ISLAM-RAMAH

November 27, 2007

Demitologi Holocaust

Filed under: ARTIKEL MEDIA — ruhullah @ 2:51 am

Konferensi bertema Review of the Holocaust: Global Vision di Teheran, , menuai kecaman dari
Jerman, , dan Amerika Serikat. Kecaman tersebut dapat dipahami sebab penyangkalan holocaust sebagai fakta sejarah akan melukai hati orang-orang yang selamat dari “neraka” holocaust, dan keluarga korban tentunya.

Namun, menurut Rasul Mousavi, Ketua Institut Studi Politik dan Internasional Kementerian Luar Negeri Iran selaku penyelenggara, konferensi itu tidak dalam konteks pembuktian kebenaran peristiwa holocaust, tapi lebih dalam konteks pemberian ruang kebebasan bagi siapa pun yang memiliki pandangan berbeda tentang holocaust. Di Eropa, holocaust adalah masalah yang tidak bisa dibahas secara bebas. Beberapa orang pernah dijatuhi hukuman karena mempersoalkan holocaust. David Irving, seorang ahli sejarah revisionis Inggris, dijatuhi hukuman penjara selama tiga tahun oleh pengadilan
Vienna karena menyatakan jumlah korban pembantaian masal dibesar-besarkan.

Robert Faurisson, seorang peneliti Prancis, pernah dijatuhi penangguhan hukuman selama tiga bulan di Prancis pada Oktober 2006 karena menyangkal adanya kamar gas dalam holocaust. Lalu, Fredrick Toeben, seorang Jerman kelahiran Australia, juga sempat dipenjara selama beberapa bulan dengan tuduhan memicu kebencian rasial di Jerman karena menyangkal skala pembantaian masal.

Anti-Semitisme Hitler

Wacana holocaust selalu dikaitkan dengan anti-semitisme yang telah ada ribuan tahun silam di Mesir saat rezim Firaun, lalu ketika Nebukadnezar menguasai Babilonia, dan pada masa imperium Romawi. Bahkan, di abad pertengahan, orangorang Kristen memperlakukan Yahudi dengan menyebut mereka sebagai pengkhianat Kristus. Di abad ke-19, Yahudi disingkirkan dari Eropa karena dipandang gagal berfungsi sebagai perantara kelas elite dan kelas miskin, kaum terpelajar yang dekaden, kelompok bisnis eksploitatif, agen konspirator, dan tukang sogok pejabat pemerintahan.

Di mana pun Yahudi berada, mereka dianggap tidak memiliki nasionalisme karena mempunyai sindrom untuk membesarkan bangsanya sendiri. Puncak anti-semitisme adalah saat Adolf Hitler berkuasa. Selain masalah ras, Hitler memiliki alasan mengapa ia membenci Yahudi. Alasan itu––seperti dikutip David Cooperman dan Walter dalam Power and Civilizations, Political Thought in the Twentieth Century––adalah pengkhianatan Yahudi dalam Perang Dunia (PD) I. Menurut Hitler, Yahudi berkomplot dengan musuh-musuh Jerman yang membuat Jerman kalah dalam PD I. Dengan alasan itu, Yahudi tidak punya hak untuk menjadi warga negara Jerman.

Menurut Hitler, di mana pun bangsa Yahudi bermukim, mereka mempertontonkan kebohongan kolosal bahwa mereka berjuang untuk bangsa yang didiaminya. Padahal, Yahudi selalu berjuang untuk bangsa mereka sendiri (Yahudi). Bagi Hitler, Yahudi adalah faktor negatif penghancur bangsa melalui dominasi ekonomi, penaklukan moral, etika, dan politik. Penaklukan ekonomi dilakukan via monopoli sumber-sumber ekonomi suatu bangsa, menguasai korporasi-korporasi besar serta sistem perbankan dan lainlainnya. Penaklukan moral dan etika dilakukan melalui ajaran-ajaran keagamaan dan etika yang dirumuskan oleh para filosof dan pemikir Yahudi.

Penaklukan politik dilakukan dengan cara propaganda prinsip-prinsip demokrasi. Demokrasi adalah musuh Jerman karena prinsipprinsipnya dirumuskan oleh Yahudi. Logikanya, menurut Hitler, demokrasi menekankan opini publik. Sedangkan opini publik tersebut tidak murni aspirasi rakyat. Opini publik adalah hasil bentukan media masa yang sebagian besar sahamnya dimiliki Yahudi. Yahudi menjadikan media masa sebagai instrumen untuk memenangkan kepentingan politiknya.

Logika Ahmadinejad

Berbeda dengan Hitler, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad berbicara tentang holocaust tidak dalam konteks antisemitisme tetapi lebih menekankan bahwa holocaust tidak boleh menjadi mitos yang haram untuk diteliti dan menjadi alasan pembenar bagi penindasan
atas rakyat Palestina. Logika di balik ide Ahmadinejad adalah bahwa manusia tidak melihat dunia dengan mata telanjang.

Manusia memandang dunia dengan memakai bingkai pikir tertentu. Fungsi bingkai pikir persis seperti kacamata. Tembok yang berwarna putih akan tampak hitam bila kita memakai kacamata, dan tampak biru jika kita menggunakan kacamata biru. Di dalam pikiran setiap orang pasti memiliki bingkai pikir tersebut. Oleh sebab itu, satu peristiwa bisa memiliki makna yang berbeda tergantung bingkai pikir yang digunakan. Salah satu bentuk bingkai berpikir yang paling purba adalah mitos. Menurut Van Peursen, mitos adalah sebuah cerita yang memberikan pedoman, arah tertentu kepada sekelompok orang, baik dituturkan, ditarikan atau juga dipentaskan. Barat menjadikan holocaust sebagai mitos, sebuah bingkai pikir.

Artinya, holocaust dijadikan sebagai kacamata untuk melihat seluruh kenyataan, baik kenyataan politik, ekonomi, maupun budaya. Awalnya, holocaust hanyalah fakta tentang pembersihan Yahudi dari Jerman oleh Nazi pimpinan Adolf Hitler. Setelah Hitler jatuh dari tampuk kediktatorannya, holocaust menjadi cerita yang tabu diperdebatkan kebenarannya. Padahal, bila holocaust adalah fakta sejarah, maka selayaknya pintu pengkajian dan penelitian ilmiah tidak ditutup apalagi dikunci. Akhirnya, holocaust menjelma menjadi mitos yang digunakan untuk melihat realitas. Relasi Barat dan Yahudi pun dibaca dengan kacamata mitos holocaust. Akibatnya, muncul rasa bersalah terus-menerus dalam kesadaran masyarakat Jerman khususnya dan Eropa pada umumnya. Perasaan bersalah tersebut bersifat regulatif.

Artinya, perasaan bersalah itu menjadi faktor yang menuntun tindakan dan kebijakan Barat dalam relasinya dengan
. Oleh sebab itu, tidak aneh bila pers Jerman misalnya, suka membesar-besarkan heroisme pasukan
dalam perang melawan bangsa Arab dengan maksud seolah-olah mengecilkan kebangkitan Yahudi pasca holocaust—dan dengan demikian mengurangi bobot “dosa” bangsa Jerman atas Yahudi. Restu Barat atas berrdirinya negara
pun bisa dibaca dalam konteks kompensasi rasa bersalah ini. Yang paling mengerikan dari mitos holocaust adalah penggunaannya sebagai alat pembenaran penindasan
atas Palestina. Dalam bingkai mitos holocaust, pembunuhan warga Palestina oleh serdaduserdadu
tidak seberapa dibandingkan penderitaan yang dialami oleh Yahudi di Jerman. Tampaknya, logika inilah yang mengantarkan Ahmadinejad berkata bahwa holocaust adalah mitos.

Membongkar Mitos

Harus diakui, tragedi holocaust pasti mengusik sisi kemanusiaan kita, termasuk Ahmadinejad. Holocaust adalah salah satu horor kemanusiaan dalam sejarah manusia modern yang menjadi mimpi buruk peradaban kita. Meskipun demikian, holocaust sebagai mitos wajib dibongkar. Sudah saatnya holocaust ditempatkan sebagai fakta sejarah yang terbuka untuk teliti secara ilmiah. Sebab, bila holocaust tetap berstatus sebagai mitos, maka dikhawatirkan tetap dijadikan sebagai alat pembenar kezaliman
di tanah Palestina.(* )
(Koran Sindo, Desember 2006)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: