ISLAM-RAMAH

November 27, 2007

Jus In Bello Perang Melawan Terorisme

Filed under: ARTIKEL MEDIA — ruhullah @ 3:00 am

Pascatragedi 11 September, pemerintahan George W Bush sukses menggelar kampanye perang melawan terorisme. Perang tersebut bukan perang biasa, yakni negara lawan negara, namun negara melawan berbagai bentuk teroris. Alqaidah-nya Bin Ladin adalah target pertama, meski tak pernah diklaim sebagai satu-satunya. Langkah AS tersebut terkait erat dengan dua hal. Pertama, penciptaan narasi 11 September sebagai raison d’etre perang, kedua, hierarki militer dunia.

Narasi besar
Sebagaimana sebuah perang, perlu ada pihak yang benar (baik) dan pihak yang salah (jahat). Oleh karena itu, AS menciptakan narasi besar (grand narrative) yang dilengkapi dengan kata-kata kunci. Narasi besar dibutuhkan untuk memberikan kerangka rujukan (frame of reference) bagi suatu kesadaran historis tentang bahaya terorisme.

Tampaknya, AS sadar betul bahwa perang melawan terorisme bukan terjadi hanya pada medan politik-empirik, tapi juga pada tataran kesadaran. Kesadaraan berhubungan dengan rasionalitas. Rasionalitas manusia terdeterminasi oleh kosa-kata keseharian. Oleh sebab itu, kesuksesan perang melawan terorisme bergantung pula pada sejauhmana AS merekayasa dan mengontrol rasionalitas manusia. Tragedi 11 September diubah dari fakta historis menjadi kesadaran historis melalui sebuah The American ideological system berbentuk narasi besar.

Setelah itu, setiap kosa kata yang digunakan dalam narasi besar itu didefinisikan menurut kepentingan AS. Hal ini dilakukan untuk membatasi pandangan manusia tentang realitas. AS memiliki kamus sendiri tentang tragedi 11 September yang dipropagandakan melalui jaringan media yang sangat besar serta teknologi informasi ke seluruh penjuru dunia.

Kosa kata paling penting dalam narasi tersebut adalah terorisme. Perhatikan saja salah satu penterjemahan makna terorisme versi AS. Terorisme diartikan sebagai pembunuhan secara nyicil. Seperti kelompok-kelompok kecil yang menentang kelaliman di Palestina disebut terorisme. Sedangkan serdadu Israel yang menembaki pemuda-pemuda Palestina serta menginvasi dan menggerus Lebanon selatan secara sangat kejam tak dimasukkan sebagai bentuk terorisme. Pembunuhan secara massal dan ditukangi oleh suatu negara tidak diartikan sebagai terorisme.

Fungsi narasi 11 September plus kosa katanya tersebut seperti halnya fungsi narasi holocaust dalam kasus pembantaian Yahudi di Eropa. Narasi holocauts menjadi kerangka rujukan untuk menjustifikasi segala tindak-tanduk Israel terhadap bangsa yang lain. Eropa enggan bertindak terhadap kekejian Israel itu karena perasaan bersalah yang masuk ke relung kesadaran historis mereka.

Hierarki militer
Kesuksesan kampanye melawan terorisme pun terkait dengan hierarki militer dunia. Usai Perang Dunia (PD) II, terjadi perlombaan senjata yang membentuk struktur hierarki orde militer dunia. Perlombaan sejata tersebut mengantarkan AS dan Uni Soviet di puncak piramida struktur. Setelah rontoknya Soviet, AS menjelma menjadi super power tunggal.

Dinamika perlombaan senjata diwarnai polarisasi negara. Saat ini bisa terlihat adanya negara pusat (center) dan negara pinggir. Negara pusat adalah negara produsen persenjataan militer. Sedangkan negara pinggir adalah negara konsumen peralatan militer. Oleh sebab itu, muncul ketergantungan dari negara-negara pinggir terhadap negara pusat.

AS tahu betul bahwa kini banyak negara yang sangat bergantung padanya, termasuk negara-negara Muslim. Dalam konteks ketergantungan pada peralatan militer itu, terutama suku cadang senjata, AS mampu dengan mudah mendulang dukungan dari beberapa negara pinggir dan sekutunya. Singkatnya, dukungan terhadap AS bukan pertama-tama karena kesadaran melawan terorisme, tapi lebih disebabkan kebergantungan negara-negara pinggir terhadap AS.

Jus in bello
Salah satu fakta teranyar dalam perang melawan terorisme adalah pengakuan Bush tentang adanya penjara rahasia AS yang diperuntukkan bagi para ‘tersangka’ teroris. Dalam penjara-penjara tersebut, kemungkinan mereka untuk mendapatkan hak-hak sebagai tersangka sangatlah sulit. Di antara hak-hak itu adalah hak memperoleh akses terhadap barang bukti. Selain itu, mereka yang mendekam dalam penjara rahasia itu bisa dipastikan sangat rentan terhadap pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Kasus Khaled Al Masri, warga Jerman, bisa menjadi salah satu bukti bagi kekhawatiran itu. Ia diculik di Makedonia dan ditahan selama 5 bulan sebelum akhirnya dia diterbangkan ke Afghanistan. Namun akhirnya, pihak AS mengakui bahwa mereka salah tangkap (Republika, 9/9). Fakta ini menunjukkan, AS menghalalkan cara-cara yang secara moral tidak dibenarkan untuk menjalankan kepentingannya.

Padahal, dalam konflik apapun, teori perang yang adil menyediakan dua prasyarat. Pertama, harus ada jus ad bellum, artinya mesti ada alasan yang baik untuk melaksanakan perang. Perang melawan terorisme memiliki dasar pijak yang kuat yakni menghukum siapa pun yang bertanggung jawab di balik serangan 11 september.

Kedua, harus ada jus in bello, yakni harus dilakukan dengan cara yang benar secara moral. Jika perang melawan terorisme dilakukan dengan cara-cara tidak beradab maka dikhawatirkan kampanye melawan terorisme bakal berubah menjadi alat picu bagi aksi-aksi terorisme yang baru.

( Republika, 13 September 2006 )

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: