ISLAM-RAMAH

November 21, 2007

BERHALA DIRI

Filed under: RENUNGAN — ruhullah @ 3:16 am

Menurut Nabi Muhammad SAW, jihad terbesar(jihad akbar) adalah jihad al-nafs(Jihad melwan hawa nafsu). hawa nafsu adalah dorongan unruk mendahulukan keinginan, kepentingan, dan kehendak diri. hawa adalah egoisme, pengabdian terhadap keakuan. hawa bersal dari sifat syetan dalam diri kita. dari hawalah lahir penentangan kepada Tuhan(kufufr) dan penciptaan aturan hidup yang bertentangan dengan aturan tuhan.
Cinta diri adalah sebab sluruh pertentangan Allah dan pengumbaran terhadap dosa, kejahatan dan penghianatan. segala cinta dunia akan kemilaunya, termasuk kecintaan akan status sosial, reputasi, kekayaan, kekuasaan dan sebagainya, yang merupakan sumber dari seagala kerusakan dan kehancuran, tumbuh dari cinta diri. Malapetaka, peperangan, dan kekerasan, misalnya, berasal dari egoisme.
egoisme merupakan patung terbesar dan paling sulit dibinasakan. Oleh karena itu, jika belum mampu menghancurkannya secara total, maka kita mulailah menghancurkannya secara perlahan-lahan mulai dari tangannya, kakinya dan seterusna.
Ada dua cara praktis menghancurkan egoisme. Pertama, memperbanyak takbir. Shalat adalah sarana peluluhlantakkan egoisme. lah ini ditunjukkan dengan dengan banyaknya lafal takbir yang disunahkan dibaca ketika pergantian rukun. ketika takbir seorang muslim mengukuhkan ketauhidannya kembali, memperbarui terus-menerus keyakinannya bahwa hanya Allah lah zat yang Maha Besar. pada saat yang sama kita menghinakan diri kita, merendahkan diri kita. inilah hakikat shalat, yakni dzillat al-ubudiyya(kehinaan hamba) dan izzat al-rububiyyah (kemuliaan ketuhanan).
Kedua, mendoakan siapa pun, baik orang yang disayangi maupun orang yang dibenci, dalam setiap lantinan doa. hal ini dicontohkan oleh sayyidah Fatimah, putri tercinta Nabi SAW. Cucu Nabi SAW, Hasan menceritakannya:”Pada suatu malam jumat, aku menyaksikan ibu ku 9fatimah)tenggelam dalam ibadah hingga pagi. Dia tidak berhenti rukuk dan sujud serta menyebut satu persatu nama tetangganya, ‘wahai Bunda, mengapa Bunda hanya mendoakan orang lain dan mengabaikan diri sendir?’ Ibu ku menjawab, ‘Anakku, tetangga dahulu, baru diri kita’. “Wallahu a’lam bish-shawab

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: