ISLAM-RAMAH

November 21, 2007

DEMOKRASI H2C

Filed under: ARTIKEL MEDIA — ruhullah @ 3:46 am

Kita patut berbangga sebab pada 12 November 2007 lalu, The International Association of Political Consultant (IAPC) menganugerahkan Democracy Awards kepada bangsa Indonesia. Dalam catatan IAPC, bangsa Indonesia adalah bangsa yang pertama diberikan penghargaan tersebut. Sebelumnya, pengharagaan itu hanya diberikan pada individu-individu yang dipandang berjasa dalam mengembangkan demokrasi, seperti Aung San Suu Kyi dari Myanmar. IAPC menilai Indonesia telah melakukan proses demokrasi yang sungguh-sungguh dengan indikator prestasi bangsa Indonesia yang sukses menggelar pemilihan umum yang memilih presiden secara langsung. Meskipun demikian, rakyat Indonesia tidak boleh terlalu larut dalam rasa bangga sebab kondisi nyata praktek demokrasi kita masih dalam kondisi “harap-harap cemas” (H2c).
Anomali
Betapa tidak!!! kehidupan demokrasi kita masih menunjukkan gejala demokrasi anomali (anomalus democracy), demokrasi campur aduk, ganjil, dan bahkan menyimpang dari pakem demokrasi yang sesungguhnya. Di satu sisi, prinsip, proses, prosedur, bahkan lembaga demokrasi mulai tumbuh dan berkembang. Tapi, di sisi lain, kultur politik demokrasi yang sejati dan otentik muncul secara samar-samar. Khususnya pada banyak lapisan elite politik, sikap mental dari kultur politik yang mereka ekspresikan masih jauh dari kerangka demokrasi.
Demikian pun di tingkat massa yang kerap masih mengekpresikan sesuatu yang tidak kompatibel dengan demokrasi. Bahkan ada kecenderungan, demokrasi pada sebagian kalangan masyarakat kita diidentikkan demonstrasi (unjuk rasa). Sehingga lahirlah plesetan: demokrasi adalah “demo-crazy” yang ujung-ujungnya, demokrasi bergeser menjadi mobokrasi. Mobokrasi adalah kontrol politik oleh suatu mob (kelompok massa dengan ciri-ciri: cenderung melakukan tindakan irasional dan kekerasan).
Singkatnya, kultur politik kita masih belum menunjukkan kedewasaan dalam berdemokrasi. Proses demokrasi kita masih melahirkan kesetiaan politik yang tidak rasional, belum munculnya tanggungjawab terhadap kepentingan publik, meningkatnya emosionalisme dan konflik politik pada banyak lapisan masyarakat, dan lahirnya tokoh-tokoh politik yang lebih concerned dengan patronase dan kekuasaan dari pada pengorbanan bagi masyarakat miskin dan tertindas.
Demokratisasi
Kondisi tersebut terjadi karena kita baru belajar hidup dalam rumah demokrasi setelah puluhan tahun hidup dalam kerangkeng rejim otoriter. Dan yang perlu diingat, demokrasi sendiri bersifat dinamis. Demokrasi selalu dalam keadaan “menjadi (becoming), baik secara negatif (menjadi mundur) atau positif (maju). Karena itu, demokrasi tidak dapat didefinisikan sekali untuk selamanya. Demokrasi adalah proses demokrastisasi. Suatu neagra disebut demokratis jika padanya terdapat proses-proses perkembangan menuju ke arah keadaan yang lebih baik dalam melaksanakan nilai-nilai itu. Check lists yang dapat digunakan untuk mengukur maju-mundurnya demokrasi ialah sekitar seberapa jauh bertambah atau berkurangnya kebebasan asasi, seperti kebebasan menyatakan pendapat, berserikat, dan berkumpul.
Perspektif demokrasi sebagai kategori dinamis ini memungkinkan terjadinya ironi demokrasi, seperti jika sebuah negara –katakanlah Amerika Serikat, yang dipandang sebagai negara “paling demokratis”—justru akan dinilai tidak lagi demokratis jika ia menunjukkan gejala “kemandekkan” dengan menghambat laju tuntutan dan kebebasan-kebebasan asasi para warganya. Apalagi jika kepada kategori pengujian kedemokrasian negara itu dimasukkan pula unsur seberapa jauh terlaksana dengan nyata prinsip kesamaan umat manusia, maka Amerika dan sejumlah negara Barat menjadi kurang demokratis di banding dengan banyak negara “Dunia Ketiga” sebab di negara-negara Barat itu masih banyak rasialisme dalam kehidupan sehari-hari. Jadi pesan utama demokrasi adalah pentingnya proses perkembanbgan, dan bahayanya kemandekkan. Masyarakat demokratis cenderung ribut, tapi keributan itu, dinilai pasti lebih baik daripada ketenangan karena kemandekkan.
Prasyarat
Setidaknya ada empat prasyarat yang membuat pertumbuhan demokrasi menjadi lebih genuine dan memberikan harapan, bukan kecemasan dan keputusasaan. Pertama, peningkatan kesejahteraan ekonomi rakyat secara keseluruhan. Semakin sejahtera ekonomi sebuah bangsa, maka semakin besar peluangnya untuk mengembangkan dan mempertahankan demokrasi. Peningkatan ekonomi akn memungkinkan peningkatan pendidikan, penyebaran media massa sekaligus memperkecil peluang konflik di berbagai lapisan masyarakat.
Kedua, pengembangan dan pemberdayaan kelompok-kelompkok masyarakat yang favourable bagi pertumbuhan demokrasi, seperti “kelas menengah”. LSM, para pekerja, dan sebagainya. Pertumbuhan yang sehat dari kelompok-kelompok tersebut akan membuat mereka menjadi lebih independen dari kekuasaan, yang pada gilirannya akan melahirkan relasi antara negara dan masyarakat menjadi berimbang. Jika keseimbangan tersebut bisa terwujud, maka baru kita bicara banyak tentang masyarakat madani (civil society) yang akan mampu berperan dalm mengemabangkan demokrasi keadaban dan keadaban demokrasi.
Ketiga, hubungan internasional yang lebih adil dan seimbang. Negara-negara berkembang yang berada dalam transisi demokrasi, seperti Indonesia, rentan terhadap faktor luar. Ketergantungan ekonomi pada kekuatan eksternal membuat Indonesia kadang mengalami kondisi-kondisi kontradiktif terhadap pertumbuhan demokrasi. Karena itu, perlu dibuat sistem dan mekanisme yang kokoh dimana faktor luar tidak menjadi batu sandungan dalam proses demokratisasi.
Keempat, sosialisasi pendidikan kewargaan (civic education). Pendidikan memungkinkan generasi muda mengetahui nilai dan keahlian yang dibutuhkan untuk melestarikan demokrasi yang pada gilirannya melahirkan kewargaan demokratis (democratic citizenship) yang akan menajdi tulang punggung penting bagi Indonesia yang benar-benar demokratis. Wa Allahu a’lam bisshawabi ***
(Radar Banten, 21 November 2007)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: