ISLAM-RAMAH

Desember 15, 2007

Ecocide & Nestapa Manusia Modern

Filed under: ARTIKEL MEDIA — ruhullah @ 3:27 am

Perhelatan akbar United Nations for Climate Change Conference yang berlangsung di Nusa Dua Bali, 3-14 Desember 2007 mulai diragukan keefektifannya oleh berbagai pihak, terutama oleh LSM-LSM lingkungan hidup, karena ternyata masih menjadi gelanggang pelolosan agenda dan kepentingan terselubung gerombolan kapitalis yang digendong negara-negara industri padahal merekalah yang selama ini memberi saham dan kontribusi terbesar krisis ekologis di bumi.
Sejatinya, acara sebesar itu menghasilkan komitmen masyarakat dunia untuk bersama menjaga dan melindungi bumi dari kehancuran ekologis. Terlepas dari konferensi yang tampaknya belum menjanjikan apapun, ada satu pertanyaan fundamental yang selalu mengganjal: Mengapa terjadi krisis ekologis? Jawaban pertanyaan ini bisa beragam, tergantung pendekatan teoritis apa yang digunakan dalam menganalisisnya.
Tulisan ini berikhtiar menjawab pertanyaan di atas dengan membedah masalah krisis ekologis dari optik antropologis. Artinya, krisis lingkungan hidup akan dilihat dari asumsi bahwa ada ketidakberesan konsep manusia yang dipakai oleh manusia modern yang menjadi pijakan epistemologis dalam meracik modernitas. Mungkin pendekatan ini tidak banyak dipakai sebagai kerangka analisis karena dianggap terlalu abstrak-filosofis dan cenderung berbau moralitas. Namun, persis pada titik ini, kita bisa beranjak ke analisis yang lebih teknis.
Ecocide, Membunuh Alam
Sejarah, khususnya masa modern, ditandai oleh proses yang dapat distilahkan sebagai ecocide. Istilah ini dipungut dari kata ‘eco’ yang berarti tempat tinggal semua perempuan, laki-laki, hewan, tumbuh-tumbuhan, air, udara, dan matahari. Sedangkan ‘cide’ bermakna membunuh. Ecocide bisa didefiniskan sebagai ,”tindakan terencana langsung maupun tidak langsung yang ditujukan untuk menguras dan menghancurkan serta memusnahkan eksistensi dasar ekologi dari sebuah tata kehidupan semua makhluk di dalamnya.”
F.J. Broswimmer, dalam karyanya Ecocide, A Short Story of Mass Extinction of Species (2002), menjelaskan secara terinci: ”Melakukan tindakan dengan tujuan mengganggu atau merusak seluruh atau sebagian, sebuah ekosistem manusia. Ecocide melingkupi penggunaan senjata perusak massal, apakah nuklir, bakteriologi, atau bahan kimia; percobaan yang mengakibatkan bencana alam seperti banjir; penggunaan alat-alat militer yang menyebabkan penggundulan; penggunaan bom untuk tujuan-tujuan kemiliteran; usaha untuk memodifikasi iklim atau cuaca sebagai suatu tindakan yang memusuhi alam. usaha-usaha industri besar yang eksploitatif dan akhirnya, pemindahan secara paksa dan permanen terhadap manusia atau hewan dari tempat biasa mereka hidup dalam skala besar untuk melancarkan tujuan kemiliteran atau tujuan lainnya. Konsep ecocide secara analitis diperluas untuk menggambarkan pola-pola bencana kontemporer terhadap dampak buruknya bagi lingkungan hidup dan kepunahan massal spesies antropogenik.”
Kolonialisasi Alam
Ecocide merupakan “anak kandung” dari paradigma antropologis (pencitraan manusia) yang menjadikan manusia sebagai makhluk superior. Dalam state of nature-nya, manusia memiliki rasio alamiah yang meregulasikan segenap tindakannya. Rasio alamiah tersebut adalah rasa takut akan kematian, keinginan untuk bertahan hidup (survival). Jadi, pada awalnya, manusia memenuhi kebutuhannya hanya agar mampu bertahan hidup.
“Manusia hidup dalam masa sosialisme purba (periode habilian),” kata Ali Shariati. Seiring dengan munculnya hak milik yang diperoleh via pekerjaan, manusia mulai mengekplorasi alam bukan hanya untuk bertahan hidup tetapi untuk akumulasi kepemilikan modal. Periode habilian bergeser ke periode qabilian (kapitalisme) yang ditandai dengan konsep hidup agraris. Manusia pun mulai merancang penguasaan terhadap alam. Penguasaan terhadap alam hanya mungkin dilakukan jika manusia memiliki pengetahuan tentang alam tersebut.
Karena itu, manusia meneliti dan mencoba menaklukkan alam dengan ilmu pengetahuan. “Pengetahuan adalah kekuasaan,” demikian celoteh Bacon. Manifestasi proposisi tersebut aktual secara nyata dalam pengembangan sains dan teknologi. Namun, progresivitas sains dan teknologi tidak mampu dikendalikan. Dinamika ini membuat sains dan teknologi tidak lagi berperan sebagai “perpanjangan” tangan manusia, tetapi menjelma menjadi ancaman bagi kehancuran alam. Teknologi menjadi senjata makan tuan. Hans Jonas (1903-1993) menyebut situasi ini sebagai “apokaliptik”: Kita menuju malapetaka universal apabila kita membiarkan dinamika sekarang berlangsung terus.
Nestapa Manusia Modern
“Manusia modern telah membakar tangannya dengan api yang telah dinyalakannya karena ia telah lupa siapakah ia itu sesungguhnya,” tulis Sayed Hosein Nasr dalam Islam and the Plight of Modern Man (1975). Menurut Nasr, masalah penghancuran lingkungan oleh teknologi, krisis ekologi, dan lain-lainnya, bersumber dari penyakit amnesis atau pelupa yang diidap manusia modern.
Manusia modern telah lupa, siapakah ia sesungguhnya. Hal ini disebabkan karena manusia modern adalah manusia yang hidup di pinggir lingkaran eksistensi. manusia moderen mengarahkan diri “ke luar”, meraup pengetahuan eksternal dan memproyeksikan diri dengan pengetahuan ekternal tersebut. Manusia modern pun teralienasi (terasing) dari dirinya. Ia hanya mengenal dunia eksternal yang bersifat material.
Horizon pikir dan aksi pun pun menjadi sangat materialistik dalam memandang dunia. Orientasi hidup manusia modern berujung pada akumulasi kebahagiaan material. Akhirnya, manusia modern tidak mengenal lagi fitrah dirinya “yang spiritual.” Inilah krisis dari semua krisis kemanusiaan: tiadanya optik spiritual dan radar ruhani dalam memandang dunia. Alam di persepsi hanya sekedar benda material an sich, tak memiliki kesadaran, yang karenanya tidak ada masalah jika diekploitasi secara masif demi kebahagiaan material manusia. Wa Allahu a’lam bisshawab.

Radar Banten, 13-Desember-2007

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: