ISLAM-RAMAH

November 27, 2007

BOM PALU dan MITOS TERORISME

Filed under: ARTIKEL MEDIA — ruhullah @ 2:54 am

Lagi-lagi bom meledak di Pasar Maesa, Palu, di penghujung tahun 2005.
Apakah yang terlintas dalam pikiran saat mendengar kata bom? Hampir
pasti kata ”terorisme”. Lalu, bila mengklik folder terorisme dalam
file pikir kita, maka kemungkinan besar kata ”Islam” akan tampil.

Memang, sejak tragedi 11 September, Bom Bali yang disusul Bom Kuningan
dan peristiwa lainnya, isu terorisme jadi populer. Sayangnya, kata
terorisme kerap muncul bersanding dengan kata Islam.

Hal ini disebabkan ”perang terminologi” dalam ruang informasi publik.
Harus diakui bahwa sejumlah oknum pengebom adalah Muslim. Namun, pada
titik ini mesti dipilah antara Islam sebagai ajaran (Islam noumena)
dengan Islam sebagai gejala dan kenyataan empiris (Islam fenomena).
Garis tegas ini yang harus ditarik saat meneropong fenomena umat Islam,
agar tidak terjadi kesesatan berfikir.

‘Boom’ terorisme tak terlepas dari peran media informasi yang terkait
dengan revolusi teknologi telekomunikasi dan informasi, yang mencipta
dunia tanpa sekat geografis lagi. Kini, manusia hidup dalam sebuah
global village (desa buana). Dan teknologi satelit memudahkan komunikasi
dan pengaksesan informasi.

Dari kamar pribadi, seseorang mampu menjelajah ke berbagai tempat dan
peristiwa secara live, mulai perhelatan sepak bola di Amerika Latin,
sampai tumbangnya diktator di Timur Tengah. Batas-batas geografis
luluh-lantak oleh beberapa digit nomor remote control TV atau keyboard
computer.

Dalam atmosfer dunia tanpa batas tersebut, marak pemberitaan tentang
peristiwa-peristiwa kekerasan (pengeboman misalnya), yang direkam oleh
media massa dan memadatkannya menjadi satu file, yakni terorisme. Lantas
kata terorisme menelusup ke kesadaran masyarakat bumi via kosakata yang
dipopulerkan oleh media masa tersebut.

Dunia rekonstruksi.

Jadi, teknologi telekomunikasi dan informasi telah menduplikasi dunia.
Yakni dunia yang sebenarnya dan dunia yang direkonstruksi. Saat ini,
manusia modern sukar dan hampir tidak mungkin menatap dunia yang
sebenarnya. Yang kita saksikan tiap hari adalah dunia yang
direkonstruksi.

Proses rekonstruksi itu berlangsung dalam dua tahap. Pertama, tahap
rekonstruksi internal di mana peristiwa-peristiwa ”dipermak” oleh
unsur kognitif manusia (ruang dan waktu misalnya) dalam bingkai pikir
individu. Artinya, manusia tak pernah melihat suatu peristiwa dengan
mata ‘telanjang’, tapi selalu menggunakan kacamata perspektif tertentu.
Jika kacamatanya hitam, maka hitam pula peristiwa itu.

Kedua, tahap rekonstruksi eksternal di mana individu menerima kacamata
baru dari luar dirinya. Rekonstruksi ekternal inilah yang
mengkhawatirkan karena beberapa sebab. Sebab pertama, informasi yang
kita terima tak sepenuhnya netral. Dalam informasi termuat nilai-nilai,
misi, dan pandangan hidup tertentu. Informasi merupakan perumusan
kenyataan dari perspektif tertentu. Karena itu, bisa jadi sesama anak
bangsa cakar-cakaran karena informasi adu-domba yang terukir dalam
kesadarannya.

Sebab kedua, rekonstruksi ini bisa dalam bentuk pemaksaan. Pemaksaan di
sini bukan dalam arti dipaksa dengan kekerasan, namun dalam makna tidak
diberikan pilihan. Dengan kata lain, ”monopoli media”.

Lalu, media internasional, yang dikuasai oleh negeri-negeri besar,
secara sistematis memberondong ruang kesadaran kita dengan istilah
terorisme yang telah didefinisikan. Terorisme kerap diartikan sebagai
pembunuhan secara nyicil. Kelompok-kelompok kecil yang menentang
kelaliman di Palestina disebut terorisme. Sedangkan serdadu Israel yang
menembaki pemuda-pemuda Palestina tak dijuluki sebagai terorisme.

Begitu pula, peluluhlantakan Irak oleh pasukan AS tidak dikutuk sebagai
bentuk terorisme zaman nalar ini. Jadi, pembunuhan secara masal dan
ditukangi oleh suatu negara tidak diartikan sebagai terorisme.
Singkatnya, terorisme adalah mitos yang diciptakan oleh media informasi
tertentu. Bahkan, bisa jadi terorisme lebih merupakan fiksi daripada
fakta.

Selanjutnya, terkait dengan citra Islam. Dengan adanya isu terorisme,
jelas citra Islam ”terpuruk” sampai titik terendah. Meskipun
tokoh-tokoh Islam berupaya memaparkan bahwa Islam tidak merestui
kekerasan dan terorisme, serta bahwa pemaknaan jihad dengan kekerasan
adalah tafsiran yang keliru, hal itu belum cukup.

Bila diilustrasikan, media massa sebagai pelukis yang menggambar suatu
lukisan yang buruk, maka bukan lukisannya yang disalahkan, tapi
pelukisnya. Maksudnya, yang harus dibetulkan adalah pelukisnya, bukan
lukisannya. Artinya, untuk menampilkan citra Islam yang positif, yang
harus dilakukan adalah membongkar kekeliruan-kekeliruan pencitraan media
massa.

Guna mencegah efek domino Bom Palu pada penyimpulan identifikasi
terorisme dan Islam, tak perlu menghapus istilah terorisme, tapi
proporsionalitas informasilah yang dibutuhkan. Ini tugas media massa
Indonesia. Sehingga terorisme bukan ‘sekadar mitos’ tapi lebih punya
‘muatan rasional’.
Republika, 03 Januari 2006.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: