ISLAM-RAMAH

Januari 8, 2008

ALAM TAK BISA DISALAHKAN

Filed under: ARTIKEL MEDIA — ruhullah @ 3:51 am

Lagi-lagi, bencana menyapa bumi pertiwi di awal tahun 2006 ini. Di Jember, air bah beserta tanah longsor mengamuk serta meluluhlantakkan rumah penduduk, puluhan hektar sawah disepuluh dusun di Desa Kemiri Kecamatan Panti. Yang pasti,  korban jiwa pun tak terelakkan. Bukan hanya di Jember, Banjarnegara pun tergerus kedahsyatan air. Jiwa-jiwa anak Adam pun terenggut dan tertelan amukan air bah.

 

Korban jiwa di dua tempat tersebut bisa jadi masih terus membengkak sebab masih banyak warga yang belum diketemukan. Belum lagi banjir yang terjadi di Brebes dimana ratusan hektar tambak masyarakat jebol oleh kedahsyatan air. Di Luwu Timur, Sulewesi Selatan, ratusan hektar perkebunan coklat ludes diterjang banjir.

 

Kemudian, pertanyaan yang muncul dalam benak adalah: apakah penyebab air hujan yang seharusnya menjadi berkah tersebut berbalik menjadi bencana dan petaka?  Dan yang terpenting, bagaimana melihat fenomena ini secara jernih?  

 Dua Jenis Bencana 

Pada dasarnya, bencana bisa dibagi dua: bencana yang tak dapat dicegah, dan bencana yang dapat dicegah. Tsunami, gempa bumi, gunung meletus  adalah contoh bencana yang tak dapat dicegah. Yang dapat dilakukan adalah: pertama, mempersiapkan peringatan dini, dan kedua melakukan perbaikan pasca-bencana baik yang terkait dengan fisik-material maupun kejiwaan para korban. 

 

Selanjutnya, banjir, menurut saya, adalah salah satu contoh bencana yang dapat dicegah karena terkait dengan harmoni alam yang dapat diprediksi. Misalnya, kenapa terjadi banjir bandang dan tanah longsor di Jember? Menurut aktivis lingkungan, karena telah terjadi penggundulan hutan yang ditukangi para “perampok” kayu melalui pembalakkan liarnya (illegal logging).  Artinya, banjir bandang tersebut tidak perlu terjadi, bila pembalakkan liar dicegah sejak dini.

 Jadi, alam tak bisa disalahkan sebab ia mempunyai hukumnya sendiri.  Pergantian musim hujan ke musim kemarau, dan sebaliknya  merupakan lingkaran harmoni alam. Sekali lagi, alam tak bisa disalahkan dalam nestapa ini.  Alam hanya berjalan mengikuti hukum keseimbangannya.  Alam tak dianugerahi kebebasan berkehendak seperti manusia.   Oleh karena itu, manusialah yang mesti memiliki karsa untuk beradaptasi dengan meakanisme alam tersebut karena manusia telah dikaruniai rasio untuk bertahan hidup.  Heuristika ketakutan Memang, bencana dapat dilihat dari berbagai perspektif, mulai sosiologis, geologis, atau pun juga dari sudut etis. Dari sudut etis, bencana yang diakibatkan oleh keteledoran manusia bersumber dari ketidaksadarannya terhadap bencana.  Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah etika yang mampu menyuntikkan kesadaran akan bencana.  Etika yang diperlukan adalah suatu etika yang berpilar pada pada kesadaran “apokaliptik”, yaitu kesadaran bahwa manusia tengah melangkah menuju bencana global bila manusia tetap membiarkan dinamika sekarang ini berlangsung terus-menerus. Etika ini berbentuk “heurestika” ketakutan.  Heuristika ketakutan tersebut mencakup: pertama, ketakutan terhadap kemungkinan paling buruk yang akan terjadi. Ketakutan tersebut dimunculkan dengan cara memfantasikan serta membayangkan efek-efek jangka panjang dari perkembangan yang sedang berlangsung sekarang.  Malapetaka itu dibayangkan terjadi  di masa depan.  Oleh karena itu,  kita belum dapat merasakannya, apalagi melihatnya. Walaupun demikian, kita bisa dan mesti membayangkannya.  Kedua, menciptakan perasaan yang sesuai dengan apa yang dibayangkan.  Artinya, jika kita merasakan benar-benar takut pada kemungkinan malapetaka global itu, maka kita pun dapat memicu motivasi emosional guna mengambil langkah-langkah nyata guna mengantisipasi dan menaggulanginya. Perspektif ini “seharusnya” dipakai sebagai sebuah cakrawala (horizon) kesadaran kita Kita baru akan megganti cara hidup kita bila perasaan itu telah tertanam dalam relung rasa  kita. Rasa tanggungjawab tumbuh dari heuristika ketakutan ini.  Terkait dengan banjir bandang, sebetulnya alam telah melakukan tugas-kosmik sesuai dengan hukum dan mekanismenya. Alam bergerak menurut harmoni yang mempertahankan keseimbangan dari seluruh unsur-unsurnya dari yang terbesar sampai yang terkecil. Oleh sebab itu, faktor manusialah yang patut “dicurigai” sebagai penyebab yang membuat alam “murka.”  Bertrant Russell berkata: “Kemalangan-kemalangan yang menimpa umat manusia bisa dibagi dalam dua kelompok.  Pertama, kemalangan yang disebabkan oleh lingkungan bukan-manusia, dan kedua, kemalangan yang disebabkan oleh manusia.” Kemalangan bangsa ini berasal dari ketidakpekaannya terhadap harmoni alam yang semestinya dilestarikan.   Selanjutnya, bagaimana menebarkan heuristika ketakutan tersebut pada  kesadaran diri dan masyarakat kita? Ini pekerjaan rumah (PR) seluruh anak bangsa, terutama pemerintah. Pemerintah punya perangkat yang dapat dipakai untuk mengkampanyekan heuristika ketakutan itu. Dananya darimana? Bukankah kami (warga negara) telah memberikannya melalui pajak, retribusi dan lain-lainnya?     (Radar Banten, 7 Januari 2006)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: