ISLAM-RAMAH

Januari 8, 2008

HIJRAH DAN MASYARAKAT BERADAB

Filed under: ARTIKEL MEDIA — ruhullah @ 3:40 am

Setiap Tahun baru Islam, kita mengenang satu peristiwa besar yaitu hijrahnya (migrasi) Nabi Muhammad beserta pengikutnya (muhajirin) dari kota Mekah ke kota Yatsrib (Madinah). Pertanyaan yang muncul adalah mengapa Islam memilih peristiwa hijrah sebagai awal kalender Islam padahal dalam tradisi penanggalan biasanya dipijakkan pada peristiwa kelahiran seorang tokoh, atau kemenangan besar yang digapai suatu bangsa. Artinya, mengapa bukan peristiwa  maulid (kelahiran) Nabi atau fath Makkah (pembebasan kota Mekkah) atau bi’tsah (pengangkatan) Muhammad sebagai Rasul yang dijadikan titik mula penangalan Islam? Dalam buku  Muhammad saw. Khatim an-Nabiyyin min al-Hijrah hatta al-Wafat (1989), Ali Shariati menjawab, karena hijrah merupakan sebuah revolusi kesadaran dan titikbalik perjuangan Nabi dalam membangun tatanan peradaban (tamaddun) baru. Menurut Shariati, dengan hijrah, Nabi berusaha memperluas pandangan dunia (world view), sekaligus mengubah  paradigma bangsa Arab yang bercorak sukuisme. ‘Sesungguhnya kabilah dan kerabat adalah pohon satu-satunya yang tumbuh di padang pasir, tanpa ada seorang pun yang bias hidup kecuali dengan bernaung di bawahnya. Dalam memperjuangkan agama Tuhannya, Muhammad telah menebang pohon yang disirami dengan darah dan daging keluarganya,’ kata Gheorghiu, seperti dikutip Shariati. Yang tidak boleh dilupakan dari peristiwa hijrah adalah bahwa Nabi bermigrasi dengan tujuan merekayasa sebuah tatanan sosial-politik alternatif yang akan menjadi benih tumbuhnya peradaban.  

Berkeadaban

 Oleh karena itu, secara simbolik, Nabi menganti nama Yatsrib dengan nama baru, yakni Madinatun Nabi (Kota Nabi), yang diberi julukan Madinatul Munawwarah  (Kota Cahaya), yang kerap disingkat Madinah. Dari sisi kebahasaan, kata Madinah (kota)  berasal dari akar kata yang sama dengan tamaddun (peradaban). Oleh karena itu, kota terkait erat dengan peradaban. Kata madani, tidak hanya berarti urbanized, bersifat perkotaan, tetapi juga civilized. Sedangkan tamdin, dapat bermakna civilizing (proses menjadi beradab). Kata ini pun bisa berarti kemajuan dalam kebudayaan masyarakat, humanisasi dan peningkatan standar moral. Yang pasti, kota atau negara-kota (polis), dalam bahasa Arab disebut madinah (jamak: mudun, madain).  

Mengapa kota? Salah satu kekhasan kota adalah bahwa kota adalah tempat berkumpul dan berkomunikasi. Komunikasi membutuhkan bahasa. Melalui bahasa, manusia berfikir. Semakin intens komunikasi, maka semakin membutuhkan bahasa yang lebih kaya. Oleh sebab itu, berkembanglah simbol-simbol sebagai alat komunikasi. Dengan simbol, manusia memecahkan masalah antar manusia. Makin rumit sifat hubungan manusia, makin banyak penciptaan simbol. Makin banyak simbol, makin halus sifat bahasa itu. Dari situlah lahir adab dan peradaban. Manusia penghuni kota disebut juga civilian, orang-orang yang beradab. Mereka adalah orang-orang yang hidup dengan suatu standar moral tertentu, standar moral yang tinggi dan kompleks.

 Pesan Moral Bila menilik paparan di atas, maka dapat ditarik benang merah pesan moral peringatan tahun baru hijriah, yakni pembangunan masyarakat beradab. Masyarakat, seperti halnya individu, memiliki potensi untuk  beradab sekaligus biadab. Tingkat keadaban suatu masyarakat bisa diukur dari standar penghargaan terhadap hak asasi manusia. Masyarakat yang menghargai kebebasan berfikir, berpendapat atau berkeyakinan, misalnya,  mengindikasikan bahwa masyarakat tersebut telah berada dalam rel yang lurus dalam membangun masyarakat beradab. Masyarakat biadab sebaliknya. Tidak ada ruang ekspresi sedikit pun bagi  kebebasan.  Salahsatu alasan mengapa Nabi hijrah adalah karena tidak ada ruang kebebasan berkeyakinan dan beragama di Mekkah. Oleh karena itu, Nabi hijrah ke Yatsrib dan membangun suatu masyarakat yang sangat menghormati perbedaan, kemajemukan, dan menciptakan ruang kebebasan dalam  tatanan sosialnya. Dalam konteks keindonesiaan, pesan moral hijrah ini sangat relevan mengingat kemajemukan masyarakat Indonesia. Di negeri ini, kita bisa temukan ragam agama, mulai dari Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, dan lain-lainnya. Bukan hanya ragam agama yang kita temukan, namun juga cara beragama (keberagamaan). Dalam Islam kita kenal:  Islam-Syafi’i, Islam-Hanafi, Islam-Ja’fari, Islam-mu’tazilah, Islam-Qadariyah, Islam-Asy’ariyah  dal lain-lainnya. Dalam suatu masyarakat yang majemuk dibutuhkan sikap terbuka (inklusif), toleran, saling hormat-menghormati antar elemen masyarakat. Tanpa sikap-sikap tersebut, kemajemukan hanya akan melahirkan pertengkaran, persengketaan, dan perpecahan. Sikap-sikap itu adalah pijakan bagi sebuah manajemen kemajemukan yang berguna untuk mengorkestrasi kemajemukan menjadi  harmoni sosial. Masyarakat beradab selalu bersikap hormat terhadap perbedaan seraya menjadikannya sebagai potensi kreatif  guna memperkaya galeri budaya dan peradabannya.  Wa Allahu a’lam (Radar Banten, 19 Januari 2007) 

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: