ISLAM-RAMAH

November 21, 2007

Kekerasan, Alarm Peradaban

Filed under: ARTIKEL MEDIA — ruhullah @ 3:53 am

Tampaknya, selubung awan kekerasan terus menggelayuti atmosfir negeri ini. Baku tembak warga dengan aparat di Poso, bentrok antar warga di Nusa Tenggara Barat (NTB), dan penyerangan pemukiman jamaah Ahmadiyah di Kuningan, Jawa Barat, menjadi torehan buram beberapa pekan.
Meski telah coba diredakan, seperti pada kasus Poso, namun pertanyaan substantif yang masih bercokol di akal kita adalah mengapa manusia dengan tangan dingin melakukan kekerasan sesama manusia tanpa perasaan bersalah atau hambatan moral (violence without moral restrain)?

Menjelaskan Kekerasan
Ada beberapa teori penyebab kekerasan. McDougall, Freud, Lorents misalnya mengasalkan kekerasan pada naluri berkelahi (agresi) pada manusia. Freud menggambarkan bawah sadar manusia sebagai kawah yang dipenuhi didihan agresivitas yang tersumbat. Penyumbat itu disebut inhibisi. Jika inhibisi melemah, agresi akan meledak. Artinya, kekerasan harus disalurkan lewat saluran yang aman yang disebut katarsis. Agar bangsa-bangsa tidak berperang, lakukanlah olimpiade. Supaya anak-anak Anda tidak tawuran suruh mereka menonton film-film yang mengandung kekerasan.
Freud salah. Agresi tak tersimpan dalam alam bawah sadar manusia. Membunuh atau merusak bukan fitrah manusia. Katarsis tak ada gunanya. Olimpiade tidak menghambat kekerasan. Menonton aksi atau adegan kekerasan malah memicu orang melakukan kekerasan lagi. Teori naluri agresi menjauhkan kita dari sebab agresi sebenarnya.
Pada dasarnya, manusia itu tidak suka kekerasan, apalagi pembunuhan. Ia terpaksa membunuh karena frustasi, atau terancam.Tapi, penjelasan model ini pun tak memadai karena sepanjang sejarah, kita kerap menyaksikan orang-orang lemah dianiaya oleh orang-orang kuat. Yang kuat menyiksa yang lemah bukan karena frustasi atau situasi terancam.
Contohnya pada perang dunia II, orang Yahudi diangkut ke kamp-kamp konsentrasi, sebuah neraka buatan yang dilengkapi dengan alat penyiksaan. Di tempat itu nyawa manusia sama sekali tak berharga.. Para pembunuhnya melakukan kekerasan bukan karena frustasi atau ancaman. Puluhan tahun setelah itu, orang Yahudi memperlakukan orang Palestina persis seperti Nazi memperlakukan mereka. Mereka melakukannya justru setelah mereka merebut kekuasaan, bukan karena mereka gagal.
Kita dapat membuat daftar panjang tentang orang-orang yang disiksa ketika lemah, dan menyiksa ketika berkuasa. Teori frustasi dan ancaman tak relevan menjelaskan semua gejala kekerasan.

Rem Perilaku
Ada satu penjelasan yang agak memadai: kekerasan dilakukan karena tiadanya hambatan moral. Setiap orang punya kendali moral, rem perilaku. Bila muncul kondisi yang menyebabkan rem itu kurang berfungsi, maka kekerasan pun mudah dilakukan. Ada tiga kondisi mengapa orang melakukan kekerasan.
Pertama, otorisasi. Kekerasan dilakukan karena ditugaskan. Pelaku kekerasan hanya menjalankan perintah, peraturan, atau prosedur. Dengan begitu, ia dilepaskan dari tanggungjawab. Bila kita tanya para petugas yang merobohkan rumah-rumah liar, apakah mereka tidak tersentuh oleh tangisan para penghuninya? Jawaban yang sering keluar dari mulut mereka adalah ,’Saya hanya menjalankan tugas’. Lalu jika kita tanya para petugas yang menggebuki tahanan. Tidakkah jeritannya memilukan hati mereka.’ Saya hanya mengikuti prosedur. Dan mana mungkin penjahat dapat disidik secara halus’.
Kedua, rutinisasi. Kekerasan dijadikan pekerjaan biasa, bahkan dimasukkan ke dalam cara kerja birokratis. Oleh karena itu, hambatan moral dilumpuhkan. Pada tingkat tertentu, hambatan diubah jadi dorongan moral. Kekerasan bukan saja dirutinkan, tetapi dijustifikasi sebagai tindakan yang luhur.
Ketiga, dehumanisasi. Korban di jauhkan dari kemanusiaannya. Sang korban dihilangkan jatidirinya. Misalnya, supaya mahasiswa senior dapat memperlakukan mahasiswa baru seenaknya, mereka menganti nama mahasiswa baru dengan nama-nama jelek. Supaya para tawanan dapat disiksa dengan semena-mena, namanya diganti menjadi nomor. Supaya sekelompok manusia dapat difitnah, dirampas hak-haknya, dibunuh seperti kita membunuh nyamuk, hilangkan gelar-gelar kemanusiaan mereka. Lalu disematkan julukan-julukan khusus pada mereka, seperti komunis, perusuh, penjahat, anti-Pancasila, atau apa saja. Inilah penjulukan (name calllling).

Alarm Peradaban
Bila kekerasan demi kekerasan tetap jadi menu perilaku kehidupan berbangsa dan bernegara, maka hal ini adalah sebuah alarm dari sebuah peradaban yang sedang membusuk. Tampaknya, kita sebagai bangsa masih harus bekerja keras untuk melenyapkan situasi dan kondisi yang melapangkan kekerasan. Rem perilaku mesti diinternalisasikan kembali dalam relung jiwa tiap komponen anak bangsa ini. Karena itu, yang perlu segera dilakukan adalah mempererat solidaritas antar anak bangsa. Langkah untuk itu dapat dimulai dengan mengaktifkan kembali hati nurani kita yang selama ini terkubur oleh sikap mementingkan diri-sendiri dan kelompok.***
(Radar Banten, 2 November 2006)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: