JALAN CAHAYA

November 12, 2008

ISLAM, KONFLIK, DAN PIAGAM PERDAMAIAN

Filed under: AGAMA — ruhullah @ 4:19 am

ahmadinejad3Sejarah bergerak secara dialektis. Artinya, sejarah merupakan ”arena” pertarungan kutub tesis dan antitesis manusia yang saling bertentangan, bertarung, meniadakan sekaligus menegaskan menuju suatu sintesis. Karena itu, sejarah selalu dalam keadaan ”menjadi”, bergerak, bergejolak, dan tidak ada ”saat diam”. Gerak dialektik sejarah itu melahirkan berbagai peristiwa, seperti konflik, perang, perdamaian dan sebagainya. Singkatnya, ada semacam determinisme historis dalam perjalanan umat manusia.

”Struktur” (baca: pola dasar) sejarah tersebut tidak akan aktual tanpa adanya akar atau basis antropologis yang tertanam dalam diri manusia yang memiliki kesamaan dengan struktur objektif sejarah tersebut. Dengan kata lain, ada ”syarat kemungkinan” yang membuat sejarah bergerak secara dialektis tersebut. Syarat kemungkinan itu adalah struktur antropologis manusia sendiri yang pasti mempunyai kesamaan dengan ”struktur” sejarah. Artinya, karena manusia pada dasarnya ”bersifat” dialektis, sejarah pun bergerak secara dialektis

Untuk melacak sifat dialektis manusia ini, kita bisa lirik pemikiran Ali Shariati, sosiolog sekaligus ideolog Revolusi Islam Iran. Karena itu, kupasan tentang Islam, konflik, dan perjanjian damai ini akan dimulai dari paparan tentang pandangan Shariati tentang basis antropologis konflik, lalu kemudian disusul dengan analisis sosiologis terhadap konflik, dan diakhiri dengan sebuah ekplanasi tentang bagaimana Islam memandang konflik dan perdamaian.

Manusia Dialektis

Shariati berpandangan, manusia terdiri dari dua anasir yang kontradiktif, yaitu ruh Allah dan tanah liat. Pandangan Shari’ati ini merupakan rumusan dasar al-Quran tentang manusia. Jadi, bagi Shariati, rumus manusia adalah:

Ruh Allah (the spirit of God) + Tanah liat Busuk (putrid clay) = manusia

Secara lebih rinci, Shari’ati memaparkan bahwa tanah liat dan ruh Allah harus dimengerti secara simbolik.[i] Bagi Shari’ati, tanah liat busuk (hama‘ masnun) adalah simbol kerendahan, stagnasi dan pasivitas mutlak. Sementara, ruh Allah merupakan simbolisasi dari gerakan tanpa henti ke arah kesempurnaan dan kemuliaan yang tidak terbatas.[ii] Jadi, dalam diri manusia, secara potensial, memiliki dua kekuatan yang saling bertentangan, kontradiktif.

Shari’ati yakin, pertentangan dua anasir itulah yang membedakan manusia dari makhluk lain. Menurut Shari’ati, makhluk lain, seperti hewan atau tumbuhan, adalah makhluk unidimensional. Karena dimensinya yang satu itu, makhluk lain cenderung pada lumpur, kerendahan, stagnasi dan imobilitas. Tunduk pada determinasi naturalnya. Sebenarnya, hal yang sama pun terjadi pula pada manusia. Dalam dirinya, manusia punya kecenderungan pula untuk stagnan, bisu, beku mengikuti tarikan tanah liat. Namun, manusia beruntung. Ia memiliki dimensi lain yang berasal dari ruh Allah. Dimensi ini mengangkat manusia ke derajat yang tinggi, derajat ilahi. Manusia mampu mentransendensikan dirinya dari determinasi tanah liat. Tiap individu mempunyai dua dimensi tersebut. Oleh karenanya, selain disebut sebagai makhluk bidimensional,Shari’ati pun menjuluki manusia sebagai realitas dialektis (a dialectic reality).[iii]

Ketegangan dua dimensi dalam diri manusia membuatnya harus terus-menerus “berperang” dalam dirinya. Ia harus memilih antara dua determinan. Kemampuan memilih didapat manusia dari kehendak bebasnya. Shari’ati menyatakan :

Manusia adalah kehendak bebas dan bertanggung jawab. Ia adalah kehendak yang harus memilih, tetapi sekaligus merupakan objek kehendak dan pilihannya itu. Meminjam istilah Brahmanisme, manusia adalah jalan, pejalan, dan perjalanan. Ia harus melakukan hijrah (migrasi) tanpa henti dari unsur tanah liat

dirinya kepada unsur ketuhanan dirinya.[iv]

Dua unsur determinan manusia merupakan suatu tesis dan anti-tesis. Gabungan kedua hal yang kontradiktif tersebut menimbulkan perjuangan dan gerakan yang menghasilkan sintesis penyempurnaan.[v]

Jadi, pada fitrahnya—seperti telah dikemukakan–manusia bersifat dualistik dan mengandung unsur kontradiktif. Keadaan manusia selalu bergerak antara dua infinitum, yakni tanah dan ruh Allah. Karena kondisi tersebut, manusia diistilahkan Shari’ati sebagai fenomena dialektis (dialectical phenomenon).[vi] Manusia merupakan ajang pertarungan antara dua kekuatan yang menumbuhkan evolusi terus-menerus ke arah kesempurnaan. Manusia bergerak dari tanah ke arah Allah.

Allah merupakan arah gerak manusia. Namun, Allah adalah sesuatu yang tak terbatas. Sehingga, gerak manusia menuju Allah merupakan gerak terus menerus, tanpa henti, tanpa batas. Shari’ati menegaskan :

Manusia adalah pemilihan, perjuangan, proses kejadian yang konstan. Ia adalah hijrah tanpa batas (infinite migration), yaitu hijrah di dalam dirinya sendiri, dari tanah liat kepada Allah. Ia adalah muhajir dalam jiwanya sendiri.[vii]

Shari’ati mengkaitkan perjalanan manusia menuju Allah itu dengan ayat al-Qur’an, surat al-Baqarah ayat 156.[viii] Sebelum menjelaskan ayat ini, Shari’ati mengkritik dua tipe tafsiran terhadap ayat ini. Tipe pertama adalah yang menafsirkan ayat ini dikaitkan dengan kematian. Tipe tafsir ini menerangkan bahwa kita kembali menjadi milik Allah bila kita mati. Menurut Shari’ati, ayat ini tak terkait dengan kematian dan pemakaman. Penafsiran yang tidak tepat yang kedua adalah yang menjelaskan ayat ini secara panteistik yang banyak berkembang di kalangan sufi. Dalam tafsir tipe ini, manusia lebur dalam esensi objektif Allah. Padahal, menurut Shari’ati, ayat ini tak menggunakan kata fihi (di dalam-Nya), tapi ilaihi (kepada-Nya). Jadi, kembali “kepada” Allah, bukan “ke dalam” Allah. Bagi Shari’ati, ayat ini menyatakan tentang orientasi manusia ke arah kesempurnaan tak berhingga.[ix]

Pandangan Shariati bahwa manusia adalah realitas dialektis sekaligus fenomena dialektis tersebut menunjukkan bahwa secara antropologis manusia adalah makhluk dialektis. Dialektika merupakan ”modus mengada” manusia individual. Karena itu, sebagaimana manusia-individual, manusia-sosial (masyarakat) pun memiliki karakter dialektis. Gerak dialektis masyarakat manusia menyiratkan adanya konflik (tesis-antitesis) dan konsensus (sintesis). Ralf Dahrendorf, dalam teori konfliknya, berpendapat bahwa masyarakat mempunyai dua wajah (konflik dan konsesensus). Masyarakat tidak akan ada tanpa konsensus dan konflik yang menjadi persyaratan satu sama lain. Konflik dan konsesus merupakan dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Setiap konflik melahirkan konsensus dan setiap konsensus melahirkan konflik. Ada hubungan timbal balik di antara keduanya. [x]

Legislasi Perang

Shariati memandang Islam sebagai agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Karenanya, Islam tidak mungkin melawan kodrat alamiah manusia. Salahsatu kodrat alamiah manusia yang merupakan karakter antropologisnya adalah bahwa manusia merupakan makhluk dialektis. Dengan demikian, Islam mengakui realitas manusia sebagai makhluk dialektis tersebut. Seperti telah dikemukakan, dalam dialektika terkandung unsur konflik. Karena itu, konflik, pada level individual dan sosial, pun dibicarakan dalam Islam. Konflik individual terkait dengan perang besar manusia melawan hawa nafsu, berpihak pada unsur ruh Allah guna mencapai kesempurnaan eksistensinya. Sedangkan konflik sosial berhubungan erat dengan peran historis umat Islam dalam membentuk dan mempertahankan komunitasnya dalam konflik dialektis manusia sepanjang sejarah.

Yang kerap dipermasalahkan dalam konteks Islam dan konflik adalah pandangan Islam yang memberikan legislasi untuk perang. Bagaimana kritik ini dijawab? Seyed Hossein Nasr, pemikir perenialis Islam, mencoba memberi jawaban.[xi] Ia berpandangan, Islam merupakan agama unitas (tauhid) yang utuh. Sebagai agama unitas, Islam tidak membedakan yang spiritual dan temporal, yang religius dan profan, di dalam segala bidang. Posisi Islam ini berbeda dengan tradisi Kristen yang dalam ucapan Kristus sendiri disebutkan bahwa,”Hidup-Ku bukanlah untuk dunia ini”. Karena itu, menurut Nasr konsep sekuler tidak dikenal dalam Islam. Hal ini ditunjukkan di dalam Bahasa Arab, Bahasa Persia, dan bahasa dunia Islam lainnya yang tidak memiliki kosakata yang sepadan dengan arti sekuler. Dengan demikian, Islam tidak hanya bicara masalah kehidupan orang-orang suci tetapi juga kehidupan manusia biasa dengan segala kekurangan dan kelebihannya yang dengan sendirinya membahas segi sosial, ekonomi dan politik kehidupan manusia. Artinya, Islam pun pasti berbicara tentang sengketa, konflik, dan pertikaian, bahkan perang di antara manusia. Dengan kata lain, perang tidak adalah sesuatu yang natura, yang merupakan instrumen untuk mempertahankan eksistensi. Naluri alamiah manusia untuk bertahan hidup itu yang terpaksa mengunakan alat perang tersebut diakui status ontologisnya dalam Islam. Meskipun demikian, Islam memberikan legislasi untuk mengurangi efek destruksinya.

Jika kita bandingkan dengan agama lain, misalnya Kristen, maka kita temukan fakta bahwa Islam membatasi peperangan dengan jalan memberinya legislasi, sedangkan dalam Kristen tidak mempertimbangkan sama sekali. Tidaklah aneh bahwa peperangan yang paling mengerikan di abad ini di mulai di dunia Barat dimana Kristen menjadi agama yang dominan. Para sekularis mengatakan bahwa peperangan disebabkan oleh agama. Mereka tidak menyadari bahwa peperangan di dunia modern yang sekuler meminta lebih banyak korban daripada peperangan agama. Perang, dalam artinya yang terbatas, adalah bagian dari alam, dan Islam membatasinya dengan menerimanya dan memberi legislasi religius padanya. Setidaknya dapat dikatakan, peperangan yang menimbulkan horor kemanusiaan di abad ini tidak dimulai dari dunia Islam melainkan dari dunia yang disebut ”post-Kristen”. Hal ini bukan kesalahan Kristen sebab peperangan itu lahir dari rahim masyarakat yang telah lama memberontak kepada Kristen. Ketiadaan petunjuk yang mengatur kehidupan lahir batin manusia di dalam Kristen menimbulkan sekulerisasi di dalam kehidupan sosial politik masyarakat yang kemudian membawa berbagai bencana di zaman modern. Ini bukanlah serangan terhadap Kristen, melainkan pembelaan diri terhadap serangan dari dunia Barat, terutama dari mereka ynag lebih suka menjalani kehidupan kosong dan tak bermakan, dan menganggap agama yang membahas kelaparan dan perang adalah agama palsu. Agama yang ingin mencakup seluruh kehidupan manusia harus mempertimbangkan segala realitas yang ada di dalam kehidupan.

Islam dan Konflik

Singkatnya, Islam tidak mematikan insting alamiah manusia, tetapi lebih bagaimana meregulasikan insting alamiah tersebut sehingga unsur-unsur destruktifnya bisa diminimalisir.

Yang penting dicatat juga adalah fakta bahwa Islam sendiri datang dengan membawa bendara antitesis. Bahkan, menurut Shariati, bukan hanya agama Islam, tetapi juga agama-agama semit lainnnya. Kristen misalnya hadir ditengah-tengah masyarakat Yahudi yang menghayati agamanya secara formalistik. Kesalehan religius diukur secara simbolik-formalistik yang mengakibatkan agama Yahudi menjadi agama yang kering. Karena itu, Nabi Isa datang membawa risalah Ilahi dengan mengusung ide tandingan yaitu bahwa kesalehan religius tidak terletak hanya pada pelaksanaan formal keagamaan tapi yang lebih substantif daripada itu, yaitu kualitas spiritual, penghayatan pribadi, yang akan melahirkan kebaikan moral (cinta kasih).

Begitu pula Nabi Muhammad yang diutus Allah untuk melawan segala bentuk politeisme, baik pada tataran individual maupun tataran sosial. Bahkan, Nabi memproklamirkan Islam sebagai agama yang dimulai dari kata ”tidak”. Hal ini terlihat dalam kalimat persaksian (syahadah) ”tidak ada tuhan”. Karena Islam hadir sebagai antitesis dari sistem kepercayaan dan struktur sosial politeistik, Islam tidak pernah lepas dari konflik. Bahkan, pada awalnya Islam tidak mampu berkembang secara signifikan di Mekkah karena perlawanan dari masyarakat politeis Mekkah. Konflik antara umat Islam awal dengan masyarakat politeis Mekkah disebabkan ajaran Islam yang menawarkan sebuah sistem nilai, kepercayaan, dengan segenap implikasi sosialnya dianggap masyarakat politeis Mekkah sebagai bentuk ”pemberontakan” bukan hanya terhadap sistem kepercayaan lama tetapi juga mengancam struktur sosial.

Konflik antara masyarakat politeis Mekkah dengan Umat Islam semakin hari semakin tajam. Tidak ada ruang komunikasi yang terbangun yang memungkinkan jeda konflik apalagi perdamaian. Bahkan, kekerasan demi kekerasan yang menimpah Umat Islam awal yang kemudian memaksa Nabi untuk melakukan migrasi (hijrah) ke Yatsrib (Madinah).

Sebetulnya, Madinah pun tengah mengalami konflik panjang. Peperangan dan konflik di Madinah itu berlangsung selama 120 tahun. Kondisi tersebut membuat masyarakat Madinah lelah dan penat dengan konflik. Titik jenuh berkonflik hingga frustasi sosial tersebut memunculkan mimpi-mimpi mesianistik berupa harapan warga Madinah akan datangnya sang penyelamat sebab melalui dirinya sendiri dan kekuatan sosial yang ada, Madinah tidak mungkin dapat menciptakan perdamaian dan stabilitas. Karena peperangan tersebut, Madinah mengalami stagnasi ekonomi yang berkesinambungan, bahkan menimbulkan konflik-konflik baru. Pada saat periode kritis inilah muncul ”orang asing” yang menunjukkan kepada kelompok-kelompok tersebut bagaimana hidup berdampingan secara damai dalam tataran kemuliaan, mengundang setiap individu untuk hidup menurut dasar-dasar hukum, dengan prinsip ”kamu adalah apa adanya kamu” (you are what yuo are). Nabi menjadi ”pihak luar” yang mencoba melakukan proyek pembentukan masyarakat yang damai di Madinah.

Di Madinah ada tiga kelompok sosial, yaitu: pertama, kaum muslim, kaum Yahudi, dan kaum politeis Arab. Kaum muslim terdiri dari para pengungsi yang berasal dari Mekkah dan kelompok Anshar yakni orang-orang Yatsrib yang menerima Islam yang merupakan gabungan dari suku Auz dan Khazraj. Jenis struktur sosial ini asing bagi tradisi-tradisi kuno di Semenanjung Arab. Dalam tradisi Arab saat itu, organisasi sosial sangat bergantung pada ikatan darah dan kekerabatan, sementara di Madinah pertama kalinya, orang-orang yang berasal dari asal geografis, suku dan latarbelakang budaya yang berbeda secara totalitas bekerja sama dan mengidentifikasikan diri sebagai satu kelompok sosial tertentu. Belakangan Suhail dari Roma, Salman dari Persia, dan Gavan dari Kurdi dimasukkan dalam kelompok ini. [xii]

Eksperimen Madinah

Lalu bagaimana Nabi mengelola Madinah agar dapat hidup berdampingan dan menghindari konflik sosial di antara tiga kelompok sosial tersebut?

Pertama, Nabi melakukan riset tentang komposisi demografis agama dan sosial penduduk Yatsrib. Untuk itu, dilakukan sensus penduduk. Sensus tersebut menemukan fakta bahwa ada 10.000 orang yang menetap di Madinah yang terdiri dari 1500 penduduk muslim , 4000 orang Yahudi, dan 4500 orang musyrik Arab. Data-data ini menunjukkan bahwa komunitas muslim adalah kelompok minoritas (15 persen dari jumlah penduduk). Fakta ini mendorong Nabi untuk melakukan konsolidasi internal kaum muslim sekaligus membuka relasi-positif dengan kelompok lainnya. Kedua, menetapkan batas kota secara fisik dan menandai empat sudutnya. Inilah yang menjadi cikal bakal ”negara-kota” Madinah.

Ketiga, penempatan dan adaptasi dengan lingkungan serta menanamkan kepercayaan dari orang Yahudi dan orang politeis Arab. Nabi menegaskan bahwa tujuan utama reorganisasi tatanan sosial-politik Madinah bukan untuk mendirikan sebuah pemerintahan yang absolut di Madinah melainkan untuk memberikan jaminan keamanan terhadap komunitas agamanya sekaligus merupakan persyaratan yang diperlukan bagi perkembangan agama baru. Sebetulnya, wahyu-wahyu awal (Makkah) pun sebenarnya telah menegaskan sebuah prinsip politik yang menyatakan bahwa ”untukmu agamamu dan bagiku agamaku” (QS. 109: 6). Namun, orang-orang Quraisy Mekkah menolak proyek multireligius yang pluralis ini, menghalangi dan bahkan menyiksa orang-orang yang ingin masuk Islam. Karena itu, Madinah merupakan lahan subur Nabi untuk mengimplementasikan visi Mekkah ke dalam praktik di Madianh. Nabi mendemonstraikan pada setiap orang dan komunitas, cara-cara yang mungkin dilakukan untuk dapat hidup berdampingan melalui realisasi sebuah proyek sosial yang pluralis berdasarkan otonomi keagamaan dan hukum.

Langkah monumental yang dilakukan untuk pembentukan masyarakat baru itu adalah ketika Nabi dan semua komunitas di Madinah menyepakati sebuah kontrak sosial yang kemudian di sebut Piagam Madinah. Proses penyusunannya sendiri sebagai berikut: pada saat pertamakali mereka tiba di Madinah, kaum Anshar Madinah dan para pemimpin keluarga dari Mekkah (naqib) berkumpul dalam sebuah pertemuan besar. 23 pasal pertama dari Piagam Madinah diputuskan dalam pertemuan itu, membangun relasi sosial dan hukum dari kelompok Muslim yang baru tersebut dalam dekrit-dekrit yang tertulis. Setelah itu, Nabi meminta perwakilan dari kelompok-kelompok sosial non-Muslim, setelah dia meminta pendapat dari para pemimpin kaum muslim. Mereka semua menyepakati prinsip-prinsip dasar yang menetapkan dasar sebuah ”negara kota” yang baru dalam pertemuan di rumah Anas ibn Malik. Jumlah pasal Piagam Madinah seluruhnya adalah 47 pasal.

Proyek Perdamaian

Pada dasarnya, Piagam Madinah merupakan piagam perdamaian yang berisi perjanjian damai. Perjanjian damai selalu bersifat tentatif (sementara) karena perjanjian damai hanya merupakan ”sebuah jeda”, sintesis yang akan bergerak menjadi sebuah tesis yang akan memunculkan antitesis baru. Karena itu, Piagam Madinah dipandang bukan sekedar sebagai perjanjian damai tetapi sebagai sebuah konstitusi yang memuat aturan yuridis (hukum). Memang, hal terpenting dari Piagam Madinah adalah adanya sejumlah pasal yang mencoba untuk membangun otoritas hukum di Madinah.

Seperti telah diungkap, penerimaan Piagam Madinah dilatari oleh kondisi kritis akibat konflik yang berkepanjangan. Untuk itu, term-term seperti luka-luka, pembunuhan, kerugian-kerugian pertumpahan darah, tebusan untuk kebebasan sering diungkap dalam teks. Ekspose kosakata tersebut menunjukkan kondisi masyarakat Madinah yang porakporanda dan terkoyak oleh perselisihan internal. Problem utama saat itu adalah bagaimana menyelesaikan konflik-konflik tersebut dan menemukan sebuah formulasi bagi hidup berdampingan sesuai dengan prinsip keadilan dan kebajikan. Karena itu, dalam Piagam Madinah ditegaskan bagaimana mekanisme hukum untuk pelanggaran bagi siapapun yang menciptakan konflik. Hal ini dimulai dengan melibatkan secara partisipatif seluruh elemen masyarakat Madinah dalam Piagam Madinah.

Hukum, Solusi Netral Konflik

Mengapa Nabi menjadikan otoritas hukum sebagai prioritas? Hukum merupakan medium untuk membendung kekerasan akibat konflik. Jika dua pihak berselisih dan potensi penggunaan kekerasan mengancam, hukum sebagai pihak ketiga menengahi perselisihan itu dengan sanksi. Sanksi yang diterima oleh pihak yang dianggap melanggar hukum diharapkan akan memuaskan pihak yang menggugat sehingga penggugat mengurungkan niatnya untuk membalas dendam. Sanksi hukum merupakan akhir kekerasan alamiah dan awal rasionalitas yuridis. Rasionalitas yuridislah yang akan menjadi mekanisme untuk mendisiplinkan naluri-naluri rimba manusia.

Hukum yang adil merupakan titik temu pihak-pihak yang bertikai demi mengurungkan niat mereka untuk saling membinasakan. Hukum diharapkan mampu menjinakkan nafsu agresif, dan naluri berkonflik manusia. Namun, otoritas hukum yang mampu diterima semua pihak adalah otoritas hukum yang tetap memelihara harga diri dan eksistensi mereka sebagai sebuah komunitas. Karena itu, hukum, sebagai ”pihak ketiga”, harus bersifat netral yang berfungsi menengahi pihak-pihak yang berkonflik. Dengan kata lain, hukum adalah solusi netral atas konflik kepentingan. Hukum yang diharapkan adalah hukum yang memungkinkan terbentuknya ruang bagi aktualisasi kepentingan kelompok-kelompok sosial tanpa berbenturan satu sama lain.

Karena itu, otoritas hukum yang dibangun dalam Piagam Madinah mengedepankan partisipasi, bukan dominasi. Partisipasi merupakan syarat mutlak meredam efek destruktif dari konflik (kekerasan). Dengan kata lain, kekerasan tidak mungkin dihilangkan, tetapi masih mungkin untuk dijinakkan lewat hukum, sejauh mereka yang tunduk pada hukum itu adalah juga yang menyusunnya.

Selanjutnya, hukum pun membuka kemungkinan untuk kontak dan komunikasi di antara pihak-pihak yang bertikai. Dalam arti ini, hukum adalah tawaran komunikasi. Ciri komunikatif hukum tampak pada kenyataan bahwa hukum memiliki karakter intersubjektif proses komunikasi yang dapat diasalkan pada hubungan saling pemahaman di antara para subjeknya.

Hukum memiliki kekuatan memaksa tidak semata-mata dengan ancaman kekerasan, melainkan juga terutama dengan memobilisasi konsensus. Hukum bisa berlaku hanya dengan paksaan dan konsensus. Hukum yang hanya memaksa tanpa konsensus adalah kekerasan belaka. Tetapi suatu hukum yang memaksa dengan konsensus adalah paksaan ynag disepakati bersam, suatu paksaan intersubjektif, yakni suatu paksaan normatif yang legitim karena disepakati secara intersubjektif. Konflik dan kekerasan tidak mungkin dilenyapkan tetapi masih mungkin untuk dijinakkan lewat hukum, sejauh mereka yang tunduk pada hukum itu adalah juga yang menyusunnya.[xiii]

Piagam Madinah merupakan manuskrip hukum bagi kesatuan politik (ummah). Meskipum demikian, bukan berarti semua konflik terselesaikan. Dalam perdamaian yang berdasarkan hukum sekalipun, masih tersimpan secara potensial magma konflik. Artinya, di balik selubung hukum, masyarakat selalu bergerak secara dialektis dengan seluruh dinamika konfliknya sebab konflik tidak bisa dilenyapkan. Madinah pasca Piagam Madinah bukan Madinah tanpa konflik tetapi Madinah yang lebih beradab dengan adanya jaminan kebebasan dan keamanan dengan tingkat partisipasi-komunikatif yang maksimal dari warganya dalam kepatuhannya terhadap hukum.

Wa Allahu a’lam bisshwabi


[i] Tentang bahasa simbolik (symbolic language) ini, Shari’ati mendeskripsikan secara panjang lebar. Bahasa agama, terutama agama-agama Semitik atau Abrahamic Religion, adalah bahasa simbolik. Menurutnya, bahasa simbolik lebih abadi, tak lekang termakan oleh ruang dan waktu. Bahasa simbol lebih baik dari bahasa eksposisi karena memiliki banyak sisi yang memungkinkan makna yang tersembunyi dibalik ungkapannya dapat ditangkap oleh siapa saja dan kapan saja. Sebaliknya, bahasa eksposisi bersisi tunggal dan eksplisit, yang maknanya “terpenjara” pada konteks siapa dan dimana ia diungkapkan. Oleh karena itu, bahasa eksposisi hanya bisa ditanggap oleh “satu generasi” yang memang satu masa dengan waktu pengungkapannya. Kisah kejadian Adam menggunakan bahasa simbolik. Oleh sebab itu, sampai saat ini pun kisah tersebut tak “basi” untuk dibicarakan, dapat dipahami dan dimengerti untuk dibicarakan. Lihat: Ali Shariati, Man and Islam, (Mashhad: University of Mashhad Press), h. 3-6.

[ii] Ali Shari’ati, On the Sociology of Islam, (Berkeley: Mizan Press, 1979), h. 88.

[iii] Ibid., h. 89.

[iv] [he is a free and responsible will; he is both a will obliged to choose and the object of his own will and choice. To use the terminology of Brahmanism, he is the way, the wayfarer and the wayfaring. He is engaged in a constant migration from his self of clay to his divine self. ] Ibid., h. 91.

[v]Ibid., h. 90.

[vi] Ibid., h. 92.

[vii][ man is a "choice", a struggle, a constant becoming. He is an infinite migration, a migration within himself, from clay to God; he is a migrant within his own soul. ] Ibid., h. 93.

[viii]Bunyi ayat tersebut sebagai berikut : (orang-orang yang sabar) itu adalah mereka yang bila tertimpah musibah, maka mereka berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. lihat : Mohammad Taqi al-Din al-Hillali dan Muhammad Muhsin Khan, Translation of the Meaning of the Noble Qur’an in the English Language, h. 32 .

[ix] Ali Shariati, On the Sociology of Islam, h. 92. dan dalam Man and Islam, h. 68-69.

[x]George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, (Jakarta: Prenada Media, 2004), h. 153-157

[xi] Seyed Hossein Nasr, Islam dalam Cita dan Fakta, (Jakarta: Lappenas, 1983), h. 13-15

[xii] Lihat artikel Ali Bulac, Piagam Madinah dalam: Charles Kurzman (Ed.), Wacana Islam Liberal: Pemikiran Islam Kontemporer tentang Isu-Isu Global, (Jakarta: Paramadina, 2003), h. 264-284

[xiii] Lebih lanjut tentang rasionalisme, voluntarisme, dan kritisisme dalam bidang hukum, lihat: F. Budi Hardiman, Filsafat Fragmentaris, (Yogyakarta: Kanisius, 2007), h. 194-211

About these ads

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Buat website atau blog gratis di WordPress,com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: