ISLAM-RAMAH

Januari 8, 2008

ISLAM DAN MITOS TERORISME

Filed under: ARTIKEL MEDIA — ruhullah @ 3:54 am

Akhirnya, Abu Bakar Ba’asyir bebas (14/4). Apakah terlintas dalam pikiran saat mendengar nama Baasyir? Hampir pasti kata: terorisme. Sayangnya, kata terorisme melebar dan kerap bersanding dengan kata “Islam”. Hal ini tak lepas dari peran media informasi. Dunia Tanpa Sekat  

Revolusi teknologi telekomunikasi dan informasi mencipta dunia tanpa sekat geografis. Hasilnya, manusia hidup dalam sebuah global village (desa buana). Dan teknologi satelit memudahkan komunikasi dan akses informasi. Dari kamar pribadi, seseorang bisa menjelajah ke berbagai tempat dan peristiwa mulai Piala Dunia di Jerman, sampai tumbangnya diktator di Timur Tengah. Batas-batas geografis luluh-lantak oleh beberapa digit nomor remote control TV atau keyboard computer. 

 Dalam atmosfir dunia tanpa batas itu marak pemberitaan tentang peristiwa-peristiwa kekerasan (pengeboman misalnya), yang direkam oleh media masa dan memadatkannya menjadi satu file, yakni terorisme. Lantas kata terorisme menelusup ke kesadaran masyarakat bumi via kosakata yang dipopulerkan oleh media masa tersebut.     Jadi, teknologi telekomunikasi dan informasi menduplikasi dunia dua, yakni  dunia yang sebenarnya dan dunia yang direkonstruksi. Saat ini, manusia modern sukar dan hampir tidak mungkin menatap dunia yang sebenarnya. Yang kita saksikan tiap hari adalah dunia yang direkonstruksi.  Rekonstruksi Kognitif Proses rekonstruksi itu ada dua tahap: pertama, tahap rekonstruksi internal dimana peristiwa-peristiwa “dipermak” oleh unsur kognitif manusia (ruang dan waktu misalnya) dalam bingkai pikir individu. Artinya, manusia tak pernah melihat suatu peristiwa dengan mata “telanjang”. Tapi meamakai sebuah “kacamata” perspektif tertentu. Jika kacamatanya hitam, maka hitam pula peristiwa itu.   Kedua, tahap rekonstruksi eksternal dimana individu menerima kacamata baru dari luar dirinya. Rekonstruksi ekternal inilah yang bahaya sebab: pertama, informasi yang kita terima tak sepenuhnya netral. Dalam informasi termuat nilai-nilai, misi, dan pandangan hidup tertentu.  Informasi merupakan perumusan kenyataan dari perspektif tertentu. Oleh sebab itu, bisa jadi sesama anak bangsa cakar-cakaran  karena informasi adu-domba yang terukir dalam kesadarannya. kedua, rekonstruksi ini bisa dalam bentuk pemaksaan.  Pemaksaan di sini bukan dalam arti dipaksa dengan kekerasan namun dalam makna tidak diberikan pilihan. Dengan kata lain, monopoli media.  Penciptaan Newspeak 

Rasionalitas manusia sangat dipengaruh oleh pemaknaan kata yang digunakannya. Namun, menurut Noam Chomsky, rasionalitas manusia tersebut telah dikontrol oleh kekuasaan raksasa.  Pikiran manusia telah dikontrol melalui penggunaan kata-kata dan pemberian makna tertentu melalui  sebuah The American ideological system berbentuk berita dan informasi. Nama arsip dalam memori kognitif manusia telah direkayasa secara tidak langsung untuk memproduksi kata atau ungkapan baru yang diberikan makna yang tendensius. Kata-kata yang membanjiri kesadaran manusia itu disebut newspeak. 

 

Sejumlah newspeak diproduksi untuk membatasi pandangan manusia tentang realitas. Sekarang manusia punya dua dunia: dunia real dan dunia newspeak. Kita punya kamus yang dikeluarkan penerbit adikuasa. Chomsky mengajak untuk membaca ulang kamus itu. Sebagai contoh: proses perdamaian berarti usulan perdamaian yang diajukan AS. Usulan negara-negara Arab kerap disebut penolakan. Makna kata penolakan dan usulan dipermainkan dan didefinisikan menurut kepentingannya, padahal keduanya sama. Dengan pengendalian makna kata tersebut, akan lahir simpati pada AS karena bersusah-paya menciptakan perdamaian sekaligus membenci masyarakat Arab yang menolak perdamaian.  Jadi, bila menerima usulan AS maka disebut moderat, namun bila menolak maka disebut ekstrimis.  Ketika kita meng-klik kata ekstrimis maka akan keluar data  Hamas dan Iran, misalnya.

 Lalu, media internasional, yang dikuasai negeri-negeri besar memberondong ruang kesadaran kita dengan istilah terorisme yang telah didefinisikan.  Terorisme kerap diartikan sebagai pembunuhan secara nyicil. Seperti kelompok-kelompok kecil yang menentang  kelaliman di Palestina disebut terorisme. Sedangkan serdadu Israel yang menembaki pemuda-pemuda Palestina tak dijuluki sebagai terorisme. Begitu pula, peluluhlantakkan Irak oleh pasukan AS tidak dikutuk sebagai bentuk terorisme. Jadi, pembunuhan secara masal dan ditukangi oleh suatu negara tidak diartikan sebagai terorisme. Singkatnya, terorisme adalah mitos yang diciptakan oleh media informasi tertentu.   Dengan isu terorisme itu, jelas citra Islam “terpuruk” sampai titik terendah. Meskipun ada tokoh-tokoh Islam yang berupaya memaparkan bahwa Islam tidak merestui terorisme. Hal itu belum cukup. Bila diilustrasikan: media masa sebagai pelukis yang menggambar suatu lukisan yang buruk, maka bukan lukisannya yang disalahkan tapi pelukisnya. Maksudnya, yang harus dibetulkan adalah pelukisnya, bukan lukisannya. Artinya, untuk menampilkan citra Islam yang positif, yang harus dilakukan adalah membongkar kekeliruan pencitraan media masa.  Guna mencegah penyimpulan identifikasi terorisme dan Islam, tak perlu menghapus istilah terorisme tapi  proporsionalitas informasilah yang dibutuhkan. Ini tugas media masa Indonesia.  Radar Banten, 16 Juni 2006

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: