ISLAM-RAMAH

Januari 8, 2008

LAPTOP DINAS DAN KEMUAKKAN KOLEKTIF

Filed under: ARTIKEL MEDIA — ruhullah @ 3:38 am

Lagi-lagi, hati rakyat kecil terkoyak. Di saat rakyat tertatih-tatih mengais rejeki demi sesuap nasi, para wakil mereka di Senayan kebanjiran laptop seharga 21 juta rupiah.  Bagi kaum berduit, laptop bukan barang mewah. Namun bagi sebagian besar rakyat, laptop merupakan barang lux.  Karena itu, dengan akal yang paling dangkal pun kita mengerti, fenomena bagi-bagi laptop tersebut merupakan aksi ‘aji mumpung’. Mumpung punya akses  politik, para anggota DPR melengkapi asesoris kemewahan, prestise diri sebagai  kalangan ‘melek’ teknologi. Hal ini bukan sesuatu yang mengejutkan. Seperti lazim diketahui,  anggota DPR, di pusat maupun daerah, telah menjelma menjadi ‘tuan’ dari rakyat, bukan menjadi pelayan rakyat. Mereka dimanjakan dengan anggaran gaji dan tunjangan yang fantastik. Karena itu, jangan kaget bila ada laptop dinas, yakni laptop yang dibeli dengan uang rakyat.  Padahal, penghasilan mereka sebagai anggota DPR cukup untuk membeli laptop. Dengan demikian, seharusnya pembelian laptop tidak perlu masuk APBN. Jelas, pesta bagi-bagi laptop adalah tindakan tidak populis, mencederai hati rakyat, serta  memperburuk citra wakil rakyat di mata rakyat. 

 

Kemuakkan Kolektif

 Akibatnya, laptop dinas DPR menciptakan kemuakkan kolektif. Bagaimana kemunculan dan dinamika kemuakkan kolektif itu? Filosof yang mengkaji soal kemuakkan secara serius adalah Jean Paul Sartre. Dalam novel  la nausse (kemuakkan), Sartre melukiskan bagaimana kehidupan melahirkan rasa mual atau  kemuakkan. Untuk memahami pikiran Sartre tentang kemuakkan, kita ikuti ilustrasi Driyarkara tentang kemuakkan versi Sartre. Bayangkan tentang persiapan suatu pesta pernikahan. Telah hadir calon pengantin wanita. Sanak saudara, kerabat  dan teman pun telah berkumpul menyongsong pesta yang menggembirakan. Rasa bahagia dan riang memuncak dan menyelelimuti tiap jiwa yang hadir. Namun tiba-tiba datang kabar, pengantin calon pria tergilas kereta api dan meninggal seketika. Kabar tersebut menciptakan sebuah titik balik. Riang gembira berubah menjadi duka. Lenyaplah semua kebermaknaan pesta. Lampu-lampu benderang, bunga-bunga indah, dan musik meriah menjadi kehilangan makna. Hal ini menunjukkan, pesta hanya sebuah konstruksi kebermaknaan belaka. Jika salah satu elemen dasar bangunan makna itu tidak ada, bangunan makna itu pun runtuh berkeping-keping.  Menurut Sartre, kondisi inilah yang melahirkan kemuakkan. Kemuakkan hadir karena ada kesenjangan antara harapan (das solen) dengan kenyataan (das sein).  Dalam konteks demokratisasi orde reformasi di Indonesia, muncul kemuakkan. Pasca rontoknya rejim orde baru, seluruh elemen masyarakat diliputi optimisme. Demokrasi pun ditata ulang. Awalnya rakyat berharap, demokratisasi di Indonesia menjadi ‘pesta’ rakyat dimana kepentingan dan kesejahteraan rakyat menjadi orientasi kerja pemerintah. Rakyat pun terlanjur yakin, orde reformasi memiliki komitmen kerakyatan. Namun, harapan berbeda dengan kenyataan. Terjadi demokrasi anomali (anomalus democracy), Di satu pihak, prinsip, proses, prosedur, bahkan lembaga demokrasi tumbuh dan berkembang . Tapi, di lain pihak, kultur politik demokrasi yang sejati dan otentik muncul secara samar-samar. Bahkan, pada tingkat elit politik, ekspresi politik mereka menunjukkan tragedi penyusutan komitmen kerakyatan. Kasus laptop dinas anggota DPR pun menggambarkan terkikisnya kepedulian, empati, dan solidaritas elit politik terhadap nasib rakyat yang masih terbelit kemiskinan. Inilah yang memunculkan kemuakkan kolektif rakyat. Tetap Optimis Efek kemuakkan kolektif adalah lahirnya sikap acuh-tak-acuh rakyat terhadap proses demokratisasi Indonesia. Sikap acuh tersebut wajar. Kewajaran itu karena rakyat sadar dan tahu  betul, ada kecenderungan metamorfosis korupsi. Wabah korupsi menjelmakan diri dengan modus yang berbeda, yakni ‘halalisasi’ pengerukan uang rakyat ke pundi-pundi pribadi elit politik dengan perangkat peraturan perundangan yang sah secara hukum. Rakyat tahu persis, elit politik semakin ‘cerdas dan pintar’ menguras uang rakyat demi saku pribadi maupun pundi-pundi partainya.  Karena itu, daripada menghabiskan energi memikirkan elit politik yang  tidak menunjukkan sikap empati terhadap  nasib mereka, lebih baik mengais rejeki guna mencukupi kebutuhan primer mereka. Namun, sikap acuh rakyat itu bukan bentuk pesimisme. Saya percaya, rakyat Indonesia memiliki rasa optimisme yang melimpah terbukti ketika rakyat tertimpa berbagai bencana. Rakyat tegar, bangkit dari keterpurukkan, dan membangun  masa depan di tengah puing kehancuran material. Saya pun percaya, rakyat masih yakin ada segelintir elit politik yang berempati, memiliki solidaritas dan komitmen kerakyatan mensuarakan serta memperjuangkan aspirasi dan kepentingan rakyat.  Karena itu, agar sikap acuh rakyat tidak menjelma menjadi pesimisme, elit politik harus kembali mengaktifkan radar nuraninya sebagai wakil rakyat yang sebenarnya.  (Radar Banten, 2 April 2007)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: