ISLAM-RAMAH

November 21, 2007

MEMBACA NARASI 11 SEPTEMBER

Filed under: ARTIKEL MEDIA — ruhullah @ 3:54 am

Pasca tragedi 11 September, pemerintahan George W. Bush sukses menggelar kampanye perang melawan terorisme. Perang tersebut bukan perang biasa, negara lawan negara, namun negara melawan berbagai bentuk teroris. Al-Qaedah-nya Bin Laden adalah target pertama, meski tak pernah diklaim sebagai satu-satunya. Kesuksesan AS tersebut terkait erat dengan dua hal. Pertama, penciptaan narasi 11 September sebagai raison d’etre perang, kedua, hirarki militer dunia.

Narasi Besar
Sebagaimana sebuah perang, perlu ada pihak yang benar (baik) dan pihak yang salah (jahat). Oleh karena itu, AS menciptakan narasi besar (grand narrative) yang dilengkapi dengan keyword (kata-kata kunci). Narasi besar dibutuhkan untuk memberikan kerangka rujukan (frame of reference) bagi suatu kesadaran historis tentang bahaya terorisme.
Tampaknya, AS sadar betul bahwa perang melawan terorisme bukan terjadi hanya pada medan politik-empirik, tapi juga pada tataran kesadaran. Kesadaraan berhubungan dengan rasionalitas. Rasionalitas manusia terdeterminasi oleh kosa-kata keseharian.
Oleh sebab itu, kesuksesan perang melawan terorisme bergantung pula pada sejauhmana AS merekayasa dan mengkontrol rasionalitas manusia. Tragedi 11 september diubah dari “fakta” historis menjadi kesadaran historis melalui sebuah The American ideological system berbentuk narasi besar.
Setelah itu, setiap kosa kata yang digunakan dalam narasi besar itu didefinisikan menurut kepentingan AS. Hal ini dilakukan untuk membatasi pandangan manusia tentang realitas. AS memiliki kamus sendiri tentang tragedi 11 September yang dipropagandakan melalui media teknologi informasi ke seluruh penjuru dunia.
Kosa kata paling penting dalam narasi tersebut adalah terorisme. Perhatikan saja salah satu penterjemahan makna terorisme versi AS. Terorisme diartikan sebagai pembunuhan secara nyicil. Seperti kelompok-kelompok kecil yang menentang kelaliman di Palestina disebut terorisme. Sedangkan serdadu Israel yang menembaki pemuda-pemuda Palestina serta menginvasi dan menggerus Lebanon Selatan tak dimasukkan sebagai bentuk terorisme. Pembunuhan secara masal dan ditukangi oleh suatu negara tidak diartikan sebagai terorisme.
Fungsi narasi 11 September plus kosa katanya tersebut seperti halnya fungsi narasi Holocaust dalam kasus pembantaian Yahudi di Eropa. Narasi Holocauts menjadi kerangka rujukan untuk menjustifikasi segala tindak-tanduk Israel, dan Eropa enggan bertindak terhadapnya karena perasaan bersalah yang masuk ke relung kesadaran historis mereka.

Hirarki Militer
Kesuksesan kampanye melawan terorisme pun terkait dengan hirarki militer Dunia. Usai Perang Dunia (PD) II, terjadi perlombaan senjata yang membentuk struktur hirarki orde militer dunia. Perlombaan sejata tersebut mengantarkan AS dan Uni Soviet (US) di puncak piramida struktur. Setelah rontoknya US, AS menjelma menjadi super power tunggal.
Dinamika perlombaan senjata diwarnai polarisasi negara: negara pusat (center) dan negara pinggir. Negara pusat adalah negara produsen persenjataan militer. Sedangkan negara pinggir adalah negara konsumen peralatan militer. Oleh sebab itu, muncul ketergantungan dari negara-negara pinggir terhadap negara pusat. AS tahu bahwa banyak negara sangat bergantung padanya, termasuk negara-negara muslim. Dalam konteks ketergantungan pada peralatan militer itu, terutama suku cadang senjata, AS mampu dengan mudah mendulang dukungan dari beberapa negara pinggir dan sekutunya. Singkatnya, dukungan terhadap AS bukan pertama-tama karena kesadaran melawan terorismenya, tapi lebih pada kebergantungan negara-negara pinggir terhadap AS.

Jus in bello
Salahsatu fakta teranyar dalam perang melawan terorisme adalah pengakuan Bush tentang adanya penjara rahasia AS yang diperuntukkan bagi para “tersangka” teroris Dalam penjara-penjara tersebut, kemungkinan untuk mendapatkan hak-hak mereka sebagai tersangka, seperti memperoleh akses ke barang bukti, sulit untuk dipenuhi dan sangat rentan terhadap pelanggaran HAM. Contohnya kasus Khaled el Masri, warga Jerman. Ia diculik di Makedonia, ditahan selama 5 bulan sebelum diterbangkan ke Afghanistan. Namun akhirnya, pihak AS mengakui bahwa mereka salah tangkap. (Republika, 9/9) Fakta ini menunjukkan, AS “menghalalkan” cara-cara yang secara moral tidak dibenarkan..
Padahal, dalam konflik apapun, teori perang yang adil menyediakan dua prasyarat. Pertama, harus ada jus ad bellum, artinya mesti ada alasan yang baik untuk melaksanakan perang. Perang melawan terorisme memiliki dasar pijak yang kuat yakni menghukum siapa pun yang bertanggungjawab di balik serangan 11 september.
Kedua, harus ada jus in bello, maksudnya harus dilakukan dengan cara yang benar secara moral. Jika perang melawan terorisme dilakukan dengan cara-cara tidak beradab maka dikhawatirkan kampanye melawan terorisme berubah menjadi alat picu aksi-aksi terorisme.***
(Radar Banten, 13 September 2006)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: