JALAN CAHAYA

Desember 28, 2010

CARA KERJA FILSAFAT

Filed under: FILSAFAT — ruhullah @ 2:53 am

Dalam sejarah filsafat, kita akan bersua dengan berbagai produk pikiran ras manusia yang merupakan hasil penyelidikan filosofis. Sejarah filsafat mengajarkan kita tentang: bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan filosofis, tema-tema apa saja yang dianggap penting dalam periode tertentu, dan aliran-aliran yang lahir dari rahim perdebatan filosofis dan aliran yang dominan filsafat yang dominan di satu periode. Menariknya, ada pertanyaan-pertanyaan yang tawaran jawabannya melampui zaman. Karena itu, sejarah filsafat tampak seperti galeri pemikiran dimana tema-tema perenial didialogkan oleh semua orang, semua zaman, semua kebudayaan. Pada bagian ini akan dikupas ”cara kerja” filsafat secara historis.

Yunani Kuno

Proyek filsafat pra-sokretik adalah ingin menemukan arkhe, asas dari semua gejala yang diamati dan dialami manusia. Gejala-gejala tersebut merupakan titik pangkal usaha mereka. Dari sana mereka menuju asas yang tak kelihatan, yang dianggap sebagai susuatu yang objektif.

Setelah itu, muncul sofisme yang berhaluan skeptis. Usaha filosofis Sokrates merupakan reaksi terhadap sofisme. Soktrates mengarahkan wacana filsafat pada subjek. Cara kerja sokrates: ”berdasarkan yang Anda katakan, gagasan dan keyakinan apa yang terdapat dalam lubuk batin dan hati Anda sehubungan dengan pengetahuan maupun moral?” Metode sokrates: maieutike (kebidanan), upaya agar dalam dialog apa yang terkandung dalam diri manusia bisa dilahirkan, diucapkan, dan disadari.  Seperti seorang bidan yang membantu ibu melahirkan seorang bayi.

Cara kerja ini diwarisi oleh Plato, murid Sokrates. Namun, plato memiliki kecenderungan untuk mengarahkan usaha filosofisnya pada dunia di luar pengalaman manusia. Yang benar dapat digapai manusia berkat intuisinya. Bagi Plato, dunia ide itulah dunia yang objektif. Pengetahuan apriori dan cara kerja deduktif adalah jaminan untuk mencapai kepastian mutlak dan keberlakuan umum (episteme).

Aristoteles, murid Plato, mewarisi pemikiran gurunya dengan berbagai modifikasi. Intuisi diganti dengan abstraksi, tekanan pengetahuan apriori digeser ke pengetahuan a posteriori, mengutamakan cara kerja induksi daripada cara kerja deduksi. Aristoteles menitikberatkan pada pengetahuan tentang objek. Karena itu, Aristoteles menjadi tokoh pertama yang secara luas menjalankan penelitian ilmiah empiris.  Selanjutnya, pada akhir periode ini, muncul neoplatonisme. Aliran ini melanjutkan gagasan Plato tentang dunia di seberang yang tak kelihatan. Yang baru dari gagasan neoplatonisme adalah kesatuan antara dunia yang di seberang sana dengan dunia fana di sini. Semuanya dianggap mengalir dari Sumber Esa. (emanasi), sambil mengarah kembali pada Sumber itu (remanasi). Cara kerja seorang bijaksana, bagi neoplatonisme, adalah lewat mistik untuk remanasi. Karena itu, seseorang mesti menyangkal diri dan menjalani lakutapa. Tampak pengaruh pemikiran India.

Filsafat di Lingkungan Agama Semitik dan Skolastik

Konfrontasi filsafat dengan agama: Pertama, Yunani kuno, Pra-Sokratik dan Sokrates, dengan tuduhan bahwa, Filsafat menghacurkan agama, dan menolak dewa-dewi mitologi Yunani. Kedua, neoplatonisme dengan model mistik panteistiknya. Pertemuan selajutnya adalah antara filsafat dengan tiga agama semitik. Bagi kaum yang kokoh memegang prinsip-prinsip keagamaan, filsafat merupakan sebuah dunia lain, dengan struktur pengetahuan, kehidupan yang tidak berpijak pada iman, tapi tidak boleh ditolak begitu saja. Muncullah, problem iman dan akal (fides dan ratio).

Pertama, bersikap terbuka,dan kesinambungan iman dan rasio. Filo dari Iskandaria (Yahudi), Yustinus (mazhab Iskandaria) dan para pengarang kuno dan penganut gereja Timur (Kristen), dan aliran Mutazilah, al-Farabi, Ibn Sina, dan Ibn Rushd (Islam).

Kedua, menolak rasio. Bahkan, filsafat, ilmu, dan kebijaksanaan dipandang berasal dari lingkungan kafir serta akan merusak kemurnian iman. Sikap ini menguat di Kristen terutama semenjak Paulus, diikuti Tertullianus, Agustinus. Di Islam, ada al-Ghazali, Ibn Hambal, Ash’ariyah. Di kalangan Yahudi tidak terlalu kuat.

Di Spanyol Selatan, melalui kerjasama budaya, muncul corak skolastik sejak abad ke-12. Kata methodus scholastica, terkait dengan schola (sekolah). Istilah ini tampak jelas pada karya Boethius (sekitar 500 M). Inti pikirannya adalah menggabungkan iman dan akal. Dalam lingkungan Islam tampak pada Mu’tazila, berpuncak pada al-Farabi dan Ibn Sina. Di kalangan Yahudi dapat terlacak pada karya-karya Ibn Gabirol.

Dalam Kristen, yang berhutang jasa pada filosof Muslim, berkembang filsafat yang bukan hanya berada dalam bayang-bayang filsafat kuno tapi menampilkan inovasi baru, seperti Anselmus dengan analisis konsep dalam bahasa, khususnya kata ”Allah”, dan Petrus Abelardus dengan pemakaian logika yang sangat maju.

Selama kurun skolastik, pemikiran Aristoteles sangat dominan, dikembangkan, terutama oleh Ibnn Rushd (Islam), Maimonides (Yahudi) di Spanyol pada abad ke-12, Albertus Agung dan Thomas Aquinas ( Kristen-Eropa Barat) selama abad ke-13.

Pandangan Skolastik tentang filsafat: akal berasal dari Allah, seperti halnya wahyu yang jadi pondasi iman. Karenanya, akal tidak mungkin bertentangan dengan iman. Oleh sebab itu, kaum beriman tidak perlu curiga terhadap akal. Namun, catatan pentingnya, iman tetap di atas akal, teologi di atas filsafat. Meskipun demikian, iman atau teologi tidak boleh atau tidak dapat memperbudak filsafat sebab filsafat benar-benar berdaulat dan berdiri sendiri.

Bagaimana asal-usul dan cara kerja filsafat? Thomas Aquinas berpendapat, ilmu, termasuk filsafat, berpangkal pada pengamatan dan pengalaman indrawi, lalu dilakukan abstraksi ”yang umum ditarik dari yang partikular”. Abstraksi itu dibimbing oleh asas: pertama, asas dari logika. Contoh, pernyataan ”keseluruhan lebih besar daripada salahsatu bagiannya”. Ini analisis konsep. Kedua, pergaulan dan pembicaraan antar manusia, karena dalam konteks itu ada asas-asas tertentu yang selalu ikut ditegaskan, bahkan ditegaskan di tengah-tengah upaya untuk menyangkalnya. Contoh, orang yang menolak adanya bebenaran sebetulnya implisit dikatakan ” benarlah bahwa, tidak ada kebenaran”. Melalui asas-asas tersebut, dimulailah metode deduksi. Dengan metode inilah semua bentuk pengetahuan diturunkan. Berbeda dengan Aristoteles, Thomas menekankan pula intuisi (pengaruh Agustinus), dimana intuisi dipahami sebagai karunia Tuhan, sebagai illuminatio, terang- Nya. Terang yang dimaksud, terang akal manusia yang dianugerahkan Tuhan. Penekanan pengetahuan dan cara kerja filsafat pada masa skolastik adalah pada objek pengetahuan serta ciri objektif pengetahuan itu sendiri.

Masa Modern

Pada masa modern, ditandai dua ciri utama: pertama, filsafat semakin berdiri sendiri. Kebanyakan filosof tidak memperdulikan teologi yang berdasarkan iman. Kedua, pembelokan ke arah subjek pengetahuan, seperti dirintis Descartes. Alhasil, muncullah ribuan filosof, dan ratusan sistem filsafat bak jamur di musim hujan.

Lima tahap perkembangan filsafat modern:

Tahap pertama, Descartes, Spinoza dan Pascal. Dicirikan oleh sikap mereka terhadap cara kerja apriori atau aposteriori filsafat dan pengetahuan secara umum. Descartes bercita merobak cara kerja filsafat dan ilmu pengetahuan. Perombakan tersebut membutuhkan pijakan kepastian yang kokoh. Kepastian itu dimulai dari keraguan umum. Melalui keraguan metodis, ia merumuskan kepastian yang diperolehnya dengan frasa ”Aku sadar (berfikir), maka aku ada” (je pense, donc je suis, cogito, ergo sum). Dasar kepastian tersebut berasal dari ”ide yang jelas dan terpilah-pilah” (idee claire et distantce, idea clara et distantca). Ada tiga macam ide yang jelas dan terpilah-pilah tersebut: kesadaranku (res cogitans), keluasan (res extensa), dan adanya yang sempurna (ens perfectissimum). Aku adalah pusat kesadaran sam dengan jiwa, keluasan: dunia material, dan Tuhan. Berkat ketiga ide tersebut semu yang ada menjadi masuk akal dan dapat diturunkan (dibuktikan dengna jalan deduksi). Sesuai dengan hakekatnya masing-masing. Sebetulnya, cara kerja Descartes adalah cara kerja apriori dan deduktif menurut model ilmu pasti.

Tanpa melalui jalan keraguan, Spinoza mengembangkan pemikiran yang telah dirintis oleh Descartes. Bagi Descartes dan Spinoza, filsafat, ilmu alam dan teologi tunduk pada cera kerja deduktif. Blaise pascal menyangkal anggapan tersebut. Menurutnya, cara kerja aposteriori-lah yang mesti dikedepankan, baik dalam bidang ilmu maupun iman. Dalam bidang iman (teologi), Pascal mencurigai kemampuan akal yang dianggapnya lemah dan menimbulkan dosa. Ia menganut fideisme, yang berkembang menjadi Jansenisme dan pietisme. Sedangkan dalam bidang ilmu, ia memihak pada ilmu-ilmu yang didasarkan pada pengamatan dan percobaan.

Tahap kedua, berlangsung secara bersamaan dengan tahap pertama. Muncul aliran rasionalisme (kelanjutan Descartes dan Spinoza), meski tidak mementingkan cara kerja matematika yang ketat, menjunjung hasil pikiran tanpa peduli pengalaman pribadi ataupun penelitian empiris. Cara kerja dan sistematisasinya oleh Christian Wolff. Selain rasionalisme, muncul empirisme yang berkembang pesat di Inggris, dengan tokoh-tokohnya: Hobbes, Locke, Berkeley, dan Hume. Dalam empirisme, cara kerja filsafat adalah mengumpulkan data-data empiris yang diolah dan diatur oleh pengetahuan inderawi si penyelidik. Selama itu berjalan, filsafat juga mengadakan penelitian atas susunan dan mekanisme pengetahuan itu.

Tahap ketiga, munculnya filsafat Kant. Bertolak dari ketidakmampuan rasionalisme dan empirisme menerangkan ”kemungkinan” adanya ilmu-ilmu alam yang cara kerjanya ”induksi”, Kant mencoba membuat proyek filsafat baru. Filsafat Kant bertolak dari pertanyaan: apa yang menjadi dasar kemungkinan adanya ilmu-ilmu alam dalam diri sunjek? Cara kerja ini disebut transendental, karena pertanyaan dan cara kerja ini ”melampaui” atau ”melompati” segala pertanyaan dan cara kerja yang menurut anggapannya kurang matra yang paling dalam atau paling akhir. Filsafat Kant merupakan suatu sistem yang didasarkan pada kejadian-kejadian yang secara aposteriori diselidiki oleh ilmu pengetahuan, untuk menemukan susunan subjek pengetahuan yang memungkinkan penyeledikan aposteriori itu. Susunan subjek pengetahuan itu bersifat apriori, mendahului penelitian aposteriori. Singkatnya, Kant mencoba mendamaikan unsur aposteriori dengan yang apriori, sekaligus mendamaikan objek dengan subjek pengetahuan, meski subjek pengetahuan tetap dipandang lebih tinggi. Dalam pikiran Kant, objek pengetahuan pada dirinya sendiri (Das Ding an sich) ada, tetapi tidak dapat dikenal. Yang dikenal adalah apa yang terjadi dalam diri subjek. Dari dasar pijakan ini, muncul idealisme. Dengan menghapus Das ding an sich Kant, kenyataan objek pengetahuan diubah menjadi hasil pengetahuan atau pikiran dan penalaran si subjek yang sedang berkembang sambil menyatakan diri dan mewujudkan diri. Jadi, cara kerja filsafat menurut idealisme adalah: usaha aktif mengikuti atau ambil bagian dalam perkembangahgan subjek pengethauan dalam segala bentuknya. Menurut Hegel, bentuk perkembangan tersebut: dialektis, sambil menelusuri perkembangan roh dalam sejarah. Unsur apiosteriori dan apriori terwakili, tapi tekanan pada apriori.

Tahap keempat, dicirikan oleh kritik atas idealisme, yang dibedakan menjadi tiga macam dan menghasilkan tiga cara kerja filsafat. Perintisnya: Marx, Kierkegaard dan Husserl. Marx bersepakat dengan Hegel dalam hal: dialektika penekanan pada sejarahnya. Namun, ada perbedaan di antara keduanya: Hegel menekankan pada masa lalu, sedangkan Marx penekanan pada praxis masa depan, Hegel lebih berorientasi pada bukan perwujudan roh, sedang Marx pada perkembangan materi dalam ekonomi dan politik. Kierkegaard mengkritik idealisme yang terlalu muluk-muluk, jauh dari pengalaman pribadi, khususnya pengalaman orang beriman. Cara kerja filsafat yang benar, menurut Kierkegaard, adalah pembinaan manusia dalam perjalanannya untuk menjadi bebas melalui tahap etis dan estetis sampai pada tarap religius, sesuai dengan eksistensinya yang paling dalam.

Husserl dengan fenomenologinya, kembali pada benda-benda itu sendiri (zuruck zu den sachen selbt). Maksud ungkapan ini bukan empirisme kasar, tetapi reaksi terhadap aliran-aliran yang meneliti kesadaran manusia. Menurut Husserl, penelitian seperti itu sia-sia karena kurang memperhatikan intensionalitas (keterarahan kesadaran). Oleh sebab itu, yang perlu diteliti adalah kesadaran manusia tentang sesuatu. Tentu maksudnya bukan berarti filsafat mempelajari dunia luar itu sendiri, tapi apa yang merupakan dasar dalam diri subjek pengetahuan yang terbuka dan rindu akan hasil pengetahuannya. Hussel mengembangkan cara kerja berdasarkan penangguhan dan penundahan (ephoce) terhadap penegasan, serta mengajak para fenomenolog untuk mengurung ataupun menahan keputusan tentang ciri-ciri eksistensi konkret objek bersangkutan. Semuanya itu guna mencapai hakekat (eidos) dari gejala-gejala yang sedang disoroti. Inilah yang disebut: reduksi: jalan melangkah mundur dari gejala-gejala itu sampai pada intinya yang diharapkan menampakkan diri. Jadi, metode ini seolah-olah berdayung ke arah hulu perjumpaan subjek-objek dalam kesadaran subjek itu sendiri. Dalam konteks inilah eksistensialisme hadir. Eksistensialisme menekankan kebebasan manusia yang berdaulat. Cara kerjanya: tidak mau meninjau manusia dan dunia dari luar diri manusia, melainkan hendak menguraikan eksistensi manusia berdasarkan keseluruhan pengalaman dan kegiatannya yang secara bebas terlibat dalam perkembangan dunia, bahkan dalam penciptaan dunia ini dengan segala nilainya.

Tahap kelima, menyimpang dari wacana subjek pengetahuan cartesian. Muncul aliran neopositivisme dan strukturalisme. Filsafat tidak terlalu mendapatkan tempat. Neoposiotivisme berupaya memadukan ilmu-ilmu empiris dengan ilmu-ilmu pasti. Seharusnya, filsafat mengurusi kemurnian bahasa ilmiah sesuai dengna patokan-patokan logika dan berdasarkan uraian bahasa ilmiah. Jadi, filsafat mesti menjaga segala pengaruh subjektif disingkirkan dari penelitian ilmiah, dan tidak mengakui adanya pengetahuan objektif lainnya. Setelah ilmu bahasa sukses menyusun ilmu kemanusiaan yang ketat menurut contoh ilmu-ilmu alam, seperti dalam pemikiran Ferdinand de Saussure (1857-1913), cara kerjanya, yakni strukturalisme, diterapkan pada ilmu-ilmu kemanusiaannya yang lainnya, seperti antropologi kebudayaan (Levi-Strauss), psikologi (Lacan), dan sejarah (Foucault). Menurut cara kerja ini: manusia dipelajari sebagai objek yang tunduk pada struktur yang secara apriori terdapat dalam bidang-bidang penyelidikan tersebut sebagai hukum-hukum yang tak dapat diganggu-gugat.

Disarikan dari:

C. Verhaak dan Haryono Imam, Filsafat Ilmu Pengetahuan: Telaah Atas Cara Kerja Ilmu-Ilmu, Jakarta: Gramedia, 1997)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Blog di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: