ISLAM-RAMAH

Desember 5, 2007

Solusi Semu Konflik Timteng

Filed under: ARTIKEL MEDIA — ruhullah @ 3:25 am
Lawatan singkat Presiden Pakistan Pervez Musharraf ke Indonesia tampaknya mengusung agenda besar.Hal ini tampak dari perbincangan seriusnya dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tentang upaya penyelesaian konflik di Timur Tengah (Timteng).

Namun, yang dilontarkan dua kepala negara tersebut ternyata hanya solusi semu konflik Timteng. Beberapa butir solusi semu itu antara lain menciptakan harmoni sekaligus mempersatukan kelompok-kelompok berpengaruh, membuat forum diskusi antarnegara muslim,serta mengundang ulama, baik dari Sunni maupun Syiah guna mencari solusi yang efektif bagi berbagai persoalan di dunia Islam (SINDO, 1/2/2007).

Pertanyaan yang layak dilontarkan adalah, bukankah ide-ide tersebut telah banyak diserukan dalam berbagai forum, seperti dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI), tanpa hasil? Dengan kata lain, lontaranlontaran ide kedua presiden tersebut bukan sesuatu yang baru, bahkan cenderung klise, tanpa aksi konkret. Solusi semu konflik di berbagai negara muslim, khususnya di kawasan Timteng, lahir dari satu kekeliruan epistemologis, yakni cara memandang permasalahan yang mengasumsikan bahwa konflik tersebut “murni” berasal dari kalangan muslim sendiri. Artinya, konflik di Palestina misalnya, disebabkan faktor internal, yakni perseteruan politik Hamas dan Fatah.

Padahal, jika ingin melihat konflik Timteng secara lebih proporsional, harus ditempatkan dalam konstelasi politik internasional. Maksudnya, konflik di Timteng tidak bisa dilepaskan dari konteks perebutan lokus kekuasaan politik dunia, di mana Amerika Serikat (AS) sebagai aktor utamanya. Dalam konstelasi politik internasional, ada beberapa hal yang menjadi catatan penting terkait dengan posisi negara-negara muslim dan hegemoni politik internasional AS, yaitu hierarki militer dan trinitarianisme global.

Hierarki Militer

Seusai Perang Dunia (PD) II, terjadi perlombaan senjata yang membentuk struktur hierarki orde militer dunia.Perlombaan senjata tersebut mengantarkan AS dan Uni Soviet di puncak piramida struktur. Setelah rontoknya Soviet, AS menjelma menjadi superpower tunggal. Dinamika perlombaan senjata diwarnai polarisasi negara. Saat ini bisa terlihat adanya negara pusat (center) dan negara pinggir (periferi).Negara pusat adalah negara produsen persenjataan militer, sedangkan negara pinggir adalah negara konsumen peralatan militer.

Oleh sebab itu,muncul ketergantungan dari negara-negara pinggir terhadap negara pusat. AS tahu betul bahwa kini banyak negara yang sangat bergantung padanya, termasuk negara-negara muslim.Dalam konteks kebergantungan pada peralatan militer itu, terutama suku cadang senjata,AS mampu dengan mudah mendulang dukungan dari beberapa negara pinggir dan sekutunya. Beberapa negara muslim sekutu AS adalah Arab Saudi dan Pakistan.Karena itu,pembacaan kita terhadap lawatan Presiden Pervez Musharraf pun harus kritis. Artinya, jangan sampai slogan solidaritas muslim dunia untuk pemecahan krisis Timteng hanya sekadar kedok propaganda politik negeri-negeri muslim sekutu AS untuk memperkuat hegemoni politik AS di dunia Islam.

Trinitarianisme Global

Selanjutnya, krisis dan konflik Timteng tidak objektif jika tidak menyinggung faktor Israel sebagai salah satu “duri dalam daging” perdamaian Timteng. Israel adalah negeri yang “secara resmi” menggunakan praktik teror sebagai instrumen politiknya. Dalam kasus Palestina misalnya, Israel ibarat perampok yang menggasak harta korbannya, dan perampok itu tidak akan hidup tenang, selama pemilik harta yang sah masih tetap hidup dan menuntut kembali hak miliknya yang direnggutnya dengan kekerasan.

Ironisnya, Israel adalah negara yang tak terjamah oleh hukum internasional. Israel seolah-olah bukan warga bumi yang harus mematuhi kesepakatan masyarakat dunia untuk menghapuskan imperialisme dan pelanggaran hak-hak asasi manusia. Mengapa Israel besar kepala dalam konteks perdamaian Timteng? Karena Israel termasuk dalam jaringan—mengutip istilah Ali Shariati—trinitarianisme global. Dalam perspektif Shariatian, trinitarianisme merupakan wujud nyata dari tatanan qabilian, sebuah tatanan imperialis. Coba kita cermati kasus Palestina.

Serdadu-serdadu Israel dengan leluasa meluluhlantakkan infrastruktur Palestina, mulai rumah penduduk sipil sampai gedung perdana menteri. Lebanon pun tidak luput dari keberingasan teror Israel.Dan anehnya, alih-alih mengutuk keberingasan Israel, AS malah mendukung aksi kekerasan militer Israel tersebut serta menegaskan kembali dukungannya atas Israel. Menariknya, Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) hanya sering menyampaikan rasa prihatinnya tanpa berani mengutuk. Inilah tiga kekuatan trinitarianisme global: Israel dengan terornya,AS dengan dukungan politik internasionalnya, dan impotensi PBB.

Tanpa mengurangi rasa hormat pada PBB,nasib Palestina tidak bisa diserahkan sepenuhnya pada PBB. Masih lekat dalam memori kita bagaimana PBB membiarkan tragedi pemusnahan massal muslim Bosnia oleh para kanibal Serbia. Artinya, PBB tidak terlalu banyak diharapkan perannya sebab telah terkooptasi jaring trinitarianisme global yang dikomandani AS. Bentuk kooptasi tersebut adalah masih lestarinya status keanggotaan tetap Dewan Keamanan (DK) dan hak veto dalam tubuh PBB. Menurut Sayyid Ali Khamenei dalam pidatonya di depan persidangan ke-42 Sidang Umum PBB (22 September 1987), selama kedua “kanker” tersebut masih melekat erat dalam tubuh PBB,maka ”bangsa-bangsa di dunia akan terus berpikir bahwa tidak ada tempat untuk menyelesaikan permasalahan internasional.

” Memang, pada akhirnya negerinegeri muslim sudah seharusnya mensinergikan solidaritas guna memecahkan krisis Timteng. Selain itu, negaranegara muslim pun selayaknya proaktif mendorong reformasi di tubuh PBB guna menciptakan tatanan dunia yang berkeadilan, memenuhi kedamaian, dan menghargai kemanusiaan.(*) Sindo, Sabtu, 03/02/2007

1 Komentar »

  1. sudah seharusnya negara-negara muslim untuk keluar dari keanggotaan pbb, dan mengoptimalkan kerjasama regional diantara mereka sendiri guna mengimbangi kekuatan dan dominasi barat yang di sudah terbukti tidak pernah membela kepentingan negara-negara muslim. akan tetapi kapan negara-negara islam itu sadar akan hal ini?……

    Komentar oleh amad — Januari 10, 2008 @ 5:49 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: