ISLAM-RAMAH

November 30, 2016

UTOPIA BUMI SATU WAJAH

Filed under: AGAMA — ruhullah @ 2:09 am

599644_446710425359649_191kik7821882_n1

Globalisasi, didukung teknologi komunikasi dan informasi, membongkar dinding geografis, dan merobohkan sekat-sekat budaya. Dunia dipadatkan dalam tombol-tombol digital. Banjir informasi, Komunikasi tanpa-batas berakibat lalu-lintas pertukaran antar budaya jadi ramai, bahkan semrawut. Yang khas dari gejala ini adalah tampilnya “sang liyan”. Kesadaran kita pun limbung.  Termasuk kesadaran beragama (Muslim). Bagaimana respon Muslim? Bagi yang punya sekoci epistemik, gelombang pasang globalisasi, tsunami informasi dan badai komunikasi bukan ancaman, tapi sebagai tantangan.  Mereka mengubah badai menjadi energi positif. Mereka belajar dari sejarah Muslim klasik bahwa, Islam mampu melakukan adaptasi-kritis-kreatif terhadap ragam budaya tanpa “membebek”. Mereka aktif berdialog, bekerjasama dengan “yang liyan” merancang-bangun peradaban yang lebih manusiawi.  Sedangkan bagi yang tak siap: ada yang hanyut bak bui di lautan; ada pula yang menantang arus-deras. Muslim garis-keras, fundamentalis memilih jalan menantang arus. Semua yang berbeda adalah ancaman, musuh. Dan ini disebut “jihad global”. Mereka tak siap hidup berdampingan dan bekerjasama dengan “yang liyan”.  Secara Machevilianistik, mereka menggunakan “perkakas” modern: medsos,  sampai slogan demokrasi, menghalalkan apa pun: kebohongan, fitnah, menebar ketakutan, bahkan teror, kekerasan demi mewujudkan bumi satu wajah, satu warna atas nama satu tuhan (dengan “t” kecil) ! Wa Allahu a’lam bi al-shawab.         

November 3, 2016

TEKS PIDATO PROF. DR. NURCHOLISH MADJID DALAM PEMBUKAAN UPM

Filed under: Tak Berkategori — ruhullah @ 3:53 am

Salam Peradaban.

Rekan-rekan yang baik, salahsatu teks kunci pemikiran Cak Nur tentang pendidikan Islam, khususnya pengembangan perguruan tinggi Islam adalah teks pidato Cak Nur berjudul ” Membangun Masyarakat Ilmiah dengan Semangat Nilai-Nilai Ketuhanan Wawasan Hikmah-Kearifan Kemanusiaan dan Jiwa Kepeloporan Menerobos Perbatasan Ilmu-Pengetahauan” yang disampaikan saat pembukaan Universitas ParamadinaMulya.

Teks tersebut telah saya tulis-ulang. Silahkan donwload di sini: teks-pidato-cak-nur-pada-pembukaan-upm

Semoga bermanfaat.

M. Subhi-Ibrahim

September 20, 2013

MANUSIA YANG UTUH

Filed under: AGAMA — ruhullah @ 6:42 am

Human Rts7Tahun 1990, Uni Soviet runtuh. US adalah negara adi kuasa, di samping Amerika Serikat. Mengapa negara adi kuasa itu runtuh? Pasti, setumpuk analisis bisa kita lontarkan. Salahsatunya, US bubar karena faktor ideologinya, komunisme, yang tak cocok (compatible) dengan manusia. Mengapa komunisme tidak cocok dengan manusia? Karena komunisme memandang manusia hanya dari satu sisi, yakni material. Pandangan komunisme tentang manusia adalah bahwa, manusia itu makhluk material an sich, yang tindakannya didorong, jika bukan dideterminasi, oleh motif ekonomi, dan tak mengakui sisi ruhani. Akibatnya, semua kebijakan negara ditimbang dalam kerangka material, dan optik ekonomi sebagai satu-satunya teropong. Perekonomian rakyat dikontrol secara ketat oleh negara, kebebasan dibungkam, kepemilikan pribadi diabaikan dan lain-lain yang tak sesuai dengan kodrat manusia. Dari kasus US tertesebut, kita mengambil satu tesis: sistem apapun (ekonomi, pilitik, budaya dll) yang tidak mempertimbangkan manusia dalam keutuhannya, akan gagal.

Lalu, apa manusia yang utuh itu? Pertanyaan ini mengarah pada, apa saja komponen utama yang membentuk seseorang sehingga disebut manusia? Salahsatu tawaran jawaban adalah dari tradisi sufisme, Islam esoterik. Dalam tradisi sufisme, manusia terdiri dari: tubuh, jiwa, dan ruh.

Unsur paling luar manusia adalah tubuh. Tubuh bersifat material (mulky, matter). Karenanya, tubuh mengikuti hukum material, dalam konteks ini hukum biologis. Tangan kita terkena api, dia akan terbakar dst. Bila ada masalah dengan tubuh, kita hanya perlu datang ke dokter. Agar tubuh sehat, kita olahraga, makan makanan yang sehat pula. Hidup yang terlalu berlebih menekankan pada tubuh membuat seseorang menjadi materialisme (matre), hidup itu kini dan di sini. Tidak seperti pada sejumlah tradisi spiritual yang memandang “kotor”, penghalang spiritual, dasarnya, dalam Islam tubuh dipandang secara netral, tidak negatif sepanjang ia patuh pada-Nya. Bahkan, bagi orang beriman, tubuh menjadi “masjid”, tempat sujud bagi orang-orang yang patuh. Karenanya, seperti melihara masjid, seseorang harus merawat, membersihkan, dan dimakmurkan dengan segala bentuk aktivitas penghambaan (ubudiyah).

Jiwa (nafs) merupakan dimensi tengah (barzakh), yang terkait emosi dan sebagainya (psyke). Dimensi tengah maksudnya bahwa, jiwa berada antara dunia material dan dunia spiritual. Karena itu, jiwa dapat dipengaruhi oleh tubuh-material, dan ruh-spiritual. Jiwa dapat dipengaruhi oleh aspek material. Misalnya, saat kekurangan uang, kita merasa tertekan, stress dan seterusnya. Jiwa pun dapat dipengaruhi oleh ruh. Misalnya, saat kita marah, kerap kita diminta untuk mengendalikan kemarahan. Kemarahan adalah aktivitas kejiwaan. Lalu, apa yang mengendalikannya. Ruhlah yang mengendalikan. Bila ada masalah dengan jiwa, biasanya orang lari ke psikiater atau konsultan kejiwaan. Sebagaimana tubuh, agar jiwa kita sehat, jiwa harus dilatih disiplinkan dengan mengaktualkan potensi, daya-daya kejiwaan. Olah-jiwa dapat dilakukan dengan dengan berfikir dan berfilsafat. Dalam tradisi sufi, kita mengenal dzikir. Dzikir adalah latihan jiwa agar jiwa selalu mengingat-Nya.

Ruh adalah unsur dalam (inner, divine) manusia. Ruh bersifat ilahi (divine), spiritual. Karenanya, dalam al-Quran disebutkan: mereka bertanya tentang ruh. Katakanlah, ruh adalah urusan Tuhan. Dan tidaklah diberikan (pengetahuan tentangnya), kecuali sedikit. Pada dasarnya, ruh adalah “pembisik”, atau yang bisa disebut sebagai hati nurani, aql, atau intelek. Bila tubuh dan jiwa haris dilatih, maka ruh tidak! Ruh hanya perlu kita dengar!

Wa Allahu a’lam bi al-shawabi

Jakarta, 20 September 2013

YANG SALAH, PENGHAYATAN KEAGAMAANNYA

Filed under: AGAMA — ruhullah @ 6:15 am

cahayaSaya mulai khotbah ini dengan satu “keraguan metodis”. Keraguan metodis adalah cara untuk mendapatkan keyakinan dengan melalui jalan keraguan. Dalam tradisi Intelektual islam, cara ini pernah dipakai oleh Abu Hamid al-Ghazali (W. 1111), orang nomor dua yang paling berpengaruh setelah Nabi Muhammad di dunia Islam, dan dalam tradisi Barat dipakai oleh bapak Filsafat Modern, Rene Descartes. Pokok persoalan yang akan kita ragukan adalah, bagaimana peran agama dalam kehidupan manusia, baik individual maupun sosial? Keraguan ini dipicu oleh fakta: sebagian kekerasan yang terjadi di Indonesia, salahsatunya, dipicu oleh sentimen keagamaan. Yang terbaru kasus di Puger, Jember Jawa Timur yang mengakibatkan seorang tewas. Sejumlah faktor bisa kita tunjuk sebagai biang keladi, mulai dari faktor ekonomi, sosial dll. Salahsatu faktor yang “mengeruhkan” adalah faktor sentimen keagamaan. Seorang pakar fenomenologi agama berpendapat, kadang seribu agama tak cukup untuk menciptakan kedamaian, namun satu agama saja telah cukup untuk menciptakan kebencian. Melihat gejala seperti itu, jangan-jangan agama sebetulnya tak memiliki peran dalam membentuk karakter para pembentuknya, atau agama memang tidak lagi memiliki daya ikat spiritual bagi pemeluknya?

Mari kita refleksikan rukun Islam. Orang ber-Syahadat tapi korupsi. Padahal, syahadat, dalam kategori filsafat Bahasa, adalah performative uttarences (Austin), yang berbeda dengan decriptive uttarences (dalam ilmu pengetahuan). Performative uttenences adalah pernyataan yang memiliki implikasi praktis. Seperti, “saya terima nikah….”, itu bukan sekedar ucapan, tapi punya implikasi: orang tersebut telah menikahi wanita tersebut. Berkata berarti bertindak. Ungkapan agama, menurut Whitehead, memiliki konsekuensi dan tanggungjawab. Ketika kita berkata, kita beriman, maka itu berarti kita siap dengan konsekuensi iman: mematuhi yang diimani. Sedangkan dalam bahasa ilmiah, tidak ada konsekensi tersebut. 1 = 1 = 2, tak memiliki implikasi apapun dalam kehidupan kita.

Bersyahadat berarti, mengakui bahwa Allah adalah ilah, Tuhan, Realitas Mutlak yang tak terbatas. Allah omnipresent, selalu hadir dalam kehidupan. Nah, pernyataan tersebut berimplikasi ihsan, yakni kesadaran bahwa, engkau beribadah seakan-akan melihat Allah, bila tidak melihat-Nya, yakinlah bahwa, Allah melihatmu. Inilah konsep integritas dalam Islam, yakni keyakinan kukuh bahwa Allah hjadir, melihat kita. Lalu apa yang terjadi dengan para koruptor yang telah bersyahadat, tapi masih korupsi juga?

Psikolog Agama, Allport membagi penganut agama menjadi dua, yakni penganut agama ekstrinsik dan penganut agama instrinsik. Yang ekstrinsik adalah penghayatan penganut agama yang hanya beragama tapi hanya sisi formalnya saja. Sedangkan yang intrinsik, beragama dengan menghayati nilai-nilai agama.

Jadi, kita menemukan jawaban bahwa, kesenjangan agama dengan pelakunya, bukan pada agamanya, tetapi “cara penghayatannya” yang keliru. Cara penghayatan yang benar adalah yang tidak hanya formal keagamaan yang dilakukan, tetapi hakikat, nilai-nilai agama yang dihayati secara benar, yakni masuk ke wilayah batin agama karena pada hakikatnya, Allah melihat pada yang batin, bukan yang lahir. Nabi berkata,” Sesungguhnya Allah tak (la) melihat bentuk kalian, dan jasad kalian, tetapi yang Dia lihat adalah hati kalian, dan perbuatn kalian.” Dalam al-Quran disebutkan pula bahwa yang paling mulai di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa. (QS. Al-Hujurat: 13). Takwa adalah kategori batin, bukan lahir. Wa Allahu a’lam bi al-shawabi

(Khotbah Jumat, 20 September 2013 di Aula Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina, Jakarta)

September 18, 2013

AGAMA PERSPEKTIF PSIKOLOGI: Peta Dasar Wacana Psikologi Agama

Filed under: INFO KAMPUS — ruhullah @ 7:53 am

budhaPsikologi agama adalah cabang ilmu psikologi, produk dunia Barat yang lahir abad ke-19 dan abad ke-20. Di abad pertengahan, bumi dipandang sebagai pusat semesta yang segala isinya diperuntukkan untuk manusia. Kemunculan heliosentrisme Copernicus, teleskop Galileo, cogito Rene Descartes, serta fisika Isaac Newton menggeser posisi manusia hanya sebagai bagian dunia. Ilmu alam berkembang pesat, bahkan bukan hanya meneliti alam tapi juga manusia. Origin of Species karya Darwin adalah karya monumental di wilayah sains manusia dimana manusia dipandang sebagai: makhluk di antara makhluk lainnya. 20 tahun kemudian, Prof. Wilhelm Wundt (Univesitas Leipzig, Jerman) membuat laboratorium perilaku manusia. Psikologi ilmiah modern lahir tahun 1879. Dalam pengembangan psikologi ilmiah modern, agama belum dapat perhatian karena dianggap di suci, di luar kajian . Belum ada kajian psikologi agama selama abad ke-19.

Baru pada pergantian abad ke-19 ke abad ke-20, terbit dua buku The Psychology of Religion (1899) karya Edwin D. Starbuck, dan The Varieties of Religious Experience (1902) karya William James, yang merintis fenomenologi agama dari sisi psikologi. Pada awal abad ke-20, James H. Leuba, George Coe dan Stanly Hall mengembangkan psikologi agama, yang bertumpu pada karya Starbuck dan James. Namun, pada tahun 1930-an terjadi kemerosotan psikologi agama, alasannya ketidakacuhan ahli agama dan psikologi serta pesimisme pengembangan psikologi agama. Faktor lainnya, kecenderungan positivistis dan behavioristis. Psikologi dan agama belum saling menghargai. Psikologi agama mencoba mendamaikan psikologi dan agama.

Perdamaian psikologi dan agama dimungkin dengan menjawab: apa yang dipelajari bila orang meneliti agama? Apa yang dipelajari psikologi agama? Materi apa yang coba dimengerti? Apa yang dilakukan orang saat menjalankan agama?

Secara normatif, agama sulit dimengerti karena definisi-subjektif dari tiap definisi yang dibuat. Karena itu, pendekatan normatif diubah ke pendekatan fenomenologis. Bagi psikologi agama pertanyaannya bukan “apa agama itu?” atau “bagaimana agama itu seharusnya?”, tetapi “ apa yang disebut orang sebagai agama bagi manusia?”; “lewat jalan apa manusia menemukan nilai yang paling tinggi dan mendapatkan arti hidup mereka?” ; “apa yang mendorong mereka sehingga seolah-olah yang mendorong itu merupakan ‘suara Tuhan’?”; Psikologi agama menekankan pada peranan agama bagi pribadi manusia. Tugasnya dalam mempelajari berbagai kegiatan yang bercorak keagamaan dan mengajukan pertanyaan tentang peranannya dalam kelestarian dan pengembangan pribadi. Secara singkatnya, pusat perhatian psikologi agama adalah: 1) bentuk-bentuk institusional yang diambil agama; 2) arti personal yang diberikan orang pada bentuk-bentuk itu; 3) hubungan faktor keagamaan dan seluruh struktur kepribadian manusia. Selanjutnya, pada penjelasan di bawah ini akan dipaparkan bagaimana wacana yang terbangun dan berkembang dari tiga persolan yang menjadi pusat perhatian psikologi agama tersebut.

BENTUK INSTITUSIONAL AGAMA

Bentuk Institusional agama mencakup peraturan, dan praktik dalam masyarakat yang terkait dengan tradisi keagamaan. Ada tiga bentuk institusional agama:

Pertama, denominalisme dan sektarianisme. Lembaga-lembaga utama yang terbentuk selama berabad-abad yang menjadi perwujudan nilai dan arti keagamaan. Dapat dikatakan juga sebagai agama induk, walaupun memiliki cabang-cabang. Contoh: islam sunni, islam syiah, dll. Kedua, kelompok independent lepas dari agama, tapi disebut agama. Perwujudan organisasi intern, terlepas dari induk agama. tipe kedua ini menjadi semacam “kritik” atas agama induk. Contoh: theosofi, meditasi transendental dll. Ketiga, nilai dan norma yang yang diikatkan pada struktur, tidak bersifat keagamaan. contoh: agama kemasyarakatan (civil religion).

ARTI PERSONAL AGAMA

Bagaimana orang mengartikan agama dalam penghayatan pribadinya? Dalam sejarah penghayatan agama, agama tradisional kerapkali ditolak karena telah bercampur dengan budaya, yang berakibat penekanan kuat agama pada sisi kelembagaan, yang ternyata, kadang berseberangan dengan jiwa ajaran agama. Lahirlah para “pembangkang” yang menekankan penghayatan agama secara personal. Bentuk-bentuk pembangkangan tersebut antara lain:

Agama yang tidak religius. Bentuk dan kelembagaan agama dijalankan, tetapi isi agama diabaikan. Hal ini disebabkan oleh identifikasi agama dengan budaya dimana agama dikorbankan demi budaya. Oleh sebab itu, ada fenomena, orang “berpakaian” agama, tetapi tidak religius! Bagi para pembangkang model ini, agama adalah keberadaan, bukan kelembagaan, dan iman adalah “kata kerja”, bukan “kata benda”.

Agama sebagai ketidakpercayaan. Agama adalah kesediaan mendengar firman Tuhan, dan melaksanakan-Nya. Bentuk-bentuk agama, yang merupakan produk sejarah, menjadi penghalang, perusak, yang membuat tuli orang beragama karena yang menjadi fokus adalah bentuk-bentuk agama, seperti: ajaran, format ibadah, hukum, dan peraturan berperilaku.

Berdasarkan penghayatan imannya, William James dalam The Varieties of Religious Experience membagi penganut agama sebagai berikut:

Kategori

Agama sebagai sumber semangat

Agama sebagai kebiasaan yang membosankan

Ciri

Gairah, terlibat, bersemangat tinggi, penuh vitalitas

Dingin, pasrah tanpa emosi, tak bersemangat, plegmatis

Penilaiaan

Jiwa yang sehat, healthy-mindedness

Jiwa yang sakit, sick soul

 

Sikap jiwa

Positif, optimistis, bahagia, spontan

Rasa penyesalan, penyalahan diri, murung, tertekan

Pendapat William James di atas menciptakan trend dalam studi psikologi dalam menafsir agama mengatasi bentuk-bentuk institusional. Dalam penafsiran tersebut dibedakan dua kelompok penganut agama: kelompok pertama , penganut agama yang menghayati agama secara formal, berdasar kebiasaan. Kelompok Kedua, penganut agama yang menghayati agama (iman) sebagai keterlibatan yang disadari. Bisa jadi, agama dan praktik keagamaannya sama, namun berbeda dalam dampaknya bagi kehidupan masing-masing.

Agama dan Otoritarianisme. Tahun 1950-an, beberapa peneliti di Kalifornia melakukan riset (salahsatunya) tentang hubungan agama dan prasangka (prejudise). Hasil risetnya adalah: tidak terlalu penting bicara tentang bagaimana cara orang menerima atau menolak agama. mereka membagi penganut agama berdasarkan prasangka: Pertama, penganut agama yang berprasangka; memanfaatkan ide, gagasan agama untuk keuntungan langsung, membantu memanipulasi orang lain. Agama digunakan untuk menghidupkan prasangka mereka. Kedua, penganut agama yang terlibat secara pribadi, agama tidak mendukung berkembangnya prasangka.

Agama Ekstrinsik-Agama Instrinsik. Gordon W. Allport membagi agama menjadi dua. Pertama, agama ekstrinsik: agama yang mendukung dan membenarkan kepentingan pribadi ( termasuk gaya hidup, perilaku); agama berperan sebagai alat, budak kepentingan, keinginan, kebutuhan yang tak ada hubungannya dengan nilai agama dan iman, misalnya sosial, politik, ekonomi, budaya. Intinya, memanfaatkan agama. Kedua, agama instriksik: agama yang memenuhi seluruh hidup dengan motivasi dan arti; memberi arah hidup; kepentingan pribadi di bawah nilai agama. intinya, menghayati agama.

Agama Keterlibatan dan Agama Kecocokan. Robert O. Allen dan Bernard Spilka membagi agama menjadi dua. Pertama, agama yang cocok: agama dalam bentuk lembaga. Kedua, agam yang terlibat: segi internal, nilai, sikap yang kadang tak terrumuskan dengan jelas. Misalnya kasus pindah agama. jika pindah agama dalam arti cocok, kepindahan agama hanya sekedar berpindah keanggotaan dalam lembaga agama. sedangkan, pindah dalam arti terlibat, berpindah agama berarti perpindahan yang mampu membuat perubahan internal, termasuk nilai dan orientasi hidup. Perpindahan “terlibat” berarti orang masuk, dan menjadi penganut agama tertentu.

AGAMA DAN KEUTUHAN PRIBADI

Menurut psikologi “daya kemampuan” (faculty psycology), manusia dapat diterangkan lewat tindakan-tindakan yang berdiri sendiri. William McDougall berpandangan bahwa, insting adalah kekuatan yang memungkinkan tindakan manusia. Karenanya, kepribadian merupakan tujuan dari kegiatan insting. Bagi McDougall, agama bersumber pada pada gabungan sejumlah insting. Rumitnya metode ini adalah, seperti, memisahkan gunung dari lembahnya, atau melihat manusia sebagai mesin yang untuk mengerti harus membongkar bagian besarnya menjadi bagian-bagian kecilnya. Sekarang, pendekatan ini ketinggalan zaman. Meskipun demikian, jejak-jejak psikologi daya kemampuan masih bisa dilihat, seperti istilah: ciri, sikap, faktor sentimen, kecenderungan. Gordon W. Allport berpendapat, istilah ciri (trait) berguna untuk memahami pribadi. Ciri diartikan sebagai kekhasan tetap yang membedakan pribadi dengan yang lain. Namun, menurut Allport, ciri dengan mudah menjadi benda, atau dibendakan. Contohnya, si A berperilaku agresif, lalu menjadi si A memiliki watak agresif. Singkatnya, si A itu agresif, padahal, agresifitas hanya salahsatu bagian dari kepribadian.

Manusia Seutuhnya. Sejak abad ke-18 sampai sekarang, psikologi menekankan keutuhan pribadi manusia ditandai dengan terbitnya buku Traite du Physique et du Moral de L’homme karya Peirre Cabanis (1799) dengan tesis: penyakit fisik dapat berasal dari penyakit psikis. Gagasan Cabanis tentang fakta psikosomatis ditanggapi saat psikologi modern tumbuh, dan psikiatri masuk kurikulum pendidikan medis. Pendapat Cabanis ini mengukuhkan pendapat William James bahwa, kesehatan pribadi adalah jalan penyatuan unsur-unsur yang ada dalam pribadi manusia. Pengobatan psikosomatis berupa: diagnosis, pengobatan penyakit yang faktor penyebab utamanya tampak bersifat emosional, misalnya penyakit hipertensi. Saat ini, konsep manusia seutuhnya mempengaruhi praktik profesional medis.

 Nah, Dalam konteks psikologi agama, konsep manusia seutuhnya ini penting dalam analisis rasional. Bagaimana sesuatu dapat diketahui dengan tepat tanpa memecah keseluruhan menjadi bagian-bagian yang membentuknya? Tetapi justru karena harus memisakan agar dapat membuat analisis, psikologi agama harus terus menerus menyadarkan diri bahwa keseluruhan pribadi manusia lebih daripada kumpulan dari bagian-bagiannya

Rangkuman

Rumusan fenomenologis, fungsional memadai untuk studi agama secara psikologis. Dengan pendekatan fenomenologis, fungsional, agama mencakup: kepercayaan, perilaku, kelompok. Karenanya, materi psikologi agama adalah seluruh panorama pengalaman yang diyakini, diakui secara pribadi maupun bersama, sebagai wahana memberi arti, kesatuan hidup. Agenda psikologi agama “bukanlah hakikat iman, tetapi hakikat beriman”. Psikologi agama mengamati, membandingkan, mempertajam berbagai ungkapan yang berhubungan dengan agama, serta mempelajari tingkat penghayatan agama secara pribadi.

(Rujukan: Robert W. Crapps, Dialog Psikologi dan Agama Sejak William James hingga Gordon W. Allport, Yogyakarta: Kanisius, 1993, h. 11-37)

September 17, 2013

Mengingat Allah (Dzikrullah)

Filed under: AGAMA — ruhullah @ 8:10 am

zikirSaya yakin, setiap orang pernah mengalami “kegalauan” dalam menghadapi persoalan hidup sehari-hari. Pada tingkat yang paling gawat, orang mengalami stress, depresi atau bahkan gangguan jiwa. Sebetulnya, kegalauan, stres, depresi, dan gangguan kejiwaan yang menyebabkan hidup terasa sempit itu disebabkan oleh: pelalaian, mengesampingkan zikir, mengingat Allah.

Dan barangsiapa berpaling dari mengingat-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta“. (QS. Thaha [20]: 124).

Lalu, apa yang harus kita lakukan jika kita mengalami bermacam kegalauan hidup tersebut.

Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (QS. al-Ra’d [13]: 28)

Al-Quran memberi resep menghadapi rasa galau, stress, depresi, dan gangguan jiwa adalah: zikir. Apakah zikir itu? Dalam al-Quran, kata dzikr terulang lebih dari 250 kali berikut turunan katanya. Secara harfiah, dzikr berarti “mengingat”. Sedangkan secara istilah, dzikr bermakna: upaya mengingat Allah dengan ungkapan-ungkapan tertentu, dilakukan secara berulang-ulang. Menariknya, Allah memerintahkan zikir sebanyak-banyaknya dan dalam kondisi apa pun.

Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya” (QS. Al-Ahzab [33]: 41)

Ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk, dan di waktu berbaring “ (QS. Al-Nisa [3]: 103)

Manfaat zikir. Pertama, mendekatkan diri pada Allah. Allah berjanji dalam al-Quran:

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”. (QS. al-Baqarah [2]: 152)

Dalam hadits qudsi, yang masyhur di kalangan sufi, Allah pun menyebutkan,”Aku adalah pendamping siapa pun yang ingat akan Daku.” Selanjutnya, agar diri dekat dengan Allah melalui zikir, maka saat berzikir diri harus hadir (hudhur). Kedua, makanan ruhani. Dalam Kimiyah al-Sa’adah, al-Ghazali menjelaskan bahwa, manusia terdiri dari sisi lahir dan batin. Sisi lahir memiliki kebutuhan, seperti makanan, minum, vitamin dan sebagainya. Jika tubuh lahir kita kekurangan makanan, ia akan sakit. Hal tersebut pun berlaku pada tubuh batin kita. Batin kita akan sakit secara ruhani bila tidak dipenuhi kebutuhannya. Makanan ruhani batin kita yang utama adalah: zikir. Dengan zikir, batin kita sehat!

Metode Zikir. Dalam tradisi Islam, ada dua metode (thariqah) zikir. Pertama, zikir lisan, berarti zikir yang disuarakan dengan lidah zahir. Zikir ini disebut juga zikir jahri (zikir terang-terangan). Kedua, zikir kalbu, berarti, zikir yang dilantunkan dalam hati. Zikir ini disebut juga zikir khafi (samar-samar, tersembunyi). Kedua metode zikir tersebut disinggung dalam al-Quran:

Berzikirlah kamu kepada Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai (QS. al-A’raf [7]: 205)

Contoh zikir. Dalam satu riwayat sufi diceritakan: Sahl al- Tusari berkata kepada kepada muridnya. Usahankanlah menyebut sepanjang hari “Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah”. Lakukanlah hari berikutnya, dan hari berikutnya lagi—sampai mengucapkan kata itu menjadi kebiasaan. Lalu ia disuruh mengulanginya pada malam hari juga, sampai menjadi begitu biasa sehingga sambil tidur pun diucapkan. Lalu ia berkata,”jangan diulang lagi, tetapi segenap inderamu pusatkan pada zikir pada Allah.” Ia dilakukan oleh sang murid, sampai ia tenggelam dalam pikiran tentang Allah. Pada suatu hari, waktu ia sedang ada di dalam rumah, sebatang kayu menjatuhinya sehingga kepalanya pecah. Titik darah yang jatuh ke bumi membentuk kata “Allah, Allah, Allah.”

Wa Allahu a’lam bi al-shawabi

(Materi Ceramah di Graha Persada, PT. Sokatama Persada pada 4 September 2013)

Juli 19, 2011

DUSTA, PERUSAK IMAN DAN AKAL

Filed under: RENUNGAN — ruhullah @ 3:56 am

Pada kesempatan ini, khatib mengajak jamaah untuk sejenak merenung secara lebih jernih kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Beberapa hari atau pekan lalu, kita disuguhi sejumlah menu informasi, mulai dari mencontek berjamaah (masal) di dunia pendidikan sampai pemalsuan surat MK.
Di sini kita tidak akan menyoroti dari sisi hukum, apalagi politik dari kasus-kasus tersebut. Pada kesempatan ini, kita melihat dari sisi epistemik dan etis. Fenomenanya: terdapat perdebatan, silang-pendapat, dan seterusnya. Yang bermuara pada kebingungan publik: sebenarnya, manakah yang perkataannya benar? Gejala kebingungan publik ini, dari sisi epistemologi (pengetahuan) adalah sesuatu yang “biasa” sebab kebenaran memang harus digali melalui metode dan pengukuran kebenaran tertentu.
Tetapi dari perspektif etis, hal tersebut adalah sesuatu yang “luar biasa”. Mengapa demikian? Ketika kita menghadapi suatu persoalan, kemudian kita tidak mampu secara terang dan langsung menunjuk manakah yang benar (baik) dan salah (buruk), itu artinya radar moral kita lemah. Mengapa radar moral kita demikian lemah, sehingga kita tidak berdaya mengendus mana pihak yang jujur, mana pihak yang dusta? Ada beberapa alternatif jawaban: kita sulit mengidentifikasi manakah si pendusta karena kita berhadapan dengan aktor-aktor psikopat . Mendeteksi kebohongan pada seorang psikopat sangat sulit karena mereka memiliki ketenangan diri yang luar biasa; tidak ada ekpresi kepanikan atau gugup ketika menyatakan suatu kebohongan; mimik muka datar; karenanya, sekalipun menggunakan lie detector, kita sulit mengidentifikasinya. Atau jangan-jangan karena dusta telah menjadi menu harian bahkan santapan kognitif kita; dusta telah menjadi biasa; kita terbiasa dengan informasi dan perilaku manipulative; dusta telah menjadi sesuatu yang dimaklumi. Akibatnya, kadang kita tidak mampu melihat secara terang-benderang batas antara jujur dan dusta atau manakah si pendusta. Bagaimana perspektif Islam tentang dusta? Jelas, dusta adalah sesuatu yang dikecam dalam Islam!
Iman dan Dusta
Rasulullah ditanya,” apakah seorang Mukmin bisa menjadi pengecut dan penakut? Beliau menjawab,”ya”. Ditanya lagi,” apakah seorang Mukmin bisa menjadi kikir?” Beliau menjawab,”ya”. Beliau ditanya lagi” dapatkah dia menjadi pendusta?”. Beliau menjawab,”tidak”. Imam Muhammad al-Baqir berkata ,”dusta adalah kehancuran bagi iman”.
Mengapa? Salahsatu butir keimanan yang terpenting selain adalah keyakinan bahwa Maha Mengetahui (al-‘Alim). Coba kita perhatikan, perilaku dusta: Pada dasarnya, berdusta adalah tindakan menyengaja untuk menutupi atau memanipulasi suatu informasi atau fakta tertentu, baik tentang diri maupun yang lain. Ketika berbohong, seseorang yakin bahwa, tidak ada satu pun yang tahu tentang kebohongannya selain dirinya. Padahal, Allah Maha Tahu apa yang dizahirkan oleh lidah kita, maupun yang tersembunyi dalam pikiran dan relung hati kita. Dengan kata lain, pendusta tidak yakin, saat ia berdusta, bahwa Allah mengetahui perbuatan dustanya. Karena itu, tidak salah jika Rasulullah Saw memasukkan pendusta dalam kategori “orang-orang munafiq”, karena mereka bermasalah dengan keimanannya.
Dusta lebih buruk dari Minuman Keras
Imam Muhammad al-Baqir berkata, “Sesungguhnya Allah „Azza wa Jalla telah menjadikan beberapa penutup untuk suatu keburukan dan menjadikan minuman keras sebagai kunci pembukanya. Akan tetapi, kebohongan lebih buruk daripada minuman keras.”
Pernyataan tersebut tidak berarti bahwa, minuman keras tidak berbahaya. Pernyataan di atas mengungkapkan tentang tingkat kerusakan yang diakibatkan dua hal: minuman keras dan dusta. Kerusakan apakah yang diakibatkan oleh kedua hal buruk tersebut? Keduanya merusak akal. Namun, mengapa kebohongan dipandang lebih buruk dibanding minuman keras? Minuman keras merusak akal secara fisik dan individual si pelaku. Minuman keras berakibat pada lemahnya saraf-saraf berfikir sehingga kontrol diri berkurang. Apapun bisa dilakukannya. Namun, kerusakan akal tersebut hanya bersifat pribadi (pelakunya) saja. Sedangkan kebohongan, merusak akal bukan secara fisik tetapi secara mental, dari dalam. Kebohongan mengakibatkan kesesatan dalam berfikir, yang berlanjut pada kekeliruan dalam menarik kesimpulan, dan berakibat pada kesalahan dalam mengambil tindakan. Selain itu, kebohongan tidak hanya merusak sistem berfikir si pelaku, tetapi juga orang lain (bayangkan jika seorang pejabat melakukan kebohongan publik, berapa banyak orang yang disesatkan dan kebijakan yang salah diambil sebagai akibat kebohongan).
Apa yang Perlu kita lakukan?
Moral atau akhlak pada dasarnya adalah kebiasaan. Karena itu, perlu kita melakukan, minimal beberapa beberapa hal dibawah ini:
Pertama, Membiasakan berkata jujur. Memang, berkata jujur tidak selalu mudah dilakukan. Namun, pesan Rasulullah Saw, “katakanlah yang benar meskipun pahit.”
Kedua, hindari dusta, walaupun kecil atau pada saat bercanda sekalipun. Imam Ali ibn Abi Thalib berkata,” orang tidak merasakan iman kecuali setelah dia tidak melakukan dusta, baik dalam pembicaraan serius maupun senda-gurau.” Rasulullah berpesan pada Abu Dzar al-Ghifari,”Wahai Abu Dzar, celakalah orang yang berdusta dengan maksud membuat orang lain tertawa. Celakalah dia! Celakalah dia!” Intinya, Jangan remehkan dusta-dusta kecil, bahkan dalam bercanda sekalipun. Bisa jadi, pada sesuatu yang kecil, yang kita anggap remeh itulah, Allah murka. Ini berarti juga, jangan melihat “besar atau kecilnya” kesalahan dan dosa, tapi di hadapan siapa kita melakukannnya.
Ketiga, dalam masyarakat yang dusta telah berkecambah, merajalela dalam setiap sisi kehidupan, kita harus lebih kritis untuk menyaring informasi yang membanjiri pikiran kita. Dalam filsafat pengetauan (epsitemologi), kita diajarkan tiga teori kebenaran yang dapat kita gunakan untuk mengukur suatu pernyataan, apakah benar atau salah. Pertama, teori korespondensi: suatu pernyataan benar jika pernyataan tersebut sesuai dengan fakta. Kedua, teori koherensi: suatu pernyataan benar jika pernyataan tersebut sesuai dengan pernyataan sebelumnya yang telah dianggap benar. Ketiga, teori pragmatis: suatu pernyataan benar jika pernyataan tersebut memiliki nilai guna praktis. Tampaknya memang, saat ini kita tidak boleh mengunyah semua informasi yang tersaji di berbagai media. Kita perlu diet informasi!
Sebagai akhir dari khutbah ini, saya kutipkan perkataan Rasulullah Saw sebagai berikut: Rasulullah Saw,” Yang paling dekat denganku pada hari kiamat dan yang paling patut mendapatkan syafaatku adalah: yang paling jujur, yang paling dapat dipercaya, yang paling ramah, dan yang paling akrab di antara kalian dengan kebanyakan orang.”
Wa Allahu a’lam bi al-shawabi.
(Aula Nurcholish Madjid, 8 Juli 2011)

Maret 14, 2011

KECERDASAN-KOGNITIF DENGAN KESUCIAN-SPIRITUAL

Filed under: FILSAFAT — ruhullah @ 2:23 pm

Seperti kita ketahui, istilah falsafah atau filsafat masuk ke dalam bahasa Arab melalui penerjemahan teks Yunani pada abad ke-2 h/ke-8 M danke-3 H/ke-9 M. Bagaimana filsafat  dimaknai oleh para filosof Muslim.

Sayyed Hosein Nasr  mendaftar beberapa definisi filsafat yang lazim digunakan para filosof muslim antara lain:

(1)   Filsafat (al-falsafah) adalah pengetahuan tentang segala yang ada qua maujud-maujud (asyya’ al-mujudah bi ma hiya maujudah)

(2)   Filsafat adalah pengetahuan tentang yang ilahiyah dan yang insaniah.

(3)   Filsafat mencari perlindungan dalam kematian, maksudnya, cinta pada kematian.

(4)   Filsafat adalah (upaya) menjadi seperti-Tuhan dalam kadar kemampuan manusia.

(5)   Filsafat adalah seni (shina’ah) tentang seni-seni dan ilmu (‘ilm) tentang ilmu-ilmu.

(6)   Filsafat adalah prasyarat bagi hikmah.

 

Dalam tradisi intelektual Islam, filsafat dihubungkan dengan  hikmah ilahiyah.  Selanjutnya, kita akan lihat pendapat para filosof Muslim tentang filsafat yang menunjukkan perkembangan pemaknaan filsafat di kalangan filosof Muslim. Kita mulai dari Al-Kindi yang berpendapat bahwa,” filsafat adalah tentang realitas hal-hal yang mungkin bagi manusia, karena tujuan puncak filosof dalam pengetahuan teoritis adalah untuk memperoleh kebenaran, dan dalam pengetahuan praktis untuk berperilaku sesuai dengan kebenaran.”  Sedangkan al-farabi melihat bahwa, filsafat adalah induk semua ilmu, yang mengkaji segala yang ada.  Ibn Sina agak berbeda. Menurutnya, ” al-hikmah (yang dipahaminya sama dengan filsafat) adalah usaha untuk mencapai kesempurnaan jiwa melalui konseptualisasi (tashawwur) atas segala hal dan pembenaran (tashdiq) realitas-realitas teoritis, dan praktis berdasarkan ukuran kemampuan manusia.” Pada akhir hidupnya,  Ibn Sina membedakan antara filosafat peripatetik dengan filsafat Timur (al-hikmah al-masyriqiyyah). Filsafat Timur inilah cikal-bakal filsafat isyraq Suhrawardi.  Pemikiran Ismailiiyah dan Hermetiko-Pythagorean melangkah jauh dengan menekankan bahwa, filsafat berhubungan dengan dua hal: teoritis (berfikir filosofis) dan praktis (tuntunan ke kehidupan bijak).  Model berfikir seperti ini tampak pada pemikiran Ikhwan al-Shafa yang berpendapat bahwa,” permulaan filsafat (falsafah) adalah cinta pada ilmu, pertengahannya adalah pengethauan tentang realitas Wujud sesuai dengan  ukuran kemampuan manusia, dan pamungkasnya adalah kata dan perbuatan yang sesuai dengan pengetahuan itu.”

Suhrawardi mengusung perspektif baru dengan menggunakan istilah hikmah al-isyraq daripada falsafah al-isyraq. Henry Corbin menterjemahkan hikmah al-isyraq sebagai theosophie.  Bagi Suhrawardi dan filosof muslim sesudahnya, hikmah dipandang bersifat ilyah yang harus direalisasikan secara utuh, bukan hanya secara mental. Sebelum muncul Aristotelianisme, filsafat bermakna hikmah, yang mencakup pelepasan diri dari tubuh dan pendakian ke dunia cahaya, seperti tampak dalam pemikiran Plato. Jadi, tradisi hikmah menggabungkan dan mensyaratkan kesempurnaan daya rasional dengan kesucian jiwa.

Makna hikmah tersebut terlihat jelas dalam pemikiran Mulla Shadra yang  berpandangan bahwa,” falsafah adalah upaya penyempurnaan atas jiwa manusia dan,  dalam beberapa hal, atas kemampuan manusia melalui pengetahuan tentang realitas esensial segala sesuatu segbagaimana adanya, dan melalui pembenaran terhadap eksistensi mereka yang ditetapkan atas dasar demonstrasi (burhan) dan bukan di turunkan dari opini atau dugaan.” Menurut Shadra, “(melalui hikmah) manusia mejadi dunia intelejibel yang mirip dengan dunia objektif dan serupa dengan tatanan eksistensi universal. Selain itu, Shadra menekankan juga bahwa, filsafat terkait dengan “penceraian” nafsu, serta kesucian jiwa dari polusi material  (tajarrud atau katarsis). Shadra menyimpulkan, “ falsafah atau filsafat dinilai sebagai ilmu tertinggi yang berasal usul secara azali dari Tuhan, yang berasal dari  “ceruk kenabian” dan hukama, yang dipandang sebagai sosok manusia pempurna, dan mempunyai kedudukan hanya, di bawah para nabi dan imam.

Jadi, dalam tradisi Islam, filsafat berhubungan dengan:

(1)   upaya menemukan kebenaran tentang hakikat segala sesuatu

(2)   usaha menggabungkan pengetahuan mental dengan kesucian dan kesempurnaan wujud.

 

Wa Allahu a’lam bi al-shawabi

 

(Dirangkum dari: Seyyed Hosein Nasr, “Makna dan Konsep Filsafat dalam Islam” dalam Seyyed Hosein Nasr  dan Oliver Leaman (Ed. ), Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam: Buku Pertama, [Bandung: Mizan, 2003], h. 29-35)

RINGKASAN AL-ASFAR AL-ARBA’AH MULLA SHADRA

Filed under: FILSAFAT — ruhullah @ 2:17 pm

Tatanan Wujud

Al-Asfar al-arba’ah merupakan meta-teori Shadra yang memaparkan tentang empat perjalanan manusia menuju kesempurnaan wujud dengan proses pemikiran (aql) juga dengan proses penyatuan (syuhud). Inti empat perjalanan adalah kesempurnaan wujud. Apa itu wujud? Wujud terbagi menjadi: alam materi (mulk), alam non materi (alam mitsal/idea dan alam akal/jabarut/ intelligence), dan Tuhan.

Materi adalah substansi yang memiliki panjang, lebar, tebal, dan gerak. Karenanya, tidak lepas dari ruang dan waktu. Singkatnya, alam materi merupakan alam keterikatan dan ketergantungan. Materi memiliki sifat: potensi (kemungkinan) dan actus (aktualitas). Peralihan dari potensi ke actus disebut sebagai gerak. Alam mitsal adalah alam yang masih memiliki sifat materi (seperti bentuk, warna dll) tapi tidak memiliki beban, tidak terikat ruang dan waktu. Alam ini terbagi dua: “menyatu” dan “terpisah” dari manusia. Fenomena mimpi adalah contoh dari alam ini. Ketika seseorang mimpi sesuatu yang benar, ia terkoneksi dengan alam mitsal “terpisah”. Sedangkan jika mimpi sesuatu yang salah, ia terkoneksi dengan alam mitsal “menyatu”. Alam akal adalah alam yang hanya terdiri dari substansi, tidak ada ciri materi (beban). Tidak ada proses perubahan. Alam ini disebut juga alam ‘amr (kun fa yakun). Selama jiwa dan akal manusia masih terpengaruh dan memiliki bentuk-bentuk material, ia tidak akan mampu memasuki alam ini. Melihat tatanan wujud di atas, maka terlihat hirarki “penciptaan”: makhluk pertama yang diciptakan adalah akal. Dengan akal, Allah menciptakan mitsal, serta dengan akal dan mitsal, Allah menciptakan alam materi. Inilah proses menurun (inna lillahi), dan kembalinya segala sesuatu disebut sebagai “proses menaik” (wa inna ilaihi raji’un).

Empat Perjalanan

Pertama, perjalanan dari makhluk ke al-Haq (al-safar min al-khalq ila al-Haq). Perjalanan untuk meninggalkan alam materi ke alam mitsal, dari alam mitsal ke alam akal, dan dari alam akal menuju al-Haq. Maksud meninggalkan adalah meninggalkan dalam hati, steril dari yang selain-Nya. Pada tahap ini, seseorang tetap makan dan minum, tapi hati tidak boleh tertambat padanya. Materi tidak boleh menyentuh, apalagi bersemayam, dalam kerajaan hatinya. Setelah mampu melakukan hal ini, baru mulai melangkah ke alam mitsal. Dalam alam mitsal, seseorang akan mengetahui rahasia alam materi: yang lalu, sedang, dan akan terjadi. Semua hal “ajaib”, seperti karomah, mukasyafah, syuhud adalah cobaan, hijab cahaya. Untuk melangkah ke tahap selanjutnya, seseorang harus lepas dari ketakjuban dan rasa suka terhadap segala fenomena alam mitsal. Kaki spiritual mulai masuk ke alam akal! Di alam mitsal, manusia memiliki bentuk tetapi tanpa beban. Sedangkan di alam akal, manusia tidak berbeban dan tidak berbentuk. Ia bertangan dan berkaki, tetapi tidak dengan bentuk. Bertangan dan berkaki tidak di tempat yang berbeda. Hakikat tangannya adalah hakikat kaki, kepala, dan semua anggota tubuhnya. dan seterusnya. Alam disebut juga : jannah al-muqarrabin (surga orang-orang yang didekatkan) yang letaknya di atas “surga mukminin”. Meskipun kenikmatannya tak terkira, sang pejalan harus terus melanjutkan perjalanan menuju kelezatan yang hakiki, yakni washlah (sampai, menyatu, kawin) dengan al-Haq (wa ilahi al-Mashir), yakni menjadi mazhar nama-Nya.

Kedua, perjalanan dari al-haq memuju al-Haq bersama al-Haq (al-safar fi al-haq). Inilah perjalanan tanpa batas. Perjalanan ini merupakan penelusuran sifat-sifat Ilahiah, mengetahui seluruh sifat dan asma-Nya, fana dalam zat, sifat, dan perbuatannya. Fana bermakna, tidak melihat diri-Nya. Fana dalam zat disebut maqam rahasia (sirr), fana dalam sifat disebut maqam “tersembunyi” (khafi), sedangkan maqam “tersembunyinya sembunyi” adalah fananya fana, yakni tidak merasakan kefanaan. Jika seseorang merasa fana, masih ada pengakuan akan eksistensinya. Pengakuan akan eksistensi adalah dosa besar! Kesadaran kefanaan perlu diabaikan, dan perhatian tertuju pada al-Haq.

Ketiga, Perjalanan dari al-Haq menuju makhluk bersama al-Haq ( al-safar min al-Haq ila al-khalq bi al-Haq). Perjalanan kedua telah sampai pada fana yang bermula dari pelepasan dari dari jerat kemajemukan, dengan berfokus pada Yang Satu. Nah, tahap selanjutnya adalah kembali melihat kemajemukan dengan tetap menjaga kefanaannya. Ketika seseorang fana, tubuh dan jiwanya bersifat ilahiah. Melihat semua alam dengan “mata” al-haq. Nafasnya adalah nafas ketuhanan.

Keempat, perjalanan dari makhluk ke makhluk bersama al-Haq (al-safar fi al-khalq bi al-Haq). Dengan mata ilahiah, seseorang memperhatikan makhluk dan rahasianya, mengerti seluruh rahasia makhluk, titik mula dan akhirnya, tiotik awal dan tujuannya, apa yang baik dan buruk baginya. Inilah maqam wilayah atau khalifah (khalifatullah) atau insan al-kamil. Dan bagi yang diangkat menjadi rasul, maqam ini disebut sebagai risalah (kerasulan).

Wa Allahu a’lam bi al-shawab

(Disarikan dari: Hasan Abu Amar, “Empat Perjalanan (al-Asfar al-Arba’ah) Mulla Shadra” dalam Buletin al-Murasalat: Musyawarah Religi Antar Sesama Relatif, Edisi II/Rabi alAwal 1420 H/ Juni 1999, h. 11-16 dan Edisi III/Rabi al-Tsani 1420 H/ Agustus 1999, h. 13-14)

Desember 31, 2010

IKONOKLASME ISLAM

Filed under: AGAMA — ruhullah @ 8:22 am

Pertanyaan : bagaimana pandangan Islam tentang gambar, terutama gambar Nabi Muhammad? Dalam sejarah agama-agama, pro-kontra penggambaran figur suci dapat kita temukan dalam kontroversi tentang ikonoklasme.

Awal Ikonoklasme

Pada dasarnya, ikonoklasme adalah paham anti-gambar. Paham ini dianut sebagai arus utama pemikiran keagamaan dalam sejumlah agama. Menurut Nurcholish Madjid dalam Ensiklopedi Nurcholish Madjid: Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban (2006: 989-992), ikonoklasme berakar kuat pada tradisi agama semitik. Istilah ikonoklasme populer dalam sejarah agama Kristen. Sebagaimana agama semitik lainnya, Kristen adalah ikonoklastik. Agama Kristen lahir di Palestina yang awalnya dipeluk oleh orang-orang Palestina, yang dikuti kemudian oleh orang-orang Yahudi. Karena itu, dalam sejarah agama, dikenal istilah christian-jewish (ras Yahudi yang beragama Kristen). Merekalah yang bersikap ikonoklastik. Namun, ketika agama Kristen mulai dipeluk oleh orang Yunani dan Romawi, kebiasaan orang Yunani dan Romawi membuat patung dan sebagainya merembes masuk ke Agama Kristen. Akhirnya, tradisi menggambarkan objek-objek mistik tumbuh pesat dalam Kristen. Lalu, muncul reaksi keras dan perlawanan dari para pendeta Kristen Timur (Syria). Reaksi ini melahirkan gerakan anti-gambar (ikonoklasme), sekitar tahun 717 M-843 M. Namun, gerakan ini kalah. Al-hasil. Kristen pun te-romawi-kan dan ter-yunani-kan sehingga muncul penggambaran Yesus, Maryam, dan sebagainya. Katolik Yunani hanya membolehkan lukisan dinding, sedangkan Katolik Romawi mengizinkan pembuatan patung sehingga gereja dipenuhi patung-patung. Patung dan gambar inilah yang ditentang oleh Kristen Protestan karena dianggap syirik, dan mereka hanya menerima salib.

Ikonoklasme Islam

Gerakan ikonoklastik dalam Islam secara simbolik terekam dalam pertitiwa “Fath al-Makkah” (penaklukan kota Mekkah). Pada saat itu, nabi Muhammad beserta para sahabatnya menghancurkan patung-patung yang terdapat di sekeliling Ka’bah. Mungkin, inilah momen sejarah yang dijadikan sebagai pembenaran ikonoklasme dalam Islam.

Selain alasan historis tersebut, memang ada alasan teologis: Kaum Muslim meyakini, Tuhan dipersepsi sebagai yang tak mungkin tersaingi (QS. 112:4). Sekali Tuhan tergambarkan, maka Dia bisa dijangkau, dan dengan sendirinya relatif. Inilah rigorous monotheism, paham satu Tuhan yang ketat. Namun, kemudian pandangan ini meluas bukan hanya sebatas pada penggambaran Tuhan. Sebagian ulama bahkan melarang pernggambaran makhluk hidup, baik berupa patung maupun gambar. Memang, pendapat ini masih kontroversial: Ada yang menghalalkan, namun tak sedikit yang mengharamkan. Bagi yang membolehkan pun, gambar makhluk hidup tersebut mesti “tidak utuh”. Ada sebagian anggota tubuhnya yang dihilangkan. Karena paham anti-gambar inilah, maka seni yang berkembang di dunia Islam adalah seni kaligrafi dan arabesk. Kaligrafi mengembangkan paham ketuhanan yang abstrak, dengan penekanan pernyataan diri Tuhan melalui wahyu. Sedangkan arabesk merupakan pengembangan rasa keindahan yang bebas dari mitos alam, dan dilakukan dengan mensketsakan pola-pola abstrak yang diambil dari pengolahan motif bunga-bungaan, daun-daunan, dan poligon-poligon.

Gambar Nabi

Lalu, bagaimana dengan gambar Nabi Muhammad? Sebetulnya, ada dua hal yang perlu dibedakan dalam penggambaran Nabi Muhammad. Pertama, gambar yang mengekspresikan penghinaan, pelecehan, dan penodaan terhadap citra pribadi Nabi Muhammad. Jelas, gambar seperti ini diartikan oleh kaum Muslim sebagi serangan terhadap figur suci Nabi. Kedua, gambar yang mengilustrasikan kehidupan Nabi, tetapi tidak dalam gambaran negatif. Dalam konteks tipe gambar kedua tersebut, mungkin masih debatable. Di kalangan mayoritas Muslim Suni, gambar tipe kedua ini pun dianggap tabu. Sedangkan dalam masyarakat Muslim Syiah, tidak.

Sebenarnya, menurut Wijdan Ali (1999), seorang ahli seni Islam, larangan menggambar Nabi belum muncul sampai abad ke-16-17 M. Hal ini dibuktikan dengan adanya sejumlah “ilustrasi tentang Nabi” dalam sejumlah buku, seperti buku Jami’ Tawarikh karya Rasyid al-Din yang diterbitkan di Tabriz, Persia (1307 M). Kini buku tersebut tersimpan dalam koleksi Perpustakaan Universitas Edinburgh, Skotlandia. Bahkan, untuk menghindari larangan makhluk hidup, khususnya Nabi, sejumlah pelukis Muslim mengambarkan Nabi tanpa menggambarkan paras Nabi (seperti lukisan Turki abad ke-16, yang tersimpan di Museum of Fines Art, Boston), atau bagian muka yang ditutupi cahaya yang dapat kita temukan dalam sejumlah gambar grafis kontemporer Iran.

Wa Allah a’lam bi al-shawab

 

 

 

Laman Berikutnya »

Blog di WordPress.com.