memeluk dan memapah mereka dari keterpurukan untuk menatap masa depan yang lebih cerah. Tingkat Solidaritas Mengapa solidaritas di antara anak bangsa ini mulai memudar? Memakai bingkai pikir Peter Singer dalam Sociobiology ethic: Expanding circle, solidaritas memudar karena terkait dengan evolusi solidaritas. Solidaritas lahir dikarenakan dua faktor identitas dan faktor rasa senasib. Faktor identitas berperan penting sebab dalam identitas seseorang mengidenttifikasikan dirinya. Ketika seseorang tertimpa bencana dan memiliki identitas yang sama, serta-merta muncul solidaritas terhadap orang tersebut. Faktor rasa senasib menjadi kata kunci terbitnya solidaritas. Rasa senasib berarti seseorang merasakan suatu gejala psikologis yang sama, seperti kesedihan kehilangan orang yang dicintai. Oleh karena itu, bila ada orang yang tertimpa bencana, maka rasa solidaritasnya lahir karena merasakan bagiamana pedih dan sedihnya ditinggal orang-orang terkasihnya. Melalui kerangka pikir tersebut, evolusi solidaritas memiliki tingkat solidaritas. solidaritas yang paling awal adalah solidaritas keluarga. Hal ini bisa dipahami sebab keluraga adalah lingkungna sosial pertama yang dikenal oleh seorang manusia. Dalam keluraga, ia menemukan identitas dan rasa senasib. Oleh karena itu, kita sering menyaksikan atau merasakan secara pribadi,  jika bencana menimpah keluarga kita, maka solidaritas kita akan cepat muncul.  Solidaritas tingkat kedua adalah solidaritas komunitas.    baik berupa kesukuan, agama, maupun kebangsaan. Di dalam komunitas, selain mendapatkan identitas diri dan perasaan senasib, seseorang menemukan makna dan peran hidupnya yang lebih nyata. Sayangnya evolusi solidaritas sering terhenti sampai tingkat ini. Seseorang kerap hanya menunjukkan solidaritasnya hanya pada sukunya saja (kejawaan), atau yang seagama (keislaman atau kekristenan), atau kebangsaan (keindonesiaan).  Simbol Haji 

Sebagai contoh ibadah haji.  Bila dicermati, Ihram, yang disimbolkan dengan pakaian putih tanpa jahitan, melambangkan pembongkaran sekat-sekat status sosial, kesukuan, dan label-label identitas lahiriah lainnya. Ihram adalah simbol dari—mengambil semboyan  Revolusi Prancis– egalite (kesetaraan) dan fraternite (persaudaraan). Dalam konteks revolusi, haji merupakan sebuah bentuk revolusi eksistensial dimana tiap individu meletakkan dirinya setara di hadapan Tuhan, dan bagian dari keluarga besar Bani Adam (manusia) dalam suatu persaudaraan kemakhlukkan universal.

 

Puncak ritual haji adalah hadir di padang Arafah. Selama di Arafah, seseorang dilarang berbuat kerusakan seperti membunuh binatang meskipun seekor semut,  atau mematahkan ranting pepohonan atau mencabut rumput. Hal ini adalah simbol bahwa kesetaraan dan persaudaraan tidak hanya pada tataran makhluk manusia, tapi juga pada hewan dan tumbuhan. yang mewujud dalam  sikap anti-kekerasan (non-violent), bahkan terhadap binatang sekalipun,  dan sikap menjaga keseimbangan ekologis.

 Expanding Circle 

Bencana terbesar yang mengancam bangsa ini bukanlah  tsunami, banjir bandang, tanah longsor atau gempa bumi, namun bila masing-masing anak bangsa membatasi lingkaran solidaritasnya. Ketika kita membatasi solidaritas hanya pada keluarga kita, maka jika yang tertimpah bencana  bukan kelurga kita, maka tidak akan tersentuh nurani kita untuk berempati. Saat kita membatasi solidaritas kita hanya pada suku kita, maka bila yang terterpa bencana bukan suku kita, maka kita pun tidak akan memiliki kepekaan kemanusiaan terhadapnya. Lalu bila solidaritas kita batasi hanya pada yang seagama, maka jika yang terdera musibah tidak seagama dengan kita, lantas kita pun tidak mempunyai lagi rasa ibah padanya.

 Oleh karena itu selayaknya tiap umat beragama mampu memperluas lingkaran solidaritas. Lingkaran solidaritas akan meluas bila ada sikap keterbukaan (inklusif). Keterbukaaan dalam solidaritas mengandaikan suatu kesadaran bahwa manusia harus tetap sampai kapanpun dipandang sebagai manusia terlepas dari jubah-jubah identitas eksistensialnya (keluarga, suku, agama, atau kebangsaan).  (Radar Banten, 6 Januari 2007) 

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: