ISLAM-RAMAH

Januari 8, 2008

INSYA ALLAH

Filed under: RENUNGAN — ruhullah @ 3:50 am

Tak diragukan, kalimat terpopular di kalangan umat Islam, setelah salam (assalamu’alaikum), adalah kalimat insya Allah. Kalimat insya Allah diucapkan saat seseorang ingin melakukan sesuatu atau berjanji. Memang, Allah SWT mengajarkan hal ini. “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu:’sesungguhnya aku akan mengerjakan esok,’ kecuali (dengan mengucapkan): ‘insya Allah.’ Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah’mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.” (QS. al-Kahfi [18]: 23-24). Secara literal, kalimat insya Allah berarti “bila Allah menghendaki”. Sayangnya, kalimat ini kerap disalahgunakan. Ada dua bentuk penyalahgunaan.  Pertama, kalimat insya Allah dipakai untuk menunjukkan: janji yang longgar dan komitmen yang rendah.  Singkatnya ,insya Allah sekedar jadi ganti dari kalimat “tidak janji dech.” Ini keliru! sebab nama Allah SWT dijadikan sebagai pembenaran atas kemalasan untuk menepati janji.  

Kedua, segala tindakan ditentukan oleh Allah (fatalisme).  Artinya, manusia tidak memiliki ruang kebebasan untuk menentukan sesuatu, termasuk tindakan. Paham ini tidak tepat karena manusia telah dianugrahi kebebasan berkehendak oleh Allah SWT.  Bagaimana seseorang mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatan bila seluruh tindakannya ditentukan oleh Allah? 

 

Sebenarnya, insya Allah memiliki falsafah yang mendalam, yaitu pertama, dalam kalimat insya Allah, tersimpan keyakinan yang kukuh bahwa Allah SWT terlibat dan punya andil dalam segala tindak-tanduk manusia. Kesadaran akan kehadiran Allah SWT ini akan memupuk tumbuhnya moral yang luhur (akhlaq al-karimah). Sebab hanya orang-orang yang merasakan bahwa dirinya senantiasa ditatap oleh Yang Ilahi saja yang akan mampu menjaga dirinya dari segala bentuk pelanggaran. Inilah yang disebut oleh Rasulullah Saw sebagai ihsan, yaitu: ” engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya.  Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesunggguhnya Dia melihatmu.” (HR Muslim).

 

Kedua, ekspresi kerendah-hatian (tawadhu’). Seseorang yang memastikan diri untuk bertindak sesuatu esok (sesungguhnya) terselip dalam relung jiwanya sifat kibr (sombong) dimana ia yakin bahwa penentu segala sesuatu, termasuk perbuatan masa depannya, adalah dirinya sendiri tanpa ada peran Allah SWT. Jadi seharusnya, orang yang berucap insya Allah adalah orang yang sadar bahwa Allah SWT selalu membimbing hamba-hamba-Nya.

 

Ketiga, perpaduan usaha dan penyerahan diri. Dengan berkata insya Allah terkandung suatu kegundahan akan ketidakpastian akan apa yang akan terjadi pada hari esok. Hari esok tidak dapat ditentukan secara pasti. Oleh karena itu, keyakinan ini akan melahirkan sebuah motivasi yakni mempersiapkan secara sempurna hal-hal yang menciptakan kesuksesan dari apa yang direncanakan serta  memastikan apa akan terjadi persis sebagaimana yang dikehendaki (QS. al-Hasyr [59]:18).   

(Republika, 4 Januari 2006)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: