ISLAM-RAMAH

November 21, 2007

MENJIWAI ALTRUISME PAHLAWAN

Filed under: ARTIKEL MEDIA — ruhullah @ 3:47 am

10 November 1945 adalah hari bersejarah, hari perlawanan arek-arek Suroboyo terhadap pasukan sekutu yang ditunggangi kolonial Belanda. Kini, 10 November diperingati sebagai hari pahlawan yang merupakan wujud apresiasi anak-anak bangsa terhadap orang-orang yang berjasa merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dari belenggu penjajahan.
Hakikat Hari Pahlawan
Namun, yang perlu selalu diingat pada tiap peringatan hari bersejarah adalah kemungkinan keterjebakan pada ritualisme dan nostalgia simbolik sehingga makna hakiki dan hikmah asasi peringatannya alpa kita petik. Peringatan Hari Pahlawan terjerumus dalam ritualisme jika hanya dilakukan sebagai rutinitas, kegiatan yang diulang-ulang untuk memenuhi agenda tahunan. Akhirnya, Hari Pahlawan dimaknai sebagai upacara bendera an sich, dan aktivitas simbolik lainnya yang tak menyisahkan apapun pada ruang jiwa sebagai pemaknaan eksistensialnya. Hari pahlawan pun terjerembab dalam kubangan nostalgia jika peringatan itu ditujukan hanya untuk mengenang heroisme para para pahlawan di masa silam. Bernostalgia tidak salah jika dengan penyelaman kita ke masa silam itu bukan romantisme historis semata tetapi mampu memetik pelajaran bagi masa kini.
Meskipun demikian, peringatan simbolik hari pahlawan tetap diperlukan sebab manusia membutuhkan simbol untuk mengkomunikasiakn sesuatu, mengembalikan ingatan dan kesadaran. Peringatan Hari Pahlawan merupakan simbol, kulit yang membungkus isi hakiki dari sesuatu. Karena itu, agar mampu menjamah isi dan makna Hari Pahlawan, kita harus mampu “menyeberangi” simbol-simbol yang membungkus peringatan tersebut. Dibutuhkan pembacaan yang cerdas pada peringatan Hari Pahlawan agar merengkuh massage-nya.
Penyeberangan simbol itu bisa dimulai dari pertanyaan: apakah hakikat Hari Pahlawan itu? Hari Pahlawan merupakan momen atau penggalan waktu yang digunakan bangsa Indonesia untuk mengembalikan memori dalam relung nurani serta kesadaran anak-anak bangsa bahwa kemerdekaan dan kebebasan tanah air ini tidak gratis, tapi direbut dengan pertaruhan nyawa orang-orang yang rela mempersembahkan jiwa dan raganya. Hari Pahlawan tidak ditujukan untuk mengenang para pahlawan sebagai manusia individual (makhluk biologis). Karena itu, kesuksesan peringatan Hari Pahlawan tidak diukur, seberapa banyak kita menghapal nama-nama para pahlawan tetapi lebih dilihat dari, sejauhmana kita menjiwai “spirit” para pahlawan. Karena itu , titik bidik Hari Pahlawan adalah memori dan kesadaran. Keduanya bersifat batin dan kejiwaan, bukan sesuatu yang lahiriah dan material. Lalu, apakah yang perlu diserap oleh memori dan kesadaran dalam konteks Hari Pahlawan? Seperti dikemukakan diatas, yang perlu diadopsi dari para pahlawan adalah spirit, jiwa kepahlawanan. Apakah jiwa kepahlawanan itu?
Jiwa Kepahlawanan
Para pahlawan selalu dikenang karena mereka adalah manusia istimewa. Keistimewaan mereka tidak terletak pada fisik-raga dan hal-hal material. Mereka istimewa karena jiwa mereka memiliki keutamaan. Keutamaan itulah jiwa kepahlaawan. Jiwa kepahlawanan memiliki unsur-unsur dasar berupa daya. Daya jiwa kepahlawanan ynag utama adalah keikhlasan. Keikhlasan adalah daya jiwa yang merupakan tanda kebesaran jiwa dimana seorang melakukan sesuatu dengan penuh ketulusan, tanpa pamrih dan tiadanya harapan untuk mendapatkan imbalan dari apa yang dilakukannya. Para pahlawan mengangkat senjata, merebut dan mempertahankan kemerdekaan dipicu oleh panggilan jiwa untuk mempersembahkan kemerdekaan untuk anak cucu mereka tanpa keinginan untuk dikenang atau dicatat sebagai pahlawan dalam lembaran sejarah bangsa ini, tanpa menghasratkan efek material di kemudian hari. Keikhlasan itulah yang membuat jiwa mereka kuat dan melahirkan sikap berkorban meskipun harus beratuh raga dan nyawa. Sikap berkorban demi kebahagiaan generasi mendatang tersebut merupakan puncak altruisme, sikap mementingkan kepentingan orang lain dibandingkan keinginan individual. Saya yakin, dalam relung diri para pahlawan pun terselip keinginan untuk hidup damai bersama keluarga dengan segenap kesenangan material tanpa perlu terjun ke medan laga. Namun, para pahlawan menyimpan dalam-dalam keinginan egoistik tersebut dalam jiwa dan menguncinya rapat-rapat. Mereka memilih hidup sebagai altruis sejati, yang mengedepankan kepentingan bersama dan kepentingan generasi mendatang mengalahkan kepentingan egoistiknya. Jiwa kepahlawan ( keikhlasan berkorban demi kepentingan bersama) inilah yang langka kita temui saat ini. Di berbagai media kita lebih sering disuguhi manifestasi jiwa para “pengkhianat” bangsa yang berani menggadaikan bangsa ini demi kepentingan pribadinya dengan melakukan praktek korupsi, suap, kriminalitas yang merugikan masyarakat, dan melakoni dagelan politik demi akumulasi kekuasaan sesaat. Selayaknya, sebagai bangsa yang bernurani, kita malu pada para pahlawan. Wa Allahu a’lam bisshawabi.***
(Radar Banten, 12 November 2007)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: