ISLAM-RAMAH

November 21, 2007

KEADILAN UNTUK ALIRAN SESAT

Filed under: ARTIKEL MEDIA — ruhullah @ 3:50 am

Geger “ aliran sesat” menjadi menu berita di sejumlah media beberapa pekan ini. Kini giliran Al-Qiyadah al-Islamiyah yang dipandang sesat oleh arus utama masyarakat Islam Indonesia. Salah satu indikasi kesesatan aliran ini antara lain, mengubah kredo persaksian (syahadatain), dan mengakui adanya Rasul setelah Rasulullah Muhammad. Namun, pemerintah belum menyikapi secara “serius” kontroversi ini. Kasus al-Qiyadah al-Islamiyah bukan kali pertama. Masih lekat dalam ingatan kita bagaimana kelompok Ahamadiyah diberbagai tempat “dihakimi” massa yang mencap mereka sesat. Akankah al-Qiyadah al-Islamiyah bernasib sama dengan Ahmadiyah? Sepatutnya, sebagai bangsa yang beragama, kita mampu menyelesaikan masalah ini dengan santun dan beradab, tanpa menggunakan bahasa kekerasan.
Tulisan ini mencoba menjernihkan persoalan aliran sesat dengan menelusuri akar epistemologi lahirnya istilah aliran sesat dalam kehidupan beragama, kemudian berupaya mengajukan solusi yang arif dalam menyikapi fenomena ini.
Aliran Sesat
Apakah kriteria yang dipakai sehingga kelompok al-Qiyadah al-Islamiyah divonis sebagai “aliran sesat”? Bukankah kata “sesat” mudah dipakai oleh pihak yang tidak senang, terlepas dari siapa sebenarnya yang sesat? Di Indonesia, tidak hanya terbatas pada aliran, bahkan banyak “agama sesat”. Cobalah tanyakan kepada orang Islam mengenai keyakinan agama lain, maka ia akan menjawab bahwa agama selain Islam adalah “sesat”. Begitu juga penganut Kristen, dari optik keyakinan imannya, pemeluk agama lain adalah sesat jalan. Bahkan bagi ateis, agama sendiri merupakan “bentuk kesesatan” karena merupakan pelarian dari kegagalan dalam kompetisi hidup. Jadi, mana yang sesat dan mana yang tidak, sesungguhnya sangat relatif, kepada siapa persoalan itu dikemukakan. Akhirnya, pertanyaan tentang “aliran sesat” adalah, “aliran sesat” itu versi siapa?
Lalu, kapankah mulai pewacanaan “aliran sesat” dalam tradisi agama. Wacana ini muncul ketika agama otentik menjelma menjadi organized religion. Dalam organized religion, terdapat pembakuan dan standarisasi doktrin keagamaan oleh ulama. Di satu sisi, pembakuan dan standarisasi doktrin keagamaan ini memudahkan umat beragama karena ada kepastian dan patokan yang dijadikan rujukan dalam aktivitas keagamaan. Namun di sisi lain, terjadi “sakralisasi pemikiran keagamaan” yang semula bersifat profan, manusiawi, dan relatif menjelma menjadi bersifat sakral, ilahi, dan absolut. Hal ini diperparah dengan terlibatnya penguasa politik dalam proses itu. Disinilah terjadi ideologisasi pemikiran keagamaan. Sehingga tak aneh bila dalam catatan sejarah, suatu pemerintahan Islam kerap menentukan aliran pemikiran keagamaan (mazhab) resmi negara. Karena itu banyak ditemukan fakta, sejumlah aliran-aliran pemikiran Islam punah dan termarjinalisasikan karena ruang geraknya dipersempit, atau bahkan dilarang. Bukan hanya kelompok, individu-individu yang dipandang “sesat” pun tidak luput dari kerasnya tangan besi penguasa. Kasus paling populer adalah hukuman mati terhadap sufi besar al-Hallaj. Jadi, istilah “aliran sesat” muncul sebagai hasil dari proses sejarah pembakuan, standarisasi, dan ideologisasi doktrin keagamaan dan pewacanaannya lahir dari hasil perkawinan antara kekuasaan religius dan kekuasaan politik.
Sikap Adil
Bagaimana menyikapi secara arif fenomena al-Qiyadah al-Islamiyah yang dianggap sebagai aliran sesat? Pertama, masyarakat harus tetap menumbuh-kembangkan sikap hormat dan menghargai pilihan keyakinan para anggota al-Qiyadah Islamiyah sebagai pilihan pribadinya. Pilihan pribadi untuk meyakini suatu ajaran merupakan pilihan bebas yang bersifat individual dan bukankah keberagamaan yang sejati lahir dari pilihan bebas individual itu? Keberagamaan yang otentik tidak akan lahir dari intimidasi, kekerasan, dan pemaksaan. Karena itu, kekerasan untuk memaksa orang mengikuti suatu keyakinan tertentu adalah bentuk penodaan terhadap martabat kemanusiaan dan pelanggaran terhadap hak individual untuk menentukan keyakinan dan jalan hidup.
Kedua, Al-Qiyadah al-Islamiyah harus tetap diberikan ruang bicara, kesempatan untuk melakukan pembelaan terhadap apa yang mereka yakini. Karena itu, perlu dialog intensif antara berbagai elemen masyarakat Islam dengan al-Qiyadah al-Islamiyah dengan semangat mencari kebenaran dan menciptakan saling pengertian, bukan dengan motivasi penghakiman.
Ketiga, meskipun kemudian kelompok al-Qiyadah al-Islamiyah terbukti menyimpang (baca: berbeda) dari arus utama pemikiran masyarakat Islam , namun mereka harus tetap diberi kesempatan untuk melakukan instrospeksi dan perbaikan diri. Karena itu, tugas ulama dan penguasa harus berperan untuk melindungi, mengajar, dan mendidik mereka dengan penuh cinta kasih. Kalaupun pada akhirnya mereka menolak, ini urusan mereka selama tidak mengganggu ketentraman orang.
Catatan Akhir
Cinta kasih, toleran, dan kesiapan menerima perbedaan pendapat perlu ditumbuhkan dalam menyikapi perbedaan. Cinta kasih dan toleran tidak berarti sikap lemah dalam beragama. Sebaliknya, hanya mereka yang percaya diri akan kebenaran agamanya serta keluasan ilmunya yang mampu bersikap toleran dan kasih sayang kepada kelompok keagamaan lain, seperti dicontohkan Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Persoalan keyakinan adalah hak individu dan Islam mengajarkan untuk menghargai keyakinan orang, terlepas apakah sejalan dengan ajaran Islam ataukah tidak. Menurut penuturan al-Quran, Tuhan saja tidak main paksa agar manusia beriman dan bersujud kepada-Nya.
(Radar Banten, 1 November 2007)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: